Sabtu, 04 Mei 2019
Pelatihan Sistem Jaminan Halal Isnu dengan Disperindag Surabaya di Mall Plaza Siola Surabaya Kamis Jumat 2-3 Mei 2019
Senin, 01 April 2019
Senin, 05 Februari 2018
Kuliner Karya Sunan Giri II
Kisah Sunan Dalem Mengungsi di Gumeno Gresik
Ciptakan Kuliner Tradisional Kolak Ayam
Sunan Dalem
merupakan penerus Kedaton Giri ke 2
setelah ayahnya meninggalkannya. Kemudian
tinggal di Desa Gumeno selama beberapa
minggu akibat aka penyerangan
dari kerajaan Majapahit yang berpusat di Kediri. Ia meninggalkan kuliner
Kolak Ayam. Berikut ini kisahnya.
Sunan Dalem
merupakan putra Sunan Giri yang tertua. Ia menjadi penguasa di Kedaton Giri Gresik menggantikan
ayahnya.
Suatu hari ada
tentara kerajaan Majapahit yang berpusat
di Kediri dibawah pimpinan Patih Udara
dan Prabu Girindawardhana melakukan penyerangan ke Giri Kedaton setelah
menaklukkan kerajaan Majapahit dibawah
pimpinan Prabu Brawijaya V. Saat terjadi
penyerangan itu, Sunan Dalem mengungsi
ke Desa Gumeno Gresik. Setelah tinggal
beberapa minggu mengalami sakit. mengalami sakit yang cukup parah. Kemudian
berikhtiar mencari obat untuk
kesembuhannya.
"Namun
proses pencarian obat untuk sang sunan
memakan waktu berhari-hari yang diistilahkan dengan kholaqul ayyam. Kata
ini lambat laun mengalami proses morfologi dalam pengucapannya sehingga
terdengar kata kolak ayam seperti istilah sekarang ini,"ungkap Nuruddin
sejarawan Gresik.
Setelah menerima
petunjuk dari Allah menemukan ramuan
obat (jamu) yang kini dinamakan sanggring itu.
Konon kata
sanggring berasal dari suku kata sang yang berarti raja dan gering
berarti sakit. Sanggring berarti raja yang sakit.
Kesembuhannya
menjadikan aktivitasnya semakin kuat. Kemudian memerintahkan masyarakat untuk
membangun sebuah kolam untuk wudhu
disamping masjid yang telah dibangun.
Penduduk desa
pun membangun kolam bertepatan dengan
bulan suci Ramadhan. Untuk makan
berbukanya Sunan Dalem memerintahkan
para penduduk yang bekerja secara gotong-royong
memakan nasi (ketan) dengan lauk kolak ayam. Namun Ia khawatir
kalau-kalau kolak ayamnya tidak mencukupi untuk jumlah penduduk desa sebanyak
itu, akhirnya memerintahkan agar daging
ayamnya disuwir-suwir (disobek memanjang dengan tangan. Perintah itupun
dilaksanakan dengan kepatuhan yang
tinggi. Mengingat yang memerintahkan adalah seorang putra Sunan Giri atau Raden Paku. .
Setelah perang berakhir, maka Sunan Dalem
meninggalkan Gumeno menuju Giri Kedaton
sebagai tempat tinggalnya. Hingga akhir hayatnya tinggal di Bukit
Kedaton Kebomas Gresik. Ia wafat
pada tahun 1545 Masehi dan pusaranya berada di sebelah barat makam Sunan Giri
yaitu di Bukit Giri. .
Sementara
rakyat Gumeno Gresik, untuk mengenang
pengobatan unik ala Sunan Dalem itu, maka setiap malam 23 Bulan Ramadhan warga
Desa Gumeno secara turun-temurun.
