Senin, 11 Desember 2017

Sunan Drajad dan Sunan Ampel

Kisah Sunan Drajad Dapat Tugas Dakwah Sunan Ampel

Kaplnya Tenggelam Dilaut Saat Menuju Gresik

Nama terkenalnya adalah Sunan Drajad. Tapi  Nama aslinya adalah Raden Qasim. Mendapat tugas dari  Sunan Ampel Surabaya untuk berdakwah di Gresik.  Untuk menggantikan Syekh Maulana Malik Ibrahin yang telah meninggal dunia. Berikut ini kisahnya.

Sunan Drajat sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan Pondok Pesantren Ampel Denta Surabaya. Ayahnya merupakan guru satu-satunya. Ia belajar bersama Sunan Bonang, Sunan Giri, Raden Patah dan putra bangsawan kerajaan Majapahit. Berbagai ilmu didapatkan dari ayahnya. Seperti fiqih, al-Qur’n hadist, tarih, aqidah akhlaq dan banyak lagi ilmu agama lainnya.
Selama belajar agama kepada ayahnya, Sunan Drajad ini tergolong sebagai anak yang cerdas dan memiliki akhlaq yang mulia. Boleh dibilang termasuk santri yang memiliki kelebihan dalam mempelajari ilmu agama Islam. Hal ini yang membuat bangga Sunan Ampel.
Ketika menginjak usia dewasa, maka ayahnya memerintahkan untuk menuju ke wilayah Gresik guna menggantikan  Syekh maulana Malik Ibrahin dan Syekh Ali Muthadlo yang telah meninggal dunia.      
Kepergian Sunan Drajad ke Gresik  menggunakan  prahu layar dan tidak melalui jalan darat sebagaimana yang dilakukan Sunan Bonang kakaknya.  Karena jika melewati jalan darat akan memakan waktu cukup lama. Sebab banyak  hutan yang harus dilalui. Di mana hutan lebat  dan para penjahat  berkeliaran. Memang wilayah Surabaya dan Gresik  waktu itu merupakan daerah yang sulit untuk dilalui dan rawan kejahatan. Sisa-sisa  prajurit kerajaan Majapahit masih bercokol sangat kuat. Khususnya   mereka yang mendukung Patih Udara dan Raja Girindrawardhana pengkudeta Prabu Brawijaya V.
Rupanya  jalan laut pun  banyak penjahatnya. sama dengan  jalan di darat.  Sebab waktu itu banyak  pelarian tentara yang kalah  dalam perang saudara dalam lingkup   kerajaan Majapahit. Di tengah-tengah perjalanan lewat laut, Sunan Drajad mengalami musibah. seorang perampok mencoba menenggelamkan perahu yang dinaiki Sunan Drajad. Tiba-tiba ombak besar datang dan perahu yang dinaiki terbalik. Kemudian datang pertolongan dari Allah, beliau diselamatkan oleh ikan dan dihantarkan sampai ke pinggir pantai. Sejak saat itulah berada di wilayah Lamongan.
Di Paciran Lamongan Sunan Drajad tidak mengalami kesulitan dalam berdakwah. Karena mendapat pertolongan dan dukungan dari penguasa setempat sekaligus mertuanya.  Dari sinilah  aktifitasnya menyebarkan agama Islam pada masyarakat Lamongan berjalan lancar. Masyarakat yang ada kehilangan tokoh agama. Seperti Resi dan Pedanda yang meninggalkan Lamongan menuju Pulau Bali dan Gunung Tengger. .
Dalam dakwahnya cukup santun dan tidak dengan kekerasan maupun paksaan. Berjiwa sosial, sangat memperha­tikan nasib kaum fakir miskin. Karena waktu itu banyak masyarakat yang  hidup dalam kemiskinan. Sebab kondisi kerajaan Majapahit mengalami kehancuran ekonomi berupa gagal panen. Ditambah lagi  perang saudara dan tidak adanya raja yang kuat dalam mengatur  kerajaan. 
Untuk itu ia melakukan strategi terle­bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.  Rupanya hal itu berhasil dengan sukses. Sehingga banyak orang Majapahit yang bersedia  masuk Islam secara sukarela.
Sejak itulah banyak orang-orang Majapahit masuk Islam. Agama baru Islam disambut dengan gembira. Ajaran Islam menjadikan masyarakat Paciran Lamongan pinggir pantai maupun pedalaman menjadi manusia-manusia yang santun  dan beradab. Bukan lagi masyarakat yang sangat dan suka berperang melawan pendatang baru.
Dalam menyebarkan ajaran Islam Sunan Drajad cukup sederhana. Ia memiliki  filosofi dalam pengentasan kemiskinan dan diajarkan kepada murid-muridnya. Adapun isinya sebagai berikut : Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain). Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada). Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan). Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu). Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur). Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)
Selain hal tersebut, dalam berdakwah  Sunan Drajat juga  menggunakan  tembang Mocopat yakni Pangkur diiringi dengan gamelan Singomeng­kok. Dari sinilah banyak masyarakat yang tertarik untuk masuk Islam. Hingga akhirnya Lamongan menjadi daerah yang aman damai dan masyarakatnya sebagian besar telah masuk Islam.

