Selasa, 04 Oktober 2016

Syekh Mutamakkin Pati


Syekh Mutamakkin Kajeng Pati

Diberi Karomah Memiliki Santri Jin

Syekh Mutamakkin  merupakan seorang wali yang hidup zaman Belanda. Ia menetap di daerah Kajen Pati Jawa Tengah. Hingga kini makamnya banyak dikunjungi masyarakat dan peninggalannya masih dapat dilihat. Berikut ini kisahnya. 


Syekh al-Mutamakkin merupakan ulama besar  yang cukup disegani pada abad ke-17 M, baik oleh kalangan ulama maupun keraton Surokarto Hadiningrat. Mengingat ilmunya tinggi dan masih memiliki keturunan dari Sultan Hadiwijoyo dari kerajaan Pajang. 
Ia merupakan putra Pangeran Benowo II. Dia dikenal ulama yang diberi banyak karomah oleh Allah.  Dia mampu berbicara dan bersahabat dengan jin. Juga punya ratusan santri  dari kalangan jin dan manusia dipondok pesantren yang diasuhnya.
Dalam keseharian hidupnya sangat sederhana. Layaknya para tokoh sufi di Timur Tengah. Khususnya sufi yang beraliran falsafi. Yaitu yang lebih mengedepankan pemikiran ruhani. Boleh dibilang sebagai penerus ajaran Al-Farabi, Syekh Siti  Jenar dan pengikutnya. 
Tapi, ada keanehan dan bukan kebiasaan dari para ulama. Yaitu Syekh Mutamakkin memelihara dua anjing. Kedua anjing tersebut diberi nama sama persis dengan pejabat kerajaan di desanya. Hal inilah yang menjadikan pejabat setempat tersinggung dan menuntut balas.
Tapi bagi Syekh Mutamakkin pemberian nama pada anjingnya itu merupakan sindiran akibat ketidakpusan terhadap pejabat yang tidak memiliki kepedulian kepada masyarakat dan lebih membela Belanda sebagai bangsa kafir.
Hal ini kontan membuat para pejabat kerajaan yang pro Belanda. Juga masyarakat awam agama Islam bingung dan menjadi bahan pembicaraan. Karena  Syekh Mutamakkin memelihara anjing. Padahal didalam al-Qur’an anjing itu diharamkan.
“Kok ada ulama memelihara anjing? Padahal, anjing itu diharamkan dalam agama Islam. Begitu pula dengan pejabat yang namanya sama dengan anjing Syekh Mutamakkin, menjadi marah besar,”ungkap Prof Dr. Ali Mufrodi, MA, Guru Besar UINSA Surabaya.
Para pejabat setempat tidak berani menyampaikan pendapatnya. Karena kedudukan  Syekh Mutamakkin cukup tinggi dikalangan masyarakat  Karena sang ulama masih seorang keturunan raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. Kecuali ulama yang berasal dari Kudus berani menantang  hingga dipangadilan kerajaan.   
Pada suatu hari, yaitu tepatnya  Hari Raya Idhul Adha kurang satu bulan, Syeh al-Mutamakkin ingin pergi haji ke Makkah. Namun tidak memiliki waktu yang panjang. Jika  harus naik kapal laut, maka jalan satu satunya adalah dengan menggunakan jin agar cepat sampai. Niatan itu terkabul. Salah satu jin dari sekian ratus muridnya menyatakan bersedia mengantarkan pulang pergi dari Tuban sampai ke Makkah.
Berangkatlah Syekh al-Mutamakkin ke punggung jin itu hingga ke negeri Makkah untuk menunaikan ibadah haji selama beberapa hari. Di Makkah dia dapat melaksanakan ibadah dengan baik, tanpa dibebani pikiran pulangnya nanti harus naik kendaraan apa. Karena sudah ada yang mengantarkan.

