Sabtu, 29 September 2012

Jejak Hitam Pemberontakan PKI Madiun Pada Kiai

Salah satu unsur umat Islam yang juga paling dibenci PKI adalah Masyumi. Hal ini diungkapkan oleh KH Roqib, salah seorang korban kebiadaban PKI Madiun 1948 yang masih hidup. Kini KH Roqib adalah imam besar Masjid Jami’ Baitussalam Magetan. Sebagai salah seorang kiai yang juga tokoh Masyumi, Roqib pun menjadi sasaran yang harus dilenyapkan. Dia diculik PKI sekitar pukul 03.00 dini hari pada tanggal 18 September 1948, tak lama setelah PKI merebut kota Madiun. Sebanyak 12 orang anggota PKI berpakaian hitam dengan ikat kepala merah menciduk Roqib di rumah kediamannya di kampung Kauman, Magetan. Dini hari itu juga dia dibawa ke Desa Waringin Agung dan disekap di sebuah rumah warga. Di sebuah dusun bernama Dadapan yang termasuk dalam wilayah Desa Bangsri Roqib diseret oleh beberapa orang ke sebuah lubang di tengah ladang. Ketika akan disembelih di depan lubang, tiba-tiba Roqib mengingat pelajaran pencak silat yang diperolehnya. Seketika itu dia menghentakkan kakinya dan meloncat lari ke kebun singkong. Begitu lolos, Roqib bersembunyi di antara rerimbunan semak belukar hingga siang hari. Naas, siang itu pula dia ditemukan kembali oleh anggota PKI yang mengejarnya. Roqib pun tertangkap dan diikat lagi, lalu disiksa sepanjang jalan dari Desa Bangsri hingga pabrik gula Gorang-Gareng. Di pabrik gula Gorang-Gareng, Roqib disekap dalam sebuah loji (rumah-rumah besar untuk asrama karyawan). Di dalam loji terdapat banyak kamar dengan berbagai ukuran. “Ketika saya datang ke loji itu, kamar-kamarnya sudah penuh dengan tawanan. Satu kamar ukuran 3 x 4 meter diisi kurang lebih 40-45 orang. Bersama 17 orang lainnya, saya dimasukkan ke dalam salah satu kamar yang terdapat di ujung loji,” tutur Roqib. PKI kemudian menembaki loji tempat Roqib dan tawanan lainnya disekap lebih dari satu jam lamanya. Tubuh-tubuh yang terkena peluru langsung terkapar di lantai bersimbah darah. Para algojo PKI tidak memedulikan teriakan histeris para korban yang terkena peluru. Mereka terus saja melakukan tembakan. Di antara belasan orang yang ada di dalam loji, hanya Roqib dan Salis, serta seorang tentara bernama Kafrawi, yang selamat. Menurut guru ngaji ini, setiap habis menembak, pistol yang digunakan PKI itu tidak bisa menembak lagi, tapi harus dikokang dulu. “Saya bisa selamat dari tembakan karena memperhitungkan jeda waktu antara tiap tembakan sambil bersembunyi di bawah jendela. Kalau tanpa pertolongan Allah, tidak mungkin saya selamat,” kata Roqib getir. Beberapa saat kemudian tentara Siliwangi datang menjebol pintu loji dengan linggis. Suasana sudah mulai sepi karena PKI telah melarikan diri, takut akan kedatangan pasukan Siliwangi. “Ruangan tempat saya disekap itu benar-benar banjir darah. Ketika roboh dijebol dan jatuh ke lantai, pintu itu mengapung di atas genangan darah. Padahal, ketebalannya sekitar 4 cm. Darah yang membanjiri ruangan mencapai mata kaki,” ungkap Rokib. Selain KH Roqib, terdapat beberapa ulama dan pimpinan pesantren di sekitar Magetan dan Madiun yang jadi korban kebiadaban PKI. Di antaranya adalah KH Soelaiman Zuhdi Affandi (Pimpinan Pesantren Ath-Thohirin, Mojopurno), KH Imam Mursjid (Pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran), KH Imam Shofwan (Pimpinan Pesantren Thoriqussu’ada, Rejosari Madiun), serta beberapa kiai lainnya. Pesantren Ath-Thohirin yang diasuh oleh KH Soelaiman Zuhdi Affandi terletak di Desa Selopuro, Magetan. Pesantren yang mengajarkan ilmu thariqat ini sejak zaman penjahan Belanda maupun Jepang telah