Senin, 08 Januari 2018

Sunan Gunung Jati ke Palestina


Kisah Pengembaraan  Sunan Gunung Jati di Palestina

Menemukan Kitab Usul Kalam di Istana Bani Israil

Sunan Gunung Jati atau Syerif Hidayatullah semasa mudanya tinggal di kerajaan Mesir. Tapi tidak suka berlama-lama tinggal di istana, melainkan suka mengembara. Bagaimanakah kisah pengembaraannya. Berikut ini.

Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan  Gunung Jati adalah putra dari Sultan Hud, yang memiliki  wilayah kekuasaan mulai dari Mesir hingga Palestina. Ibunya bernama  Ratu Nyimas Larasantang.  Tapi setelah menjadi istri raja Mesir berganti nama menjadi  Syarif Mudaim.
Semasa mudanya  Syarif Hidayatullah lebih suka mengembara daripada tinggal di istana kerajaan. Lokasi pengembaraannya  hingga sampai ke  daearh Palestina. Di daerah Palestina, Syarif Hidayatullah merasa aman-aman saja. Karena merupkan wilayah kekuasaan  ayahnya.  Orang Yahudi dan Nasrani pun harmat dengannya. karena dianggap sebagai putra mahkota kerajaan Mesir.
Dalam pengembaraannya ia menemukan sebuah kitab yang selama ini dicari ulama-ulama kerajaan. Namanya Kitab Usul kalam yaitu suatu kitab yang ditemukan di Gedong Agung dalam Istana Bani Israil, kitab tersebut ditulis dengan menggunakan tinta emas dan didalamnya membahas mengenai hakikat Nabi Muhammad dan menjelaskan mengenai Dzat Allah yang maha suci.
Syarif Hidayatullah merasa gembira. kemudian membaca kitab tersebut. Rupanya kitam itu mempu mempengaruhi  jiwa dan pikiran cucu Raja Pajajaran. Setelah membaca kitab tersebut, Syarif Hidayatullah mepunyai keinginan kuat untuk  berjumpa dengan Nabi Muhamad.
Oleh karena itu, ia kembali ke Mesir untuk minta ijin kepada orang tuanya. Tapi sayangnya sesampainya di istana kerajaan mendapat kabar ayahnya telah meninggal dunia. hatinya pun sedih. Tapi tidak menyurutkan  niatnya untuk  bertemu dengan Nabi Muhammad meskipun telah meninggal dunia beberapa abad lamanya.
Ketika ada keputusan yang menyatakan, bahwa  penerus tahta adalah Syarif Hidayatullah. Karena beliau merupakan anak laki-laki pertama dari Sultan Hud dan Ratu Nyimas Larasantang. Keputusan tersebut ia tolak. Sehingga  jabatan raja diberikan kepada adiknya yang nomor dua.  Syarif Hidayatullah meminta supaya di ijinkan melakukan pengembaraan  mencari Nabi Muhamad SAW.
Ijin tersebut membuat ibunya kaget bukan kepalang. Ibunda Syarif Hidayatullah, dalam keadaan itu kemudian  berkata “Wahai anaku bukankah Nabi Muhamad telah wafat dan dikuburkan di Madinah, Anaku, bagaimana mungkin ananda bisa berjumpa dengan beliau?, sudahlah anaku, janganlah engkau pergi!”
Mendapati gelagat aneh dari anaknya itu, Ratu Nyimas Larasantang merasa khawatir dan memberitahukan kepada patihnya yang bernama Patih Onka, Sang Patih kemudian membujuk Syarif Hidayatullah muda, bujuknya agar jangan mengembara. Sebab Nabi Muhamad sudah wafat dan telah dikuburkan di Madinah lagipula penobatan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa Banisrail segera dilaksanakan.
Namun demikian Syarif Hidayatullah sudah kuat hatinya, ingin mengembara mencari Nabi Muhamad, demikian katanya terhadap Sang Patih “Paman aku tidak mengangap beliau telah wafat, karena itu adalah urusan Allah yang bersifat maha pengasih.
Apakah Paman pernah mendengar ada orang yang telah wafat kemudian datang menemui orang hiidup?, memang Allah itu maha kuasa. Susah atau  mudahnya kita serahkan kepada Allah, begitu tambah Syarif Hidayatullah dengan keyakinan penuh”
Niat yang begitu besar akhirnya Patih Onka tidak bisa berbuat banyak. Kemudian mengijinkan Syarif Hidayatullah untuk  melakukan pengembaraan menemui Rosulullah.  Satu hari kemudian Syarif Hidayatullah meninggalkan Istana dan mengembara mencari Nabi Muhamd SAW. berbekal  baju, emas dan kuda sebagai tunggagannya.
Dalam pengembaraanya itu Syarif Hidayatullah menuju Palestina guna  mengunjungi Makam Nabi Sulaiman di Pulau Majeti. Beliau juga kemudian terdampar di Jabal Kahfi. Dalam perjalanan selanjutnya dimana Syarif Hidayatullah dalam keadaan lelah setelah seratus hari seratus malam tak kunjung menemukan Nabi Muhamad SAW.
Kemudian pada  malam hari dalam tidur lelapnya,  Syarif Hidayatullah memasuki   alam dimensi lain, beliau melihat alam nyawa dimana tempat berkumpulnya nyawa orang-orang yang telah wafat dalam perang sabil berada.
Dalam alam Nyawa itu, Syarif Hidayatullah kemudian didatangi oleh Nabi Khidir, dan beliau mengabarkan kabar gembira kepada Syarif Hidayatullah, bahwa keinginannya untuk dapat bertemu Nabi Muhamad akan terlaksana, Sang Nabi Khidirpun kemudian mengangkat Syarif Hidayatullah menjadi Waliullah.
Dengan menunggangi Kuda yang bernama Kuda Sembrani, Nabi Khidir kemudian membawa Syarif Hidayatullah melesat bagaikan kilat, tenggelam dalam ketidaktahuan arah, utara-barat-timur maupun selatan. Alam menjadi gelap gulita hingga akhirnya sampailah kepada suatu tempat yang terang benerang keduanya tiba di Gunung Mirah Wulung.