Yang Memasak
Pria
Acara mengenang
Sunan Dalem digelar dekat kolam
berwudhu. Semua bahan sanggring berkualitas bagus, diolah dalam wajan (wadah)
berukuran besar. Dan uniknya lagi, yang memasak itu para pria. Setelah
dibersihkan, ratusan ekor ayam jago tadi kemudian dimasak hingga dagingnya
lunak. Tulang, kepala, ceker dan jerohan dipisahkan, dagingnya
disuwir-suwir.Kuah bumbu sanggring berasal dari campuran bawang daun, gula
merah, santan kelapa, jinten hitam dan air. Rasanya manis gurih dengan bau khas
bawang daun.Proses pengolahannya sudah dilakukan 1 atau 2 hari menjelang
sanggringan.
Bahkan jadi
kuliner unik yang dijadikan menu (takjil) berbuka puasa bersama
bagi jama'ah Masjid Jamik Gumeno, warga desa atau masyarakat umum yang ingin
melihat langsung prosesi acara itu. Acara itu merupakan tradisi tahunan yang
mengundang perhatian masyarakat luas bahkan khabarnya terdengar hingga ke
mancanegara HUSNU MUFID
Kini sanggring
atau Kolak Ayam merupakan kuliner tradisional.
Ada yang
menamakan sanggring saja atau kolak ayam saja atau gabungan keduanya yakni
sanggring kolak ayam. Sanggring begitu melegenda di kalangan masyarakat Gresik
khususnya warga Desa Gumeno -- Manyar, pasalnya kuliner ini sudah ada sejak 5
abad yang lalu.
Sunan Gunung Jati Kalahkan Kerajaan Pajajaran
Kisah Sunan Gunung Jati Mendirikan Kesultanan
Cirebon
Kalahkan Pasukan Kerajaan Pajajaran
Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan
nama Sunan Gunung Jati bersama ibunya meninggalkan Kesultanan Mesir menuju
kerajaan Pajajaran. Tidak lama kemudian mendirikan Kesultanan Cirebon. Berikut
ini kisahnya.
Setelah ayahnya meninggal dunia dan menyerahkan
tahta Kesultanan kepada adiknya, maka Syarif hidayatullah dan ibunya, syarifah
Muda’im, menuju ke negeri Caruban
Larang, Jawa Barat, pada tahun 1475 m. Tapi singgah dulu di Gujarat dan Pasai yang
merupakan kota Islam yang cukup terkenal di dunia. Karena memang jalur menuju
Pulau Jawa harus melewati dia negara itu menggunakan kapal laut.
Setibanya di negeri
Caruban Larang Cirebon, mendapat disambutan yang cukup meriah dari Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Kemudian
menetap dan tinggal di dekat dengan
makam gurunya, Syekh Datul Kahfi di
Pasambangan atau Gunungjati, Cirebon.
Syarifah muda’im dan putranya, syarif Hidayatullah,
menersuhkan Padepokan Giri Amparan Jati yang telah didirikan gurunya itu. Dalam perkembangannya nama Syarif Hidayatullah dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.
Setelah sukses mengasuh Padepokan Giri Amparan
Jati menikah dengan putri Pangeran
Cakrabuana yaitu Nyi Pakungwati. Pada
tahun 1479 M. Pangeran Cakrabuana karena usianya sudah lanjut, menyerahkan
kekuasaan Negeri Caruban Larang kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar
susuhunan yang berarti orang yang dijunjung tinggi.
Pada tahu pertama pemerintahannya, Syarif
Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya, yaitu Prabu Siliwangi.
Sang prabu diajak masuk Islam, tetapi tidak mau. Meskipun Prabu Siliwangi tidak
mau masuk Islam, ia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama Islam di wilayah
Pajajaran. Kemudian Syarif Hidayatullah melanjutan perjalanan ke Serang, Banten.
Penduduk serang sudah ada yang masuk Islam karena
banyak saudagar Arab dan Gujarat yang sering singgah ke tempat itu. Meskipun
demikian, kedatangan Syarif Hidayatullah disambil baik oleh adipati Banten.
Bahkan Syarif Hidayatullah kemudian dijodohkan degan putri adipati Banten yang
bernama Nyi Kawungten. Dari perkawinan ini, ia dikaruniai dua orang anak, yaitu
Nyi Rabu Winaon dan Pangeran Sebakingking.
