Selasa, 16 Februari 2016

Candi Banjarsari Nganjuk






Kisah Penemuan Susunan Batu Bata Sedalam 2 Meter di Nganjuk
Diberi Nama Candi Banjarsari
Siapa yang menyangka, saat menggali tanah untuk keperluan membuat bata dan genting cetak, malah menemukan bangunan bersejarah. Diduga bangunan yang sudah lama terpendam dalam tanah tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.
Warga Desa Banjarsari, Kecamatan Ngrongot, Kabuten Nganjuk. Kamis, 28 Januari 2016 dihebohkan dengan kabar ditemukannya sebuah bangunan batu bata bersusun dan berundak. Batu bata tersusun dengan rapi. Diketahui adalah sebuah candi. Letaknya berada di sebuah pekarangan kosong milik Nurul Tawakib yang masih banyak terdapat tumbuhan bambu.
Kisah penemuan candi itu menurut Saiful salah satu teman Afandi yang merupakan seorang penggali tanah urug sekaligus orang pertama yang menemukan candi di Desa Banjarsari. Mulanya, Afandi melakukan pekerjaan yang biasa ditekuninya, yakni mengumpulkan tanah galian untuk dijadikan bahan membuat batu bata dan genting bersama dengan dua rekannya yakni Sanan dan Saifudin.
Beberapa hari menggali, tidak ada sedikit pun kejanggalan. Berkali-kali mengayunkan cangkul di lahan yang berukuran kurang lebih 4x12 meter tersebut nampak mudah. Hanya beberapa kali mengenai kerikil dan beling (pecahan kaca). Bukan hambatan bagi mereka bertiga kalau cuma batu-batu kecil yang menggores cangkul.
Pada hari Selasa, kedalaman galian hampir mencapai 2 meter, Afandi terus mengayunkan cangkul miliknya, tiba-tiba terdengar suara “crang, crang..”. Sejenak Afandi berhenti, diamatinya tanah yang dipijak sekaligus sedikit dikorek-korek menggunakan telapak tangan. Nampak terlihat ada sebuah benda mirip batu bata, hanya ukurannya sedikit lebih besar. Bata kuno ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada bata masa sekarang, dengan ukuran panjang 30 hingga 40 centimeter dan lebar 16 centimeter serta tebal 5 centimeter.
Lelaki berusia 53 tahun ini pun kemudian melanjutkan penggaliannya dengan hati-hati. Sebab dirinya penasaran akan benda yang berbenturan dengan mata cangkulnya. Ayunan yang tadinya begitu kuat dan cepat, kini semakin diperlambat dengan penuh kehati-hatian. Tidak lama kemudian nampaklah sebuah tatanan batu bata lengkap dengan pintu masuk pada bagian tengah. Afandi langsung menyadari, rupanya yang sedari tadi diamati adalah bangunan purbakala berupa candi. Karena di Kabupaten Nganjuk banyak ditemukan candi.
Oleh karena itu, ia melanjutkan untuk melakukan penggalian candi tersebut. Kemudian menemukan 3 buah patung dengan candi. Dengan jantung bergetar terus melakukan penggalian. Harapannya bukan hanya patung yang ditemukan, melainkan emas dan benda-benda berharga lainnya.
Baginya, penemuan ini dianggap sangat asing. Karena itu, enggan untuk menyebarkan kabar akan tanah galiannya. Sebab takut kegiatannya bakal dihentikan. Afandi pun akhirnya mengumpulkan patung hasil temuannya untuk disimpan agar tidak hilang. Kemudian dirinya kembali berpikir di bawah teduhnya pohon bambu yang menjulur di atas candi “baru miliknya”.