Desa Cebolek
Setelah ibadah hajinya selesai, pulanglah Syekh al-Mutamakkin menuju Tuban di kota kelahirannya melalui laut. Tapi sayng, di tengah laut dia diceburkan oleh jin itu. Syekh al-Mutamakkin tidak bisa berbuat apa-apa dan menyadari kalau sifat jin itu lebih buruk daripada manusia. Di tengah lautan, muncullah ikan Meladang. Semula, ia mengira akan dimakan, ternyata malah ditolong. Bahkan, diantarkan di tepi pantai Kajen Pati, Jateng. Akhirnya, selamatlah dia dari ganasnya ombak air laut.
Di pinggir  pantai itulah cucu Joko Tingkir ini menetap sementara. Untuk memenuhi kebutuhan minum, wudhu dan mandi, ia membuat kubangan air yang sekarang menjadi sumur. Selang beberapa bulan  pindah ke Desa Bulu Manis, Kec. Margoyoso, Pati dan membuat kubangan untuk keperluan salat. Sekarang telah berubah menjadi sumur dengan nama Sumur KH Mutamakkin.
Setelah tinggal beberapa tahun di Bulu Manis, Syekh al-Mutamakkin pindah di Desa Cebolek  untuk mendirikan sebuah pesantren.   Tapi tidak lama sumur itu ditinggalkan. Ia pindah ke Desa Kajen karena diambil menantu oleh Mbah KH Samsudin.
Di tempat yang baru ini, Syekh al Mutamakkin sering melakukan zikir dan menyendiri pada waktu tertentu. Tapi tidak bersikap feodal. Sikap ramah dan zuhud nampak dalam keseharian. Tiap tamu diterima dengan baik. Tanpa membeda-bedakan kaya atau miskin. Begitu pula dengan santrinya. Semua diajarkan dengan ilmu yang sama. Para santri yang belajar merasa senang. Karena menganggap gurunya memiliki ilmu yang cukup tinggi. Tiap tahun ratusan  santri berdatangan dari berbagai daerah tanah Jawa untuk menuntut ilmu tasawuf darinya.
Ketinggian ilmu inilah yang membuat namanya semakin terkenal di kalangan rakyat dan Keraton Surakarta Hadiningrat. Ia dianggap sebagai ulama tasawuf  yang bijaksana. Namun, di balik itu ada sejumlah ulama yang menilai ajaran yang disampaikan Syekh al-Mutamakkin itu sesat. Hingga tokoh ini disidangkan. Tapi, dalam persidangan itu berakhir dengan kemenangan Syekh al-Mutamakkin. Disimpulkan jika ajarannya tidak menyesatkan.
Setelah dinyatakan ajarannya tidak sesat, Syekh Mutamakkin menyampaikan ajarannya kepada masyarakat luas. Tidak ada yang menghalangi. Dakwaknya hingga keluar dari Pati Jawa Tengah. Memang berbeda ajarannya dengan ajaran ulama yang lain waktu itu.
Bedanya hanya pada pemikiran dan kedalaman materi agama Islam. Kalau ulama yang lain masih menekankan kepada ajaran syariat. Sedangkan Syekh Mutamakkin pada ajaran hekekat dan makrifat. Tidak jauh berbeda dengan ajaran  Syekh Siti Jenar yang datang terlebih dahulu masuk ke tanah Jawa. 
husnu mufid  
 


Sufi, Syekh Moh Sirotol Mustaqim


Syekh Muhammad Shirotol Mustaqim

Dalam Dakwahnya Diawali dengan Membaca Zikir Asma’ul Husna

Sayyid Muhammad Shirotol Mustaqim adalah seorang sufi yang berasal dari Hadramaut Yaman. Awal mula datang ke Indonesia menetap di Sumenep, Madura. Setelah perang antara keluarga kerajaan Mataram berakhir, ia menetap di perbukitan Paiton, Probolinggo. Di tempat tersebut tokoh ini menjalani kehidupan sufi selama beberapa tahun.