Selain itu, Syarif Hidayatullah membangun
hubungan dengan Kesultanan Demak Bintoro dan Walisongo. Hal tersebut menginspirasi untuk mendirikan Kesultanan
Pakungwati setelah menggantikan
kedudukan Pangeran Cakrabuana di Negeri Caruban Larang. Kemudian ia memproklamirkan diri sebagai raja dengan
gelar sultan.
Dengan berdirinya kesultanan tersebut, Cirebon tidak
lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat kadipaten Galuh.
Namun, tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh raja Pajajaran. Ia
tidak peduli terhadap orang yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon. Maka, ia
mengirimkan pasukan prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya.
Hubungan dengan Cina
Tugas mereka adalah menangkap Syarif Hidayatullah
yang dianggap telah lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran.Tapi,
usaha ini tidak berhasil, Ki Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke
Pajajaran. Mereka masuk Islam dan menjadi pengikut Syarif Hidayatullah. Maka
pengaruh Kesultanan Pakungwati semakin bertambah besar karena prajurit dan
perwira pilihan Pajajaran bergabung ke Cirebon. Berbagai daerah lain, seperti
Surantaka, Japura, Wana Giri dan Telaga, juga menyatakan diri menjadi wilayah
Kesultanan Pakungwati di Cirebon.
Setelah pelabuhan Muara Jati diperluas, maka semakin
bertambah besar pengaruh Kesultanan Pakungwati. Banyak pedagang besar negeri
asing yang datang menjalin pershabatan, di antaranya negeri Tiongkok. Bahkan
salah seorang keluarga istana Cirebon menikah dengan pembesar negeri Cina yang
berkunjung ke Cirebon, yaitu Ma Huan. Maka, jalinan antara Cirebon dan negeri
Cina semakin erat. HUSNU MUFID
Syekh Siti Jenar mendirikan Padukuhan Lemah Abang
Kisah Syekh Siti Jenar Mendirikan Padukuhan Lemah Abang
Banyak Umat Tertarik Sistem Pengajarannya
Setelah Syekh Datuk Kahfi meninggal dunia, Padepokan Giri Amparan Jati diasuh oleh Pangeran Panjunan atas restu Sultan Syarif Hidayatullah yang merupakan teman seperguruannya. Kemudian Syekh Siti Jenar keluar dan memilih berdakwah diluar padepokan tersebut dan mendirikan Padukuhan Lemah Abang. Berikut ini kisahnya.
Syekh Siti Jenar meninggalkan Padepokan Giri Amparan Jati menuju Astana Japura. Untuk mendirikan Padukuhan Lemah Abang. Dalam kurun waktu yang tdak terlalu lama. Berkembang dengan pesat. Banyak masyarakat yang tertarik dengan sistem pangajarannya ada. Dimana seorang murid dapat bertanya secara langsung seperti di masjid-masjid Bagdad.
Oleh karena itu, dalam waktu singkat murid-muridnya datang dari berbagai daerah. Mereka berasal dari Cirebon, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kerawang dan Palembang.
Sedangkan Padepokan Giri Amparan Jati mengalami penurunan yang cukup drastis dari segi jumlah santri. Banyak murid yang pindah ke Padepokan Lemah Abang yang baru didirikan itu. Fenomena membuat banyak orang dan kalangan istana Cirebon ingin tahu apa yang menjadi daya tarik. Khususnya kalangan bangsawan yang berilmu.
Banyaknya masyarakat yangt tertarik untuk belajar membuat nama Padukuhan Lemah Abang di Astana Japura makin terkenal dan besar melebihi Padepokan
Giri Amparan Jati yang kian lama jumlah muridnya semakin surut. Jumlah santri yang dimiliki tidak sebesar jamannya Syekh Datuk Kahfi .
Sehingga padepokan yang dulunya ramai dengan suara santri-saantri yang mengaji berubah menjadi sunyi. Pangeran Panjunan tidak mampu mengembangkan Padepokan yang didirikan Syakh Datuk Kahfi. Sementara
suasana Padepokan Lemah Abang yang didirikan oleh Syekh Siti Jenar semakin ramai dengan jumlah santri yang semakin meningkat tajam. Aktifitas kegiatan belajar mengajar semakin padat.
