Selasa, 07 Juni 2016

Sunan Panggung Jateng


Kisah Sunan Panggung  Murid Syekh Siti Jenar

Jalankan Shalat Daim dan Ilmu Sejatinya Rasa


Sunan Panggung atau Syeikh Malang Sumirang, yang memiliki nama asli Raden Watiswara, hidup antara tahun 1483-1573 m. Putra dari Sunan Kalijaga hasil perkawinan dari Siti Zaenab Saudara Sunan Gunungjati. Ia di jatuhi hukuman bakar hidup-hidup oleh Walisongo, Tapi tidak terbakar oleh api yang membara. Berikut ini kisahnya.

Kepribadian Sunan Panggung sangatlah unik. Beliau memiliki tingkah laku seperti Sunan Kalijaga. Semula beliau dikirim Raden Patah ke Pengging untuk menjadi mata-mata. Namun beliau justru tertarik dengan ajaran-ajaran Syeikh Siti Jenar dan menjadi pengikut setianya setelah kalah dalam perdebatan.Setelah menjadi murid Syekh Siti Jenar mendapatkan peringatan keras dari dewan Wali Songo. .
Peringatan keras tersebut tidak digubris oleh Sunan Panggung. Karena dalam hal ini beliau sudah membuktikan sendiri melalui laku dan perjalanan spiritualnya, tentang ajaran Syeikh Siti Jenar dan bisa membedakan dengan ajaran syar'iah dan penyatuan dengan Tuhan/ilmu makrifat yang sesuai dengan ajaran Syeikh Siti Jenar.
Syariat yang beliau jalankan adalah sholat daim, dan cara penyebaran ajarannya adalah secara terbuka, untuk umum, tidak ada yang di rahasiakan. Dan tidak menganggap orang lain lebih bodoh darinya, sehingga setiap orang selalu bebas untuk memperoleh kesempatan mendapat ilmu agama jenis apapun.Kemudian Sunan Panggung mendirikan Paguron Lemah Abang di Pengging dan berhasil merekrut siswa yang sangat banyak dan menjadi murid setia Sunan Panggung. Ia mengikrarkan diri sebagai pelanjut Syekh Siti Jenar di wilayah kekuasaan Kerajaan Demak Bintoro. Tapi sayangnya perguruan Sunan Panggung di anggap membahayakan oleh Dewan Wali dan Demak. Untuk itu penguasa dan Dewan Wali mengadakan sidang untuk mengambil tindakan untuk Sunan Panggung. Dari hasil sidang di sepakati bahwa pemanggilan kepada Sunan Panggung harus dengan cara halus dan diundang untuk memecahkan masalah pemerintahan. Jika sudah hadir, maka Dewan Wali membujuk, untuk menutup perguruannya dan bergabung dengan Dewan Wali. Termasuk mematuhi konsep keagamaan yang sudah di gariskan kerajaan Demak. Selain itu juga di sepakati, agar penghukuman terhadap Sunan Panggung jangan sampai memunculkan kehebohan sebagaimana pendahulunya. Yakni agar Sunan Panggung di bakar hidup-hidup, dan tempatnya langsung disediakan di alun-alun sebelum Sunan Panggung datang.
Sunan Panggung diundang oleh pihak kerajaan.
Dan akhirnya Sunan Panggung menyanggupi undangan tersebut bersama utusan dari pihak Demak. Sunan Panggung beragumentasi, bahwa inilah saat yang tepat untuk mengkritik model dan materi dakwah, serta arogansi agama syar'i yang di jalankan pihak Demak.
“Sunan Panggung datang ke Demak di sertai dua anjingnya. Sesampai di alun-alun, ia melihat tumpukan kayu yang di siram minyak. Sunan Panggung sudah menduga siasat penguasa Demak yang akan di lakukan padanya. Namun Sunan Panggung sudah berketatapan hati untuk menghadapi apapun yang terjadi. Siap dibakar api,”ungkap KH. Syukron Zajilan dosen UINSA Surabaya..
Setelah matahari sebesar  condong ke barat, Gunung Muria merendah, Alun-alun Demak menjulang, orang-orang masih berdesakan. Mereka tak percaya sesuatu yang terlihat oleh mata, Sunan Panggung raganya tidak tersentuh oleh amukan api. 
Oleh karena itu, Sultan Demak membisik pada Sunan Kudus menyarankan Malang Sumirang, untuk menyingkir dan menjauh dari Negeri Demak. Dengan langkah ragu, Sunan Kudus mendekat Sunan Panggung.  Sunan Kudus berkata, Paman telah terbukti benar sungguh benar tanpa batas di dunia tiada tara di seluruh ciptaan. Paman tercipta sempurna, jiwa-raga titis terus tertembus sempurna nyata sunyata. Namun Paman, jagalah derajat agama, hormatilah batasnya, singkirkan kesalahan, patuhlah pada syariat untuk menjaga makna.Dalam tatanan yang menata negeri aturan agama bertakhta dengan syariat.
Lebih baik Paman jauh dari negeri. Jangan sampai membawa kekacauan dengan pembangkangan.  Kemanapun Paman pergi, padepokan mana yang pantas ditempati, tempat keramat mana yang menjadi pilihan, adalah kewajiban negeri melengkapi apa yang harus dilengkapi.Sunan Panggung tak tertarik. Ia memilih pergi ke hutan angker, Kalampisan, tempat wingit, sunyi, jauh dari manusia.
Kemudian  meninggalkan Alun-alun Demak. Akhirnya Sunan Panggung meneruskan perjalananya kearah utara dan kemudian beliau menetap di Kendal (Kabupaten Kendal Jateng) memperkuat tugas dakwah yang sudah di lakukan oleh Syeikh Abdullah/Sunan Katong/Sunan Gembyang.
Para santrinya malah menyebutnya, Sunan Panggung. Sunan yang hidup di tengah hutan dengan pohon-pohon berbatang besar, pang-gung atau cabang besar. Sunan, Susuhunan, Susunan, atau Sinuhun, "Dia yang Dijunjung". sebutan bagi penguasa tertinggi Mataram. Para santrinya sangat menghormati, tunduk dengan segala perintah dan mengikuti semua ajarannya. Para santri diajari mencari kehidupan yang sempurna, kesempurnaan yang benar-benar sempurna.
Gelar ini sesungguhnya khusus untuk hierarki wali Islam yang memiliki wilayah perdikan dan
Di daerah ini Sunan Panggung di kenal dengan nama Syeikh Wali Jaka, karena sejak kedatanganya di Kendal, walau sebenarnya sudah beristri, tidak nampak memiliki istri dan anak setelah wafat menurut Babad Semarang beliau di semayamkan di depan Masjid Kendal.