menjadi pusat gerakan perlawanan. Di pesantren inilah para generasi muda disiapkan dan dilatih perang oleh Soelaiman. Soelaiman gugur menjadi korban keganasan PKI pada pemberontakan tahun 1948, mayatnya ditemukan di sumur tua Desa Soco. Menurut R Bustomi Jauhari, cucu KH Soelaiman Zuhdi Affandi yang kini menjadi pimpinan Pesantren Ath-Thohirin, KH Soelaiman tertangkap pada waktu itu karena santrinya sendiri yang menjadi mata-mata PKI. Kemana pun sang kiai pergi, PKI pasti tahu. “Keluarga besar kami sangat berduka atas kematian kakek. Dari seluruh keluarga kami ada sebelas orang yang dibunuh PKI. Dan kebanyakan mereka adalah kiai,” ujar Bustomi. Penangkapan KH Soelaiman Affandi terjadi dua hari setelah PKI mengkudeta pemerintahan yang sah, tepatnya pada tanggal 20 September 1948. Ketika itu Soelaiman sedang bertandang ke Desa Kebonagung kemudian diculik. Setelah ditahan di penjara Magetan selama empat hari, KH Soelaiman beserta tawanan lainnnya, diangkut dengan gerbong kereta lori ke loji Pabrik Gula Rejosari di Gorang-Gareng. Dari Gorang-Gareng, para tawanan ini kembali diangkut dengan lori menuju Desa Soco dan dihabisi di sana. Salah seorang menantu KH Soelaiman Affandi bernama Surono yang juga dibawa lori ke Desa Soco termasuk orang yang mengetahui bagaimana kejamnya PKI dalam menyiksa dan membunuh Kiai Soelaiman di sumur tua Desa Soco. Menurut Surono, sebagaimana dituturkan Bustomi, PKI berulang kali menembak Kiai Soelaiman, namun tidak mempan. Begitu pula ketika dibacok pedang, Kiai Soelaiman hanya diam saja, lecet pun tidak. Setelah putus asa, algojo PKI akhirnya membawa Soelaiman ke bibir sumur lalu menendang punggungnya dari belakang. Tubuh Soelaiman yang tinggi besar itu terjerembab di atas lubang sumur yang tidak seberapa lebar. Anggota PKI kemudian memasukkan tubuh Kiai Soelaiman secara paksa ke dalam sumur. Begitu menimpa dasar sumur, Kiai Soelaiman berteriak lantang menyebut asma Allah, laa ilaaha illallah, kafir laknatullah, secara berulang-ulang dengan nada keras. “Teriakan itu membuat PKI kian kalap dan melempari Soelaiman dengan batu,” tutur Surono. Surono yang akan dibunuh namun ditunda terus karena dianggap paling muda, akhirnya tercecer di barisan belakang. Setelah kelelahan mengeksekusi puluhan orang dalam sumur tua itu, algojo PKI menyerahkan Surono kepada salah seorang anggota PKI yang lain. Tak dinyana, ternyata anggota PKI yang akan membunuh Surono itu adalah temannya semasa sekolah dulu. Oleh temannya, Surono dibawa ke tempat gelap lalu dilepaskan. Setelah bebas, Surono kembali ke Mojopurno dan melaporkan kejadian yang dia alami kepada keluarga besar KH Soelaiman Affandi. Salah seorang ulama yang juga pimpinan pesantren yang menjadi musuh utama PKI pada waktu itu adalah KH Imam Mursjid, pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM) Takeran, Magetan. Sebagai pesantren yang berwibawa di kawasan Magetan, tak heran jika PKI, segera mengincar dan menculik pimpinannya bersamaan dengan dideklarasikannya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Selain sebagai pimpinan pesantren, KH Imam Mursjid juga dikenal sebagai imam Thariqah Syatariyah. Selain itu PSM juga menggembleng para santri dengan latihan kanuragan dan spiritual. Pada 18 September 1948, tepatnya seusai shalat Jumat, KH Imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI. Salah seorang tokoh PKI bernama Suhud mengajak Kiai Mursjid keluar dari mushola kecil di sisi rumah seorang warga pesantren bernama Kamil. Rencananya Imam Mursjid akan diajak bermusyawarah mengenai Republik Soviet Indonesia. Kepergian