Syekh Muhammad Shirotol Mustaqim adalah seorang sufi yang berasal dari Hadramaut Yaman. Tokoh ini suka mengembara dan berdakwah di berbagai tempat yang disinggahi. Mulai dari tanah Arab hingka ke Indonesia. Kendaraan yang digunakan adalah kapal laut.
Dalam kurun waktu sekian tahun perjalanannya ia singgah di berbagai negara yaitu Gujarat, Aceh, Palembang, Jawa hingga Sumenep Madura. Kedatangannya selalu diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Khusus di Pulau Madura diterima langsung oleh Sultan Abdurrahman, Raja Kerajaan Sungenep (Sumenep sekarang). Karena sutan tersebut menginginkan ada ulama yang mampu memberikan warna keislaman di daerah yang dipimpinnya.
Ketika Pulau Jawa mengalami kekacauan dan terjadi perang saudara antara keluarga Kerajaan Mataram, Sayyid Muhammad Shirotol Mustaqim dimintai para kiai untuk datang ke tanah Jawa membantu putra raja yang anti-Belanda.
Permintaan para kiai itu dikabulkan. Maka, Syekh Muhammad Shirotol Mustaqim menuju Pulau Jawa menyeberangi selat Madura dengan menunggang kuda berkecepatan tinggi. Selama perjalanan naik kuda, ia selalu berzikir.
Atas kuasa Allah SWT, kuda yang dinaiki berjalan di atas selat Madura dengan kecepatan tinggi hingga menuju daratan. Para nelayan yang kebetulan sedang berlayar mencari ikan merasa heran dan takjub melihat ada kuda bisa berjalan di atas air laut yang berombak.
Sesampainya di Jawa, ia langsung bergabung dengan pasukan perang Trunojoyo dan Mas Grendi untuk melawan Belanda. Dalam peperangan ia banyak membunuh tentara Belanda hingga berakhir dengan dipecahnya Kerajaan Mataram menjadi dua dalam Perjanjian Gianti 1755 M.
Setelah perang saudara berakhir, maka ia menjalani kehidupan sufinya kembali dengan menetap di Paiton, Probolinggo. Lokasi yang ditempati adalah di sebuah perbukitan yang tidak jauh dari pantai dan dari kehidupan masyarakat.
Di sini pula Syekh Muhammad Shirotol Mustaqim menggembleng diri dengan beriyadoh, mujahadah, dan menjauhkan diri dari kemewahan dunia yang selama ini banyak diburu oleh kalangan keluarga keraton. Tokoh ini benar-benar memasrahkan diri kepada Allah SWT.
Keberadaannya dalam kurun sepuluh tahun di perbukitan Paiton, Probolinggo tidak ada orang yang mengetahui. Kemudian baru diketahui oleh masyarakat setelah turun dari tempat tinggalnya untuk berdakwah pada masyarakat sekitar pantai dan kota Paiton.
Dalam dakwahnya diawali dengan membaca zikir Asma’ul Husna agar orang-orang yang didakwahi lebih mengingat kepada Allah SWT. Lalu disusul dengan tausiyah selama ½ jam dengan materi ketauhidan dan akhlakul karimah. Dalam dakwahnya, ia tidak berharap mendapatkan upah dari orang-orang yang didakwahi waktu itu.
Baginya dakwah merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim. Karena itu, tidak sepantasnya menerima uang dalam jumlah yang cukup banyak dari orang-orang yang didakwahi. Sikap yang demikian ini menjadikan orang-orang yang didakwahi merasa senang dan tenteram ketika mendapatkan tausiyah.
Syekh Muhammad Sirotol Mustaqim sendiri untuk menyambung hidup didapatkan dari hasil kebun dan pertanian miliknya. Dalam kesehariannya hidupnya sederhana dan tidak menampakkan kekayaannya. Hidup apa adanya. Bila ada orang yang minta tolong selalu ditolong dengan ikhlas. HUSNU MUFID

Kisah Wali Putih Kendal


Kisah Wali Putih Menyebarkan Islam di Jawa tengah
Menjadikan Alas Roban Sebagai Pusat Dakwah

Syekh Fathutieh atau lebih dikenal dengan nama Wali Putih. Lokasi dakwahnya di pesisir Jawa Tengah bagian pulau Jawa. Ia menetap di Sentul Alas Roban sebagai pusat dakwahya. Oleh karena itu, diwilayah tersebut banyak penganut agama Islam. Berikut ini kisah hidupnya.  