Burung Putih
Setelah Syarif Hidayatullah muda turun dari kudanya, kemudian Nabi Khidir meninggalkan beliu sambil berpesan, “Engkau tunggulah disini dengan sabar, nanti aka ada yang datang kepadamu, nanti akan kau lihat sendiri”
Selang beberapa lama setelah masa penantian, datanglah seekor burung putih keluar dari puncak gunung mendatangi Pemuda Syarif dan kemudian membawanya naik kepuncak gunung Mirah Wulung. Syarif Hidayatullah muda dibawa ke Masjid Kumala.
Tanpa diketahui kedatangannya, kemudian terlihat Rasullalah, cahayanya menyilaukan memancar menerangi alam sekelilingnya. Syarif Hidayatullah lalu menghambur untuk bersujud dihadapan Nabi, akan tetapi bahunya segera diangkat oleh Nabi, dan Sabdanya “Nanti kamu Kafir kalau menyembah sesama manusia.!, sebab sejak awalnya sujud itu hanya kepada Allah”
Pemuda Syarif kemudian berkata “Hamba mohon Syafaat, baiat kepada sejatinya, semoga selamat dunia samppai akhirat”  Artinya: “(Hai anak muda, yang akan menjadi pengganti diriku. Ingatlah kamu selalu kepada sesama hidup. Karena hidup itu tidak berbeda, tidak bisa dibunuh karena sukmanya itu Allah. Jangan sampai nanti terlambat, hanya ada satu tak ada duanya, yaitu itulah engkau adanya. Namun lahir harus memaki Tirai, untuk meramaikan Negara, berikan petunjuk kepada hamba Allah, berhati-hatilah dalam tutur kata. Sempurnakanlah amal syariat yang utama dengan berbakti kepada ayah dan bunda, dan kunjungilah Ka’bah Allah, carilah guru yang saleh dan janganlah meninggalkan adat dunia, hanya itulah nasihatku)”
Maka selesai sudah baitanya Rasullallah. Syarif Hidayatullah pun kemudian bersukur karena tercapai sudah keinginanya yaitu berjumpa dengan Nabi Muhamad SAW. HUSNU MUFID

Sunan Prapen






Kisah Zaman Kejayaan Sunan Prapen di  Giri Kedaton 

Melantik  Sultan Pajang dan Panembahan Senopati

Sunan Prapen merupakan keturunan cucu dari Sunan Giri. Memiliki kekuasaan  politik di wilayah bekas kerajaan Majapahit. Khususnya diwilayah  Pantai Utara  Jawa setelah mengalahkan prajurit kerajaan Majapahit dibawah  pimpinan  Prabu Girindrawaedhana. Berikut ini kisahnya.