KH Imam Mursjid bersama orang-orang PKI itu tentu saja merisaukan warga pesantren. Menurut mereka, Kiai Mursjid tidak akan menurut begitu saja diajak berunding oleh PKI. Di depan pendapa pesantren, KH Imam Mursjid dinaikkan ke atas mobil, yang kemudian melaju meninggalkan PSM diiringi kecemasan para santri dan warga lainnya. Kepergian KH Mursjid yang begitu mudah itu bukannya tanpa alasan. PSM telah dikepung oleh ratusan tentara PKI. Bisa jadi Kiai Mursjid tidak mau mengorbankan santrinya dan warga pesantren sehingga memilih mau ‘berunding’ dengan PKI. Ternyata, kepergian Kiai Mursjid itu adalah untuk selama-lamanya, ia tidak pernah kembali lagi ke pesantrennya. Begitu terjadi pembongkaran lubang-lubang pembantaian PKI di sumur Desa Soco maupun di beberapa tempat lainnya, mayat Kiai Mursjid tidak ditemukan. Dari daftar korban yang dibuat PKI sendiri pun, nama Kiai Mursjid tidak tercantum sebagai korban yang telah dibunuh. Tak heran, jika santri dan warga PSM masih percaya bahwa KH Imam Mursjid masih hidup hingga saat ini, namun entah berada dimana. Ulama atau pimpinan pesantren lain yang menjadi korban keganasan PKI di Madiun adalah KH Imam Shofwan, pimpinan Pondok Pesantren Thoriqussu’ada, Desa Selopuro, Kecamatan Kebonsari. Salah seorang putra KH Imam Shofwan bernama KH Muthi’ Shofwan yang kini mengasuh Pesantren Thoriqussu’ada mengungkapkan, ayahnya ditangkap PKI bersama dengan dua orang kakaknya, yakni KH Zubeir dan KH Bawani. Penangkapan itu terjadi sehari setelah kepulangan Muthi’ Shofwan dari rumah kosnya di Madiun. Sebagai murid salah satu SMP di Madiun, Muthi’ tiap minggu pulang ke Selopuro, biasanya tiap hari Kamis malam Jumat. “Ketika tiba di rumah pada waktu itu, ayah saya (KH Imam Shofwan) beserta dua kakak saya telah ditangkap oleh PKI. Ibu saya bilang bahwa ayahmu pergi dibawa orang naik dokar,” tutur KH Muthi’ mengingat kejadian itu. Beberapa hari kemudian dia mendengar berita bahwa ayah dan dua kakaknya itu ditahan di Desa Cigrok (sekarang Kenongo Mulyo). “Mas Zubeir dan rombongannya sekitar delapanbelas orang, pada malam Jumat itu, telah dibunuh oleh PKI dan dimasukkan ke dalam sebuah sumur. Karena Mas Zubeir agak sulit dibunuh, maka PKI dengan paksa menceburkannya ke dalam sumur dan menimbunnya dengan batu,” kata Muthi’. Pada malam yang sama, ayahnya dan Kiai Bawani serta beberapa tawanan lainnya dibawa ke Takeran. Esoknya, para tawanan ini dipindah lagi ke Pabrik Gula Gorang-Gareng lalu dibawa kembali ke Desa Cigrok. Di sebuah sumur tua yang tidak terpakai lagi, KH Imam Shofwan yang merupakan saudara kandung KH Soelaiman Affandi (pengasuh Pesantren Ath-Thohirin, Mojopurno, Magetan) dan Kiai Bawani dibunuh dan dimasukkan ke dalamnya. Rupanya, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan dan Kiai Bawani masih hidup. KH Shofwan bahkan sempat mengumandangkan adzan yang diikuti oleh puteranya. Melihat korbannya masih belum mati di dalam sumur, algojo-algojo PKI tidak peduli. Mereka melempari korban dengan batu lantas menimbunnya dengan jerami dan tanah. Pada tahun 1963 jenazah para korban kebiadaban PKI yang terkubur di sumur tua Desa Cigrok digali, lalu dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Magetan. Jadi sejak tahun 1948 hingga 1963, jenazah para korban PKI masih tertimbun dalam sumur itu. Menurut KH Muthi’ Shofwan, menghabisi ulama dan umat Islam memang keinginan kuat PKI, karena ulama dianggap sebagai penghalang berkembangnya ideologi mereka. “Komunis sangat anti pada Islam, oleh karena itu jangan dibiarkan bangkit lagi!” tegasnya.husnu mufid

