Jumat, 05 Juli 2013

Ritual Ziarah Walisongo Posmo 2013/Riwas







Ritual Ziarah Walisongo (Riwas posmo 2013)

Menemukan Rahasia Hikmah Dibalik Perjalanan Ziarah


Alhamdulillah... rasa lelah dan resah dalam menempuh perjalanan panjang selama tiga hari akhirnya rombongan Riwas XIII 2013 tiba juga di kantor posmo yang berada di Jalan Gayung Kebonsari 16 Surabaya, Senin (24/6) pukul 12.00 WIB. Dari pantauan wartawan posmo, ada yang berbeda dengan Riwas sebelumnya. Ada apa ya? Berikut liputannya?

Pada Jumat (21/6) sekitar pukul 06.30 WIB seluruh peserta Riwas ke-13 yang diselengarakan posmo setiap tahunnya terlihat sudah memadati halaman kantor posmo yang berada di Jalan Gayung Kebonsari 16 Surabaya. Setelah mendapatkan sambutan dari Direktur Tabloid posmo H. Achmad Zubairi dan kiai pembimbing H. Minhajul Abidin rombongan menuju ke makam-makam para wali.
Rombongan riwas pun mulai melakukan ziarah ke makam Mbah Bungkul yang berada kawasan hutan kota Surabaya. Sebagai pembuka, sebelum melakukan ritual ke wali-wali lain, sekitar setengah jam melakukan ritual di makam Mbah Bungkul dengan membaca yasin dan tahil.
Rombongan pun melanjutkan perjalanan ke makam Sunan Ampel yang berada di Jl KH Mas Mansyur Kelurahan Ampel, Semampir, Surabaya. Tak ubahnya di ritual sebelumnya, di pusara Kanjeng Sunan Ampel pun peserta Riwas diajak untuk membacakan doa, yasin, dan tahlil. Setelah itu, rombongan Riwas menuju makam Syekh Maulana Malik Ibrahim dan diteruskan dengan salat Jumat bersama di Masjid Agung Gresik, Jawa Timur.
Rasa lelah pun mulai terasa. Meskipun begitu, semua tidak terhiraukan. Lantaran semua yang dilakukan posmo dan rombongan Riwas kali ini hanya semata-mata untuk mengenang jejak sang wali di tanah Jawa dalam melakukan syiar agama Islam. Sekitar pukul 01.30 WIB perjalanan dilanjutkan ke makam Kanjeng Sunan Giri dan kemudian dilanjutkan ke makam Sunan Drajat yang berada di Kawasan Desa Drajat, Paciran, Lamongan. Kemudian dilanjutkan ke ka mam Syekh Asmoro Qondi dan makam Sunan Bonang yang berada di daerah Tuban.
Setelah ziarah seharian di makam wali-wali di wilayah Jawa Timur, rombongan Riwas pun melanjutkan ke hotel untuk istirahat dan melanjutkan ziarah ke makam wali-wali yang berada di Jawa Tengah. Perjalanan riwas di hari kedua pada Sabtu (22/6) dilakukan sekitar pukul 08.00 WIB mulai dengan melakukan perjalanan ziarah ke makam Sunan Muria.
Dilanjutkan ke makam Sunan Kudus, makam Kanjeng Sunan Kalijaga, dan diteruskan ke Masjid Demak. Sekitar pukul 22.00 WIB peserta langsung menuju makam Kanjeng Sunan Gunung Jati yang berada di puncak Gunung Sumbing.
Ziarah merupakan perjalanan ruhani, maka sejak melangkah dari rumah sudah harus disadari karena secara badaniah akan berbeda, atau jangan disamakan seperti di rumah sendiri, baik ketika kita makan minum, mandi, maupun tidur. Maka kita harus ikhlas menerima apa pun dalam perjalanan, dengan begitu kita akan menerima hakikat rahasia, hikmah dari ziarah yang kita lakukan. ”Seribu gemblengan, seribu ilmu tidak akan berarti bagi kita kalau tidak ikhlas. Lebih baik menerima satu kata dengan ikhlas yang akan menjadikan hikmah dan berkah dalam kehidupan kita selanjutnya, amin. Maka ikuti ziarah terus dengan begitu kita akan menemukan rahasia, hikmah di balik perjalanan ziarah,” kata Tatit, peserta Riwas dari Malang.