Penyebar agama Islam di tanah Jawa bukan hanya Walisongo saja, tetapi banyak wali-wali sebelumnya yang melakukan dakwah. Hanya saja kedatangannya sebelum  kerajaan islam Demak Bintoro berdiri. Sehingga lepas dari penulisan buku babad yang ada. 
Salah satu wali itu adalah  Syekh Fatkhutieh,  yang masyarakat menyebutnya dengan nama Wali Putih. Lidah orang Jawa  yang menyebut dengan nama Wali Putih. Istilahnya keseleo lidah.Tapi orang  Arab menyebutkan dengan  nama  yang fasih Syekh Fathutieh.  
Ia dari Arab  kemudian tinggal di kerajaan Palembang  memiliki jabatan sebagai  Senapati Agung. Oleh karena itu, bukan hanya seorang yang gagah perkasa dan sakti. Melainkan memiliki  ketinggian ilmu agama Islam. Juga, menjadi seorang penyebar agama di daerah Sumatra. 
Pada suatu hari raja Palembang mendapat  ilham  dari Allah SWT agar pindah ke tanah Jawa. Petunjuk tersebut dituruti oleh beliau  Maka, menujulah ke tanah Jawa bersama seluruh abdi dalem dengan menggunakan perahu besar dengannharapan nantinya mendirikan kerajaan di Pulau Jawa.
Syekh  Fatkhutieh pun pergi ke tanah Jawa bersama rajanya. Waktu itu di Pulau Jawa ada kerajaan besar. Dibagian bagian barat dikuasai Kerajaan Pajajaran dan di bagian timur dikuasai Kerajaan Majapahit. Kedua kerajaan ini masih memiliki hubungan kekeluargaan. Sama-sama tidak melakukan perebutan kekuasaan atas wilayah  daerahnya masing-masing.
Perjalanan menuju tanah Jawa, raja Pelembang Jawa Tengah bagian tengah.  Disitulah dia mendirikan sebuah kerajaan bernama Kalingga Murti. Selang beberapa tahun kemudian Wali Putih diperintahkan untuk menguasai dan mempertahankan wilayah pesisir tengah. Tepatnya disekitar  Alas Roban atau Hutan Oban.
Saat itu alas roban terkenal dengan mahluk halusnya. Tidak ada yang berani memasuki. Siapapun yang berani nekat memasuki tidak akan pulang kembali ke rumahnya.  Maklum mahluk gaibnya ganas-ganas. Sisa sisa keganasan itu hingga kini masih ada.
Hany Wali Putih lah yang berani memasuki Alas Roban. Karena memiliki ilmu seperti yang dimiliki Syekh Subakir penumbal Gunung Tidar. Kemudian ia melakukan perlawanan terhadap mahluk halus  penunggu hutan tersebut. Dalam pertarungan itu dimenangkan dirinya.
Kemudian Wali Putih memasang  tumbal di hutan Alas Roban  agar  para makhluk halus yang menghuni  mereda dan tidak mengganggu  kerajaan maupun rakyat. Para makhluk gaib itu pun bersedia mematuhi dan tetap tinggal di tempat semula. Karena  sudah menjadi rumahnya selama beribu-ribu tahun.
Sedangkan Syekh Fathutieh sendiri menetap di  daerah yang tidak jauh dengan Alas Roban. Yaitu Desa Sido Muncul  atau yang sekarang  bernama Sentul. Disamping menjalankan tugas  kerajaan, ia  juga melakukan dakwah  agama Islam  keliling di sekitar wilayah pesisir  Jawa Tengah.
Dengan berbekal karomah yang diberi Allah SWT, maka  Wali Putih  banyak sekali umatnya, baik itu manusia maupun mahluk halus. Karena masalah dakwah Islam dinomorsatukan. Kemudian ia meminta  kepada rajanya  untuk diizinkan menetap  di wlayah Alas Roban selamanya. Permintaan itu direstui oleh ratunya.
Dengan menetapnya Wali Putih di Alas Roban, maka masyarakat  sangat senang dan tentram. Sebab, mereka telah menemukan  tuntunan  yang haq dan benar. Yaitu  agama Islam. Dapat menjalankan ibadah dengan baik tanpa diganggu mahluk gaib. 
Dalam melakukan dakwah lebih bnayak menggunakan cara-cara yang sopan. Tidak menentang adat yang sebelumnya ada. Sifat-sifat arif dan bijaksana menjadikan kekuatan dalam menyebarkan agama Islam. Ia tidak menggunakan alar kesenian sebagaimana yang dilakukan Walisongo, melainkan pendekatan menggunakan ilmu gaib. Karena lingkungan sekitarnya banyak mahluk-mahluk gaib yang tinggal.
Juga masyarakat yang didakwahi masih banyak yang mempercayai adanya mahluk gaib. Sehingga ilmu kegaiban yang dimiliki dapat digunakan  untuk mempengaruhi mereka. Sehingga dapat membedakan antara kekuatas setan dengan kekuatan malaikat.