Jumat, 28 September 2012

Padang Akan Resmikan Museum

Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, akan meresmikan museum peringatan gempa bumi yang terjadi pada 30 September 2009 lalu yang berada di bekas kantor PDAM Padang. "Untuk mengenang tiga tahun gempa bumi yang mengguncang pada Kota Padang 30 September 2009, Pemkot Padang akan meresmikan museum gempa bumi," kata Walikota Padang Fauzi Bahar, di Padang, Jumat (28/9/2012). Menurut dia, museum itu tetap mencirikan khas dan kultur Kota Padang yang menjadi pusat pendidikan, kebudayaan dan serta tujuan wisata. "Museum ini akan diisi foto-foto gempa 2009, baju korban gempa dengan bercak darah dan beberapa benda yang merupakan bukti terjadinya gempa di Sumbar, termasuk buku-buku dan tulisan terkait gempa dahsyat tersebut," katanya. Adanya museum ini, tambah Fauzi Bahar, akan banyak manfaatnya, antara lain sebagai dokumentasi sejarah, pendidikan, laboratorium pengembangan teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Dia mengatakan, selain meresmikan meseum gempa bumi, Pemkot Padang juga akan melaunching buku "Mengenang Gempa Dahsyat 30 September 2009". "Dalam buku tersebut dipaparkan biografi semua korban jiwa gempa, dengan berbagai cerita yang sangat menyedihkan, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan,"katanya. Menurut dia untuk memperingati tiga tahun gempa 30 September 2009, akan dipusatkan di Monumen gempa yang berada di kawasan Museum Aditiawarman. "Detik- detik gempa 30 September pukul 17.14 WIB dengan membunyikan sirine di seluruh stasiun radio yang ada di Padang, serta dilakukan zikir dan doa bagi korban gempa," katanya. Peringatan gempa tersebut semata-mata untuk mengenang betapa dahsyatnya gempa 30 September 2009, yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi yang tidak sedikit. "Diharapkan akan menjadi sebuah kenangan pahit dan tidak akan terulang lagi, baik saat ini maupun terhadap anak cucu kita di kemudian hari,"katanya. Fauzi Bahar menambahkan, untuk mengantisipasi jika terjadi bencana di masa mendatang, Pemerintah Kota Padang telah mengusulkan pembangunan 127 shelter atau hunian sementara ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). "Shelter yang akan dibangun itu nantinya berada di tempat-tempat seperti sekolah, masjid, kampus, kantor pemerintah, pasar raya, dan Lanud Tabing," katanya. Fauzi Bahar mengarapkan agar masyarakat lebih waspada dan mawas diri terhadap berbagai kemungkinan yang timbul, karena Kota Padang saat ini masih dinilai rawan bencana gempa dan longsor. husnu mufid

PT KA Gaet Alfamart, Jualan Tiket

PT Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja sama dengan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, pemilik jaringan minimarket Alfamart, untuk melayani pembayaran kode pemesanan tiket kereta api yang ada di pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Ini berarti calon penumpang kereta api kian mudah merampungkan pemesanan tiket mereka secara online daripada harus mencari anjungan tunai mandiri terdekat. Penandatanganan kerja sama itu berlangsung di depan gerai Alfamart di Stasiun Kota Bandung, Jumat (28/9/2012). Yang mewakili PT KAI adalah Direktur Komersial PT KAI, Sulistyo Wimbo Hardjito, sementara perwakilan PT Sumber Alfaria Trijaya adalah Corporate Affair Director, Solihin. Dengan reservasi internet, calon penumpang memesan tiket melalui situs resmi kereta api, kemudian mereka mendapatkan kode pemesanan untuk dibayar di anjungan tunai mandiri, waktu yang dimiliki adalah tiga jam sebelum pemesanan mereka hangus. Dengan kerja sama ini, pembayaran tidak harus dilakukan di ATM tapi bisa di gerai Alfamart yang tersebar di sepanjang Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. "Kami harapkan tidak ada pemesanan yang hangus karena lebih cepat menemukan gerai kami daripada ATM," kata Solihin. Dengan pembayaran di Alfamart, kasir tetap bisa memastikan kode pemesanan dengan mengulangi nama penumpang, kereta yang dipakai, hingga waktu keberangkatan. Tanda pembayaran itulah yang bisa ditukarkan menjadi tiket di stasiun sehingga calon penumpang tidak lagi harus mengantre. Solihin berharap, kerja sama ini kian mempermudah calon penumpang yang hendak bepergian menggunakan kereta api, terutama pada arus mudik lebaran. Dengan pemesanan 90 hari menjelang keberangkatan, diharapkan tidak ada lagi cerita harus antre panjang di stasiun demi mendapatkan tiket karena hal itu bisa dilakukan di depan komputer. Wimbo menuturkan, kebijakan ini seiring dengan pembenahan PT KAI dengan sistem boarding yakni mengharuskan nama yang tercantum pada tiket sesuai dengan kartu identitas penumpang bersangkutan. Selain itu juga kebijakan satu nama satu kursi sehingga tidak lagi ada cerita penumpang yang berdesakan di setiap perjalanan kereta. husnu mufid

