Selasa, 14 Maret 2017

Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya



 Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya Selatan Jatim

Dewa-Dewa Dipercaya Mampu Memberikan Pertolongan

Meskipun  usianya tidak termasuk generasi klenteng bersejarah. Namun Klenteng Hong San Ko Tee di Jl Cokroaminoto Surabaya Selatan ini mempunyai daya tarik yang besar bagi masyarakat Tionghoa. Selain sembayang untuk arwah leluhur. Juga tempat  berdo’a untuk mendapatkan kesembuhan anggota keluarganya dan kesuksesan bisnis. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.


Klenteng  Hong San Ko Tee dibangun tahun 1970an oleh umat Tr Dharma.  Memiliki halaman  yang memanjang. Ditumbuhi berbagai tumbuhan. Salah satunya adalah Pisang. Sehingga umat yang akan beribadah merasakan hawa sejuk dan segar. Jauh dari polusi udara yang menyengat.
Di dalam Klenteng Hong San Ko Tee ini terdapat berbagai macam patung dewa. Ada petung dewa Kwan Im Poo Sat, Buddha, Ho Tek Ceng Sin, Kwan Kong, patung dewa bumi, dewa langit  dan banyak lagi patung-patung dewa yang lain. Patung-patung tersebut sangat disakralkan.
“Para umat Tri Dharma bila melakukan sembayang menuju patung-patung tersebut. Berbagai macam tujuan yang ingin dicapai. Ada yang berdo’a untuk arwah leluhurnya yang telah meninggal dunia, keselamatan, kejayaan bisnis,  ketentraman negara, melihat nasib, penyembuhan penyakit dan banyak lagi permintaan lainnya,” Buddi Enggal Kuncoro Pengurus Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya.
Mereka percaya bahwa dewa-dewa itu mampu memberikan pertolongan kepada umat Tri Dharma yang sering sembayang  di klenteng tersebut. Bukti nyata sudah banyak terbukti berdasarkan pengakuan beberapa umat yang do’anya diterima. Baik dalam bidang bisnis maupun penyakit.
Salah satunya adalah Liu Ci San warga Gubeng Raya yang orang tuanya mengalami sakit dalam dan cukup parah. Setelah melakukan sembayang di Klenteng Hong San Ko Tee selama beberapa bulan. Akhirnya orang tuanya mengalami kesembuhan total.
“Orang tua dirumah  sembuh dari sakit parah setelah saya berdo’a di klenteng ini. Barangkali do’a yang saya panjatkan tiap  usai sembayangterkabulkan,”ujar Liu Ci San putri Han Lim warga Gubeng Raya Surabaya.  
Kesembuhan penyakit orang tanya itu menjadikan dirinya sadar. Bahwa  kekuatan do’a itu mampu menyembuhkan orang yang mengalami sakit. Padahal sebelumnya kurang percaya. sejak itulah  dia  terus bersembayang di klenteng tersebut pada hari-hari tertentu dan hari besar. Seperti pada hari besar Imlek serta menghadiri Perayaan Cio Ko.     

Melihat Nasib
Kedatangan umat ke klenteng juga bukan hanya sebatas sembayang dan berdo’a untuk kesembuhan. Tapi  juga banyak umat yang melakukan kegiatan melihat nasib dengan jalan melempar benda kecil (Siak). Hal tersebut biasanya dilakukan setelah sembayang di dewa masing-masing. Mereka percaya  nasibnya dapat diketahui.
Pada umumnya yang melempar benda kecil itu adalah dari kalangan bisnismen. Jika selama satu bulan belum berhasil, mereka datang kembali untuk melakukan kegiatan tersebut hingga usahanya berhasil.
Kalau ternyata ada hasilnya. Tidak tanggung-tanggung dari sebagian keuntungan bisnisnya akan disumbangkan pada Klenteng Hong San Ko Tee. Tujuannya sebagai rasa syukur kepada para dewa yang memberikan kemurahan berupa rejeki.
Dari pihak pengurus klenteng, sumbangan uang itu untuk perawatan fasilitas klenteng dan acara bagi-bagi sembako pada perayaan keagamaan kepada masyarakat yang tidak mampu. Khususnya pada masyarakat miskin di perkotaan. Dalam bentuk uang dan bahan  sembilan pokok kebutuhan (sembako).
Acara-acara tersebut tetap terus berlangsung dari dulu hingga sekarang. Apalagi pada jaman reformasi sejak Indonesia presidennya Gus Dur. Kegiatan Klenteng Hong San Ko Tee semakin semarak. Baik dalam bidang persembayangan, ritual dan bhakti sosial. Mengingat sudah tidak ada larangan lagi oleh pemerintah. CAHYA 
    
    





Renung, Mengapa Oknum Anggota DPRRI Korupsi

Syekh Tuan Hussain

Menulis I8 Buah Kitab Fiqh, Tauhid, dan Tasawuf.


Syekh Tuan Hussain Kedah atau nama sebenarnya Hussain bin Nasir bin Muhamad Taib dilahirkan di Titi Gajah, Alor Setar pada 2 November 1863 bersamaan 20 Jamadil Awal, 1280 Hijrah. Ia berasal dari keluarga ulama’ yang tinggal di Kalimantan. Siapakah dia sebenarnya berikut ini kisahnya.

Pada sekitar tahun 1841 Haji Mas’ud, Syekh Tuan Hussain singgah di Sungai Kedah dalam perjalanan pulang ke Kalimantan dari Makkah. Di kesempatan itu Haji Mas’ud telah memainkan peranan penting membantu kerajaan Kedah dalam perang menentang Siam.
Walau bagaimanapun, Haji Mas’ud telah syahid dalam peperangan itu pada tahun 1842. Melihat keadaan itu, anaknya Muhamad Taib dan ahli keluarga yang lain telah mengambil keputusan untuk menetap di Kedah untuk mencari
kehidupan baru. Kelahiran Syekh Tuan Hussain dalam keluarga ini terus memberi sinar khususnya dalam perkembangan dakwah Islamiah.
Keluarga Muhamad Taib terdiri di kalangan  ulama’. Dalam sejarah perjuangannya, Syekh  Tuan Hussain merupakan seorang penulis kitab-kitab agama yang terkenal di Nusantara. Tokoh ini telah menghasilkan 18 buah kitab mengenai fiqh, tauhid, dan tasawuf.
Dalam mendidik ummat, Syekh Tuan Hussain mengajarkan tulisan berhuruf  jawi serta mendirikan pondok pesantren sebagai institusi pendidikan agama Islam.
Beliau mendirikan sekolah dalam satu pondok pesantren  di beberapa kawasan di Kedah. Tujuannya untuk  mengukuhkan pendidikan Islam. Diantara  tempat-tempat tersebut ialah di Bohor, Selengkoh, Padang Lumat serta di Pokok Sena, Seberang Perai.
Satu perkara yang menarik tentang tokoh ini ialah sistem dan
disiplin yang diterapkan dan dilaksanakan dalam mengendalikan sekolah yang diasaskannya. Kawasan institusi pendidikan itu dilengkapi surau.
Manakala rumah-rumah pondok (tempat penginapan) pelajar dibina secara tersusun. Untuk mereka yang berkeluarga dibina pondok di dalam kawasan sekolah. Sedangkan bagi yang masih bujang didirikan pondok di kawasan luar.
Para pelajarnya terdiridari remaja belasan tahun hingga kepada orang tua yang berumur 50 tahun. Kebanyakan mereka terdiri dari pelajar tempatan, namun ada juga yang datang dari Sumatera, Patani, dan Brunei. Hal ini menunjukkan betapa pengaruh pendidikan institusi pondok Syekh Tuan Hussain begitu meluas.
Meskipun sistem perhubungan pada waktu itu amat sukar lantaran institusi pendidikan belum banyak didirikan oleh pihak kerajaan. Pada waktu itu pelajar digalakkan bekerja sendiri bagi menampung kehidupan. Sebahagian mereka bersawah padi bersama-sama penduduk setempat.
Syekh Tuan Hussain menetapkan jadual belajar yang ketat untuk pelajar-pelajarnya. Beliau akan mengajar pada  tengah hari hingga petang. Waktu pembelajaran ini merangkumi sembahyang zuhur dan Asar secara berjemaah.
Manakala pembantu-pembantu Syekh Tuan Hussain akan mengajar pada waktu malam. Jadual yang disediakan itu adalah untuk memberi peluang kepada pelajar-pelajar pondok itu mencari nafkah kehidupan pada waktu pagi. Pondok Tuan Hussain semakin mendapat sambutan hebat dari para  pelajar.
Pada satu ketika terdapat lebih 50 buah pondok didirikan di satu-satu lokasi. Menyedari keadaan itu, Syekh Tuan Hussain memperkenalkan asrama (rumah panjang) yang boleh didiami oleh ratusan pelajar.
Dalam satu-satu musim pengajian, pondok ini mempunyai lebih dari 400 orang pelajar dan angka ini ada kalanya mencapai lebih 1000 orang.
Selain mendengar kuliah yang disampaikan oleh Syek Tuan Hussain dan pembantunya, para pelajar membaca kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain. Mereka juga turut merujuk kepada nota-nota yang disalin oleh pelajar-pelajarnya yang terdahulu.
Terdapat 18 buah kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain sendiri. Kitab itu turut digunakan di seluruh Nusantara baik melalui penerbitan maupun yang dibawa oleh bekas pelajarnya yang datang dari seluruh pelosok alam Melayu. Antara kitab itu ialah al-Nur al-Mustafid fi Aqaid Ahi al-Tauhid (1887), Tamrin al-Sibyan (1809), Hidayat al-Sibyan (1911), Hidayat al-Mutafakkirin (1918), Kasr al-Iksir (1920), Hidayat al-Talibin (1924),
Tadrih al-Sibyan (1926), dan banyak lagi.
Jelas di sini bahwa tokoh ini selain memberi kuliah, dia juga menulis, bahkan menurunkan ilmunya dalam bentuk dokumen yang sangat berharga. Semua itu dapat diwariskan hingga ke hari ini. Pastinya tokoh ini mempunyai disiplin masa yang begitu tersusun dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab.
HUSNU MUFID

Sufi, Syekh Tuan Husain

Syekh Tuan Hussain

Menulis I8 Buah Kitab Fiqh, Tauhid, dan Tasawuf.