Sunan Prapen merupakan  penguasa keempat yang memerintah Giri Kedaton,  antara tahun 1548 sampai 1605 M. Selama  memerintah mengalami kejayaan yang cukup besar.
Sunan Prapen juga seorang pujangga besar di masanya. Dia lah yang menggubah kitab Asrar dan kemudian digunakan sebagai dasar menyusun Jangka Jayabaya. Selain itu, Sunan Prapen juga dikenal sebagai mpu atau pembuat keris. Karyanya yang terkenal di bidang pembuatan keris adalah keris Angun-angun.
Saat dipimpin Sunan Prapen, Giri Kedaton bukan hanya sebagai tempat   belajar agama namun menjadi daerah yang mempunyai pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan politik.
Pada wal masa pemerintahannya Sunan Prapen merupakan  sosok ulama yang memiliki kemampuan politik. Sehingga  daerah-daerah bekas  wilayah jajahan  kerajaan Majapahit  menyatakan setia padanya.
Hal inilah yang membuat Prabu Girindrawardana memerintahkan Patih Udara untuk menyerang Giri Kedaton. Jika  nantinya mengalami kemenangan, maka  bekas kekuasaan  kerajaan Majapahit yang  telah melakukan  menyatakan setia kepada Sunan Prapen  akan kembali dikuasai.  karena pimpinannya yaitu Sunan Prapen tidak mau menyatakan takluk kepada Majapahit.
Perintah itupun kemudian ditindaklanjuti, maka Patih Udara mengerahkan pasukannya dari Kediri menuju  Gresik untuk melakukan penyerangan. Seribu prajurit kerajaan Majapahit  menyerang Giri Kedaton. Perlawanan pun dilakukan oleh prajurit Giri Kedaton. Tapi sayang  tidak mampu menghadapi serangan yang jumlahnya cukup banyak.  Akhirnya mampu menguasai hampir sebagian wilayah Giri Kedaton, dan banyak menewaskan para santri yang ada.
Seluruh bangunan di kawasan Giri semuanya dibakar habis, Giri Kedaton menjadi lautan api. Harta benda dijarah.Sunan Prapen dan pengikutnya lalu mundur ke makam Sunan Giri. Kemudian di Kompleks Makam tersebut Sunan Prapen berdoa kepada Allah SWT. Selesai berdoa kemudian memerintahkan juru kunci membuka pintu kayu jati di kompleks makam kemudian keluarlah ribuan tawon atau lebah beracun.
Ribuan tawon tersebut terbang ke angkasa, bergumpalan bagaikan awan hitam yang menyerang barisan pasukan Majapahit yang sedang bersenang-senang karena kemenangannya. Para prajurit Majapahit lari pontang-panting seluruh tubuhnya menjadi lebam. Karena sengatan lebah beracun, banyak korban yang tewas. Melihat keadaan yang tidak terkendali, sebagian prajurit lebih baik mencari selamat, lari masuk hutan.
Namun barisan lebah yang semakin banyak itu mengikuti larinya rombongan Patih Maudara hingga sampai di Kerajaan Majapahit. Lebah beracun itu kemudian menyerang ke dalam istana, geger seluruh penghuni yang ada di dalamnya.
Menyaksikan hal ini, Prabu Girindrawardana  kemudian menengadahkan tangannya ke langit, dan bersumpah, tidak akan mengganggu para santri dan Sunan Prapen, kecuali yang sudah terjadi. Setelah selesai sang Prabu Girindrawardhana mengucapkan sumpahnya, seluruh barisan lebah beracun, berbalik arah melesat ke udara, dan terbang ke arah  barat laut. Langitpun menjadi cerah. Hal inilah yang membuat akhirnya Girindrawardana membiarkan Giri Kedaton menjadi daerah bebas di luar kekuasaannya.
Setelah kerajaan  kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan akibat serangan Sultan Trenggono di Kediri, m aka kewibawaan Sunan Prapen semakin  tinggi. Ketika kerajaan Demak runtuh akibat perang saudara, maka Joko Tingkir minta restu  Sunan Prapen untuk menjadi seorang sultan. Kemudian  Sunan Prapen yang kemudian melantik Hadiwijaya (Jaka Tingkir) menjadi sultan di Pajang.