Penemuan sebuah candi dan 3 buah patung tersebut tidak membuat senang. Tetapi semakin membuat gelisah dirinya. Akhirnya Afandi pun memutuskan untuk melaporkan penemuannya tersebut kepada perangkat desa. Kemudian diteruskan ke Mapolsek Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.
Mulanya, Afandi dan ketiga rekannya tidak mengindahkan larangan untuk kembali melanjutkan penggalian. Sebab mereka beralasan, cuma itulah cara mereka untuk mencukupi kehidupan dan menafkahi keluarga. Apalagi tanah yang mereka gali merupakan tanah sewaan seharga Rp 5 juta. Takut merusak salah satu peninggalan sejarah, akhirnya lokasi tersebut dipasang pita kuning bertuliskan “Police Line”.
Tempat Pemujaan
Tidak butuh waktu lama, tepatnya pada hari Rabu, 27 Januari 2016, petugas gabungan dari Disbudparta dan Muspika Kecamatan Ngronggot, melakukan pengecekan guna memastikan. Ya, di tempat yang dimaksud sudah jelas terlihat sebuah candi dengan panjang 2,7 meter lebar 2,1 meter, dan tinggi 1,7 meter.
Akhirnya penemuan tersebut tersebar luas, masyarakat langsung berebut datang untuk melihat, apalagi setelah beberapa media massa juga turut meliput penemuan tersebut. Bahkan beberapa warga luar daerah yang turut mendengar esoknya langsung datang karena penasaran. Bahkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan pun sudah turun untuk meninjau penemuan candi tersebut.
“Candi tersebut diduga merupakan tempat pemujaan oleh para pendahulu kita. Karena masyarakat sekitar dulu menjadikan candi sebagai pemujaan atau sembayangan, selain untuk menempatkan abu jenazah. Karena ditemukan di Desa Banjarsari, maka masyarakat menamakan Candi Banjarsari. Sesuai dengan nama desanya,” ujar Aries Sovyani, Kepala BPCB Trowulan Mojokerto.
Selain itu, selama beberapa hari, Afandi, Sanan, dan Saifudin, untuk sementara harus diamankan di Mapolsek. Sebab mulanya ketiga orang tersebut sengaja menyimpan, pada saat itu dikatakan diduga mencuri, namun diralat karena ketiga patung tersebut masih ada. Hingga saat posmo bertandang ke Mapolsek Ngronggot ketiga Arca yakni Resi Agatiya, Dewi Parwati (Durga), dan Syiwa, masih utuh.
Saat dikonfirmasi, AKP Gede Putu Sinardana, selaku Kapolsek Ngronggot, pihaknya berencana menahan Moh Afandi CS, karena diduga telah menjualbelikan tanah uruk tanpa izin, dan kemungkinan juga akan disangkakan UU perlindungan benda purbakala atau cagar budaya. "Kami masih melakukan penyidikan lebih lanjut" imbuhnya.
Menurut rencana yang belum diketahui kapan pastinya, pihak Kepala BPCB Trowulan Aries Sovyani bakal kembali melakukan ekskavasi di lahan galian tersebut, kuat dugaan bakal kembali ditemukan beberapa arca di bagian candi yang belum terlihat. Karena masih proses penelitian lagi dan belum seluruhnya digali. Cahya