Pembawa Buku Nikah Palsu Gagal Berangkat

Bukhori Muhammad Ali Rizal (40) (bukan Subakir seperti diberitakan sebelumnya), calon jamaah haji kloter 20 asal Pamekasan yang tertangkap membawa 499 pasang buku nikah kosong hari ini dipastikan tidak terbang ke Arab Saudi bersama rombongannya, Jumat (28/9/2012), karena polisi sudah mengajukan penundaan keberangkatan untuk kepentingan pemeriksaan. Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, Fatchul Arief mengatakan, seharusnya Bukhori bersama istri berangkat hari ini pukul 18.05 WIB dari Bandara Internasional Juanda Surabaya. Penundaan tersebut berlangsung sampai polisi menyatakan selesai melakukan pemeriksaan. "Bisa berangkat dengan kloter lain, atau bisa juga tidak berangkat, itu terserah polisi," katanya, Jumat (28/9/2012). Penundaan keberangkatan Bukhori dan istrinya, kata Fatchul, diajukan polisi kepada PPIH Embarkasi Surabaya pada Jumat siang dan dan saat ini keduanya tengah diperiksa intensif di Mapolrestabes Surabaya. Ke-499 buku nikah kosongan atau tanpa nama itu ditemukan dalam koper Bukhori dan istrinya yang datang di asrama haji Sukolilo Surabaya, Kamis (27/9/2012) malam. Buku-buku itu ditemukan saat pemeriksaan oleh pihak aviation security bersama Bea dan Cukai serta Keimigrasian, dibantu alat deteksi mesin x- ray aviation security PT Angkasa Pura I Bandara Juanda yang ditempatkan di Asrama Haji Sukolilo. Ratusan buku nikah kosong itu diduga palsu, dan sengaja diselundupkan untuk pasangan WNI di Arab Saudi yang membutuhkan buku nikah agar terhindar dari hukuman rajam dari pemerintah setempat. husnu mufid

Ratusan Buku Nikah Itu Dipalsukan

Hasil pemeriksaan fisik kepada 499 pasang buku nikah yang dibawa Bukhori Muhammad Ali Rizal (40), calon jamaah haji kloter 20 asal Pamekasan membuktikan bahwa buku nikah tersebut memang palsu. Ratusan buku nikah itupun saat ini disita polisi sebagai barang bukti. Menurut Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, Fatchul Arief, sekilas buku nikah berwarna merah dan hijau tua itu memang sama seperti buku nikah asli. Namun jika diteliti ada banyak kejanggalan seperti tahun penerbitan, hologram, dan nomor seri. "Bahkan kami temukan ada tiga pasang buku nikah yang nomor serinya sama," katanya, Jumat (28/9/2012). Namun Fatchul belum dapat memastikan apa yang dilakukan Bukhori tersebut sebagai tindakan kriminal, karena yang berhak menentukan status itu adalah polisi. "Saat ini, Bukhori beserta istrinya masih diperiksa di Mapolrestabes Surabaya," terangnya. Keduanya terpaksa tidak dapat berangkat sesuai jadwal penerbangan untuk kloter 20 yakni pukul 18.05 WIB sore ini, karena polisi sudah mengajukan permohonan penundaan keberangkatan kepada PPIH Embarkasi Surabaya. Keduanya mungkin dapat berangkat dengan kloter lain, mungkin juga tidak jadi berangkat, karena kepastian itu menunggu hasil pemeriksaan polisi. Seperti diberitakan, 499 buku nikah kosong atau tanpa nama itu ditemukan dalam koper Bukhori dan istrinya yang datang di asrama haji Sukolilo Surabaya kemarin malam. Buku-buku itu ditemukan saat pemeriksaan oleh pihak aviation security bersama Bea dan Cukai serta Keimigrasian, dibantu alat deteksi mesin x- ray aviation security PT Angkasa Pura I Bandara Juanda yang ditempatkan di Asrama Haji Sukolilo. Ratusan buku nikah kosong itu diduga palsu, dan sengaja diselundupkan untuk pasangan WNI di Arab Saudi yang membutuhkan buku nikah agar terhindar dari hukuman rajam dari pemerintah setempat. husnu mufid