Ajarannya                       
Ilmu sejati rasa yang meliputi rasa. Rasa yang sejati. Sejatinya rasa. Bukan rerasan yang diucapkan, bukan rasa yang ke enam, bukan pula rasa yang tercecap di lidah. Bukan rasa yang terbersit di hati, bukan rasa yang ciptakan, bukan pula rasa yang dirasakan tubuh. Bukan rasa yang dirasakan suara dan bukan pula rasa kenikmatan dan derita sakit.
Sejatinya rasa yang meliputi rasa, rasa pusarnya rasa. 
Manusia tidak lain hanyalah jasad-jasad mati yang dipenuhi oleh nafsu lauwamah, amarah, sufiah dan mutmainah. Kita lepaskan nafsu-nafsu itu karena di tengah-tengah nafsumu bertakhta sirr atau rahasia yang tersembunyi, roh dalam jiwa, kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Wayang dan bayangan harus menyatu dalam satu jiwa. Roh dalam jiwa memainkan mahkluk-makhluk atas kehendak-Nya.
Sejatinya yang memerintah kita bukanlah tubuh kita, tetapi roh dalam jiwa. Bebaskan roh kalian dari ikatan hukum-hukum yang menghalangi kebebasan roh yang menuju dan menyatu dengan Tuhan. Hakikat hidup abadi baru dimulai sesudah mati.
Kesengsaraan dunia ini tidak lain suatu kegilaan, orang-orang mencari kebutuhan badaniah tanpa memperhatikan kebutuhan rohani. Orang-orang mencari kenikmatan, namun hanya penderitaan yang dijumpai. Manusia bingung karena tidak mengenal dirinya sendiri, karena dijadikan buta oleh hawa nafsu. Mencari ilmu suci tidak mungkin diperoleh dengan alat panca indra, karena sifatnya yang kotor, najis dan palsu. Kebaruan adalah kepalsuan, kekotoran dan kenajisan, yang segera hancur bersama-sama tibanya ajal. Hidup sesudah lahir adalah kebaruan maka itu palsu, najis, dan kotor. Hidup sesudah kelahiran adalah kematian yang sesungguhnya.
Kedaaan kematian itulah yang membuat manusia tidak bisa bebas dari nafsu, kebohongan, kebutuhan kekuasaan, makan, minum, bahkan shalat, puasa, zakat, haji. Kembalinya manusia ke asal dari mana ia lahir, sesudah ajal tiba nantilah hidup yang sesungguhnya, ketika manusia tidak lagi membutuhkan apa pun, termasuk keinginan, karena keinginan adalah awal dari kesengsaraan. HUSNU MUFID