Trahnya
Sebagai penghargaan atas keberha­silannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak Bintoro pada tahun saka 1441 atau 1520 M.
Penghargaan tersebut semakin menguatkan posisi Sunan Drajad di Lamongan. Tidak ada orang-orang jahat yang mencoba menggulingkan posisinya sebagai penguasa di Lamongan yang beragama Islam. Hingga akhirnya seluruh wilayah Lamongan rakyatnya beragama Islam.
Begitupula dengan rumah yang pernah ditempat hingga kini masih ada. Juga keturunannya masih tetap ada dan diakui kerajaan Mataram, Surakarta, karta Sura Surokarto Hadiningrat dan Ngayogyokarto Hadiningrat. Sehingga silsilahnya tetap jelas dan runtut. Karena tidak ada kerajaan yang membumi hanguskan kedaton dan mengejar keturunannya.
Berbeda dengan kerutunan Sunan Giri, yang sanak keturunannya dikejar-kejar  penguasa kerajaan Mataram dibawah pimpinan Amangkurat I.
Oleh karena itu, keturunan Sunan Giri  pasca Sunan Prapen menyembunyikan diri. Tujuannya agar tidak dibunuh penguasa kerajaan saat itu. Keratonnya [pun dihancurkan di wilayah Kebomas Gresik.
Sedangkan keturunan Sunan Drajad tidak dikejar-kejar oleh penguasa kerajaan Mataram. mereka tetap dikasih posisi  jabatan sebagai penguasa di Lamongan hingga zaman Jepang.. HUSNU MUFID



Sunan Muria dab Rakyat Jelata



Kisah Sunan Muria Berdakwah di Masyarakat Nelayan

Mantra dan Sesaji Diganti  Tahlil

Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said. Dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung. Berikut ini kisahnya. 

Nama Sunan Muria sendiri diambil dari nama Gunung Muria, yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah. Ia sendiri tinggal di gunung tersebut bersama istri dan murid-muridnya. Dari atas gunung, Sunan Muria hampir setiap hari harus naik-turun jalan kaki guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk yang berada  dibawah Gunung Muria. Karena   tidak menggunakan kuda.
Kemudian Sunan Muria  berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang sebagai sasaran utama. Selama berdakwah  kondisi tubuhnya cukup prima dan sehat. Karena dari atas gunung menuju pantai dan pasar yang banyak dihuni masyarakat.
Metode dakwahnya menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Cara tersebut  tidak sampai menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat yang masih menganut agama leluhurnya.
Adapun sarana yang digunakan adalah dengan menggunakan  kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Sebab waktu itu  merupakan alat komunikasi yang sangat strategis untuk menyampaikan dakwahnya. Oleh karena itu, beliau menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
Selain itu, ada tiga macam kesenian digunakan Sunan Muria  untuk menyiarkan Islam itu sendiri. Kesenian yang dimaksud adalah Tembang, Gending dan Wayang Kulit. Seperti lakon carangan atau karangan sendiri yang tidak bersumber kepada buku Mahabrata. Lakon-lakon itu adalah : Dewa Ruci, Jimat Kalisada, Petruk Dadi Raja, Pandu Pragola, semar Ambarang Jantur, Mustaka Weni, Sekutrem Yasa Pustaka, Begawan Ciptaning, Obong Bale Sigala-gala, Wahyu Widayat, Kresna Gugah dan sebagainya.
"Oleh karena itu, Sunan Muria termasuk wali  yang paling keras mempertahankan kesenian Jawa agar tetap berlangsung dan bahkan bisa diunakan sebagai media da’wah," ungkap Solihin Salam sejarawan asal Kudus. Ketika  Sunan Muria  menghadapi adat istiadat masyarakat setempat Seperti selamatan. Misalnya bila salah seorang anggota keluarga ada yang meninggal dunia, maka mereka akan mengadakan selamatan dan menyediakan sesajen untuk si mati.
Selamatan tersebut sering disebut dengan istilah Kenduri atau Kenduren. Ada upacara selamatan yang dilaksanakan menjelang jenazah si mati iberangkatkan ke kuburan. Ada yang dilaksanakan seudah menguburkan mayat. Jaman dahulu ( Hindu-Biddha, Animisme dan Dinamisme ).