Petinggi VOC
Bahkan ketika Kesultanan Pajang mengalami keruntuhan, maka Sunan Prapen juga memberi restu Panembahan Senopati menjadi raja kerajaan Mataram. "Selama hidupnya  selalu  pelantik atau pemberi restu kepada raja kerajaan Mataram,"ungkap Prof. Dr. Ali Mufrodi, MA  Guru Besar UINSA Surabaya.
Begitupula dengan sejumlah raja Islam di wilayah Indonesia Timur seperti di Pulau Kalimantan, Lombok dan Maluku juga diberikan restu oleh Sunan Prapen saat pelantikannya.Sehingga petinggi VOC saat itu menyatakan kalau Sunan Prapen bertindak seperti Paus penguasa Tahta Suci Vatikan yang juga memberikan restu dan berkah kepada raja-raja di Eropa.
Sunan Prapen wafat pada tahun 1605 M. Makam Sunan Prapen terletak di Desa Klangonan Kecamatan Kebomas sekitar 400 meter di sebelah barat Makam Sunan Giri, dalam sebuah cungkup berarsitektur unik dengan ukiran bernilai seni tinggi. HUSNU MUFID


Syekh Maulana Mgribi


Kisah Syekh Maulana Magribi di Pulau Jawa

Petilasannya Banyak Dijadikan Makam
 
Syekh Maulana Magribi merupakan salah satu sunan yang berdakwah di berbagai daerah di Jawa. Cukup banyak petilasan-petilasan yang dibangun dengan megahnya. Bagaimanakah kisahnya. Berikut ini.
Syekh Maulana Magribi seorang ulama dari Timur Tengah bukan hanya memiliki ilmu agama yang cukup tinggi. Tapi juga mempunyai ilmu karomah tingkat tinggi. Oleh karena itu, dalam dakwahnya juga menggunakan ilmu karomah yang disertai ilmu silat tenaga dalam. Hal tersebut sesuai dengan zamannya.
Selain itu, Syekh Maulana Mahribi  merupakan wali yang cukup tinggi derajadnya. Karena tanpa menyandang gelar Walisongo, akan tetapi memiliki peran  besar dalam menyebarkan agama Islam di berbagai daerah Jawa dengan ditandai banyaknya  petilasan-petilasan yang ditandai dalam bentuk sebuah makam. Seperti di Bantul Jogjakarta, Cirebon, Pomal Jawa Tengah dan berbagai  daerah lainnya.
Kedatangan Syekh Maulana Magribi dari Maroko ke Jawa dengan tujuan berdakwah. Mengingat waktu itu daerah Pulau Jawa masih sedikit yang beragama Islam. Bahkan  sejumlah rajanya tidak mempermasalahkan datangnya ajaran islam di wilayah kerajaannya.
Selain berdakwah, pekerjaan sehari-hari  adalah berdagang dari kerajaan ke kerajaan lain di berbagai belahan bumi. Hingga akhirnya  sampai di  Pulau Jawa dan mendarat di Pelabuhan Leran Gresik. Karena waktu itu Leran merupakan  pelabuhan yang cukup terkenal bila dibandingkan dengan  pelabuhan lainnya.
Kemudian melanjutkan dakwah menuju daerah Klaten hingga sampai pesisir Parangteritis. Karena didaerah tersebut  banyak  orang-orang yang belu, beragama islam. Khususnya masyarakat kelas Bawah. Ia bertempat tinggal di atas bukit dan ditemani seorang murid setia yaitu Syekh Belabelu.
Perjalanan pun berlanjut menuju Pomal  Jawa Tengah untuk melakukan syiar. Karena didaerah itu banyak orang-orang yang masih menyembah pohon dan batu besar. Juga ada. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju  Kesultanan Cirebon dengan rajanya Sultan Syarif Hidayatullah.
Bagi Syekh Maulana  Magribi  berdakwah di  Kesultanan Cirebon tidaklah sulit. Karena masyarakatnya sebagian besar beragama Islam. Sehingga posisinya  cukup tinggi. Sebab penguasa dan rakyat banyak yang menaruh hormat.
Setelah sekian lama tinggal di Kesultanan Cirebon. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju  Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah selaku  raja setelah kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan.
Dalam dakwahnya, Syekh Maulana Magribi semakin bersinar terang. Membantu Walisongo yang telah terlebih dahulu mengislamkan masyarakat Jawa Tengah. Hingga akhir hayatnya berada di Kesultanan Demak dan makamnya berada di belakang Masjid Demak Bintoro.  Hanya saja makamnya tidak banyak dikunjungi umat Islam. Karena tidak tahu.  HUSNU MUFID    