Syekh Tuan Hussain Kedah atau nama sebenarnya Hussain bin Nasir bin Muhamad Taib dilahirkan di Titi Gajah, Alor Setar pada 2 November 1863 bersamaan 20 Jamadil Awal, 1280 Hijrah. Ia berasal dari keluarga ulama’ yang tinggal di Kalimantan. Siapakah dia sebenarnya berikut ini kisahnya.

Pada sekitar tahun 1841 Haji Mas’ud, Syekh Tuan Hussain singgah di Sungai Kedah dalam perjalanan pulang ke Kalimantan dari Makkah. Di kesempatan itu Haji Mas’ud telah memainkan peranan penting membantu kerajaan Kedah dalam perang menentang Siam.
Walau bagaimanapun, Haji Mas’ud telah syahid dalam peperangan itu pada tahun 1842. Melihat keadaan itu, anaknya Muhamad Taib dan ahli keluarga yang lain telah mengambil keputusan untuk menetap di Kedah untuk mencari
kehidupan baru. Kelahiran Syekh Tuan Hussain dalam keluarga ini terus memberi sinar khususnya dalam perkembangan dakwah Islamiah.
Keluarga Muhamad Taib terdiri di kalangan  ulama’. Dalam sejarah perjuangannya, Syekh  Tuan Hussain merupakan seorang penulis kitab-kitab agama yang terkenal di Nusantara. Tokoh ini telah menghasilkan 18 buah kitab mengenai fiqh, tauhid, dan tasawuf.
Dalam mendidik ummat, Syekh Tuan Hussain mengajarkan tulisan berhuruf  jawi serta mendirikan pondok pesantren sebagai institusi pendidikan agama Islam.
Beliau mendirikan sekolah dalam satu pondok pesantren  di beberapa kawasan di Kedah. Tujuannya untuk  mengukuhkan pendidikan Islam. Diantara  tempat-tempat tersebut ialah di Bohor, Selengkoh, Padang Lumat serta di Pokok Sena, Seberang Perai.
Satu perkara yang menarik tentang tokoh ini ialah sistem dan
disiplin yang diterapkan dan dilaksanakan dalam mengendalikan sekolah yang diasaskannya. Kawasan institusi pendidikan itu dilengkapi surau.
Manakala rumah-rumah pondok (tempat penginapan) pelajar dibina secara tersusun. Untuk mereka yang berkeluarga dibina pondok di dalam kawasan sekolah. Sedangkan bagi yang masih bujang didirikan pondok di kawasan luar.
Para pelajarnya terdiridari remaja belasan tahun hingga kepada orang tua yang berumur 50 tahun. Kebanyakan mereka terdiri dari pelajar tempatan, namun ada juga yang datang dari Sumatera, Patani, dan Brunei. Hal ini menunjukkan betapa pengaruh pendidikan institusi pondok Syekh Tuan Hussain begitu meluas.
Meskipun sistem perhubungan pada waktu itu amat sukar lantaran institusi pendidikan belum banyak didirikan oleh pihak kerajaan. Pada waktu itu pelajar digalakkan bekerja sendiri bagi menampung kehidupan. Sebahagian mereka bersawah padi bersama-sama penduduk setempat.
Syekh Tuan Hussain menetapkan jadual belajar yang ketat untuk pelajar-pelajarnya. Beliau akan mengajar pada  tengah hari hingga petang. Waktu pembelajaran ini merangkumi sembahyang zuhur dan Asar secara berjemaah.
Manakala pembantu-pembantu Syekh Tuan Hussain akan mengajar pada waktu malam. Jadual yang disediakan itu adalah untuk memberi peluang kepada pelajar-pelajar pondok itu mencari nafkah kehidupan pada waktu pagi. Pondok Tuan Hussain semakin mendapat sambutan hebat dari para  pelajar.
Pada satu ketika terdapat lebih 50 buah pondok didirikan di satu-satu lokasi. Menyedari keadaan itu, Syekh Tuan Hussain memperkenalkan asrama (rumah panjang) yang boleh didiami oleh ratusan pelajar.
Dalam satu-satu musim pengajian, pondok ini mempunyai lebih dari 400 orang pelajar dan angka ini ada kalanya mencapai lebih 1000 orang.
Selain mendengar kuliah yang disampaikan oleh Syek Tuan Hussain dan pembantunya, para pelajar membaca kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain. Mereka juga turut merujuk kepada nota-nota yang disalin oleh pelajar-pelajarnya yang terdahulu.
Terdapat 18 buah kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain sendiri. Kitab itu turut digunakan di seluruh Nusantara baik melalui penerbitan maupun yang dibawa oleh bekas pelajarnya yang datang dari seluruh pelosok alam Melayu. Antara kitab itu ialah al-Nur al-Mustafid fi Aqaid Ahi al-Tauhid (1887), Tamrin al-Sibyan (1809), Hidayat al-Sibyan (1911), Hidayat al-Mutafakkirin (1918), Kasr al-Iksir (1920), Hidayat al-Talibin (1924),
Tadrih al-Sibyan (1926), dan banyak lagi.
Jelas di sini bahwa tokoh ini selain memberi kuliah, dia juga menulis, bahkan menurunkan ilmunya dalam bentuk dokumen yang sangat berharga. Semua itu dapat diwariskan hingga ke hari ini. Pastinya tokoh ini mempunyai disiplin masa yang begitu tersusun dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab.
HUSNU MUFID

Syekh Belabelu dengan Syekh Maulana Magribi


Kisah  Syekh Belabelu dengan Syekh Maulana Magribi di Yogyakarta

Ajarkan Islam Kepada Pengikut Nyai Roro Kidul

Syekh Belabelu dikenal sebagai wali di wilayah pantai selatan. Khususnya di Pantai Parangteritis Jogjakarta.  Ia merupakan wali yang mampu menembus eilayah pantai selatan  Pulau Jawa. Dimana  dulunya tidak ada orang yang berani memasuki. mengingat daerah tersebut telah dikuasai Nya Roro Kidul.
Oleh karena itu, bagi masyarakat muslim di wilayah pantai selatan pulau Jawa  nama Syekh Belabelu sudah tidak asing lagi. Karena dia mampu melunakkan hati masyarakat yang berhati keras dan suka  dengan masalah tahayul.
Dalam kehidupan sehari-hari,  beliau terkenal sebagai seorang wali penyebar agama Islam yang terkenal sakti. Dari kesaktiannya inilah dia dapat mengikuti perjalanan Syekh Maulana Magribi ke Makkah dalam waktu singkat. Tanpa naik Kapal Laut.
Barangkali memang tidak masuk akal jika pergi ke Makkah tanpa menggunakan kapal laut. karena jaraknya cukup jauh. Tapi faktanya memang demikian itu. Kesaktiannya itulah yang mengantarkan kesana.
“Tiba-tiba sudah berada di Makkah. Hal tersebut membuat  Syekh Maulana Magribi kaget. Karena ketika diajak masih masak dan disuruh oleh Syekh Belabelu untuk pergi lebih dahulu,”ujar Ngebehi Suwelo juru kunci  Pesarehan Syekh Belabelu di desa Pemancingan kec Kretek Keb Bantul Yogyakarta.      
Sepulangnya dari Makkah Syekh Belabelu kembali ke tempat asalnya. Yaitu di perbukitan dekat Pantai Parangkusumo. Ditempat tersebut dia melakukan tapa dengan makan nasi yang banyak krikilnya. Tujuannya agar supaya tidak tertidur pada malam hari hingga Subuh tiba.
Sikap suka tirakat tanpa memakan nasi yang berlebihan itu membuat dirinya menjadi seorang wali yang memiliki kesehatan yang stabil. jarang menderita sakit. Apalagi lingkungannya cukup mendukung dengan phon-pohonan yang lebat.
Dibukit Parangkusumo inilah Syekh Belabelu melakukan aktifitas mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.  yang waktu itu masih kafir. Dalam dakwahnya ia membantu Syekh Maulana Magribi  menyebarkan agama Islam kepada pengikut-pengikut Nyai Roro Kidul penguasa pantai selatan Pulau Jawa.
Berkat jasanya membantu Syekh Maulana Magribi dalam menyebarkan ajaran Islam dalam waktu yang singkat banyak orang-orang yang masuk Islam. Sehingga jumlah orang Islam yang ada di pantai utara dan selatan seimbang.
Setelah sukses menyebarkan ajaran Islam diwilayah yang dikuasai Nyai Roro Kidul, maka Syekh Belabelu mengikuti  Syekh Maulana Magribi menuju Kesultanan Demak Bintoro. Karena beliau selalu mengikuti kemana perginya gurunya itu.   
Kemudian di tempat tersebut ditempati para santri-santrinya dan masyarakat untuk melanjutkan dakwahnya. Dalam perkembangan zaman setelah sekian ratus tahun untuk mengenang  sebagai tempat tinggalnya, maka tempat tinggal Syekh Belabelu dijadikan sebagai tempat keramat. Orang menyebutnya dengan nama  Pesarehan Syeh Belabelu.
Untuk itu mereka menandai dengan dua nisan mirip sebuah makam yang didalamnya ada jasadnya. Kalau orang tidak tahu dikira sebuah makam. Tapi sebenarnya dulunya merupakan tempat  tinggalnya.
Pesarehannya yang berada di perbukitan Pantai Parangkusumo banyak dikunjungi masyarakat. Tujuannya berbacam-macam. Ada yang ingin pangkatnya naik dan lahan pertaniannya subur.
Cukup banyak masyarakat yang berkunjung ke tempat itu untuk sekedar menentramkan hati akibat rumah tangganya kacau dan agar pangkatnya naik serta pertaniannya tidak dimakan hama wereng. Banyak permintaan mereka yang terkabul. Mereka berasal dari  Lampung, Medan, Bali dan masyarakat sekitar. Datangnya pada hari  Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon.
Selain itu, Pesarehan Syekh Belabelu juga digunakan sebagai tempat untuk mengasah ilmu tenaga dalam oleh sejumlah perguruan yang cukup terkenal di Yogyakarta.  Karena dianggap memiliki enerki yang tinggi  bila dibandingkan dengan makam-makam yang ada.