Senin, 11 Januari 2016

Jamaah Rutin Tahlil dan Istighosah Jamrud Talithon Jombang




Mengenal Jamaah Rutin Tahlil dan Istighosah A-Pithon Jamrud Talithon Kab Jombang

Bedah Buku Syekh Subakir dan Ajarannya

Jama’ah  Rutin Tahlil dan Istighosah  A-Pithon Jamrud Talithon yang didirikan Syekh Muhammad  Jl Kemuning Gg V/58 Candimulyo Jombang cukup menarik untuk disimak dan diikuti kegiatannya. Seperti apakah kegiatannya. Berikut ini.
Syekh Muhammad merupakan pendiri Jama’ah Rutin, Tahlil dan Istighosah A-Pithon  Jamrud Talithon merupakan tokoh yang tidak asing lagi bagi masyarakat Jombang. Hidupnya diabdikan untuk mengajak masyarakat mendalami agama melalui jalan toriqoh.  Hidupnya dijalani dengan kesederhanaan.
Jamrud Talithon merupakan organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam kegiatan toriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyah almarhum Kiai  Mustain Romli.  Sudah cukup lama melakukan kegiatan. Awalnya anggotanya cukup sedikit, akan tetapi lama kelamaan jumlahnya cukup banyak. Model kegiatannya dari rumah jamaah yang satu ke jamaah yang lain.
Biasanya hari Rabu Kliwon dan hari lain yang dianggap memiliki nilai istimewa. Selama melakukan  kegiatan tahlil dan istighosah Nampak khusuk dan penuh dengan kebersamaan serta saling menghormati sesama jamaah.
Bacan-bacaan tahlil dan istighosa sangat menyentuh didalam hati seluruh jamaah. Oleh karena itu, saatzikir berlangsung terasa hati semakin damai. Hingga tak terasa berakhir dengan cepat. Hal ini dilakukan dengan ikhlas. Tanpa ada pamrih. Begitupula saat membacakan tawassul melalui para kiai sepuh dan para sufi seakan-akan tembus kedalam langit tujuh.
Kegiatan Jamaah Rutin, Tahlil dan Istighosah bukan hanya berzikir dan bertawassul, akan tetapi melakukan kajian-kajian bedah buku. Baru-baru ini pada rabu malam Kamis Kliwon 6 Januari 2016 mengadakan bedah buku Syekh Subakir karya KRT Drs. Husnu Mufid, MPdI dirumah kediaman Syekh Ahmad.
Bedah Buku Syekh Subakir Pembabar di Tanah Jawa dan Ajarannya dihadiri jamaah dan tokoh masyarakat. Ruangan rumah penuh dengan jamaah yang hadir. Tapi anehnya tidak terasa panas dan hawa sejuk merasuk kedalam tubuh seluruh peserta  yang mengikuti bedah buku. Tidak ada rasa capek. Padahal sebelumnya diawali dengan kegiatan tahlil dan istighosah.
Proses bedah buku berjalan lancar. KRT. Drs. Husnu Mufid, MPdI menjawab pertanyaan dengan penuh kepastian. Seluruh jamaah yang hadir merasakan mendapatkan informasih yang baru. Karena buku Syekh Subakir merupakan buku yang cukup langka dan tidak ada di tokok-toko buku. Harganya pun murah.      
“Ya kegiatan jamaah kami bukan hanya tahlil dan istighosah saja. Kiti ditambahi dengan bedah buku Syekh Subakir. Tujuannya biar tahu siapa sebenarnya Syekh Subakir itu. Sebab  setiap istighosah selalu dial fatehai. Kedepannya juga akan membedah buku Hubungan Prabu Sri Aji Joyoboyo dengan Syekh Wasil, masa Kecil Bung Karno. Juga akan membedah buku Para Kiai Pejuang Kemerdekaan,”ujar Syekh Ahmad pendiri Jamrud Thaliton Kab. Jombang.
Akhir kegiatan bedah Buku Syekh Subakir berjalan dengan lancer tanpa ada yang merasa lelah. Mengingat kegiatan dimulai sejak jam 8 malam berakhir jam 12 malam. Acara bedah buku Syekh Subakir berakhir dengan khidmat dan menyenangkan. Karena ilu semakin bertambah.

Kamis, 15 Oktober 2015

wawancara Roh PKI di Magetan



Prosesi Mendengarkan Roh Simpatisan PKI di Makam Temanggungan Magetan

Minta Ditegakkan Keadilan Agar Arwah Tidak Penasaran       
Pada bulan September hingga Oktober 2015 kader-kader PKI yang terbunuh pasca Kudeta 30 S/PKI  menjadi pembicaraan masyarakat luas mengenai arwahnya. Hal ini menjadikan Ki Lawu Maorpati mencoba melakukan wawancara dengan arwah-arwah kader  dan simpatisan PKI di  Makam Temanggungan Desa Temanggungan  Kec. Keras Magetan.  Seperti apakah  wawancara rohnya.