Makam Raden Kusen Adipati Terung






Mengungkap Situs Kadipaten Terung di Krian Sidoarjo

Makam Raden Kusen Adipati Muslim Kerajaan Majapahit

Kabupaten Sidoarjo dulunya sebenarnya bernama Kadipaten Terung dibawah kerajaan Majapahit. Adipatinya bernama Raden Kusenyang beragama Islam. Kini sisa-sisa peninggalannya masih ada. Meskipun banjir lahar Punung Penanggungan telah menghancurkannya. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.  

Krian merupakan salah satu wilayah daerah bekas kekuasaan Majapahit. Di wilayah barat Sidoarjo ini dulunya terdapat Kadipaten Terung, yang kini tepatnya berada di Desa Terung, Kecamatan Krian. Dulunya merupakan kadipaten bawahan kerajaan Majapahit.
Kini Desa Terung sendiri terbagi menjadi dua desa yakni Desa Terung Wetan dan Desa Terung Kulon. Jika di Terung Wetan terdapat makam Putri Ayu Oncat Tondo Wurung putrid Raden Kusen.  Sedangkan di  Desa Terung Kulon terdapat makam ayahnya yakni Raden Kusen adik dari Sultan Fatah dari kerajaan Demak Bintoro.
Raden Kusen  pernah memimpin Kadipaten Terung pada masa Prabu Brawijaya V ayah kandun raden Patah.  Kadipaten Terung sendiri diperkirakan musnah setelah terkena aliran lahar dingin letusan gunung Penanggungan beberapa abad yang lalu bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit yang pindah ke Kediri dibawah pemerintahan Girindawardhana.  
Bukti-bukti di Krian Sidoarjo merupakan bekas Kadipaten Terung adalah diketemukannya makam Raden Kusen yang masih terpelihara keasliannya. Letaknya disamping masjid dan makam Putri Oncat Tondo Wurung. Juga bekas bangunan candi berbentul huruf L yang terbuat dari batu bata.
Khusus makam Raden Kusen tidaklah sulit untuk menemukamnya. Letaknya berada di belakang Masjid Baiturrohim, Desa Terung Kulon. Makamnya terbuat dari batu bata bersusun. Keasliannya masih terjaga. Warga benar-benar menjaganya dengan baik dan tidak berani membangun. Dinas purbakala memberikan papan pengumuman tidak boleh mengubah atau memindah. Karena akan mendapatkan hukuman dan denda.  
Meski makam Raden Kusen bernilai sejarah, namun tak banyak pengunjung yang mengunjungi makam beliau. Hal ini karena masyarakat banyak yang belum mengetahui secara luas seorang adipati zaman kerajaan yang beragama Islam.  Berbeda dengan makam putrinya Roro Oncat Tondo Wurung yang lokasinya sekitar 2 kilometer.
Menurut Anas, juru pelihara makam ini, Raden Husen adalah anak dari hasil pernikahan Retno Subanci (putri Cina) dengan Prabu Arya Damar, adipati Palembang. Perkawinan itu merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V (Kertawijaya). Bagi Raden Husen, Prabu Brawijaya V merupakan kakeknya. Raden Husen termasuk seorang adipati yang setia kepada Kerajaan Besar Majapahit.
Di akhir masa kejayaannya kerajaan yang beraliran Hindu Budha ini pernah mendapatkan serangan dari Kesultanan Demak dibawah pimpinan Raden Patah. Raden Husen sebagai pemimpin Kadipaten Terung merasa terpanggil untuk mengatasi serangan itu. Apalagi Kadipaten Terung termasuk wilayah taklukan Majapahit dibawah kekuasaan Brawijaya V (Girindrawardhana) yang tidak lain adalah kakeknya sendiri.
Dengan kesaktian Raden Husen, akhirnya Sunan Ngudung sebagai pimpinan pasukan Demak Bintoro berhasil ditaklukan. Tombak sakti Raden Husen berhasil melukai sang senopati perang yang tak lain adalah ayahanda Sunan Kudus. Konon tombak pusaka Raden Husen ini tak bisa dilepaskan hingga akhirnya jasad Sunan Ngudung dikebumikan bersama tombak yang menancap tadi.
Ada dua makam di kompleks pusara Raden Husen. Satu makam di sebelahnya konon merupakan petilasan untuk mengenang senopati perang Kesultanan Demak yang dikalahkan Raden Husen. Konon makam tersebut bekas ceceran darah Sunan Ngudung, ayah Sunan Kudus yang menjadi panglima tentara Demak.