Keramat
Ada pula yang ingin mendapatkan energi gaib untuk ilmu kanoragan. Sebagian besar warga sebelum berjiarah ke Pesarehan Syekh Maulana Magribi terlebih dahulu ke Pesarehan Syekh Belabelu. Pernah ada serombongan dari Jepara dan Kudus kakinya lumpuh ketika akan naik  bukit menuju ke Pesarehan Syekh Belabelu
Bagi masyarakat sekitar maupun luar kota, Pesarean Syekh Belabelu itu harus didatangi terlebih dahulu sebelum menuju ke Pesarehan Syekh Maulana Magribi. Karena  usianya dianggap lebih tua dari  Walisongo penyebar agama di pantai utara Jawa. Mereka juga berkeyakinan kalau dilanggar  akan  mendatangkan musibah.
“Salah satu contohnya, beberapa tahun lalu  ada rombongan penjiarah dari Jepara dan Kudus. Waktu itu mereka lebih dahulu datang ke Pesarehan Syekh Maulana Magribi. Ketika akan menuju ke Pesarehan Syekh Belabelu mendadak kakinya lumpuh dan tidak mampu mendaki bukit menuju ke pesarehan,”ujarnya. 
Kejadian tersebut menjadikan masyarakat lebih mendahulukan untuk berjiarah ke Pesarehan Syekh Belabelu daripada ke Pesarehan Syekh Maulana Megribi. Meskipun tidak ada larangan secara tertulis. Keyakinan itu begitu kuat diyakini hingga sekarang. Hanya orang jauhlah yang belum mengetahui.   HUSNU MUFID  

Senin, 06 Maret 2017

Renungan tentang Banjir

Banjir dan Longsor Terus Menerus

Tahun 2016 telah kita tinggalkan. Dimana tahun tersebut penuh dengan bebagai macam musibah, baik di  musim panas maupun hujan. Kini bangsa Indonesia memasuki tahun 2017. Pada bulan-bulan ini  musibah bencana banjir dan longsor  telah menimpa saudara-saudara kita di Indonesia.
Kalau kita perhatikan musibah yang menimpa bangsa Indonesia sekarang ini, maka tidaklah seseorang itu keluar dari dua  keadaan, yaitu yang menyenangkan dan yang menyusahkan. Di balik dua  keadaan ini ternyata Allah telah menyediakan pahala yang besar; yakni bila mendapati sesuatu yang menyusahkan maka bersabar, dan sebaliknya bila mendapati sesuatu yang menyenangkan dia akan bersyukur. Sehingga dalam kondisi apapun juga, seorang mukmin selalu mendapatkan kesempatan untuk menuai pahala.
Nasehat dari Ibnul Jauzi Rohimahulloh Ibnul Jauzi berkata, "Orang yang ditimpa ujian dan hendak membebaskan diri darinya, hendaklah menganggap bahwa ujian itu lebih mudah dari apa yang mudah. Selanjutnya, hendaklah membayangkan pahala yang akan diterima dan menduga akan turunnya ujian yang lebih besar?
Perlu diketahui, bahwa lamanya waktu ujian itu seperti tamu yang berkunjung. Untuk itu, penuhilah  secepatnya apa yang ia butuhkan, agar ujian cepat berlalu dan akan datang  kenikmatan, pujian serta kabar gembira kelak di hari pertemuan, melalui pujian sang tamu.
Oleh karerna itu sikap yang seharusnya diambil seorang mukmin di dalam menghadapi kesusahan adalah meniti setiap detik, mencermati apa yang telah terjadi di dalam jiwanya dan menguntit segala gerakan organ tubuh  yang didasari oleh kekhawatiran kalau-kalau lisan salah mengucap atau dari hati keluar ketidakpuasan.”
Dengan sikap demikian, seolah-olah fajar  telah menyingsing, malam ujian telah berlalu, sang pengembara pun melepaskan kegembiraan hatinya karena pekatnya malam telah sirna. Terbitlah mentari balasan dan sampailah si pengembara ke rumah keselamatan.
Semua musibah yang datang dan dialami itu bernilai kebaikan. Juga dapat mengantarkannya pada sifat dan kedudukan terpuji di sisi Allah Ta'ala. Yakni asalkan dapat bersikap dengan sikap yang sebagaimana mestinya pada keadaan-keadaan tersebut dengan tawakkal. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah: "Sungguh menakjubkan semua keadaan orang-orang mukmin. Sesungguhnya semua urusan yang dimilikinya itu semuanya baik, dan tidaklah hal demikian itu dimiliki kecuali hanya oleh orang-orang mukmin saja. Jika dia mendapat kesenangan, maka dia bersyukur, dan itu baik baginya; dan apabila mendapatkan kesusahan dia bersabar, dan itu baik baginya. (HR. Bukhori).
Dari sabda Rasulullah ini jelas, bahwa saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah dibulan-bulan  ini kita doakan agar mendapatkan kesabaran yang tinggi. Karena akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Amin.

KlentengHwie Ing Kiong Madiun


Sejarah berdirinya Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun

Dulunya Berada ditepi Bengawan

Setiap kota tentunya memiliki cerita tersendiri mengenai keberadaannya. Seperti madiun yang ternyata kisah sejarahnya tidak luput dari hadirnya sebuah bangunan berupa klenteng yang berdiri di salah satu Kelurahan disana.