Hidayah Mualaf

Tiba di makam Raden Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) sekitar pukul 08.00 WIB. Rombongan Riwas langsung berkumpul dan berdoa dengan membaca yasin dan tahlil serta sholawat. Sekitar 1 jam melakukan ritual dengan khidmat, berikutnya menuju ke makam Syekh Datul Kahfi di Gunung Jati. Seperti di makam-makam sebelumnya, setelah uluk salam kepada Syekh Datul Kahfi, rombongan Riwas XIII duduk bersila, membaca fatihah, membaca tahlil, dan salawatan. Kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tama, door prize dan hadiah tasbih karomah yang diberikan langsung oleh Direktur Tabloid Posmo H. Achmad Zubairi yang didapatkannya dari tanah suci Mekkah.
Tidak hanya itu, salah seorang peserta Riwas ke-13 (Nanang) meminta peserta Riwas lain (Pak Z Suwarno) untuk membaca syahadat dan surat Al Fatihah. Mudah bagi umat muslim. Tetapi sangat sulit bagi seorang mualaf. Kalau Pak Z bisa membaca keduanya, mereka akan siap menanggung biaya Riwas ke-14 yang akan dilaksanakan tabloid posmo pada tahun yang akan datang. Ternyata permintaan tersebut bisa dilaksanakan Pak Z, dan peserta Riwas yang menantang pun menepati janjinya.
Informasinya, Pak Z adalah seorang mualaf. Banyak rintangan yang harus dijalaninya. Sebab, keluarganya tidak bisa terima dengan keputusan pria berjengot putih yang terkenal ramah dan grapyak kepada sesama rombongan Riwas. Bukan itu saja, berkah dan hidayah Riwas kali ini buat Pak Z tidak cukup di situ. Sebab kiai Pembimbing H. Minhajul Abidin secara terbuka siap membimbing dan menjadikan Pak Z sebagai salah seorang santrinya di pondok. Dengan begitu Pak Z bisa menempuh ilmu agama Islam dengan gratis. HARIS




Ziarah Makam dan Kenaikan Tingkat Paguyuban Perisai Diri





Dari HUT Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Tahun 1955 di Surabaya

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Paguyuban Kesilatnas  Indonesia Perisai Diri 1955  menggelar acara tabur bunga di makam Taman Pahlawan Wijaya Kusuma dan Pembekalan dan Ujian Kenaikan Tingkat. Berikut ini lporan posmo.

Peringatan Paguyuban Kesilatnas  Indonesia  Perisai Diri 1955 ke 58 mengambil  thema: “Dengan Semangat  Untuk Melestarikan , mempertahankan, mengembangkan ajaran RM. Subandiman  Dirdjoatmojo Secara Murni  dan Utuh” diawali dengan mengadakan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Wijaya Kusuma Surabaya pada Minggu, (30/6) kemarin.
Hampir seluruh Pengurus Pusat Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955 hadir dalam acara tabur bunga tersebut. Seperti Dr. Suparyono, selaku ketua paguyuban, Dr I Komang, ketua yayasan, DYMM Sultan Suryo Alam, selaku pembina, Brigjend TNI Marinir (Pur) Subagyo Rahmad Pembina Perisai Diri, Bambang pendekar, dan sejumlah pengurus lainnya.
Juga hadir anggota Paguyuban Perisai Diri dari berbagai daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Seperti dari Mojokerto, Surabaya, Pasuruan, Demak dan kota-kota lainnya. Mereka kekhusuk dalam mengikuti acara doa dan tabur bunga ke makam pahlawan yang gugur dalam pertempuran melawan tentara NICA 10 Nopember saat perang kemerdekaan.
Selain itu juga,  berziarah kepada anggota Perisai Diri  murid Raden Mas Subandiman  Dirdjoatmojo yang gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda dan Inggris  dan dimakamkan di Taman Pahlawan Wijaya Kusuma yaitu Kapten Pitoyo dan Mayor Edwad Pangalila. Perasaan haru menyelimuti seluruh pengurus pusat dang anggota Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri saat melakukan tabur bunga.
Brigjend (Pur) Subagyo Rahmad Pembina Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat mengatakan,  ziarah ke Makam Pahlawan Wijaya Kusuma untuk meneladani  apa yang telah dikorbankan  demi nusa dan bangsa. Sehingga nantinya seluruh keluarga besar Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri memiliki rasa rela berkorban  membangun karakter bangsa Indonesia.
Usai acara ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Wijaya Kusuma dilanjutkan acara Pembekalan dan Ujian Kenaikan Tingkat di Gedung Bulutangkis Rungkut Surabaya. Para pengurus pusat memberikan pembekalan kepada seluruh anggota yang akan mengikuti kenaikan tingkat selama beberapa jam. Tujuannya agar memiliki integritas, disiplin, loyalitas yang tinggi. Sehingga menjadi pendekar yang benar-benar mumpunya seperti Raden Mas  Subandiman Dirdjoatmojo.