Hilangnya Pagar Bata
Dari pantauan Posmo, di lokasi makam Raden Husen terbuat dari batu bata kuno. Mengingat saat itu pengaruh Majapahit masih terasa meski sudah memudar. Batu nisan juga terbuat dari bata merah dengan sedikit ornamen. Tidak diketahui secara pasti angka tahun yang terpahat di batu nisan itu. Untuk makam Raden Husen tumpukan bata terlihat lebih tinggi. Sedangkan makam di sampingnya dibuat agak rendah.
Anas mengatakan dulunya makam itu berdiri pagar batu merah kuno setinggi 3 m. Tingginya membujur ke utara hingga kebun bambu membelok ke barat kemudian membelok ke selatan di samping kebun bambu yang amat lebat dan di halamannya ada 2 pohon Bunga Tanjung yang amat angker.
Tapi sayangnya pagar yang memiliki nilai sejarah itu hilang. Karena digunakan sebagai bahan bangunan masyarakat setempat. Sedangkan sebagain tembok yang mengelilingi makam tergerus termakan zaman akibat lapuk dan pengrusakan oleh manusia.  
Di dalam pagar tersebut terdapat 5 cungkup petilasan, tetapi saat ini hanya tinggal 2 cungkup petilasan. Sedangkan yang ke 3 cungkup petilasan lenyap secara misterius oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Ke 3 cungkup petilasan tersebut tediri dari 2 makam datar, 1 makam kecil panjang 1 m. ukuran batu bata panjang 30 cm, tinggi 6,5 cm dan lebar 19,5 cm.
Adanya pengrusakan bekas Kadipaten dan pagar makan, bukan hanya oleh lahar Gunung Penanggungan yang meletus, akan tetapi  oleh manusia yang tidak mengenal sejarah. Mereka seenaknya saja menghilangkam tiga makam bercungkup dan pagar yang mengelilingi makam Raden Kusen.
Pihak Dinas Purbakala hanya dapat menyelamatkan bagunan makam Raden Kuses dan putrinya Oncat Tondo Wurung yang hingga kini masih tetap ada dan bisa dilihat generasi muda dari zaman ke zaman. Sehingga sejarah  Adipati Kerajaan Majapahit yang beragama Islam masih tetap terlestarikan..
Selain adanya situs  makam Adipati kerajaan Majaphit, di Desa Terung Wetan juga ditemukan candi sekitar bulan april 2012. Candi tersebut ditemukan oleh Sahuri saat hendak membuat rumah. Tak hanya candi, tahun 2007 Sahuri juga menemukan Sumur Gentong dan Sumur Manggis yang lokasinya tak jauh dari makam Raden Ayu Putri Oncat Tondo Wurung. Kedua sumur tersebut hingga kini masih dipercaya masyarakat memiliki khasiat atau keberkahan.
Menurut legenda Makam Raden Ayu  Putri Oncat Tondo Wurung yang berkembang di masyarakat, menuturkan bahwa Raden Ayu Putri meninggal dan jasadnya dihanyutkan di sungai. Raden Ayu Putri konon memiliki nama lain seperti R.A. Putri Sundari Kenconowati atau R.A Cempokowati atau Endang Lukitosari. Sebagai putri dari Adipati Terung, beliau dikenal sangat barsahaja. Beliau gadis yang sangat menyukai tanaman bunga tanaman bunga yang paling disukainya adalah tanaman bunga pandan wangi. Serta setiap sore beliau selalu memetik bunga. Mus Purmadani