Eksistensi Madiun tidak terlepas dari keberadaan Kelenteng Hwie Ing Kiong di Jl. HOS Cokroaminoto No. 63, Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur (Jatim). Namun tak banyak orang tahu bahwa kelenteng tersebut pada mulanya tidak berada di alamat tersebut.
Kepala Tata Usaha (TU) Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun, Erfan, mengungkapkan masyarakat Tionghoa di Madiun mula-mula menjalankan tradisi leluhur mereka untuk bersembahyang di Kuil Dewi Mazu Tian Shang Sheng Mu (Macopo) di timur Sungai Bengawan Madiun atau samping jembatan Madiun. Disinggung keberadaan lokasi Kuil Dewi Mazu tersebut, dia tidak mengetahui secara pasti.
“Jujur saya belum pernah melihat kuil Dewi Mazu lama. Beberapa pengurus juga tidak mengetahui secara pasti lokasi Kuil Dewi Mazu tersebut. Terdengar kabar, bangunan kuil di sekitar Sungai Bengawan Madiun sudah berangsur hilang karena digantikan dengan rumah-rumah warga,” kata Erfan di Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun.
Erfan menjelaskan karena sebuah kejadian penting berkaitan dengan Residen Belanda bernama Tan Soen Yong, Kuil Dewi Mazu yang tersusun dari bangunan sederhana tersebut bisa dikenal luas oleh masyarakat Madiun. Menurut dia, istri Residen di Madiun saat itu menderita sakit parah. Dokter menyarankan agar sang istri Residen menjalani pengobatan di negeri Belanda. Namun, karena keterbatasan waktu, Residen yang berkuasa atas pemerintahan dan tata laksana Madiun kala itu menolak usulan dokter.
“Kabar kondisi istri residen Belanda yang sakit terdengar hingga Liem Koen Tie, yakni Ketua Masyarakat Tionghoa Madiun waktu itu. Dia menyarankan Residen agar mengajak istrinya bersembahyang di kuil Dewi Mazu. Saran tersebut diikuti sang residen yang meminta istrinya datang ke Kuil Dewi Mazu,” ujar Erfan.
Setelah bersembahyang di Kuil Dewi Mazu, lanjut Erfan, istri sang residen pada malam harinya bermimpi didatangi seorang wanita Tionghoa yang mengenakan busana bangsawan khas negeri Tiongkok. Menurut dia, sosok perempuan yang muncul dalam mimpi istri residen tersebut menghibur dengan mengatakan penyakit yang diderita sang istri Residen tidak lama lagi akan sembuh. Setelah berkata demikian, sosok wanita itu pun menghilang dari mimpi istri residen.
“Mimpi tersebut diceritakan kepada residen dan keesokan harinya istri Residen segera meminum obat yang didapat melalui Yok Jiam atau Jiamsi Obat di Kuil Dewi Mazu selama sepekan. Sungguh suatu kejadian yang hampir tidak dapat dipercaya, sang istri Residen sembuh total dari sakit parah setelah mimpi bertemu sosok wanita berpakaian bangsawan Tiongkok,” papar Erfan.
Erfan menyampaikan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhan istrinya, sang residen lantas merestui perminataan masyarakat Tionghoa di Madiun saat itu untuk merelokasi Kuil Dewi Mazu ke tempat lebih layak, jauh dari ancaman banjir pada musim penghujan. Residen memberikan kemudahan warga Tionghoa untuk mendapatkan sebidang tanah dengan luas sekitar 10.000 m2 untuk dibangun sebuah kuil baru yang kemudian dikenal sebagai Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun di Jl. HOS Cokroaminoto No. 63, Kelurahan Kejuron.
“Pembangunan Hwie Ing Kiong Madiun dimulai tahun 1887 [Masehi] atau Yinli 2438 [menurut tarikh Imlek] dan selesai tahun 1896/Yinli 2447. Klenteng Hwie Ing Kiong Madiun baru diresmikan pada tahun 1897/Yinli 2448. Bangunan utama Hwie Ing Kiong bergaya khas Tiongkok. Berdasarkan kisahnya, arsitek dan tenaga kerja pembangunan Hwie Ing Kiong Madiun didatangkan langsung dari Fujian,” jelas Erfan.

Ubin Belanda
Erfan menceritakan ubin merah yang terpasang pada bangunan utama dibawa langsung dari Tiongkok dan sampai sekarang masih dipertahankan keutuhannya. Dia menambahkan, sebagai ungkapan rasa terima kasih, Tuan Residen Madiun menghadiahkan keramik khas negeri Belanda yang sampai sekarang masih terpasang di meja Altar Mazu sebagai memorabilian Tuan Residen.
"Setelah Kuil Dewi Mazu yang baru selesai dibangun, lanjut Erfan, dilaksanakan ritual keagamaan untuk memindahkan rupang atau kimsin Dewi Mazu dari kuil lama dengan disaksikan dan diikuti penduduk Tionghoa di Madiun,"ungka[Yuan salah seorang pengurus klenteng Hwie Ing Kiong Madiun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah warga keturunan Tionghoa turut berperan dalam relokasi Kuil Dewi Mazu ke Kelenteng Hwie Ing Kiong di Jl. HOS Cokroaminoto No. 63, Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Mereka yang dalam catatan disebut sebagai “para budiman yang telah memprakarsai pembangunan Hwie Ing Kiong” juga merupakan pengurus pertama kelenteng itu.
Mereka adalah, Kapitan : Tan Soen Yong (Chen Shun Rong), Sie Hong Gwan (Shi Hong Yuan), Letnan : Tjan Heng Gwan (Zeng Heng Yuan), Ketua : Liem Koen Tie (Lin Kun Chi), Wakil : Liem Kwong Pio (Lin Guang Biao), Bendahara : Tan Ing Ju (Chen Ying Ru), Anggota : Njoo Kie Siong (Yan Qi Song), Njoo Kie San (Yan Qi Sang), Tan Bik Swat (Chen Bi Xue), Gwe Kwie Tjong (Wei Gui Zong)
“Kelenteng Madiun dikenal dengan nama Hwie Ing Kiong yang berarti istana kesejahteraan dan kemuliaan. Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun berdiri dan menjadi tempat bernaung sebagian besar masyarakat Tionghoa di Kota Madiun maupun Kabupaten Madiun dari dulu hingga sekarang,” jelas Erfan soal bagian sejarah Madiun. Cahya/JUL

Kelenteng Sumenep Madura


Kelenteng  Pao Sian .Lin Kong Sumenep Madura Jatim

Terdapat Altar Nabi Lao Tse dan Kong Hucu

Klenteng Pao Sian Lin Kong yang cukup besar dan megah ini pernah mengalami kondisi yang memprihatinkan pada zaman kemerdekaan hingga tahun 1950. Kemudian dipugar kembali  tahun 1963 oleh umat Tridharman. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.


Kelenteng Pao Sian Lin Kong Sumenep terletak  di desa Pabian kecamatan Sumenep ini telah berumur 200 tahun lebih. Menurut keterangan orang-orang tua  bahwa tempat  ibadat itu asal mulanya dibangun di daerah Marengan sebuah kota kecil di kecamatan Kalianget.
Pada zaman penjajahan  kota kecil itu pernah menjadi pusat  perdagangan  yang ramai. Belum diketahui  sebabnya mengapa tempat  ibadat itu  kemudian dipindah ke tempat yang sekarang bernama Klenteng  Pao Sian Lin Kong. Hingga kini belum ada yang mengetahui siapa pendirinya.
Kemudian pada jaman kemerdekaan hingga tahun 50 an oleh karena  adanya situasi kacau. Tempat  itu tidak  terurus  sehingga bangunannya  mengalami kerusakan berat.  pada tahun 1963. Kemudian  dipugar menjadi bangunan baru oleh Yayasan Klenteng  Pao Sian Lin Kong.
Orang yang berjasa  dalam pemugaran  tempat ibadah  itu ialah Ong Kie Tjay. Karena beliau memberikan dukungan moril dan materiil yang sangat kuat. Sehingga proses pemugaran dapat terselesaikan dengan cepat. Disamping itu ada dukungan  yang besar  dari  para dermawan selaku umat Tridharma
Bangunan Klenteng Pao Sian Lin Kong terbagi dalam beberapa ruangan. Pertama, bangunan induk  yang didalamnya terdapat  tiga ruangan, diruangan tengah terdapat pula tiga buah meja Altar sembayangan lengkap dengan tempat lilin, pembakaran dupa dan menancapkan lidi hio.
Dibagian kiri, Altar sang Agung Hok Tek Ceng Sin, dibagian tengah  Altar Thian Siang Bo. Dibagian  kanan Altar Kun tek Cin Ong dan dihalaman depan  ruangan itu  terdapat meja sembayangan kepada Tuhan Thian. Ruang kiri ialah aula khusus khotbah.
Ruang kanan ialah lidang Sam Kau terdapat Altar  Nabi Lao Tse, Nabi  Sakyamani Buddha dan Nabi Kong Hucu. Pada bangunan tengah terdapat ruangan Hut Thong, didepannya adalah Altar Wie To Posat dan disebelah kanan adalah ruang Hiap Thian Siang Tie. Didalam klenteng tersebut bukan hanya terdapat Altar dewa-dewa. Tapi terdapat Altar Tri Nabi. Yaitu  Nabi  Lao Tse, Nabi Kong Hucu dan Nabi Syakyamuni Buddha.  
Di kanan kiri ruang itu ialah ruang perpustakaan, ruang bacaan, ruang perlengkapan dan ruang kantor. Dibagian belakang terdapat ruang penginapan Biokong, ruang tamu agng, peristirahatan umat khusus  yang dari luar daerah, kamar mandi dan WC.

Disediakan Ciamsi
Dalam ruangan gedung klenteng tersebut setiap upacara  kebhaktian bersama dipimpin oleh pengurua tempat ibadah. setelah  sembayang dikumpulkan  di aula  khusus  untuk diberi  sajian riwayat-riwayat. Sehingga tiap ada kebhaktian umat selalu mengikuti secara bersama-sama. 
“Bagi mereka yang ingin mengetahui nasibnya. Di klenteng itu disediakan Ciamsi (angka dalam kepingan bambu). Kemudian dilempar ke udara dan dijatuhkan ke tanah. Dari  situlah kemudian diketahui  akan nasib seseorang yang melempar benda tersebut,”ujar Liam An Kong salah seorang umat .  
Berdasarkan surat keputusan Peperada Jawa timur tahun 1967, nama klenteng  itu diganti dengan  nama Tempat Ibadah Tridharma. Sehingga berubah menjadi Yayasan Tempat Ibadah Tridharma Pao Sian Lin Kong Sumenep. Orang yang berjasa dalam pemugaran tempat ibadah itu ialah Ong Kie Tjay. CAHYA
     

Tan Malaka Nasibmu KIni di Kediri



Pusara Tan Malaka di Selopanggung, Kediri
Makam Dipindah Lokasi Tanpa Digali

“Penduduk Selopanggung kathah sing semerap yen teng mriki wonten makam pejuang, naminipun Tan Malaka, nanging crito pepeke mboten ngertos,” Ungkap Kayat, salah satu warga Selopanggung. Artinya,”Penduduk Selopanggung banyak yang mengetahui jika di sini ada makam pejuang, namanya Tan Malaka, namun cerita lengkapnya tidak tahu”.