  



   

Senin, 11 Desember 2017

Sunan Drajad dan Sunan Ampel

Kisah Sunan Drajad Dapat Tugas Dakwah Sunan Ampel

Kaplnya Tenggelam Dilaut Saat Menuju Gresik

Nama terkenalnya adalah Sunan Drajad. Tapi  Nama aslinya adalah Raden Qasim. Mendapat tugas dari  Sunan Ampel Surabaya untuk berdakwah di Gresik.  Untuk menggantikan Syekh Maulana Malik Ibrahin yang telah meninggal dunia. Berikut ini kisahnya.

Sunan Drajat sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan Pondok Pesantren Ampel Denta Surabaya. Ayahnya merupakan guru satu-satunya. Ia belajar bersama Sunan Bonang, Sunan Giri, Raden Patah dan putra bangsawan kerajaan Majapahit. Berbagai ilmu didapatkan dari ayahnya. Seperti fiqih, al-Qur’n hadist, tarih, aqidah akhlaq dan banyak lagi ilmu agama lainnya.
Selama belajar agama kepada ayahnya, Sunan Drajad ini tergolong sebagai anak yang cerdas dan memiliki akhlaq yang mulia. Boleh dibilang termasuk santri yang memiliki kelebihan dalam mempelajari ilmu agama Islam. Hal ini yang membuat bangga Sunan Ampel.
Ketika menginjak usia dewasa, maka ayahnya memerintahkan untuk menuju ke wilayah Gresik guna menggantikan  Syekh maulana Malik Ibrahin dan Syekh Ali Muthadlo yang telah meninggal dunia.      
Kepergian Sunan Drajad ke Gresik  menggunakan  prahu layar dan tidak melalui jalan darat sebagaimana yang dilakukan Sunan Bonang kakaknya.  Karena jika melewati jalan darat akan memakan waktu cukup lama. Sebab banyak  hutan yang harus dilalui. Di mana hutan lebat  dan para penjahat  berkeliaran. Memang wilayah Surabaya dan Gresik  waktu itu merupakan daerah yang sulit untuk dilalui dan rawan kejahatan. Sisa-sisa  prajurit kerajaan Majapahit masih bercokol sangat kuat. Khususnya   mereka yang mendukung Patih Udara dan Raja Girindrawardhana pengkudeta Prabu Brawijaya V.
Rupanya  jalan laut pun  banyak penjahatnya. sama dengan  jalan di darat.  Sebab waktu itu banyak  pelarian tentara yang kalah  dalam perang saudara dalam lingkup   kerajaan Majapahit. Di tengah-tengah perjalanan lewat laut, Sunan Drajad mengalami musibah. seorang perampok mencoba menenggelamkan perahu yang dinaiki Sunan Drajad. Tiba-tiba ombak besar datang dan perahu yang dinaiki terbalik. Kemudian datang pertolongan dari Allah, beliau diselamatkan oleh ikan dan dihantarkan sampai ke pinggir pantai. Sejak saat itulah berada di wilayah Lamongan.
Di Paciran Lamongan Sunan Drajad tidak mengalami kesulitan dalam berdakwah. Karena mendapat pertolongan dan dukungan dari penguasa setempat sekaligus mertuanya.  Dari sinilah  aktifitasnya menyebarkan agama Islam pada masyarakat Lamongan berjalan lancar. Masyarakat yang ada kehilangan tokoh agama. Seperti Resi dan Pedanda yang meninggalkan Lamongan menuju Pulau Bali dan Gunung Tengger. .
Dalam dakwahnya cukup santun dan tidak dengan kekerasan maupun paksaan. Berjiwa sosial, sangat memperha­tikan nasib kaum fakir miskin. Karena waktu itu banyak masyarakat yang  hidup dalam kemiskinan. Sebab kondisi kerajaan Majapahit mengalami kehancuran ekonomi berupa gagal panen. Ditambah lagi  perang saudara dan tidak adanya raja yang kuat dalam mengatur  kerajaan. 
Untuk itu ia melakukan strategi terle­bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.  Rupanya hal itu berhasil dengan sukses. Sehingga banyak orang Majapahit yang bersedia  masuk Islam secara sukarela.
Sejak itulah banyak orang-orang Majapahit masuk Islam. Agama baru Islam disambut dengan gembira. Ajaran Islam menjadikan masyarakat Paciran Lamongan pinggir pantai maupun pedalaman menjadi manusia-manusia yang santun  dan beradab. Bukan lagi masyarakat yang sangat dan suka berperang melawan pendatang baru.
Dalam menyebarkan ajaran Islam Sunan Drajad cukup sederhana. Ia memiliki  filosofi dalam pengentasan kemiskinan dan diajarkan kepada murid-muridnya. Adapun isinya sebagai berikut : Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain). Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada). Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan). Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu). Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur). Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)
Selain hal tersebut, dalam berdakwah  Sunan Drajat juga  menggunakan  tembang Mocopat yakni Pangkur diiringi dengan gamelan Singomeng­kok. Dari sinilah banyak masyarakat yang tertarik untuk masuk Islam. Hingga akhirnya Lamongan menjadi daerah yang aman damai dan masyarakatnya sebagian besar telah masuk Islam.