13 Pendekar

Ada sekitar 13 belas pendekar yang diuji kemampuannya, baik bermain pedang,  tongkat, tarung bebas, peragaan teknik jurus Perisai Diri. Dalam ujuan tersebut dinyatakan lulus semua  karena telah mampu menguasai tehnik silat dan penggunakan senjata.
Diantara mereka yang telah dinyatakan lulus adalah Sunardi, SPd mendapat gelar Pendekar Madya, Sumardi  dari Demak menggaet sabuk Merah Kuning, Kamsani dari Demak meraih sabuk Merah Kuning, Solichin dari Surabaya meraih sabuk Merah Kuning.
Kemudian Supriyadi, Supri, Yeni Satriandari, Fatah Yasin dari Mojokerto meraih sabuk Merah. Sedangkan Siti Aisyah, Aprilia, Ahmad Taifik, Moch Rosul dari Mojokerto meraih sabuk Biru Merah. Untuk Moh Hadi Pratama dari Pasuruan meraih sabuk Biru
Merah.  Mereka semua menerima piagam penghargaan diatas panggung yang diberikan oleh pengurus pusat. Seluruh rangkaian acara berlangsung lancar. HUSNU MUFID        



HUT Perisai Diri Tahun 1955





Dari HUT Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Tahun 1955 di Surabaya

Ziarah Makam Pahlawan dan Ujian Kenaikan Tingkat

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Paguyuban Kesilatnas  Indonesia Perisai Diri 1955  menggelar acara tabur bunga di makam Taman Pahlawan Wijaya Kusuma dan Pembekalan dan Ujian Kenaikan Tingkat. Berikut ini lporan posmo.

Peringatan Paguyuban Kesilatnas  Indonesia  Perisai Diri 1955 ke 58 mengambil  thema: “Dengan Semangat  Untuk Melestarikan , mempertahankan, mengembangkan ajaran RM. Subandiman  Dirdjoatmojo Secara Murni  dan Utuh” diawali dengan mengadakan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Wijaya Kusuma Surabaya pada Minggu, (30/6) kemarin.
Hampir seluruh Pengurus Pusat Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955 hadir dalam acara tabur bunga tersebut. Seperti Dr. Suparyono, selaku ketua paguyuban, Dr I Komang, ketua yayasan, DYMM Sultan Suryo Alam, selaku pembina, Brigjend TNI Marinir (Pur) Subagyo Rahmad Pembina Perisai Diri, Bambang pendekar, dan sejumlah pengurus lainnya.
Juga hadir anggota Paguyuban Perisai Diri dari berbagai daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Seperti dari Mojokerto, Surabaya, Pasuruan, Demak dan kota-kota lainnya. Mereka kekhusuk dalam mengikuti acara doa dan tabur bunga ke makam pahlawan yang gugur dalam pertempuran melawan tentara NICA 10 Nopember saat perang kemerdekaan.
Selain itu juga,  berziarah kepada anggota Perisai Diri  murid Raden Mas Subandiman  Dirdjoatmojo yang gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda dan Inggris  dan dimakamkan di Taman Pahlawan Wijaya Kusuma yaitu Kapten Pitoyo dan Mayor Edwad Pangalila. Perasaan haru menyelimuti seluruh pengurus pusat dang anggota Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri saat melakukan tabur bunga.
Brigjend (Pur) Subagyo Rahmad Pembina Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat mengatakan,  ziarah ke Makam Pahlawan Wijaya Kusuma untuk meneladani  apa yang telah dikorbankan  demi nusa dan bangsa. Sehingga nantinya seluruh keluarga besar Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri memiliki rasa rela berkorban  membangun karakter bangsa Indonesia.
Usai acara ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Wijaya Kusuma dilanjutkan acara Pembekalan dan Ujian Kenaikan Tingkat di Gedung Bulutangkis Rungkut Surabaya. Para pengurus pusat memberikan pembekalan kepada seluruh anggota yang akan mengikuti kenaikan tingkat selama beberapa jam. Tujuannya agar memiliki integritas, disiplin, loyalitas yang tinggi. Sehingga menjadi pendekar yang benar-benar mumpunya seperti Raden Mas  Subandiman Dirdjoatmojo.

