Kamis, 27 Oktober 2016

Syekh Qurok




Kisah Syekh Qurok Menyebarkan Islam di Kerajaan Pajajaran

Raja Siliwangi Urungkan Niat  Menutup Pesantrennya

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.
Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin atau ada pula yang menyebutnya Syekh Mursahadatillah Berikut ini kisah hidupnya

Syekh Qurok  adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah. Bahkan menurut sumber lain, garis keturunannya sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali r.a., menantu Rasulullah SAW.
Beberapa babad menyebutkan bahwa Syekh Qurok  adalah  penyebar agama Islam yang berasal dari Makkah, yang berdakwah di daerah Karawang dan diperkirakan datang ke Pulau Jawa melalui Champa atau kini Vietnam selatan. Dalam menyampaikan ajaran Islam,   melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur'an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik".
Syekh Qurok  menuju  Jawa Barat Dalam naik kapal Armada Angkatan Laut Tiongkok itu dari Campa singgah di Kesultanan Malaka untuk mengajarkan agama Islam.  Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati.
Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Qurok menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura melalui pelabuhan Muara Jati. Kedatangan ulama besar tersebut disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putra bungsu Prabu Wastu Kancana, Syahbandar di Cerbon Larang (yang menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih yang telah wafat).
Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.
Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syekh Qurok rupanya sangat mencemaskan penguasa Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Wastu Kencana atau Prabu Angga Larang yang menganut ajaran Hindu. Sehingga beliau diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan.
Oleh Syekh Qurok perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meskipun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.
Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Qurok kembali ke Malaka, putrinya yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Agama Islam di Malaka.
Beberapa waktu lamanya berada di Malaka, kemudian Syekh Qurok membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyai Subang Larang.

Pelabuhan Karawang
Sekitar tahun 1418 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Kali Citarum yang pada waktu itu ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal.
Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Qurok menyampaikan dakwahnya di musholla yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh.
Pengajian Al-Qur'an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.
Berita tentang dakwah Syekh Qurok di pelabuhan Karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.
Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro. Kemudian menikahi Nyai Subang Larang.
Pengabdian Syekh Quro dengan para santri dan para ulama generasi penerusnya adalah "menyalakan pelita Islam", sehingga sinarnya memancar terus di Karawang dan sekitarnya.
Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.
Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/ XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.
Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro. HUSNU MUFID