Rabu, 01 Juni 2016

Sitinggil Raden Wijaya Mojokerto













Mengungkap  Keberadaan Sitinggil  Petilasan Raden Wijaya di Bejijong Mojokerto

Tempat Mencari Wangsit Para Presiden

Tanah yang agak tinggi di Dusun Kedungwulan Bejijong Trowulan Mojokerto dulunya bernama Lemang Geneng yang artinya Siti Inggil. Dulunya sebagai tempat meditasi raja kerajaan Majapahit pertama yaitu Raden Wijaya untuk mendapatkan petunjuk. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.

Sitinggil yang berada di Dusun Kedungwulan oleh orang-orang tertentu dianggap sebuah makam, namun warga sekitar meyakini bahwa yang dimakamkan bukanlah jasad dari Raden Wijaya, melainkan hanya salah satu abu dari jenasahnya yang dibakar.
Ada juga yang meyakini bahwa Sitinggil hanya merupakan petilasan saja, sisa - sisa peninggalan kerajaan Majapahit. Pendapat tersebut masuk akal karena pada pemerintahan raja pertama Majapahit, kerajaan ini adalah penganut agama Buddha, sehingga jika penduduknya meninggal maka akan diperabukan.
Dalam komplek makam Raden Wijaya ini terdapat makam Raden Wijaya dan istrinya, Dara Petak dan Dara Jingga, serta 2 dayangnya berada di dalam 1 lokasi. Makam ini ditembok dengan pagar, dengan 1 buah pohon besar di sisinya, yang juga dipercayai sebagai pohon keramat oleh penduduk sekitar. Tapi oleh sejarawan dianggap sebagai makam buatan atau makam palsu.
Didepan makam Siti Inggil terdapat dua makam, yaitu makam Sapu Angin dan Sapu Jagat, sehingga makam ini dikeramatkan dan sering dikunjungi wisatawan lokal maupun asing setiap Jum’at Legi.
Di luar tembok komplek makam Raden Wijaya tersebut terdapat pula beberapa makam lainnya, 1 buah sumur, dan tempat semedi bagi peziarah. Di komplek pemakaman tersebut, aroma wangi dupa tidak pernah hilang dari tiap sudut komplek makam ini.
“Berkaitan dengan adanya makam dara Jingga, Dara Petak dan Raden Wijaya tersebut. Karena tidak lepas dari urusan perut.Kita tidak berbuat banyak. Sebab zaman kerajaan Majapahit tidak mengenal bentuk makam seperti makam Islam. Karena mayat Raden Wijaya dibakar hingga dalam bentuk abu. Kemudian abunya ditanam di candi Simping Blitar dan laut,”ujar betara Agung Brahma Raja XI Wilatikta di Puri Surya Majapahit Trowulan Mojokerto.   
Selain ada makam-makam palsu, juga terdapat sebuah sumber air (lebih tepatnya sumur kecil) yang selalu mengeluarkan air jernih yang bisa langsung bisa minum. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri untuk minum dari sumber ini. Mereka percaya air minum ini bisa membawa khasiat, paling tidak untuk kesehatan.
Percaya atau tidak,  ternyata sumber air ini hanya berupa cekungan yang dalamnya hanya sekitar kurang dari 1 meter saja. Dinding dalamnya terbuat dari batu dan tidak terlihat adanya sumber air (bayangkan saja sebuah bak terbuat dari batu), namun air terus saja terisi secara perlahan.
Makam tersebut selama ini  memang menjadi tempat ziarah bagi calon pemimpin dan pemimpin Indonesia sejak zaman Presiden Soekarno sampai sekarang. Bahkan, Presiden Soekarno, Suharto sampai Presiden SBY, disebut-sebut pernah menziarahinya. Mereka  berziarah ke Sitinggil pada bulan-bulan tertentu.
Menurut penuturan Ali Mahsun tokoh masyarakat setempat, pemimpin negara Indonesia yang berziarah ke Makam Raden Wijaya ini tidak hanya berhenti pada Presiden Soeharto namun Presiden setelahnya pun pernah berziarah ke makam yang dianggap keramat oleh penduduk sekitar itu. Seperti  Gus Dur dan Ibu Mega untuk  berdoa dan mendapatkan wangsit.
Ditanya tentang apa sebenarnya yang menjadi alasan para pemimpin politik berziarah ke makam Raden Wijaya ini, Ali mahsun mengatakan bahwa mungkin di makam Raden Wijaya ini ada keajaiban. “Ya mungkin di sini ada keajaiban mas, makanya mereka jauh-jauh datang ke sini" jawab Ali Mahsun.