13 Pendekar

Ada sekitar 13 belas pendekar yang diuji kemampuannya, baik bermain pedang,  tongkat, tarung bebas, peragaan teknik jurus Perisai Diri. Dalam ujuan tersebut dinyatakan lulus semua  karena telah mampu menguasai tehnik silat dan penggunakan senjata.
Diantara mereka yang telah dinyatakan lulus adalah Sunardi, SPd mendapat gelar Pendekar Madya, Sumardi  dari Demak menggaet sabuk Merah Kuning, Kamsani dari Demak meraih sabuk Merah Kuning, Solichin dari Surabaya meraih sabuk Merah Kuning.
Kemudian Supriyadi, Supri, Yeni Satriandari, Fatah Yasin dari Mojokerto meraih sabuk Merah. Sedangkan Siti Aisyah, Aprilia, Ahmad Taifik, Moch Rosul dari Mojokerto meraih sabuk Biru Merah. Untuk Moh Hadi Pratama dari Pasuruan meraih sabuk Biru
Merah.  Mereka semua menerima piagam penghargaan diatas panggung yang diberikan oleh pengurus pusat. Seluruh rangkaian acara berlangsung lancar. HUSNU MUFID        

Kenaikan Tingkat Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955

Dari HUT Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Tahun 1955 di Surabaya

Ziarah Makam Pahlawan dan Ujian Kenaikan Tingkat

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Paguyuban Kesilatnas  Indonesia Perisai Diri 1955  menggelar acara tabur bunga di makam Taman Pahlawan Wijaya Kusuma dan Pembekalan dan Ujian Kenaikan Tingkat. Berikut ini lporan posmo.

Peringatan Paguyuban Kesilatnas  Indonesia  Perisai Diri 1955 ke 58 mengambil  thema: “Dengan Semangat  Untuk Melestarikan , mempertahankan, mengembangkan ajaran RM. Subandiman  Dirdjoatmojo Secara Murni  dan Utuh” diawali dengan mengadakan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Wijaya Kusuma Surabaya pada Minggu, (30/6) kemarin.
Hampir seluruh Pengurus Pusat Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955 hadir dalam acara tabur bunga tersebut. Seperti Dr. Suparyono, selaku ketua paguyuban, Dr I Komang, ketua yayasan, DYMM Sultan Suryo Alam, selaku pembina, Brigjend TNI Marinir (Pur) Subagyo Rahmad Pembina Perisai Diri, Bambang pendekar, dan sejumlah pengurus lainnya.
Juga hadir anggota Paguyuban Perisai Diri dari berbagai daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Seperti dari Mojokerto, Surabaya, Pasuruan, Demak dan kota-kota lainnya. Mereka kekhusuk dalam mengikuti acara doa dan tabur bunga ke makam pahlawan yang gugur dalam pertempuran melawan tentara NICA 10 Nopember saat perang kemerdekaan.
Selain itu juga,  berziarah kepada anggota Perisai Diri  murid Raden Mas Subandiman  Dirdjoatmojo yang gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda dan Inggris  dan dimakamkan di Taman Pahlawan Wijaya Kusuma yaitu Kapten Pitoyo dan Mayor Edwad Pangalila. Perasaan haru menyelimuti seluruh pengurus pusat dang anggota Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri saat melakukan tabur bunga.
Brigjend (Pur) Subagyo Rahmad Pembina Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat mengatakan,  ziarah ke Makam Pahlawan Wijaya Kusuma untuk meneladani  apa yang telah dikorbankan  demi nusa dan bangsa. Sehingga nantinya seluruh keluarga besar Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri memiliki rasa rela berkorban  membangun karakter bangsa Indonesia.
Usai acara ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Wijaya Kusuma dilanjutkan acara Pembekalan dan Ujian Kenaikan Tingkat di Gedung Bulutangkis Rungkut Surabaya. Para pengurus pusat memberikan pembekalan kepada seluruh anggota yang akan mengikuti kenaikan tingkat selama beberapa jam. Tujuannya agar memiliki integritas, disiplin, loyalitas yang tinggi. Sehingga menjadi pendekar yang benar-benar mumpunya seperti Raden Mas  Subandiman Dirdjoatmojo.