Laskar Santri



Laskar Santri

Indonesia telah merdeka 71 tahun silam dan kita sebagai kaum santri hendaknya berbangga diri. Karena peran kaum santri dalam mendirikan, memperjuangkan, dan mempertahankan kemerdekaan tidak diragukan lagi dalam sejarah perjuangan bangsa ini yang telah memakan waktu cukup lama. Santri memiliki andil dalam memajukan peradaban, budaya, dan pendidikan di masyarakat. Mereka telah mengajarkan masyarakat Indonesia tentang kesamaan derajat dan arti pentingnya persatuan dan kesatuan dalam mewujudkan masyarakat yang kuat dan berdaulat menuju keadilan sosial.
Peran perjuangan kaum santri mulai tampak bersatu seiring berdirinya beberapa organisasi Islam dan barisan hizbullah dan sabilillah. Dengan peran-peran itulah, kaum santri dan pemuda Islam berjuang dari satu daerah ke daerah yang lain untuk melumpuhkan kekuatan diplomasi dan milisi Belanda. Dari medan perang, santri bergerak dalam barisan hizbullah dan sabilillah, sedang di meja perundingan santri bergerak dalam organisasi perjuangan.
Peran kiai dan santri dari kalangan pesantren-pesantren yang dinaungi oleh pimpinan KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa “Resolusi Jihad” pada 22 Oktober 1945. Dalam fatwanya tersebut bahwa perang membela Tanah Air Indonesia merupakan perang suci.
Tidak lama fatwa itu dikeluarkan pemuda Sutomo segera datang berkonsultasi guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. Pemuda Sutomo atau Bung Tomo, pemimpin dari Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) dengan berpegang teguh pada fatwa dari tokoh karismatik pesantren, KH Hasyim Asy’ari, kemudian mengucapkan pidato berapi-api melalui radio BPRI.
Tanggal 10 November 1945, pihak Inggris membuktikan ancamannya kepada pihak Surabaya. Militer Inggris lumayan besar jumlahnya dengan mengerahkana ribuan pasukan, dari beberapa kapal perang, puluhan tank dan kendaraan militer lainnya baik pesawaat pengebom modern untuk strategi menyerang hingga membombardir Kota Surabata yang telah ditinggalkan oleh penduduk wanita serta anak-anak.
Pemuda revolusioner yang meliputi laskar santri dan laskar-laskar kesatuan lainnya memenuhi Kota Surabaya. Meski kalah dalam persenjataan para laskar dan pemuda dengan gigih dan bersemangat mempertahankan Kota Surabaya.
Dalam pertempuran pekikan-pekikan dan teriakan-teriakan menyebutkan “Allahu Akbar” dan “Merdeka” menyatu dengan desingan peluru dan dentuman bom untuk membangkitkan semangat perlawanan. Dalam kurun waktu tiga minggu Kota Surabaya benar-benar menjadi ajang pertempuran paling besar yang pernah terjadi dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan.
Di tengah kegigihan bertempur dari barisan laskar santri dan pemuda yang mempertahankan Kota Surabaya tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa peran santri bagi bangsa Indonesia untuk memperjuangkan revolusi Indonesia sangat ikut andil dan bersama-sama mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Bagi kaum santri, perjuangan memerdekakan tanah air tercinta adalah wajib hukumnya. Lebih-lebih bangsa Indonesia pada waktu itu berpenduduk Islam terbesar. Sehingga membela tanah airnya sekaligus juga membela agamanya.
Kini, umur kemerdekaan kita sudah 71 tahun. Sebuah pencapaian usia yang cukup tua. Ratusan tahun kaum santri telah berperan dalam perjuangan bangsa ini sejak belum lahirnya Indonesia. Sudah pantas Presiden Negara Republik Indonesia yang ke-7 yakni Presiden Joko Widodo melayangkan Keputusan Presiden (Keppres) meresmikan dan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dan penetapan Hari Santri Nasional tentu tidak mengurangi, apalagi menafikan nilai patriotisme dan heroisme tokoh-tokoh lain dalam insiden sejarah tersebut.
Oleh karena itu, kita sebagai santri hendaknya tetap terus mengawal kemerdekaan bangsa Indonesia hingga akhir hayat. Sebab telah berikrar NKRI merupakan sebuah harga mati yang tidak boleh diingkari.

Sufi Abu Ali Al-Husaini



Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah:

 

Pemikiran Filsafatnya Dibahas Imam Ghazali


Sejak muda, Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah sudah mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani. Juga menguasai ilmu agama Islam. Dalam perkembangannya menjadi seorang ulama, yang mewarnai perkembangan filsafat Islam.