Trahnya
Sebagai penghargaan atas keberha­silannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak Bintoro pada tahun saka 1441 atau 1520 M.
Penghargaan tersebut semakin menguatkan posisi Sunan Drajad di Lamongan. Tidak ada orang-orang jahat yang mencoba menggulingkan posisinya sebagai penguasa di Lamongan yang beragama Islam. Hingga akhirnya seluruh wilayah Lamongan rakyatnya beragama Islam.
Begitupula dengan rumah yang pernah ditempat hingga kini masih ada. Juga keturunannya masih tetap ada dan diakui kerajaan Mataram, Surakarta, karta Sura Surokarto Hadiningrat dan Ngayogyokarto Hadiningrat. Sehingga silsilahnya tetap jelas dan runtut. Karena tidak ada kerajaan yang membumi hanguskan kedaton dan mengejar keturunannya.
Berbeda dengan kerutunan Sunan Giri, yang sanak keturunannya dikejar-kejar  penguasa kerajaan Mataram dibawah pimpinan Amangkurat I.
Oleh karena itu, keturunan Sunan Giri  pasca Sunan Prapen menyembunyikan diri. Tujuannya agar tidak dibunuh penguasa kerajaan saat itu. Keratonnya [pun dihancurkan di wilayah Kebomas Gresik.
Sedangkan keturunan Sunan Drajad tidak dikejar-kejar oleh penguasa kerajaan Mataram. mereka tetap dikasih posisi  jabatan sebagai penguasa di Lamongan hingga zaman Jepang.. HUSNU MUFID



Sunan Muria dab Rakyat Jelata



Kisah Sunan Muria Berdakwah di Masyarakat Nelayan

Mantra dan Sesaji Diganti  Tahlil

Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said. Dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung. Berikut ini kisahnya. 