SAAT Posmo bertandang ke lokasi makam sosok misterius yakni Tan malaka, suasana desa nampak biasa saja. Lokasi makam tersebut berada di Dusun Selopanggung, Desa Selopanggung I, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Daerah tersebut berada di lereng Gunung Wilis. Jalan cukup menanjak dan berbatu, bagi pengunjung yang mau kesana sebaiknya hindari musim hujan, karena selain berbatu, struktur tanah sangat berlumpur dan licin. Namun bagi warga desa itu sudah biasa karena terbiasa keseharian mencari rumput disekitar lereng Gunung Wilis.

Menuju ke makam Tan malaka yang letaknya terlihat berada di tengah persawahan, terdapat tangga dari batu bata. Jika dihitung sekitar 200 anak tangga yang bakal mengantar para peziarah mencapai pemakaman tersebut. Sesampainya disana, jangan heran jika terlihat banyak pemakaman sebab, selain makam Tan Malaka, juga ditempati sebagai pemakaman umum warga Dusun Selopanggung.

Saat itu cukup sepi, nampak hanya seorang peziarah nampak duduk di puncak anak tangga. “Saya kesini ya karena penasaran mas, ceritanya juga saya tidak tahu, saya bukan warga Kediri tapi saya dari Madiun,” tutur lelaki yang tengah asik bersama putranya dan mengaku bernama Heri tersebut.

Tidak lama nampak beberapa ibu-ibu sedang menggendong tumpukan rumput hijau, “Waduh saya tidak tau ceritanya mas, wong makam itu sudah ada sejak dulu,” ungkap perempuan yang bernama marsinah tersebut. “Dulu ada yang tahu, tapi orangnya sudah meninggal beberapa waktu lalu, dia pernah didatangi pria bule,” imbuh Sukinem perempuan pencari rumput yang lain.

Keberadaan makam tersebut nampaknya masih sangat misterius, sebab belum diketahui kejelasannya. Bahkan banyak warga yang didatangi Posmo untuk menceritakan perihal asal-muasal makam bernama Tan Malaka tersebut. Hingga akhirnya tibalah dirumah salah warga yang tahu perihal keberadaan makam tersebut.

“Pak Tan Malaka sien matine mboten teng mriku, sien niku ditembak teng Deso Pethuk mriko, terus dikubur teng Selopanggung mriki,” tutur Saminatun. Rupanya dulu Tan Malaka ditembak mati disebuah Desa yang bernama Pethuk, kemudian jasadnya di makamkan di Desa Selopanggung.

Keberadaan makam dan penyebab kematian Sutan Ibrahim atau Datuk Tan Malaka, menjadi polemik selama 30 tahun. Tan Malaka hilang seperti ditelan bumi dan tak tentu rimbanya sejak Februari 1949 silam. Namun, misteri ini sedikit demi sedikit terkuak menyusul pembongkaran makam yang diduga berisi jasad Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, Jawa Timur oleh tim forensik RSCM, sesuai petunjuk seorang sejarawan Belanda Harry A Poeze.

Delapan Genggam Tanah Makam
Bahkan, diceritakan pula, beberapa hari sebelumnya, terdapat sebuah upacara pemindahan makam Tan malaka oleh keluarganya untuk dikebumikan ke tanah kelahiran. “Keluarga tan Malaka namung njupuk wolung gegem lemah kuburan mas, wong iku namung sarat kok mas,” Ungkap perempuan yang sudah berumur 56 tahun tersebut. Rupanya bukan memindah tulang belulang yang ada di makam tersebut, namun hanya sebuah proses simbolis suatu adat untuk memindahkan makam keluarga dengan cara mengambil beberapa genggam tanah.

Seperti yang diceritakan, prosesi adat penjemputan gelar yang dipimpin sejumlah tetua adat di makam Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri berlangsung dengan khidmat. Tak sedikit peserta upacara dari Kabupaten Limapuluh Kota yang menangis saat berdiri di depan pusara Ibrahim Datuk Tan Malaka. “Kami mencari tokoh yang hilang ini sejak tahun 1949,” kata Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan di depan ratusan warga yang menyertainya, Selasa 21 Februari 2017.

Setelah menyampaikan kata pengantar, prosesi sakral yang dipimpin Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Limapuluh Kota Safruddin Datuk Bandaro Rajo dilakukan. Diawali dengan penyampaian sejarah singkat perjalanan hidup Tan Malaka hingga meninggal di Desa Selopanggung, Safruddin menyampaikan syukur atas ditemukannya makam tersebut. Penemuan ini sekaligus melengkapi prosesi penyerahan gelar adat Datuk Tan Malaka kepada Hengky Novaron Arsil, keponakan Ibrahim Tan Malaka dari garis keturunan ibu.

Selesai berdoa di pusara Ibrahim Tan Malaka, penyematan gelar dilakukan Hengky Novaron Arsil dengan melepas pakaian adatnya dan mengganti dengan pakaian raja warna kuning emas. Prosesi yang dinamai Basalin Baju ini merupakan simbol penyematan gelar Datuk Tan Malaka VII kepada Hengky Novaron. “Baju ini tak lekang oleh panas dan hujan,” kata Safruddin yang juga bergelar datuk.

Menurut dia, penyematan gelar raja ini harus dilakukan di makam almarhum Datuk Tan Malaka jika sudah wafat. Penyerahan atau pelimpahan gelar bisa juga dilakukan sendiri oleh yang bersangkutan secara suka rela jika telah dianggap tak mampu lagi memegang tampuk kepemimpinan. Selama bertahun-tahun pemegang gelar Datuk Tan Malaka di Kabupaten Limapuluh Kota tak melalui proses ini. Penelusan sejarah yang dilakukan Harry A Poeze yang menemukan keberadaan makam Tan Malaka di Desa Selopanggung inilah yang kemudian menjadi dasar melakukan upacara adat di Kediri.

Peti Besi Peninggalan Tan Malaka
Selanjutnya, para keluarga dan ketua adat bergantian mengambil segenggam tanah kuburan Tan Malaka untuk dimasukkan ke dalam peti beralas kain kafan. Peti tersebut adalah peninggalan Ibrahim Tan Malaka yang disimpan di rumah kediamannya di Pandam Gadang yang hendak direnovasi menjadi museum. “Kami membawa tanah ini sebagai simbol pengambilan jasad yang tak mungkin kami gali,” kata Safruddin.

Dia berharap dengan pengambilan tanah ini akan mengakhiri polemik pemindahan makam Tan Malaka yang sempat terjadi antara Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota dengan Kabupaten Kediri. Apalagi masyarakat Desa Selopanggung juga menyatakan ingin tetap memelihara dan merawat makam tersebut bagian dari leluhur mereka.

Safruddin juga berharap Kementerian Sosial bisa memberikan hak-hak kepahlawanan Tan Malaka dan meluruskan sejarah putra Minang tersebut sebagai tokoh atheis atau tidak beragama. “Beliau memang berjuang bersama komunis untuk kemerdekaan bangsa, tetapi dia seorang Muslim yang taat,” tegasnya.

Wakil Bupati Kediri Masykuri juga mengikuti rangkaian prosesi tersebut. Bersama para tetua adat, dia berdoa di depan pusara Tan Malaka dengan tekun. Senada dengan Safruddin, Masykuri juga menyatakan telah mengakhiri polemik soal makam Tan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Kementerian Sosial. “Kami bersama masyarakat Kediri mendukung penuh kegiatan ini,” kata Masykuri singkat. Cahya/Haris



Upacara Adat Dilakukan
di Makam Tan Malaka

Pegiat Tan Malaka Institute, Habib Monti, menjelaskan alasan proses upacara adat penyerahan gelar dilakukan di makam Tan Malaka. Sesuai tradisi, menurut dia, penyerahan gelar mutlak dilakukan di depan jasad Tan Malaka.

RATUSAN warga Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, hari ini, 21 Februari 2017, menggelar prosesi jemput gelar di makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Upacara adat ini dilakukan untuk melengkapi penyerahan gelar dari Datuk Tan Malaka ke-3 kepada Datuk Tan Malaka ke-7. “Almarhum adalah pemegang gelar Datuk Tan Malaka ketiga,” kata Waji, Kepala Desa Selopanggung menirukan kata-kata habib Monti yang dijelaskan pada Selasa 21 Februari 2017.

Gelar tersebut akan diberikan kepada Hengky Novaron Arsil, keponakan dari garis keturunan ibu yang mendominasi di adat Minang. Gelar itu diserahkan kepada keponakan Ibrahim Tan Malaka karena almarhum tidak memiliki istri dan anak. Karena itu, dewan adat dan keluarga memutuskan untuk menyerahkannya kepada kerabat dari garis ibu.

Masih menirukan kata Habib Monti, Waji menjelaskan, selama ini penyerahan gelar Datuk Tan Malaka kepada generasi penerusnya tidak pernah dilakukan secara komplit. Penyebabnya, penyerahan atau pelimpahan gelar tidak dilakukan sendiri oleh yang bersangkutan atau dilakukan di hadapan pekuburan jika pemegang adat sudah meninggal.  “Ini yang sekarang kita lakukan di Kediri,” katanya.