Tak Tergusur Jalan Daendles
Dalam dakwahnya beliau selalu berpesan  bahwa bila besok tanah Jawa sudah ada raja  yang kudungan gambar jagad, agama Islam akan pecah menjadi berbagai  aliran. Juga, makamnya akan dirawat anak cucu dan digunakan untuk membaca kalimat thoyibah. Saat itu juga terjadi perebutan antar pemimpin agama Islam (aliran Islam). Sebab  merasa yang paling benar, yang mana  mereka semua  pada gila jadi pemimpin. Ramalannya tersebut  memang terbukti.
Cukup lama Wali Putih menyebarkan agama Islam di wilayah pesisir Jawa Tengah Tengah. Dibawah bimbingannya  banyak  umat Islam  hidup sejahtera dan orang-orang yang awalnya menyembah  batu dan pohon besar beralih masuk Islam. Dengan demikian penyebar agama Islam Jawa Tengah dibagian tengah Wali Putih merupakan pelopornya. Sedangkan di JawaTimur  Sunan Ampel dan Jawa Barat adalah Syekh Datul Kahfi. 
Wali Putih menyebarkan ajaran Islam hingga  usianya  78 tahun dan meninggal dalam usia tersebut. Namun sebelum meninggal dunia berpesan agar dimakamkan di lereng bukit Desa Sentul agar nantinya makamnya terselamatkan dari proyek jalan raya yang dibangun Gubernur Jenderal  Daendles dari kerajaan Belanda.
Tidak tergusurnya oleh proyek jalan Daendles membuat makamnya semakin dikeramatkan masyarakat. Sebab selama proyek pembuatan jalan Anyer Panarukan gubernur asal Belanda itu telah banyak menggusur makam-makam keramat disepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Salah satunya makam  leluhur Pangeran Diponegoro.      
Rupanya Wali Putih ini mampu membaca tanda-tanda zaman ke depan. Maka, makamnya terselamatkan dari pembuatan jalan raya. Karena lokasi makamnya berada di lereng bukit yang penuh dengan rerimbunan pohon. Kini makamnya banyak diziarahi umat Islam. Padah hari dan bulan tertentu banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah Indonesia.
Masyarakat pesisir Jawa Tengah bagian tengtah merasa berterimakasih kepada Walisputih yang menyebarkan agama Islam. Sebab wilayah tersebut belum tersentuh dengan Walisongo. Karena wilayah dakwahnya hanya sampai di kerajaan Demak Bintoro. HUSNU MUFID




          



Kisah Wali Putih Menyebarkan Islam di Jawa Tengah (2-Habis)
                            
Berdakwah dengan Menggunakan Pendekatan Hati

Wali Putih merupakan wali yang cukup disegani masyarakat sekitar Alas Roban. Oleh karena itu, dakwahnya begitu cepat diterima dan makamnya lolos dari penggusuran dari Gubernur Jenderal Daendles. Berikut ini kisahnya.