Kamis, 27 September 2012

Candi Kuno Peninggalan Majapahit Ditemukan

Situs peninggalan Kerajaan Majapahit terus diungkap para arkeolog. Jika sebelumnya ditemukan kanal air dan gerbang di sekitaran Trowulan, kini sebuah candi juga ditemukan. Candi tersebut diperkirakan cukup luas dibandingkan candi-candi yang ditemukan sebelumnya. Candi ini ditemukan di Dusun Temon, Desa Nglinguk, Kecamatan Trowulan Mojokerto. Meski sudah ditemukan dan diperkirakan luas, namun dari abad berapa candi ini belum diketahui. Meski begitu, candi ini diperkirakan dulunya menjadi tempai ibadah. Kepala Pokja Penyelamatan dan Perlindungan BP3 Trowulan, Danang Wahyu Utomo mengatakan, setelah candi tersebut diteliti, banyak ditemukan artefak dengan ukuran cukup besar. Hal ini mengindikasikan bahwa candi tersebut cukup luas. Selain itu, konstruksi candi ini berbahan batu andesit. Informasinya, di sekitar candi ini, banyak ditemukan pecahan tembikar, pecahan keramik asing, yoni, mata uang kepeng, jobong atau sumur kuno, tugu batu, dan struktur bata kuno yang menyerupai bentuk tembok dan pintu gerbang. "Kita masih terus teliti candi ini. Diperkirakan bangunanya ini kuno," kata Danang kepada detiksurabaya.com saat mengadakan jumpa pers di Hotel Raden Wijaya, Kamis (27/9/2012). Danang sendiri menduga, candi ini diperkirakan dibangun pada awal-awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Sebab kota Majapahit sendiri membentang 10x10 Km persegi yang meliputi beberapa desa di Trowulan. Salah satunya adalah Desa Nglinguk. Saat ini, tim arkeolog masih terus meneliti situs-situs yang berada di Trowulan. Pada evaluasi hasil penelitian nanti, semua temuan akan dibeberkan ke publik. "Masih terus diteliti. Semoga banyak yang kita dapat," pungkasnya.husnu mufid

Pesawat Merpati Tujuan Banyuwangi-Surabaya Gagal Terbang

Pesawat Merpati jurusan Banyuwangi-Surabaya dikabarkan gagal terbang, Selasa (25/9/2012) sore. Sebelum gagal terbang, pesawat delay hingga 1,5 jam. Penumpang dibuat kecewa, termasuk rombongan Wakil Menteri Pertanian RI Rusman Heriawan. "Saya kecewa dengan pelayanan Merpati," kata seorang penumpang berinisial KN, saat mengkonfirmasi ke detiksurabaya.com, Rabu (26/9/2012). Sesuai jadwal, harusnya pesawat itu terbang dari Bandara Blimbingsari, Banyuwangi ke Bandara Juanda Surabaya pukul 15.00 Wib. Namun penumpang dibuat kesal karena jadwal terbang diundur menjadi pukul 16.30 Wib. Hingga akhirnya petugas Merpati memberikan informasi kepada penumpang. Jika pesawat hari itu gagal terbang. Dengan alasan ada kerusakan pada mesin pesawat. "Petugas menyampaikan ke penumpang kalau ada kerusakan mesin," ungkap KN. Akibat dari kejadian itu, bukan hanya KN saja yang dibuat kecewa. Rombongan Wakil Menteri Pertanian RI Rusman Heriawan, yang pulang dari kunjungan kerja di Jember, juga terpaksa gigit jari. Dikabarkan, rombongan pejabat tersebut akhirnya pulang ke Jakarta melalui ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali.husnu mufid