Selama bertahun-tahun pemegang gelar Datuk Tan Malaka di Kabupaten Limapuluh Kota tak melalui proses ini. Penelusuran sejarah yang dilakukan Harry A Poeze, yang menemukan keberadaan makam Tan Malaka di Desa Selopanggung inilah dasar melakukan upacara adat di Kediri.

Gelar Datuk Tan Malaka adalah pemegang kepemimpinan adat atas 142 Niniak Mamak atau penghulu (kepala kaum) di wilayah 3 Nagari (desa) dari 2 kecamatan Suliki dan Gunung Omeh di Kabupaten Limapuluh Kota. Tingginya gelar ini membuat rombongan dari Limapuluh Kota, Sumatera Barat, melakukan perjalanan menuju makam Tan Malaka sejak Kamis, 16 Februari 2017, menggunakan bus dan mobil pribadi.

Prosesi tersebut juga akan diakhiri dengan pengambilan segumpal tanah pekuburan untuk dibawa ke kampung halaman. Hal ini menjadi syarat pengambilan jenasah yang gagal dilakukan demi menjaga hubungan baik dengan masyarakat Kediri.

Pelaksanaan upacara adat ini mendapat dukungan penuh masyarakat desa setempat. Bahkan mereka ikut mempersiapkan acara mulai pemasangan spanduk hingga keperluan teknis lain. Warga bersyukur makam Tan Malaka tak jadi dipindahkan. “Kami akan merawat makam ini sebagai bagian dari leluhur desa,” kata Waji. Cahya/Haris

Kejadian Aneh di Makam Tan Malaka
Bisikan Gaib Sesepuh Desa

"Minggir, Minggir, Minggir, Minggir, Minggir !!!!!" teriakan histeris kata minggir berulang-ulang terdengar dari seorang remaja, dia berjalan mendekati pusara Tan malaka, kemudian tersadar dan terlihat bingung.

SUDAH banyak yang beranggapan, bahwasannya makam merupakan salah satu tempat yang sakral. Bukan sembarangan tempat yang bisa seenaknya dipindah-pindah, sudah banyak cerita mengenai kejadian-kejadian aneh diluar logika terjadi saat ada kegiatan untuk membongkar sebuah makam. Salah satunya yakni proses pemindahan makam Datuk Ibrahim Tan Malaka di lereng Gunung Wilis.

Ya, diceritakan oleh Kayat (60) yang saat itu turut menyaksikan prosesi pemindahan makam Tan Malaka. Beberapa peristiwa mistis terjadi saat prosesi pengambilan tanah perkuburan Tan Malaka di Kediri. Masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota meyakini hal itu sebagai bentuk kesakralan acara tersebut.

Proses pengambilan gelar adat Datuk Tan Malaka dan tanah perkuburan sebagai pengganti jasad di makam Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, telah dilakukan. Ratusan warga Kabupaten Limapuluh Kota mendatangi makam di lereng Gunung Wilis untuk melakukan upacara adat. Meski berlangsung khidmat, sejumlah peristiwa mistis sempat menarik perhatian peserta upacara.

Peristiwa unik pertama terjadi ketika rombongan dan tokoh adat yang dipimpin Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan tiba di salah satu rumah warga di Desa Selopanggung. Rumah terakhir sebelum memasuki kawasan gunung menuju makam ini menjadi tempat singgah peserta upacara untuk bertemu dengan perangkat desa dan Wakil Bupati Kediri Masykuri Iksan.

Baru sejenak mereka duduk, seorang yang bernama Yusron, remaja peserta rombongan dari Limapuluh Kota, mendadak ngeloyor pergi meninggalkan rekan-rekannya. Tanpa pamit, dia berjalan sendiri menyusuri jalan setapak yang dipenuhi lumpur menuju kompleks pemakaman desa tempat pusara Tan Malaka. Tentu saja tidak ada yang memperhatikan, karena semua orang sedang fokus pada satu acara.

Hingga acara ramah-tamah dengan perangkat pemerintah Kediri usai, rombongan berjalan menuju makam menyusul langkah Yusron. Begitu tiba di kompleks makam yang menjorok ke ngarai, mereka mendapati Yusron tengah mencabuti rumput. Tak hanya mencabuti rumput di pusara Tan Malaka, remaja ini juga telah mencabut tandas hampir seluruh rumput yang berada di area makam.

Ketika ditanyai temannya, Yusron justru menyebut nama Mbah Suhut dan beringsut ke sebuah pusara lawas. Menurut warga setempat, lokasi yang ditunjuk Yusron benar merupakan makam Mbah Suhut, sesepuh desa yang meninggal puluhan tahun silam. Hal itu cukup mengejutkan warga di permakaman, karena sebelumnya Yusron belum pernah berkunjung ke Kediri ataupun ziarah ke makam itu.

Bahkan, saat prosesi pengambilan tanah perkuburan dilakukan ketua adat Minang, Yusron mendadak berdiri dari pusara Mbah Suhut sambil berteriak histeris mengucapkan "Minggir" berulang-ulang. Dia meminta jalan kepada orang-orang yang mengerumuni makam Tan Malaka untuk melihat dari dekat. Setelah diberi jalan dan tiba di dekat pusara Tan Malaka, pemuda itu langsung tersadar dan terlihat bingung.

Sebelumnya, saat bertamu di Pondok Pesantren Lirboyo, malamnya, Yusron mengaku didatangi seseorang yang menanyakan maksud kedatangan rombongannya. Dia mengira orang tersebut adalah warga setempat. Selanjutnya pria misterius itu meminta Yusron pergi ke makam untuk membersihkan makam dan mencabut rumput. "Saya langsung pergi ke sana," ujarnya. Sehingga terjadilah hal aneh tersebut.

Misteri Kopor Tua Tan Malaka
Sebuah kopor tua menjadi tempat tanah pekuburan Ibrahim Datuk Tan Malaka dalam upacara adat penobatan gelar Datuk Tan Malaka ke VII di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada Selasa 22 Februari 2017. Percaya tidak percaya, kopor milik Datuk Tan Malaka yang merupakan peninggalan orangtuanya itu memiliki cerita misteri.

Entah kebetulan atau bukan, setiap kendaraan yang ketempatan kopor logam penuh karat itu mendadak mogok. Insiden ngadat pertama kali terjadi saat rombongan yang terdiri empat unit bus baru bertolak dari Kabupaten Lima Puluh Kota.  “Masih di Payakumbuh AC bus tiba tiba rusak dan mesin mati, “tutur Wakil Bupati Lima Puluh Kota Ferizal Ridwan seusai mengikuti acara peringatan haul Ibrahim Datuk Tan Malaka di Ponpes Lirboyo Kediri.

Awalnya tidak tebersit pikiran soal kopor tua itu. Apalagi setelah dilakukan perbaikan ringan mesin bus hidup kembali. Rombongan berpenumpang 150 orang (4 bus) itu harus tiba di Kediri sesuai jadwal. Namun kenyamanan itu tidak berumur lama. Bus mengalami mesin mati tanpa sebab jelas.

Setelah dilakukan otak atik kecil pada bagian mesin, bus kembali hidup. Kecurigaan mogok tanpa sebab akibat ulah kopor tua mulai tumbuh. Untuk memastikan asumsi itu, panitia memindahkan kopor ke bus lain. “Dan ternyata bus yang ketempatan kopor itu juga mogok. Begitu juga dengan bus lainya. Boleh percaya dan tidak, tapi kenyataanya seperti itu,“ terang Ferizal dengan tertawa.

Tidak ada kejadian aneh dari kopor tua itu selama upacara adat berlangsung. Keanehan kembali muncul saat bus rombongan yang ketempatan kopor Tan Malaka bertolak pulang ke Kabupaten Lima Puluh Kota. Baru menempuh jalan sekitar 12 kilometer dari Ponpes Lirboyo, AC bus tiba tiba mati. Diduga akibat panas, asap mengepul dari bagian mesin bus dan berakibat matinya mesin.

Melihat gejala kebakaran, para  penumpang rombongan sontak panik, dan berebut keluar dari kendaraan. Insiden yang terjadi di jembatan Semampir Kota Kediri  berlangsung sekitar pukul 23.00 WIB. Malam itu Wabup Ferizal memutuskan membatalkan perjalanan pulang. Dia tidak berani berspekulasi sebelum ada kepastian bus dalam kondisi yang benar-benar bagus. Sebagai solusi, peserta rombongan kembali menginap di Kediri. Cahya/Haris


Biografi Tan Malaka
Membujang Hingga Akhir Hayat

Lahir             : 2 Juni 1897, Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Meninggal              : 21 Februari 1949 (umur 51), Kediri, Jawa Timur
Kebangsaan          : Indonesia
Almamater         : Rijks Kweekschool, Haarlem, Belanda
Pekerjaan         : Guru dan pemimpin Partai Komunis Indonesia
Dikenal karena      : Pahlawan Nasional Indonesia
Agama               : Islam
Orang tua         : Rasad Caniago (ayah), Sinah Simabur (ibu)

Banyak sumber mengatakan bahwasannya tokoh misterius yang satu ini sangat terkenal dengan pemikiran pemikirannya yang revolusioner dan berhaluan kiri, Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka yang lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 1897, ia wafat di Jawa Timur, 21 Februari 1949. Beliau adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba.