Tepat pukul 20.00 wib Ki Lawu Maospati  bersama sejumlah masyarakat  dan anak buahnya  menuju  makam Tumenggungan. Dimana makam tersebut merupakan makam yang cukup tua. Ada sejak zaman  berdirinya kerajaan Maiun yang dipimpin Pangeran Timur putra Sultan Trenggono Demak Jawa Tengah. Suasa saat itu cukup gelap. Tapi tidak membikin takut rombongan yang akan mewawancarai arwah simpatisan PKI.
Untuk mendapatkan makam simpatisan PKI itu tidak sulit. Karena letaknya berada di pinggir jalan desa. Suasana gelap tidak membikin takut rombongan. Malahan dianggap sebuah tantangan. Kemudian Ki Lawu Maospati  menyalakan lilin disetiap penjuru lokasi terkuburnya 237 jasad simpatisan PKI. Suasana berubah menjadi terang.
Angin yang semula  kencang tiba-tiba menghilang. Bersamaan itupula Ki Lawu Maosmati menidurkan  Budi  Sukowidi sebagai mediator untuk memanggil arwah simpatisan PKI. Dalam waktu singkat roh telah memasuki tubuh Budi. Saat itupula  Agus, Ela, Budi Santoso, Dian dan Enggi anak muda desa mengelilingi dengan tujuan agar kekuatan gaib lain tidak mengganggu. Mengingat sekitar makam Temanggungan banyak mahluk gaib yang mencoba mengganggu.
Dalam waktu singkat Budi Sukowidi yang kerasukan roh simpatisan PKI, kemudian ditanya oleh Ki Lawu Maospati tentang kondisi arwah simpatisan PKI yang dibunuh. Arwah simpatisan PKI  melalui tubuh Budi menjawab, bahwa kondisi arwahnya sangat merana.  Karena  belum bisa menghadap Tuhan YME. Sebab saat meninggal dunia  dulunya bukan dalam kondisi yang wajar sebagaimana manusia pada umumnya, melainkan dalam kondisi menyedihkan. Yaitu dibunuh oleh algojo berbaju hitam dengan menggunakan linggis.
Linggis-lingis itu yang membuat tubuhnya berlumuran darah dan langsung meninggal dunia. Lagipula  kematiannya tidak disucikan dan dikafani, melainkan dikubur bersama-sama 237 jasad  simpatisan PKI dalam kondisi berlumuran darah.
Kemudian dalam wawancara batin itu, Ki Lawu mendapatkan pesan dari arwah tersebut agar masyarakat mendoakan dirinya. Karena doa suci yang disampaikan akan meringankan beban yang selama ini berada dialam kubur. “Ya, arwah yang banyak dialam kubur itu meminta doa suci kepada masyarakat. Sebab dia juga memiliki Tuhan,”ujarnya.

Makam Tanpa Nisan
Selain meminta doa suci, arwah-arwah simpatisan PKI itu meminta kepada pemerintah sebuah keadilan. Karena selama ini selama hidup hingga meninggal dunia tidak mendapat keadilan yang sejati. Malahan mendapatkan kehinaan dan ketidakadilan. Buktinya hingga saat ini makamnya dirahasiakan dan tidak diberi  nisan sebagaimana makam-makam pada umumnya.
Juga sebagian  arwah yang ikut dipendam bersama simpatisan PKI itu menyampaikan akar keadilan benar-benar ditegakkan. Karena dirinya  bukan simpatisan PKI, akan tetapi ikut juga dibunuh akibat fitnah keji dari lawan bisnisnya. Mengingat zaman dulu asal tunjuk seseorang dianggap PKI, maka langsung dibawa oleh militer dan milisi. Padahal dirinya bukanlah anggota simpatisan PKI.
Usulan-usulan arwah simpatisan PKI itu menjadikan Ki Lawu Maospati tubuhnya bergetar. Karena takut dikerubut arwah penasaran itu. Jika usulan-usulannya nanti tidak sempat tersampaikan kepada masyarakat dan pemerintah. Saat itupula angin rebut datang tengah  malam. Lilin yang dinyalakan mengelilingi makam simpatisan tiba-tiba mati. Suasana menjadi gelap gulita. Rombongan yang melakukan wawancara roh secara batin langsung meninggalkan tempat dengan terburu-buru.
Sedangkan Ki Lawu Maospati langsung tancapgas meninggalkan lokasi menyusul anak buahnya yang lebih dahulu pulang. Tapi sayangnya dia kesasar hamper masuk sawah. Akhirnya kembali kelokasi menjemput Agus anak buahnya yang motornya mati mendadak tidak bias dihidupkan. Ia mengakui kalau makam Tumenggungan tempat pembantaian PKI sangat angker.Oleh karena itu tidak bias wawancara secara batin dalam waktu yang lama dan langsung pulang. Tujuanya agar selamat dan menghindari amuk arwah penasaran.HUSNU MUFID   

  
  

Rabu, 14 Oktober 2015

Seminar Silat Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955






Seminar Pencak Silat Menghadapi Pelaksanaan AFTA 2015 Perisai Diri 1955

Membuat Kampung Persilatan Tiap Daerah

Paguyuban Keluarga Silat Nasional Perisai Diri 1955 bekerja sama dengan Unitomo menggelar seminar dengan tema “Menyatukan Langkah Strategi Pengembangan Pencak Silat Dalam Rangka Persatuan dan Kesatuan Bangsa Pada Era Globalisasi (Pelaksanaan AFTA / ASEAN Free Trade Area 2015)”. Di Auditorium Ki. Moh. Saleh Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Rabu (07/10) kemarin. Berikut ini hasil liputannya.