Bersuci dan Berdoa
Memang tidak mengherankan jika, makam Raden Wijaya ini biasa dikunjungi oleh para politisi, alasannya konon pula agar 'berkah' Raden Wijaya yang mampu menyatukan Nusantara bisa diperoleh mereka. Bahkan konon, Presiden Soeharto kerap menyepi di makam ini sejak pangkatnya masih Letnan Kolonel. “Biasanya politisi datang tengah malam dan diam-diam," Raden Sisworo Gautama Ketua Informasi Situs Majapahit trowulan Mojokerto.
Apalagi menjelang pemilu anggota legislatif (pileg),  banyak disambangi calon anggota dewan. Mereka datang untuk berdoa demi kemenangan mereka saat pileg mendatang.
Menurut Kukub (62), juru kunci Sitinggil, telah banyak caleg (calon anggota legislatif) yang datang ke tempat peribadatan raja Raden Wijaya ini. Tidak hanya caleg lokal, caleg dari luar daerah pun banyak yang berdoa di tempat ini. Caleg-caleg dari berbagai parpol (partai politik) banyak yang datang. Ini kan petilasan raja pertama Majapahit yang dekat dengan Tuhan, maka permintaan mudah dikabulkan.
Caleg-caleg yang datang biasanya meminta bantuannya untuk memandu ritual. Tidak ada ritual khusus yang digelar. Agar permintaan terpilih menjadi anggota dewan bisa terkabul, caleg-caleg hanya disarankan untuk berdoa di petilasan raja yang bergelar Kerta Rajasa Jaya Wardhana ini.
Bersuci terlebih dahulu kemudian berdoa di petilasan. Harus berdoa sendiri, tidak boleh diwakilkan, karena komunikasi harus langsung dengan sang raja.
Didalam Sitinggil ada satu bagian yang menarik untuk tidak dilewatkan jika berkunjung ke tempat ini. Sebuah sumber air (lebih tepatnya sumur kecil) yang selalu mengeluarkan air jernih yang bisa langsung kita minum. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri untuk minum dari sumber ini. Mereka percaya air minum ini bisa membawa khasiat, paling tidak untuk kesehatan
Percaya atau tidak,  ternyata sumber air ini hanya berupa cekungan yang dalamnya hanya sekitar kurang dari 1 meter saja. Dinding dalamnya terbuat dari batu dan tidak terlihat adanya sumber air (bayangkan saja sebuah bak terbuat dari batu), namun air terus saja terisi secara perlahan. 
Untuk menjangkau tempat ini tidak begitu susah, karena letaknya relatif dekat dengan jalan raya Mojokerto-Jombang. Bisa ditempuh dengan bis umum, kemudian dilanjutkan naik becak, atau jalan kaki pun bisa.
Tempatnya teduh dan menyenangkan sebagai tempat berkumpul keluarga. Kebanyakan warga sekitar memanfaatkan pendopo kecil yang dibangun di kompleks Sitinggil ini sebagai tempat makan bersama dan berkumpul. Nuansa teduh dan adem terasa saat begitu kita memasuki komplek Sitinggil. Pohon pohon besar menghalangi sinar matahari yang terik siang itu, membuat kita betah berlama lama di komplek ini. HUSNU MUFID/CAHYA  