Nama Sunan Muria sendiri diambil dari nama Gunung Muria, yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah. Ia sendiri tinggal di gunung tersebut bersama istri dan murid-muridnya. Dari atas gunung, Sunan Muria hampir setiap hari harus naik-turun jalan kaki guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk yang berada  dibawah Gunung Muria. Karena   tidak menggunakan kuda.
Kemudian Sunan Muria  berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang sebagai sasaran utama. Selama berdakwah  kondisi tubuhnya cukup prima dan sehat. Karena dari atas gunung menuju pantai dan pasar yang banyak dihuni masyarakat.
Metode dakwahnya menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Cara tersebut  tidak sampai menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat yang masih menganut agama leluhurnya.
Adapun sarana yang digunakan adalah dengan menggunakan  kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Sebab waktu itu  merupakan alat komunikasi yang sangat strategis untuk menyampaikan dakwahnya. Oleh karena itu, beliau menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
Selain itu, ada tiga macam kesenian digunakan Sunan Muria  untuk menyiarkan Islam itu sendiri. Kesenian yang dimaksud adalah Tembang, Gending dan Wayang Kulit. Seperti lakon carangan atau karangan sendiri yang tidak bersumber kepada buku Mahabrata. Lakon-lakon itu adalah : Dewa Ruci, Jimat Kalisada, Petruk Dadi Raja, Pandu Pragola, semar Ambarang Jantur, Mustaka Weni, Sekutrem Yasa Pustaka, Begawan Ciptaning, Obong Bale Sigala-gala, Wahyu Widayat, Kresna Gugah dan sebagainya.
"Oleh karena itu, Sunan Muria termasuk wali  yang paling keras mempertahankan kesenian Jawa agar tetap berlangsung dan bahkan bisa diunakan sebagai media da’wah," ungkap Solihin Salam sejarawan asal Kudus. Ketika  Sunan Muria  menghadapi adat istiadat masyarakat setempat Seperti selamatan. Misalnya bila salah seorang anggota keluarga ada yang meninggal dunia, maka mereka akan mengadakan selamatan dan menyediakan sesajen untuk si mati.
Selamatan tersebut sering disebut dengan istilah Kenduri atau Kenduren. Ada upacara selamatan yang dilaksanakan menjelang jenazah si mati iberangkatkan ke kuburan. Ada yang dilaksanakan seudah menguburkan mayat. Jaman dahulu ( Hindu-Biddha, Animisme dan Dinamisme ).

Warna Islam
Kalau saja ada orang mati pihak keluarga di rumah akan menyediakan sesajen di kuburan. Ada istilah selamatan Ngesur Tanah (Kenduren setelah mengubur mayat). Ada istilah Nelung Dinani (Kenduren setelah tiga hari mengubur mayat). Ada istilah Pitung Dinani(Kenduren setelah tiga hari mengubur mayat). Ada istilah Matang Puluh, Nyatus Dino, Mendhak Pisan, Mendhak Pindo, dan istilah NYewu atu seribu harinya si mayat.
Maka Sunan Muria memberinya warna Islam. Dengan demikian tidak terjadi kontradiksi di dalam masyarakat. Warna Islam yang dimaksud adalah upacara yang sekarang disebut Tahlil, yaitu niatnya bersedah untuk si mati dengan cara membacakan kalimat Tayyibah, serta ayat-ayat AlQur’an. Ini dimaksudkan untuk mengganti do’a mantra yang biasa diucapkan para pendeta.
Sedang pahalanya diberikan kepada orang yang mati. Kalau acara selamatan itu lansung dihilangkan atau diberantas rakyat pasti akan marah karena masih belum mengerti dengan dalam syariat dan aqidah islam yang sesungguhnya. Maka selamatan boleh tetap diadakan namun upacara membakar kemenyan dan membuat sesajen dihilangkan. Diganti dengan bacaan dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an serta shalawat Nabi. Demikian pula adat selamatan bila si ibu mengandung maupun melahirkan bayi. Hal itu diberi warna Islam. Biasanya dengan cara membaca shalawat Nabi. HUSNU MUFID



Sunan Drajad dan Danau Brumbung


Kisah Sunan Drajat Islamkan Warga Dusun Brumbung Lamongan

Bersihkan Air Sendang dan Hilangkan Pageblug

Sunan Drajad dalam mengislamkan masyarakat  bukan hanya menggunakan  media kesenian. Tapi juga menggunakan air sendang Brumbung yang awalnya kotor jadi bersih.. Bagaimanakah kisahnya ?. Berikut ini.