13 Pendekar

Ada sekitar 13 belas pendekar yang diuji kemampuannya, baik bermain pedang,  tongkat, tarung bebas, peragaan teknik jurus Perisai Diri. Dalam ujuan tersebut dinyatakan lulus semua  karena telah mampu menguasai tehnik silat dan penggunakan senjata.
Diantara mereka yang telah dinyatakan lulus adalah Sunardi, SPd mendapat gelar Pendekar Madya, Sumardi  dari Demak menggaet sabuk Merah Kuning, Kamsani dari Demak meraih sabuk Merah Kuning, Solichin dari Surabaya meraih sabuk Merah Kuning.
Kemudian Supriyadi, Supri, Yeni Satriandari, Fatah Yasin dari Mojokerto meraih sabuk Merah. Sedangkan Siti Aisyah, Aprilia, Ahmad Taifik, Moch Rosul dari Mojokerto meraih sabuk Biru Merah. Untuk Moh Hadi Pratama dari Pasuruan meraih sabuk Biru
Merah.  Mereka semua menerima piagam penghargaan diatas panggung yang diberikan oleh pengurus pusat. Seluruh rangkaian acara berlangsung lancar. HUSNU MUFID        

Selasa, 11 Juni 2013

Gelar Budaya Kesultanan Demak









Gelar Budaya di Karaton Glagahwangi Dhimak di Demak

Menguri-uri Budaya Kesultanan Demak Bintoro

Pagelaran Budaya Kesultanan Demak yang diadakan DYMM Sultan Suryo Alam Raja Demak berjalan dengan meriah dan sukses. Rabu-Jumat, 5-7 Juni 2013 di Karaton Gelagahwangi Dhimak Jl Pangeran Demak 100 Demak Jawa Tengah. Berikut ini laporan posmo.

Gelar Budaya ke-4 tahun 2013 ini dimulai Rabu malam Kamis, (5/6) dengan acara pemberian gelar dari Ratu Syarifa Malaysia kepada DYMM Sultan Suryo Alam dan pemberian cinderamata blangkon dan pin dari DYMM Sultan Suryo Alam kepada juru kunci Keraton Ario Penangsang Cepu.
Kemudian dilanjutkan dengan pemberian gelar kekerabatan warga dalem. Pemberian gelar ini diikuti abdi dalem dari berbagai daerah Jawa. Di antara gelar kekerabatan yang diberikan adalah gelar Ki Ageng, Mas Ngabehi, Mas Lurah, Raden Ngabehi, Mas Bekel, Mas Tumenggung, Mas Ayu, Ngabehi, Raden Tumenggung, Kanjeng Tumenggung, dan Kanjeng Raden Tumenggung.
“Ada gelar kekerabatan yang diberikan kepada warga baru dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) adalah Nur Firdaus Ginting Suka, Mukayani, Gus Man, Eko Wahyudi, dan Sadin Subekti. Mereka telah kami pertimbangkan kelayakannya dan berhak mendapat gelar tersebut. Karena tidak semua orang bisa mendapatkan gelar ini,” ujar KRT Puji Purwito Humas Karaton Glagahwangi Dhimak Demak, Jawa Tengah.
Usai mengadakan gelar kekerabatan dilanjutkan dengan acara peringatan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW dan haul Syekh Subakir. Peringatan ini bukan dalam bentuk ceramah sebagaimana pengajian akbar pada umumnya, melainkan dalam bentuk pagelaran wayang. Yaitu ustadnya menyampaikan dengan menggunakan media wayang kulit.
Keesokan harinya pada Kamis malam Jumat, (6/6) diadakan gelar kerabat yang diberikan kepada Sultan Nusantara, tokoh nasional seperti Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jaya dan Datuk dari Malaysia, raja Roma Italia serta undangan luar negeri lain dari Singapura, Filipina, dan Thailand. Adapun pemberi gelar kepada mereka adalah Sultan Suryo Alam raja Demak dan Prabu Jauhari Notobroto Raja Nusantara dari Malaysia. Disaksikan Raja Kurabsi kerajaan Karo.
“Pemberian gelar kekerabatan pada tokoh nasional Indonesia dan datuk dari Malaysia, Filipina, Singapura dalam upaya menguri-uri budaya Kesultanan Demak Bintoro dan mengumpulkan balung yang berserakan kembali menjadi satu,” ujar DYMM Sultan Suryo Alam raja Demak.
Suasana pemberian gelar kekerabatan tahun ini berlangsung sangat meriah dan berjalan dengan lancar. Semua yang mendapat gelar kekerabatan dan undangan yang hadir merasakan kepuasan. Karena mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun aparat keamanan.