Sunan Sendang Duwur




Ajarkan Cara Mengambil Buah Siwalan kepada Sunan Drajat

Sunan Sendang Duwur hidup pada masa antara tahun 1520-1585 M. Merupakan tokoh wali di luar Walisongo yang ikut berperan dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan, Jawa Timur. Hidup sezaman dengan Sunan Drajat, putra Sunan Ampel. Berikut kisah hidupnya.
.     
Raden Noer Rahmat atau lebih dikenal dengan sebutan gelar Sunan Sendang Duwur, putra Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad yang terdampar di wilayah perairan Sedayu Lawas, saat melakukan perdagangan dan berdakwah.
Di Sedayu Lawas Abdul Kohar menikah dengan Dewi Sukarsih, putri Tumenggung Joyosasmito. Pernikahan itu dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Raden Nur Rahmad. Beberapa tahun kemudian terjadilah peperangan hebat antara Kadipaten Sedayu Lawas dengan Kadipaten Tuban.
Dalam pertempuran Sedayu Lawas melawan Kadipaten Tuban mengakibatkan wafatnya Syekh Abdul Kohar. Hal ini mengakibatkan Dewi Sukarsih prihatin dengan keselamatan anaknya. Kemudian beliau membawanya ke wilayah Sendang Duwur.
Di sinilah memulai kehidupan baru. Menginjak usia dewasa Raden Noer Rahmat bekerja membantu ibunya bercocok tanam, menanam tebu, siwalan, ubi, dan tanaman lain. Hasil tanaman tersebut dijadikan bekal untuk hidup bersama ibunya yang sudah tua.
Selain bercocok tanam, untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Raden Noer Rahmat melakukan dakwah kepada masyarakat sekitar. Walau masyarakat pada zaman itu mayoritas beragama Hindu, tetapi hal itu bukan penghalang bagi Raden Noer Rahmat untuk menggungkap kebenaran Islam.
Cara penyebaran agama Raden Noer Rahmat sangatlah unik, sambil mengajak masyarakat menanam pohon siwalan. Di situ Raden Noer Rahmat menyisipkan ajaran kebenaran. Kegiatan dakwahnya hingga akhirnya terdengar oleh Sunan Drajat. Kemudian Sunan Drajat mendatangi Raden Noer Rahmat guna melakukan silaturahmi sebagai sesama muslim. Mengingat banyak masyarakat yang mengaji kepada cucu sultan dari Bagdad itu.
Ketika Sunan Drajat berkunjung ke tempat Raden Noer Rahmat, minta agar Raden Noer Rohmat menyuguhnya ubi dan siwalan. Dari situlah tampak tawadlu’ Raden Nur Rohmat dalam melayani orang tua. Waktu itu Raden Noer Rahmat masih muda.
Setelah Sunan Drajat dengan Raden Noer Rahmat bertemu di dalam rumah. Kemudian keluar rumah berjalan menelusuri kebun yang banyak pohon siwalan yang ditanam santri-santri dan penduduk sekitar. Di tengah perjalanan Sunan Drajat tertarik dengan buah siwalan dan ingin memakannya.
Mau memanjat pohon siwalan, tetapi cukup tinggi. Hingga akhirnya ia memegang pohon siwalan dan menepuk pohon tersebut. Tanpa diduga banyak buah siwalan yang jatuh ke tanah. Hal ini membuat Raden Noer Rahmat merasa prihatin dan menunjukkan cara lain untuk mendapatkan buah siwalan, yaitu dengan cara pohon siwalan itu dielus-elus, hingga akhirnya pohon itu melengkung pucuknya ke arah Sunan Drajat.
Raden Noer Rahmat mempersilakan Sunan Drajat untuk memilih salah satu buah yang diinginkannya. Buah tersebut diambil sebanyak tiga. Khususnya yang sudah besar dan matang. Sejak saat itulah banyak pohon siwalan yang melengkung hingga saat ini. Tidak ada yang lurus menjulang ke atas langit.