Sunan Drajad merupakan sosok wali yang bertempat tinggal di atas bukut Drajad. Berbagai kegiatan keagamaan dilakukan di bukit tersebut. Cukup banyak masyarakat Lamongan yang datang untuk berkonsultasi tentang agama dan kehidupan.
Suatu hari  Sunan Drajad turun dari bukit untuk melihat kondisi masyarakat dari dekat. mengingat waktu itu kerajaan Majapahit  lagi mengalami perpecahan dan perang saudara. Sehingga rakyatnya tidak diurusi. Diantara  banyak dusun di zaman kerajaan Majapahit, maka Sunan Drajad mendatangi Dusun Brumbung. Karena sedang  dilanda bencana alam.
Dimana  wabah penyakit menular melanda seluruh kawasan desa. Penyakit itu menyebar dengan cepat. Sehingga banyak masyarakat yang jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Istilah ini sering disebut sebagai, esuk lara sore mati (pagi sakit, sore meninggal dunia).
Kemudian Sunan Drajat melakukan penelitian terhadao dusun tersebut. dari hasil penelitian  itu kemudian disimpulkan, bahwa sumber air Sendang Brumbung yang selama ini digunakan untuk  minum dan keperluan  lainnya oleh warga masyarakat menjadi penyebab menyebarnya wabah penyakit.
Mengingat selama ini. Sendang Brumbung yang biasanya berair jernih,   justru sangat keruh. Anehnya warha dusun tetap saja menggunakan air tersebut untuk keperluan sehari-hari. Tanpa memikirkan  dampak  kesehatan.
Kondisi air sendang yang keruh  merupakan pilihan satu satunya sebagai  sumber kebutuhan sehari-hari masyarakat. Misalnya minum, mandi, mencuci, dan sebagainya. warga Dusun Brumbung  saat itu memang tidak ada pilihan lain. Air yang ada hanya di sendang tersebut. Meskipun keruh tetap dipakai. 
Melihat warga Dusun Brumbung hanya  memiliki satu pilihan  dalam menggunakan air, maka Sunan Drajat mendekati Sendang Brumbung. Lantas ber jalan ketempat lain untuk menancapkan tongkatnya.
Kemudian di tanah tersebut menyemburlah air tawar yang berlimpah. Padahal tanah di situ bercampur dengan bebatuan. warga dusun kemudian banyak yang datang untuk melihat secara langsung.
"memang  karomah Sunan Drajad  membuat sumur cukup dengan tongkat bisa keluar air jernih. Mungkin sudah ahlinya dalam menemukan mata air di daerah yang tandus dan berbatu," ungkap Juru Kunci Makam Sunan Drajat, Yahya ditemui di kompleks Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.
Sunan Drajat menganjurkan agar masyarakat sementara memakai air tawar  yang dibuatkan itu guna memenuhi kehidupan sehari-hari. Mengenai  Sendang Brumbung jangan dulu digunakan. 
Tapi  meminta kepada warga agar membersihkan Sendang Brumbung secara bersama-sama. Pembersihan pun dilakukan bersama sama dengan cara menguras dan mengambil  kotoran yang berada di  bawah air sendang.
Rupanya  warga tidak berhasil membersihkan Sendang Brumbung. Karena  ternyata   air sendang  justru tetap saja airnya berwarna coklat. Apalagi  hujan terus mengguyur dengan derasnya tiap malam.
Sunan Drajat menduga bahwa kotornya Sendang Brumbung.  Karena banyak masyarakat yang belum memeluk Islam. Masih banyak yang menyembah agama kerajaan Majapahit dan menyembah  pohon besar serta batu besar.

Air Jernih Kembali
Akhirnya Sunan menyampaikan pesan, jika warda dusun Brumbung ingin  sendangnya  kembali airnya jernih dan bisa digunakan untuk keperluan lainnya, maka harus  memeluk agama Islam. Karena nanti Allah SWT akan membantu.
Saat itu pula seluruh warga Dusun Brumbung bersedia masuk Islam asalkan benar-benar air sendang kembali dapat digunakan dan wabah penyakit pageblug hilang dari dusunnya. 
Tidak lama kemudian Sunan Drajad mengambil  kedua bokor yang dimiliki. Bokor tersebut digunakannya untuk membersihkan sendang. Maka seketika lenyaplah segala kotoran yang membuat sendang keruh. Sendang Brumbung menjadi jernih kembali.
Atas peristiwa tersebut akhirnya banyak masyarakat Brumbung yang semula memeluk agama leluhur mulai beralih dan menjadi pemeluk agama Islam. Setelah air sendang  bersih dan airnya jernih, maka Sunan Drajat menyembuhkan satu-persatu masyarakat yang tadinya terkena wabah penyakit dengan menggunakan air sendang. HUSNU MUFID