KINI pemikiran-pemikirannya yang tertuang dalam kitabnya, banyak dipelajari oleh ilmuwan di berbagai negara di dunia. Abu Ali Al Hussain Ibn Abdallah dilahirkan pada tahun 370 Hijrah bersamaan dengan 980 Masehi di Iran. Sejak kecil hingga dewasa memang suka belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum di Bukharah, Iran seperti bidang bahasa dan sastra. Juga mempelajari ilmu-ilmu lain, yaitu geometri, logika, matematika, dan sains. Ia berpendapat bahwa seorang muslim harus mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, penguasaannya dalam pelbagai bidang ilmu telah menjadikannya seorang tokoh sarjana yang serba bisa. Ia tidak sekadar menguasainya. Hingga akhirnya mencapai tahap puncak kecemerlangan tertinggi dalam bidang ilmu yang dipelajari.
Di samping itu, tokoh ini menguasai ilmu logika sehingga mendapat gelar guru ketiga. Dalam bidang penulisan, Abu Ali Al Hussein Ibnu Abdallah telah menghasilkan ratusan karya termasuk kumpulan risalah yang mengandung hasil sastra kreatif. Ia merupakan pelopor penulisan sastra kreatif di zamannya.
Ia juga merupakan seorang ahli falsafah yang terkenal. Pernah menulis sebuah buku berjudul “An-Najah” yang membicarakan persoalan falsafah. Pemikiran falsafahnya banyak dipengaruhi oleh aliran falsafah al-Farabi yang telah menghidupkan pemikiran Aristotle.
Oleh sebab itu, pandangannya banyak dipengaruhi oleh asas dan teori perubatan Yunani, khususnya Hippocrates. Pemikiran tokoh Yunani merasuki alam pemikirannya. Sehingga pengaruh pemikiran Aristoteles sangat kuat mempengaruhi dirinya.
Ia berpendapat bahwa matematika boleh digunakan untuk mengenal Tuhan. Pandangan yang sama pernah dikemukakan oleh ahli falsafah Yunani seperti Pythagoras untuk menguraikan mengenai suatu kejadian. Bagi Pythagoras, suatu barang mempunyai angka-angka dan angka itu berkuasa di alam ini. Berdasarkan pandangan itu, Imam al-Ghazali telah menyifatkan fahamnya sebagai sesat dan lebih merusakkan daripada kepercayaan Yahudi dan Nasrani.
Sebenarnya, ia tidak pernah menolak kekuasaan Tuhan. Dalam buku “An-Najah”, menyatakan bahwa pencipta yang dinamakan sebagai "Wajib al-Wujud" ialah satu. Dia tidak berbentuk dan tidak boleh dibagikan dengan apa-apa cara sekalipun. Menurutnya, segala yang wujud (mumkin al-wujud) terbit daripada "Wajib al-Wujud" yang tidak ada permulaan.
Tetapi tidaklah wajib segala yang wujud itu datang daripada Wajib al-Wujud. Sebab, Dia berkehendak bukan mengikut kehendak. Walau bagaimanapun, tidak menjadi halangan bagi Wajib al-Wujud untuk melimpahkan atau menerbitkan segala yang wujud karena kesempurnaan dan ketinggian-Nya.
Pemikiran falsafah dan konsep ketuhanannya telah ditulisnya dalam bab "Himah Ilahiyyah" dalam fasal "Tentang adanya susunan akal dan nufus langit dan jirim atasan.” Pemikirannya ini telah mencetuskan kontroversi dan telah disifatkan sebagai satu percobaan untuk membahaskan zat Allah.
 Al-Ghazali telah menulis sebuah buku yang berjudul Tahafat al'Falasifah (Tidak Ada Kesinambungan Dalam Pemikiran Ahli Falsafah) untuk membahaskan pemikirannya. Antara sanggahan yang diutarakan oleh Al-Ghazali ialah penyangkalan terhadap kepercayaan dalam keabadian planet bumi, penyangkalan terhadap penafikkannya mengenai pembangkitan jasad manusia dengan perasaan kebahagiaan dan kesengsaraan di surga maupun neraka.
Walau apa pun pandangan yang dikemukakan, sumbangannya dalam perkembangan falsafah Islam tidak mungkin dapat dinafikan. Bahkan, ia boleh dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab menyusun ilmu falsafah dan sains dalam Islam. HUSNU MUFID

Candi Gentong Mojokerto




Digunakan Untuk Upacara Sraddha

Candi Gentong merupakan candi yang cukup menarik bagi sebagain masyarakat. Karena saat diketemukan dulunya banyak gentong-gentong yang berserakan. Berbeda dengan candi-candi lainnya. Seperti apakah ceritanya berikut hasil liputan wartawan posmo. 