ACARA seminar ini diawali dengan sajian tari Kuntulan khas Banyuwangi. Kemudian demo pencak silat Perisai Diri yang diperagakan para anggota Satpol PP Provinsi Jatim, serta atraksi panahan dari salah satu warga Perisai Diri. Hal ini menambah suasana semakin meriah. Undangan merasa terhibur dan terpuaskan.
Hadir kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur Drs. Jonatan Judianto, MMT, pejabat Binmas Polda Jatim, para pendekar pencak silat Perisai Diri, para akademisi, serta mahasiswa. Tidak ketinggalan Dr. Suparyono, mantan Ketua Paguyuban Perisai Diri Dr. Suparyono, M.Si. dan Drs. Denny Trisyanto Ketua Harian Pengurus Pusat Peguyuban Kesilatnas Indonesia Perisai Diri tahun 1955 dan pengurus baru lainnya.
Kemudian dilanjutkan pembukaan seminar oleh Kepala Bakesbangpol, Drs. Jonathan Judianto, MMT. Dalam sambutannya mengatakan, pencak silat sebagai budaya asli Indonesia perlu terus dilestarikan untuk membangun karakter bangsa. Bahkan dengan memahami filosofi pencak silat, kita juga akan bisa memfilter budaya asing yang masuk ke Indonesia. Karena melalui pencak silat, kita diajarkan cinta tanah air, budaya bangsa, dan orang tua.
Sedangkan Rektor Unitomo Surabaya, Dr. Bachrul Amiq, S.H., M.Hum dalam sambutannya menegaskan komitmen Unitomo untuk membangun karakter bangsa melalui pencak silat. Sejak dulu melalui UKM Perisai Diri, Unitomo telah banyak melahirkan atlet berskala nasional maupun internasional. Usai acara pembukaan dilanjutkan dengan menegaskan komitmen penandatanganan kerja sama antara Unitomo dengan Paguyuban Keluarga Silat Nasional Indonesia tahun 1955. Di mana Unitomo siap memfasilitasi tempat latihan seni pernapasan Perisai Diri.

Ilmu Panahan
Tidak lama kemudian dilanjutkan seminar pencak silat dengan narasumber Ketua IPSI Jatim, Drs. Supratomo, M.Si; Ketua Yayasan Kesilatnas Perisai Diri 1955, Prof. Dr. Made Warka, S.H, M.Hum (dari kalangan akademisi), serta pejabat Binmas Polda INMAS POLDA Jatim, Sumiartono, S.H, MH dan moderator Dr. I. Komang Wiarsa Sarjana.
Drs. Supratomo, M.Si, Ketua IPSI Jatim mengatakan, sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit pencak silat sudah ada. Untuk menghadapi era AFTA 2015 tidak perlu khawatir. Tinggal cara menjualnya saja dan bagaimana silat itu disukai masyarakat. Oleh karena itu, perlunya membikin kampung persilatan di daerah. Yang sudah ada di Madiun. Jika silat disukai dan tidak ditakuti, maka sponsor akan datang dengan sendirinya. Karena menjadi tontonan yang menarik.
Sementara Drs. Denny Trisyanto, Ketua Harian Paguyuban Perisai Diri Pusat menyatakan, untuk menghadapi pelaksanaan AFTA Perisai Diri mengembangkan ilmu milik guru besar Perisai Diri Pak Dirdjo berupa ilmu panahan dan pernapasan. Sehingga anak-anak muda menyukai silat yang berasal dari leluhur.
Lain lagi dengan Brigjend Bagio Rahmat, salah satu dewan Pembina Peguyuban Perisai Diri mengusulkan agar pencak silat masuk dalam kurikulum dan ekstra kulikuler di sekolah. Kemudian mengadakan penataran kepada guru-guru olahraga dan tiap bulan diadakan turnamen pencak silat. Untuk bisa terwujud perlunya disampaikan kepada Menpora Imam Nahrawi
Sedangkan Prof Dr. Made Warka, S.H. mengatakan pencak silat harus memiliki karakter yaitu olahrasa, olahpikir, olahraga, dan oleh hati. Untuk olahrasa berkaitan dengan nilai seni. Olahpikir bisa membedakan mana yang baik dan benar. Olahraga memiliki unsur kesehatan dan olahhati berkaitan dengan keimanan seseorang.
Usai seminar diadakan acara seminar melakukan kesepakatan menyukseskan Pilkada Jawa Timur dengan menyatukan tangan ke depan dan saling berangkulan antara narasumber seminar dengan pengurus Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri tahun 1955.
HUSNU MUFID .