Pusaka Majapahit

Setelah pemberian gelar budaya berakhir dilanjutkan dengan pepasrahan pusaka Majapahit oleh Ketua Lembaga Adat Majapahit Pangeran Agus dari Mojokerto. Suasana kemudian berubah menjadi khusuk. Karena seluruh undangan yang hadir memperhatikan acara prosesi pepasrahan pusaka yang cukup keramat itu.
Prosesi penyerahan pusaka sebagai pertanda berakhirnya acara pemberian kekerabatan. Kemudian dilanjutkan dengan acara jamuan makan. Khas Kesultanan Demak di lokasi masjid yang sedang dibangun. Tampak persatuan dan kesatuan di antara para undangan yang merupakan masih dalam satu saudara berasal dari Kesultanan Demak Bintoro.
Usai jamuan makan undangan dihibur dengan Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon Gatot Koco Jadi Ratu. HUSNU MUFID


Gelar Budaya 1





                                             Gelar Budaya Glagahwangi Dhimak Demak Jateng
















Minggu, 26 Mei 2013

Konferwil PWNU Jatim 2013


Kontroverso Ahlul Halli Wal Aqdi di Konferwil PWNU Jatim

Secara harfiyah, ahlul halli wal aqdi berarti orang yang mempunyai wewenang untuk melonggarkan dan mengikat. Para ulama fiqih mendefinisikannya sebagai “orang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan dan menentukan sesuatu atas nama umat (warga Negara)”. Dengan kata lain, ahlul halli wal aqdi adalah :”Orang-orang yang berwenang merumuskan dan menetapkan suatu kebijaksanaan dalam pemerintahan yang didasarkan pada prinsip musyawarah”.
Para ulama fiqih menyebutkan beberapa alasan pentingnya pelembagaan majelis ini, antara lain :Pertama, Rakyat secara keseluruhan tidak mungkin dilibatkan untuk dimintai pendapatnya tentang masalah kenegaraan dan pembentukan undang-undang. Kedua, Rakyat secara perorangan (individual) tidak mungkin dikumpulkan dalam satu tempat untuk melakukan musyawarah, apalagi secara kodrati kemampuan mereka pasti berbeda-bedaKetiga, Musyawarah hanya dapat dilakukan apabila jumlah pesertanya terbatas, sehingga jika seluruh rakyat dikumpulkan akan sulit melakukannyaKeempat, Amar makruf nahi munkar akan dapat dilaksanakan apabila ada lembaga yang berperan untuk menjaga kemaslahatan antara pemerintah dan rakyat.
Kelima, kewajiban taat kepada ulil amri baru mengikat apabila telah ditetapkan oleh lembaga musyawarah. Keenam, agama Islam menetapkan bahwa segala urusan kemasyarakatan dan kenegaraan harus di tegakkan berdasarkan prinsip musyawarah
Pada masa modern sekarang ini, lembaga ahlul halli wal aqdi juga ikut berkembangan selaras dengan perkembangan zaman. Para ulama berpendapat pentingnya membentuk lembaga Perwakilan Rakyat melalui proses Pemilihan Umum.
Adapun syarat-syarat menjadi  anggota  ahlul halli wal aqdi terdiri dari anggota masyarakat yang memiliki  antara lain : Pertama, Memiliki kepribadian yang jujur, adil dan penuh tanggung jawab. Kedua, Memiliki ilmu pengetahuan yang luas sesuai dengan bidang keahliannya dan bertakwa kepada Allah SWT. Ketiga, Memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta teguh dalam pendirian meskipun resikonya besar. Keempat, Merakyat, sehingga senantiasa peka dan peduli terhadap kepentingan mereka. Kelima, Berjiwa ikhlas, dinamis dan kreatif. Keenam, Dipilih oleh rakyat melalui proses pemilihan yang jujur dan adil