Candi Gentong merupakan salah satu bukti besarnya toleransi beragama pada masa itu, terbukti bahwa agama Hindhu dan Budha dapat bersanding dan mendapatkan pengakuan pemerintah. Waktu itu agama resmi Majapahit adalah Siwa Budha.
Candi yang tergolong unik ini, dibangun pada masa pemerintah Prabu Hayam Wuruk untuk upacara Sraddha memperingati Tribuwana Wijaya Tungga Dewi yang tidak lain adalah ibunda Hayam Wuruk. Upacara semacam itu dimaksudkan untuk memohon kesejahteraan pemerintah pada zamannya.
Selain dibangun dengan menggunakan batu bata yang terbuat dari tanah liat, juga karena bentuknya yang tidak jelas. Candi Gentong hanya berupa tumpukan batu bata yang berserakan  di berbagai tempat. Tak ada arca,  relief dan benda-benda kuno lainnya yang bisa dijumpai di tempat itu. Walau begitu, pada setiap harinya Candi gentong banyak dikunjungi oleh wisatawan yang biasanya juga melanjutkan kunjungannya ke Candi Brahu yang hanya berjarak sekitar 10 meter ke arah selatan.
Saat sekarang bentuk bangunan  Candi Gentong berupa kaki candi berdenah bujur sangkar berukuran 23.5 x 23.5 meter. Sedangkan tingginya 2.45 m dengan pintu masuk menghadap ke barat.  Boleh dikatakan  bangunannya mirip potongan Puzzle yang tercerai-berai dan berantakan ditanah.
Begitulah kesan pertama ketika melihat Candi Gentong yang berada di Desa Bejijong Trowulan Mojokerto. Dimana potongan batu bata yang terlepas dari susunannya nampak tercecer di tanah. Hingga tidak berbentuk candi yang sesungguhnya.  
Konon,  pada saat penggalian banyak ditemukan artefak-artefak berupa pecahan keramik dna dari masa dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar, mata uang cina, emas, stupika (Benda berbentuk Stupa) dan archa budha.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan Yuan dan Ming Cina sudah terjalin erat. Orang-orang Cina sudah berhubungan langsung dan saling tukar barang dagangan. Mengingat waktu itu barter  barang dagangan sudah menjadi media untuk memiliki sesuatu barang yang diinginkan.
Candi Gentong ini pernah dilakukan penelitian oleh berbagai pihak. Bertujuan untuk merekontruksikan Kota Kerajaan Majapahit, Maclaine Pont menyebutkan bahwa Candi Gentong merupakan salah satu dari tiga candi yang berderet dengan arah bujur barat ke timur yaitu Candi Gedong, Candi Tengah dan Candi Gentong. Namun kedua candi lain tersebut sekarang sudah tidak ada wujud dan bekasnya lagi.
Dalam tulisan Verbeek pada tahun 1889 Candi Gentong masih terlihat bangunannya. Tetapi  pada tahun 1907 dalam tulisan Knebel, Candi Gentong sudah tidak tampak bentuk dan wujudnya lagi karena hanya  tinggal berupa gundukan. Usaha pelestarian terhadap Candi Gentong telah dilakukan selama 6 tahun mulai Tahun Anggaran 1995 sampai dengan 2000 dan masih terus berjalan pada Tahun Anggaran 2001.
Hasil yang dapat dicapai yaitu menampakkan Struktur Candi Gentong I dan Candi Gentong II serta usaha-usaha pelestariannya. Selain itu pada lembaran informasinya juga ditemukan benda-benda kuno berupa beberapa buah stupika yang saat ini disimpan di Museum Mojopahit Mojokerto.

Mandala Stupa
Berdasarkan konsep tata ruang dan didukung oleh temuan-temuan artefaktual yang bersifat Budhis, menunjukkan  bahwa konsep tata ruang Candi Gentong adalah Mandala stupa, yaitu pembagian ruang yang terdiri dari pusat dikelilingi oleh ruangan-ruangan lain yang lebih kecil. Namun bagi orang awam yang melihat apa yang Tampak dan ada di Candi Gentong ini tentu merasa bingung untuk bisa tahu bagaimana bentuk candi Gentong  yang sebenaranya bila dalam keadaan utuh. Dalam kesederhanaan dan bentuknya yang cukup misterius, Candi Gentong ini mempunyai pesona keindahan tersendiri.
Candi Gentong terletak di Dusun Jambumente Desa Bejijong Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sekitar 1 Km dari Pusat kota kecamatan arah utara. Hingga saat ini masih dalam proses pemugaran untuk mendapatkan bentuk yang asli. Khususnya masalah  pondasi atau kaki candi. Mengingat bangunannya sudah mengalami keruntuhan yang cukup parah. 
Sebuah papan berisi informasi tentang Candi gentong  terdapat di sekitar candi. Berada di dalam bangunan pendapa itu hanya terdapat tumpukan batu bata yang berserakan di berbagai tempat. Sebagian ada yang sudah tersusun dengan rapi dan ada juga yang berserakan begitu saja. Batu bata itu ada yang lokasinya berada di dalam tanah dan ada juga yang berada di atas tanah. Banyak dari batu bata  itu yang bercampur dengan adonan tanah liat sebagai bahan pembuatnya yang telah mengering.
Untuk memasuki lokasi candi Gentong ini tak ada tiket masuk, hanya memberi uang seikhlasnya saja sebagai pengganti tiket masuk kepada petugas candi yang berada di pos di dekat pintu masuk. Setelah itu pengunjung bisa langsung menuju ke lokasi candi yang berada di bawah naungan dua bangunan berbentuk pendopo yang terbuat dari baja dan atapnya yang menggunakan lembaran seng. Cahya