Sebagai sosok Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris namun pemerintah ketika itu menganggap dirinya sebagai pemberontak dan harus dilenyapkan.

Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.

Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat. Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh "sekelompok orang tak dikenal" di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.

Kumpulkan Pemuda Komunis
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Putus Hubungan Dengan PKI
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti mengalami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya.

Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjuangan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Proklamasikan PARI
Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggarjati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Lokasi Hilangnya Tan Malaka
Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.

Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda. Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan.

Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.

Hingga akhir hayatnya, Tan Malaka dikabarkan tidak penah menikah, tetapi ia mengakui pernah 3 kali jatuh cinta, yaitu di Belanda, Filipina, dan Indonesia. Di Belanda, Tan Malaka dikabarkan pernah menjalin hubungan dengan gadis Belanda bernama Fenny Struyvenberg, mahasiswa kedokteran yang kerap berdatang ke rumah kost-nya. Sementara di Filipina, ada seorang gadis bernama Carmen, puteri bekas pemberontak di Filipina dan rektor Universitas Manila. Sedangkan saat ia masih di Indonesia, Tan pernah jatuh cinta kepada satu-satunya siswi perempuan di sekolahnya saat itu, yakni Syarifah Nawawi.  Alasan Tan Malaka tidak menikah adalah karena  perhatiannya terlalu besar untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Cahya/Haris

Menyambut Raja Salman dari kerajaan Arab saudi

Menyambut Kedatangan Raja Arab Saudi
Bangsa Indonesia sebentar lagi kedatangan tamu agung dari kerajaan Arab Saudi. yaitu  Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. Dijadwalkan berlangsung pada 1-9 Maret 2017, Raja Salman akan membawa 1.500 anggota delegasi, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.
Bagi negara Indonesia  kunjungan Raja Arab Saudi memiliki arti yang sangat penting dalam hubungan kedua negara. Bahkan memiliki nilai strategis, baik secara politis, agama dan ekonomi ke masa depan. Mengingat sejak zaman dahulu memiliki hubungan yang tidak pernah putus.
Dalam bidang politik, kunjungan ini merupakan yang kedua kali bagi Raja Saudi. Dimana zaman Presiden Soeharto pernah berkunjung ke Indonesia tahun 1974. Kini Raja Salman berkunjung untuk yang kedua kali guna menjalin persahabatan yang lebih harmonis. 
Sedangkan presiden Indonesia telah berkunjung beberapa kali. Mulai dari Presiden Soekarno, Soeharto, KH Abdurrahman Wakhid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Jokowi. Ini menunjukkan presiden  Indonesia memiliki kepentinggan yang cukup besar terhadap  kerajaan Arab saudi.
Kedatangan Raja Arab Saudi tahun ini memiliki arti yang sangat penting. Khususnya masalah politik. Dimana perubahan politik dunia, terutama di Amerika Serikat yang sedang kurang bersabahat dengan Islam dan Timur Tengah  Akibat kebijakan Presiden Trump yang diskriminatif terhadap Islam dan Timur Tengah. Juga  telah terjadi pergeseran arah politik luar negeri Arab Saudi dengan menjadikan Asia sebagai mitra alternatif menggantikan hegemoni Barat (Amerika). Kerajaan Arab Saudi  saat ini lebih condong mengarah ke Indonesia.
Bagi Raja  Salman, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia memiliki nilai yang sangat penting. Khususnya masalah investasi. Ia mengucurkan dana cukup besar bila dibandingkan dengan negara Cina. Selain itu Indonesia dianggap  sebagai negara Muslim terbesar di dunia, di mana pada 2050 akan masuk empat besar raksasa ekonomi dunia sangat berpotensi menjadi alternatif bagi para investor Saudi.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam Indonesia hendaknya menyambut baik kedatangan Raja Salman dari kerajaan Arab Saudi. Karena memiliki nilai ekonomis dan agama bagi bangsa Indonesia.
Dari segi ekonomi akan mampu mengangkat bangsa Indonesia kejurang  kemiskinan. Dimana  nantinya akan mampu membangun infrastruktur jalan dan tambang migas. Kedepannya  akan menjadikan bangsa dan negara hidup makmur sebagaimana yang dicita-citakan pendiri bangsa. Yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.
Kemudian dari segi agama, bangsa Indonesia  akan mudah menjalankan ibadah haji. Dimana jamaah Haji Indonesia akan diberi kemudahan-kemudahan dalam menjalankan ibadahnya tanpa memikirkan kuota yang kecil.  Tahun ini pemerintah Arab Saudi telah memberikan kuota haji yang cukup banyak.
Kita tidak usah berprasangka buruk terhadap kehadiran  Raja Arab Saudi itu. Karena memiliki nilai ekonomi dan agama yang besar. Sehingga dari segi ekonomi tidak akan lagi tergantung kepada negara Cinta yang berideologi Komunis. Karena kita ada cadangan dengan ekonomi dengan negeri tempat kelahiran Rasulullah.
Semoga saja kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi berjalan dengan baik.  Dalam artian menjadikan umat Islam tetap aman dan damai dalam menjalankan ibadah. Juga kemakmuran akan terjadi. Husnu Mufid
    
 



Sufi, Syelh Abdurrahman Siddiqi

Syekh Abdurahman Siddiq

Mengajar Santri Lintas Kerajaan di Masjidil Haram
Ulama di Pulau Kalimantan yang cukup terkenal pada  zaman Belanda adalah Syekh Abdurrahman Siddik. Ia putra  Syekh  Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaludin Al-Banjari. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan. Berikut ini kisah hidupnya. 

Selagi muda memang suka membaca  kitab-kitab yang bernafaskan ajaran Islam. Karena itu, ia menguasai berbagai ilmu agama Islam mulai dari syariat hingga ilmu tasawuf. mengingat waktu itu  ajaran-ajaran tasawuf berkembang cukup pesat.
Gurur-gurunya merupakan orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi. Khususnya dalam bidang keagamaan. Oleh karena itu, semasa mudanya dihabiskan  mengaji keberbagai ulama yang ada di Kalimantan.
Setelah merasa ilmunya cukup tinggi. Kemudian menyebarkan ajaran islam dikampung halamannya sendiri. lama kelamaan santri-santrinya cukup banyak datang dari berbagai daerah Indonesia, Malaysia dan Singapura. karena waktu itu tidak ada batasan wilayah. juga antara Singapura, Malaysia dan Indonesia bukan merupakan kerajaan tersendiri, melainkan dalam kekuasaan penjajah Belanda dan Inggris. 
Meskipun hidup pada zaman penjajahan Belanda dan Ingris Syekh Abdurrahman Siddiq  tidak memiliki rasa takut untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Kalimantan. Ia bukan hanya berdakwah kepada masyarakat muslim yang ada di daerahnya. Tapi juga berdakwah di daerah pedalaman Kalimantan yang masyarakatnya masih menganut agama Animisme dan Dinamisme. Masyarakat tersebut adalam Suku Dayak.  
Dalam perkembangannya, Syekh Abdurrahman Siddiq mengajar diberbagai  pulau dan negeri sebrang. Muridnya jumlahnya semakin banyak. Pengajiannya banyak dihadiri umat Islam. Sehingga murid-muritnya berbagaimacam ragam etnis dan bangsa. Ia merupakan  seorang ulama dari etnis Banjar  Kalimantan yang sangat di kenal dan menyamai ulama-ulama dari Jawa. Waktu itu, ulama-ulama di Jawa sedang berperang menghadapi Belanda dan menyingkir didaerah pedesaan.
Setelah sekian lama berdakwah di Kalimantan melanjutkan perjalanan menuju makkah. karena waktu itu banyak ulama-ulama yang pergi kesana, baik sebagai pengajar maupun menuntut ilmu. Karena waktu itu pusat agama berada di kota kelahiran Rasulullah. 
Di Mekkah, setelah belajar pada ulama-ulama. kemudian diangkat sebagai guru di Masjidil Haram. Karena waktu itu  Masjidil Haram juga sebagai pusat belajar agama Islam. Murid-muridnya pun datang dari berbagai kerajaan. Seperti, Singapura, Malaysia, Jawa, Turki, Iran, Arab Saudi dan Kalimantan.
Waktu itu anak-anak muda yang datang ke makkah bukan hanya berhaju, melainkan  belajar ilmu agama islam. mengingat di Indonesia belum ada perguruan tinggi Islam dan pondok pesantren yang mengajarkan ilmu agama tingkat tinggi.
Selang beberapa tahun ia pulang kembali ke Kalimantan untuk mengislamkan  orang-orang Kalimantan. Kemudian melanjtkan dakwahnya ke Riau. Hingga akhir hayatnya tidak kembali ke Makkah. Beliau Wafat pada umur 72 tahun bertepatan di Sapat, Indragiri Hilir  Riau pada 10 Maret 1930.
Beliau dimakamkan di Kampung Sapat Indragiri Hilir Propinsi Riau bersanding dengan makam ibu asuhnya Mak Ciknya Siti Sa’idah. Mengingat sejak usia 2 tahun ibu kandungnya meninggal dunia. Disampingnya lagi disemayamkannya istrinya. Kemudian disekitarnya makam-makam murid-muridnya yang berasal dari Singapura, Malaysia dan Kalimantan.
Meskipun telah meninggal dunia, pengaruhnya hingga kini masih terasa ada. Tiap bulan banyak masyarakat yang menziarahi. Khususnya bagi para pegagum dan  orang-orang yang mencintai para ulama. HUSNU MUFID

Sunan Panggung dan R. Patah


Kisah Sunan Panggung dan Sultan Patah Raja Demak Bintoro

Ajarannya Dianggap Membahayakan Penguasa

Sunan Panggung atau Syeikh Malang Sumirang, yang memiliki nama asli Raden Watiswara, hidup antara tahun 1483-1573 M. Ia putra dari Sunan Kalijaga hasil perkawinan dari Siti Zaenab saudara Sunan Gunungjati. dalam menjalankan dakwahnya bersebrangan dengan Sultan Fatah dari kerajaan demak Bintoro. Berikut ini kisahnya.