Cukup lama Wali Putih menyebarkan agama Islam di wilayah pesisir Jawa Tengah. Di bawah bimbingannya banyak umat Islam hidup sejahtera dan orang-orang yang awalnya menyembah batu dan pohon besar beralih masuk Islam. Dengan demikian, penyebar agama Islam Jawa Tengah di bagian tengah Wali Putih merupakan pelopornya. Sedangkan di Jawa Timur Sunan Ampel dan Jawa Barat adalah Syekh Datul Kahfi.
Ia berdakwa dengan cara-cara yang santun dan tidak melakukan profokasi. Karena yang dihadapi adalah rakyat yang belum tahu sama sekali tentang ajaran Islam. Mereka masih percaya dengan pohon-pohon besar dan batu-batu besar.
Bagi Wali Putih, pendekatan dakwah yang dilakukan dengan menggunakan pedekatan hati. Bukan dengan kekerasan kata-kata. Pendekatan tersebut rupanya dapat diterima masyarakat setempat. Karena langsung menyentuh hati.
Ia berdakwah dari Kendal, Waleri, hingga Bawen. Setiap hari banyak masyarakat yang memeluk agama Islam secara sukarela. Kemudian keyakinan yang lama ditinggalkan. Sejak itulah daerah yang belum terjangkau dakwah Walisongo akhirnya terislamkan. Hingga kini masyarakat sekitar Alas Roban masih menganut ajaran yang diajarkan Wali Putih secara turun-temurun..
Dalam dakwahnya beliau selalu berpesan bahwa bila besok tanah Jawa sudah ada raja yang kudungan gambar jagad, agama Islam akan pecah menjadi berbagai aliran. Juga, makamnya akan dirawat anak cucu dan digunakan untuk membaca kalimat thoyibah. Saat itu juga terjadi perebutan antarpemimpin agama Islam (aliran Islam). Sebab merasa yang paling benar, yang mana mereka semua pada gila jadi pemimpin. Ramalannya tersebut memang terbukti.
Dalam berdakwah Wali Putih tidak mengalami banyak kendala yang cukup berarti. Karena masyarakat menyukai kehadirannya. Sehingga dalam waktu singkat banyak yang memeluk agama Islam. Meskipun hanya sebatas mengucapkan kalimat syahadat.
Wali Putih menyebarkan ajaran Islam hingga usianya 78 tahun dan meninggal dalam usia tersebut. Namun sebelum meninggal dunia berpesan agar dimakamkan di lereng bukit Desa Sentul, Alas Roban, Kendal. Harapannya agar nantinya tidak tergusur oleh pembangunan.
Dalam kurun waktu yang cukup lama, ketika Gubernur Jenderal Daendles membuat jalan Anyer-Panarukan makamnya terselamatkan dari penggusuran.

Makam Tidak Tergusur Daendles
Rupanya Gubernur Jenderal Daendles dari kerajaan Belanda tidak berani mengusik makam Wali Putih. Lebih memilih melewati jalur yang lain. Karena takut terjadi peristiwa yang membahayakan dirinya dan para pekerja.
Tidak tergusurnya oleh proyek jalan Daendles membuat makamnya semakin dikeramatkan masyarakat. Sebab selama proyek pembuatan jalan Anyer-Panarukan gubernur asal Belanda itu telah banyak menggusur makam-makam keramat di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Salah satunya makam leluhur Pangeran Diponegoro.
Rupanya Wali Putih mampu membaca tanda-tanda zaman ke depan. Maka, makamnya terselamatkan dari pembuatan jalan raya. Karena lokasi makamnya berada di lereng bukit yang penuh dengan rerimbunan pohon. Kini makamnya banyak diziarahi umat Islam. Pada hari dan bulan tertentu banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah Indonesia.
Masyarakat pesisir Jawa Tengah bagian tengah merasa berterima kasih kepada Wali Putih yang menyebarkan agama Islam. Sebab wilayah tersebut belum tersentuh oleh Walisongo. Karena wilayah dakwahnya hanya sampai di kerajaan Demak Bintoro. HUSNU MUFID