Suara bacaan al- Qur’an selalu menggema dan zikir di udara. Santri-santri terus mengalir datang dari berbagai penjuru kota dan desa. Bahkan ada yang dari tanah sebrang. Yaitu Malaka dan Sumatra. Syekh Siti Jenar pun selalu menerima calon santri-santri darimanapun tanpa membedakan anak siapa dan dari keluarga manapun. Yang penting mau belajar dengan sungguh sungguh.
Santri kaya maupun miskin diterima semua tanpa ada perbedaan.
Sesekali waktu menyempatkan diri berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Tanpa harus meminta bayaran. Baginya menyampaikan ajaran Islam merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan bagi seseorang yang
memiliki ilmu. Mengingat waktu itu kondisi masyarakat masih banyak yang memeluk agama lain.
Oleh karena itu nama Syekh Siti Jenar semakin bersinar dan terkenal. Banyak orang yang ingin bertemu dan bertukar pikiran mengenai keyakinan agama.
Bagi Syekh Siti Jenar tukar pikiran dengan orang beragama lain merupakan kesempatan yang baik. Karena akan mampu mengubah pikiran orang
tersebut untuk berpindah agama.
Di Kerawang Bekasi
Setelah sukses mendirikan dan mengembangkan Padukuhan Lemah Abang di Astana Japura, makaselanjutnya Syekh Siti Jenar ingin mendirikan
Padukuhan di wilayah barat. Yaitu Karawang dan Bekasi. Dimana daerah ini dulunya masuk ke dalam wilayah kekuasaan Raja Mulawarman penguasa
kerajaan Tarumanegara yang berdiri tahun 450 M.
Tujuannya menyampaikan ajaran yang selama ini telah diyakini. Selain itu, untuk mengembangkan tatanan masyarakat muslim dan membentuk model
pendidikan terbaru.Keinginan itu akhirnya dilakukan dengan mengajak
sepuluh murid-muridnya yang senior menuju ke
Kerawang dan Bekasi. Dikedua daerah ini, ia membentuk Padukuhan Lemah Abang sebagaimana yang telah didirikan di Astana Japura Cirebon.
Kehadirannya di Kerawang dan Bekasi tidak menemui masalah yang cukup berarti. Dakwahnya berjalan lancar. Padahal daerah tersebut merupakan
pusat agama Hindu yang pertama kali ada di pulau Jawa. Yaitu kerajaan Tarumanegara dengan rajannya Kudungga.
Dalam dakwahnya ia dibantu oleh sepuluh muridnya. Dalam waktu singkat Padukuhan yang dibangun itu berkembang cukup pesat. Murid-muridnya berdatangan dari berbagai daerah. Anak-anak muda yang belum mengenal agama Islam merasa tertarik. Karena cara mengajarnya langsung bisa bertanya pada saat pengajaran berlangsung.
Bukti-bukti tentang pernah adanya Syekh Siti Jenar menyebarkan ajarannya di pulau Jawa bagian Barat itu adanya sebuah desa atau kecamatan bernama
Lemah Abang. Nama ini sebenarnya berasal dari Jawa bagian tengah atau timur. Bahkan situs-situsnya masih ada.
Di Padukuhan yang dibangun itu Syekh Siti Jenar menerapkan sistem pendidikan yang selama ini dipelajari di Bagdad. Ia bagaikan penguasa yang
tidak ada yang menghalangi. Oleh karena itu, semua ajarannya tentang Wahdatul Wujud terlaksana dengan baik. Tidak ada masyarakat yang
menghalangi. Karena memang tidak ada wali yang memiliki pemikiran berbeda dengan dia.
Tidak heran ajaran yang diajarkan kepada murid-muridnya berjalan mulus tanpa ada yang menghambat. Demikian pula, dengan murid-muridnya
dalam mempelajari ajaran manunggaling kawulo gusti secara bebas. Tanpa ada yang mengamati dan menyalahkan. HUSNU MUFID
Langganan:
Postingan (Atom)