Adapun hak dan kewajiban Majelis Syura sebagai lembaga tertinggi Negara yaitu : Pertama, Memililih, mengangkat dan memberhentikan khalifah. Kedua, Mewakili rakyat dalam bermusyawarah dengan khalifah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan dan berbagai kepentingan rakyat. Ketiga, Membuat undang-undang bersama khalifah demi memantapkan pelaksanaan syariat Islam. Keempat, Menetapkan garis-garis program Negara yang akan dilaksanakan  khalifah. Kelima, Menetapkan anggaran belanja Negara. Keenam, Merumuskan gagasan dan strategi untuk mempercepat tercapainya tujuan Negara. Ketujuh, Menghadiri sidang majelis setiap saat persidangan
Sementara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta konsep Ahlul Halli wal Aqdi jangan dulu dipakai dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jawa Timur yang akan digelar akhir Mei nanti. AD/ART NU yang telah disepakati dalam Muktamar Makassar 2010 lalu sebagai forum permusyawaratan tertinggi di lingkungan NU belum mengesahkan konsep itu.
“Jika ada yang menghendaki Ahlul Halli wal Aqdi diterapkan dalam Konferwil NU Jatim, PBNU meminta ditunda dulu pelaksanaannya sampai ada pembahasannya dalam Muktamar mendatang,” kata Wakil Sekjen PBNU H. Sulthon Fathani kepada NU Online di kantor PBNU Jakarta, Rabu (15/5).
Keputusan itu diambil dalam Rapat  Harian Syuriyah dan Tanfidziyah awal Mei lalu dan ditegaskan kembali dalam Rapat Harian tanfidziyah, Selasa (14/5) tadi malam.
Menurut Sulthon, di kalangan PBNU sendiri para pengurus mempunyai pandangan yang berbeda mengenai Ahlul Halli wal Aqdi atau pemilihan rais syuriyah dan ketua tanfidziyah oleh semacam dewan khusus yang dibentuk.
Ketua PBNU H Slamet Effendi Yusuf misalnya, menyatakan, konsep tersebut sudah tidak pas jika diterapkan sekarang. Ia adalah salah seorang yang terlibat aktif dalam Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menerapkan konsep ini dan menetapkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum PBNU.
“Waktu itu kita membutuhkan konsep itu, tapi sekarang tidak pas lagi diterapkan sekarang. Alasan Pak Slamet, saat ini kita kesulitan menentukan siapa-siapa tokoh yang bisa jadi referensi untuk menunjuk ketua umum,” kata Sulthon.
Namun terkait dinamika yang terjadi di daerah-daerah, PBNU sendiri telah menyiapkan rumusan Ahlul Halli wal Aqdi untuk dibahas dalam Munas atau Muktamar mendatang. Rapat juga telah menunjuk Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali untuk mematangkan konsep itu.
“Jadi ahlul Halli wal Aqdi belum bisa diterapkan sampai dibahas dan disetujui dalam Muktamar. Namun PBNU tetap merekomendasikan konsep Ahlul Halli wal Aqdi ini diterapkan secara kultural, misalnya PCNU atau PWNU (pemegang suara: red) menemui beberapa kiai-kiai atau tokoh di beberapa daerah jika memungkinkan untuk dimintai pertimbangan mengenai siapa yang pantas memimpin NU,” pungkas Sulthon.

HUSNU MUFID