Pindahkan Masjid Mantingan
Sejak itu pula buah siwalan menjadi minuman yang favorit bagi masyarakat Lamongan. Karena buahnya dapat dijadikan minuman yang cukup menyegarkan dan bukan memabukkan.
Setelah menyantap buah siwalan dan hilang rasa hausnya, Sunan Drajat melanjutkan perjalanan menuju ke tempat lain. Tiba-tiba melihat buah wilus yang cukup banyak di kebun yang sedang dilewati. Beliau mengambil buah wilus (sejenis ubi-ubian). Namun Raden Noer Rahmat mengungkapkan jika semua wilus dicabut yang separo kan mubazir dan anak cucu kita akan makan apa? Maka Raden Noer Rahmat meminta wilus itu dan menanam kembali.
Setelah wilus dikeluarkan, wilus yang matang dimakan dan yang mentah ditanam lagi oleh Raden Noer Rahmat agar nanti bisa dipanen orang lain. Melihat karomah Raden Noer Rahmat yang luar biasa, akhirnya Raden Noer Rahmat mendapat julukan Sunan Sendang.
Setelah Raden Noer Rahmat menjadi Sunan, atas petunjuk Sunan Drajat dan Sunan Kalijaga pada tahun 1530, Raden Noer Rahmat ditugaskan untuk memboyong masjid dari Mantingan, Jawa Tenggah milik Ratu Kalinyamat, istri Sultan Hadirin.
Setelah bangunan itu berhasil dipindahkan, syiar Islam yang dilakukan Sunan Sendang Duwur berkembang pesat. Ajaran Islam selalu disampaikan dengan cara-cara yang bijaksana.
Salah satu ajarannya yang terkenal adalah himbauan kepada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah. Karena akan makin meningkatkan rezeki seseorang yang bersedekah.
Ajaran inilah yang menjadikan masyarakat Sendang Duwur hingga kini menjadi orang dermawan dan hidup makmur. Masyarakat terkenang dengan Sunan Sendang Duwur walau namanya tidak tercatat dalam Wali Songo, tetapi beliau sangat berpengaruh dala
Salah satu ajarannya yang terkenal adalah himbauan kepada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah. Karena akan makin meningkatkan rezeki seseorang yang bersedekah.
m penyebaran agama Islam di wilayah pantura, salah satu wali yang terkenal memiliki karomah yang luar biasa, pemurah, dan sanggat mementingkan kepentingan orang lain.
Sunan Sendang Duwur wafat pada tahun 1585 Masehi. Bukti wafatnya sang sunan dapat dilihat pada prasasti berupa pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Makam beliau kini bersandingan dengan Masjid yang terletak di atas bukit Amitunon (tempat membakar mayat penganut agama Hindu) Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Lamongan.
Makam beliau berarsitektur tinggi menggambarkan perpaduan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Kompleks makam terletak di dataran tinggi, yakni sekitar 70 meter di atas permukaan laut, tetapi lokasinya bisa dijangkau oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Letak makam Sunan Sendang Duwur sangatlah nyaman dengan berbagai pemandangan bukit yang mengagumkan.
Di antara peningalan Kanjeng Sunan Sendang Duwur yang sampai sekarang masih kokoh sebagai saksi sejarah dan dapat kita rasakan manfaatnya yaitu sumur giling, mimbar, bedug dari kayu otok, empat gentong berukuran besar yang didapat dari kerajaan Majapahit, sumur paedon yang konon jika kita minum airnya akan mendapatkan berkah yang tidak disangka-sangka.
Sedangkan masjidnya sudah tidak berbentuk lagi. Diganti bangunan baru oleh pengurus masjid yang dulu. Tinggal sisa-sisa kayu bangunan masjid yang berasal dari Mantingan, Jawa Tengah. HUSNU MUFID