Kepribadian Sunan Panggung sangatlah unik. Beliau memiliki tingkah laku seperti Sunan Kalijaga. Semula beliau dikirim Raden Patah ke Pengging untuk menjadi mata-mata. Namun beliau justru tertarik dengan ajaran-ajaran Syeikh Siti Jenar dan menjadi pengikut setianya setelah kalah dalam perdebatan.
Setelah menjadi murid Syekh Siti Jenar mendapatkan peringatan keras dari dewan Wali Songo. Peringatan keras tersebut tidak digubris oleh Sunan Panggung. Karena dalam hal ini beliau sudah membuktikan sendiri melalui laku dan perjalanan spiritualnya, tentang ajaran Syeikh Siti Jenar dan bisa membedakan dengan ajaran syar'iah dan penyatuan dengan Tuhan/ilmu makrifat yang sesuai dengan ajaran Syeikh Siti Jenar.
Syariat yang beliau jalankan adalah sholat daim, dan cara penyebaran ajarannya adalah secara terbuka, untuk umum, tidak ada yang di rahasiakan. Dan tidak menganggap orang lain lebih bodoh darinya, sehingga setiap orang selalu bebas untuk memperoleh kesempatan mendapat ilmu agama jenis apapun.
Kemudian Sunan Panggung mendirikan Paguron Lemah Abang di Pengging dan berhasil merekrut siswa yang sangat banyak dan menjadi murid setia Sunan Panggung. Ia mengikrarkan diri sebagai pelanjut Syekh Siti Jenar di wilayah kekuasaan Kerajaan Demak Bintoro.
Tapi sayangnya perguruan Sunan Panggung di anggap membahayakan oleh Dewan Wali dan Demak. Untuk itu penguasa dan Dewan Wali mengadakan sidang untuk mengambil tindakan untuk Sunan Panggung. Dari hasil sidang di sepakati bahwa pemanggilan kepada Sunan Panggung harus dengan cara halus dan diundang untuk memecahkan masalah pemerintahan. Jika sudah hadir, maka Dewan Wali membujuk, untuk menutup perguruannya dan bergabung dengan Dewan Wali. Termasuk mematuhi konsep keagamaan yang sudah di gariskan kerajaan Demak.
Selain itu juga di sepakati, agar penghukuman terhadap Sunan Panggung jangan sampai memunculkan kehebohan sebagaimana pendahulunya. Yakni agar Sunan Panggung di bakar hidup-hidup, dan tempatnya langsung disediakan di alun-alun sebelum Sunan Panggung datang.
Sunan Panggung diundang oleh pihak kerajaan. Dan akhirnya Sunan Panggung menyanggupi undangan tersebut bersama utusan dari pihak Demak. Sunan Panggung beragumentasi, bahwa inilah saat yang tepat untuk mengkritik model dan materi dakwah, serta arogansi agama syar'i yang di jalankan pihak Demak.
Sunan Panggung datang ke Demak di sertai dua anjingnya. Sesampai di alun-alun, ia melihat tumpukan kayu yang di siram minyak. Sunan Panggung sudah menduga siasat penguasa Demak yang akan di lakukan padanya. Namun Sunan Panggung sudah berketatapan hati untuk menghadapi apapun yang terjadi. Siap dibakar api.
Setelah matahari sebesar  condong ke barat, Gunung Muria merendah, Alun-alun Demak menjulang, orang-orang masih berdesakan. Mereka tak percaya sesuatu yang terlihat oleh mata, Sunan Panggung raganya tidak tersentuh oleh amukan api. 
Oleh karena itu, Sultan Demak membisik pada Sunan Kudus menyarankan Malang Sumirang, untuk menyingkir dan menjauh dari Negeri Demak. Dengan langkah ragu, Sunan Kudus mendekat Sunan Panggung.  Sunan Kudus berkata, Paman telah terbukti benar sungguh benar tanpa batas di dunia tiada tara di seluruh ciptaan. Paman tercipta sempurna, jiwa-raga titis terus tertembus sempurna nyata sunyata. Namun Paman, jagalah derajat agama, hormatilah batasnya, singkirkan kesalahan, patuhlah pada syariat untuk menjaga makna.Dalam tatanan yang menata negeri aturan agama bertakhta dengan syariat.
Lebih baik Paman jauh dari negeri. Jangan sampai membawa kekacauan dengan pembangkangan.  Kemanapun Paman pergi, padepokan mana yang pantas ditempati, tempat keramat mana yang menjadi pilihan, adalah kewajiban negeri melengkapi apa yang harus dilengkapi.Sunan Panggung tak tertarik. Ia memilih pergi ke hutan angker, Kalampisan, tempat wingit, sunyi, jauh dari manusia.
Kemudian  meninggalkan Alun-alun Demak. Akhirnya Sunan Panggung meneruskan perjalananya kearah utara dan kemudian beliau menetap di Tegal (Kabupaten Tegal Jateng) memperkuat tugas dakwah yang sudah di lakukan oleh Syeikh Abdullah/Sunan Katong/Sunan Gembyang.
Para santrinya malah menyebutnya, Sunan Panggung. Sunan yang hidup di tengah hutan dengan pohon-pohon berbatang besar, pang-gung atau cabang besar. Sunan, Susuhunan, Susunan, atau Sinuhun, "Dia yang Dijunjung". sebutan bagi penguasa tertinggi Mataram. Para santrinya sangat menghormati, tunduk dengan segala perintah dan mengikuti semua ajarannya. Para santri diajari mencari kehidupan yang sempurna, kesempurnaan yang benar-benar sempurna.

Ajarannya
Sunan Panggung memiliki ajaran tentang Ilmu Sejati Rasa. Ia mengatakan,kepada murid-muridnya,  bahwa rasa yang sejati. Sejatinya rasa. Bukan rerasan yang diucapkan, bukan rasa yang ke enam, bukan pula rasa yang tercecap di lidah. Bukan rasa yang terbersit di hati, bukan rasa yang ciptakan, bukan pula rasa yang dirasakan tubuh. Bukan rasa yang dirasakan suara dan bukan pula rasa kenikmatan dan derita sakit.
Sejatinya rasa yang meliputi rasa, rasa pusarnya rasa.  Manusia tidak lain hanyalah jasad-jasad mati yang dipenuhi oleh nafsu lauwamah, amarah, sufiah dan mutmainah. Kita lepaskan nafsu-nafsu itu karena di tengah-tengah nafsumu bertakhta sirr atau rahasia yang tersembunyi, roh dalam jiwa, kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Wayang dan bayangan harus menyatu dalam satu jiwa. Roh dalam jiwa memainkan mahkluk-makhluk atas kehendak-Nya.
Sejatinya yang memerintah kita bukanlah tubuh kita, tetapi roh dalam jiwa. Bebaskan roh kalian dari ikatan hukum-hukum yang menghalangi kebebasan roh yang menuju dan menyatu dengan Tuhan. Hakikat hidup abadi baru dimulai sesudah mati.
Kesengsaraan dunia ini tidak lain suatu kegilaan, orang-orang mencari kebutuhan badaniah tanpa memperhatikan kebutuhan rohani. Orang-orang mencari kenikmatan, namun hanya penderitaan yang dijumpai. Manusia bingung karena tidak mengenal dirinya sendiri, karena dijadikan buta oleh hawa nafsu. Mencari ilmu suci tidak mungkin diperoleh dengan alat panca indra, karena sifatnya yang kotor, najis dan palsu. Kebaruan adalah kepalsuan, kekotoran dan kenajisan, yang segera hancur bersama-sama tibanya ajal. Hidup sesudah lahir adalah kebaruan maka itu palsu, najis, dan kotor. Hidup sesudah kelahiran adalah kematian yang sesungguhnya.
Kedaaan kematian itulah yang membuat manusia tidak bisa bebas dari nafsu, kebohongan, kebutuhan kekuasaan, makan, minum, bahkan shalat, puasa, zakat, haji. Kembalinya manusia ke asal dari mana ia lahir, sesudah ajal tiba nantilah hidup yang sesungguhnya, ketika manusia tidak lagi membutuhkan apa pun, termasuk keinginan, karena keinginan adalah awal dari kesengsaraan. HUSNU MUFID