Warna Islam
Kalau saja ada orang mati pihak keluarga di rumah akan menyediakan sesajen di kuburan. Ada istilah selamatan Ngesur Tanah (Kenduren setelah mengubur mayat). Ada istilah Nelung Dinani (Kenduren setelah tiga hari mengubur mayat). Ada istilah Pitung Dinani(Kenduren setelah tiga hari mengubur mayat). Ada istilah Matang Puluh, Nyatus Dino, Mendhak Pisan, Mendhak Pindo, dan istilah NYewu atu seribu harinya si mayat.
Maka Sunan Muria memberinya warna Islam. Dengan demikian tidak terjadi kontradiksi di dalam masyarakat. Warna Islam yang dimaksud adalah upacara yang sekarang disebut Tahlil, yaitu niatnya bersedah untuk si mati dengan cara membacakan kalimat Tayyibah, serta ayat-ayat AlQur’an. Ini dimaksudkan untuk mengganti do’a mantra yang biasa diucapkan para pendeta.
Sedang pahalanya diberikan kepada orang yang mati. Kalau acara selamatan itu lansung dihilangkan atau diberantas rakyat pasti akan marah karena masih belum mengerti dengan dalam syariat dan aqidah islam yang sesungguhnya. Maka selamatan boleh tetap diadakan namun upacara membakar kemenyan dan membuat sesajen dihilangkan. Diganti dengan bacaan dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an serta shalawat Nabi. Demikian pula adat selamatan bila si ibu mengandung maupun melahirkan bayi. Hal itu diberi warna Islam. Biasanya dengan cara membaca shalawat Nabi. HUSNU MUFID



Sunan Drajad dan Danau Brumbung


Kisah Sunan Drajat Islamkan Warga Dusun Brumbung Lamongan

Bersihkan Air Sendang dan Hilangkan Pageblug

Sunan Drajad dalam mengislamkan masyarakat  bukan hanya menggunakan  media kesenian. Tapi juga menggunakan air sendang Brumbung yang awalnya kotor jadi bersih.. Bagaimanakah kisahnya ?. Berikut ini.

Sunan Drajad merupakan sosok wali yang bertempat tinggal di atas bukut Drajad. Berbagai kegiatan keagamaan dilakukan di bukit tersebut. Cukup banyak masyarakat Lamongan yang datang untuk berkonsultasi tentang agama dan kehidupan.
Suatu hari  Sunan Drajad turun dari bukit untuk melihat kondisi masyarakat dari dekat. mengingat waktu itu kerajaan Majapahit  lagi mengalami perpecahan dan perang saudara. Sehingga rakyatnya tidak diurusi. Diantara  banyak dusun di zaman kerajaan Majapahit, maka Sunan Drajad mendatangi Dusun Brumbung. Karena sedang  dilanda bencana alam.
Dimana  wabah penyakit menular melanda seluruh kawasan desa. Penyakit itu menyebar dengan cepat. Sehingga banyak masyarakat yang jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Istilah ini sering disebut sebagai, esuk lara sore mati (pagi sakit, sore meninggal dunia).
Kemudian Sunan Drajat melakukan penelitian terhadao dusun tersebut. dari hasil penelitian  itu kemudian disimpulkan, bahwa sumber air Sendang Brumbung yang selama ini digunakan untuk  minum dan keperluan  lainnya oleh warga masyarakat menjadi penyebab menyebarnya wabah penyakit.
Mengingat selama ini. Sendang Brumbung yang biasanya berair jernih,   justru sangat keruh. Anehnya warha dusun tetap saja menggunakan air tersebut untuk keperluan sehari-hari. Tanpa memikirkan  dampak  kesehatan.
Kondisi air sendang yang keruh  merupakan pilihan satu satunya sebagai  sumber kebutuhan sehari-hari masyarakat. Misalnya minum, mandi, mencuci, dan sebagainya. warga Dusun Brumbung  saat itu memang tidak ada pilihan lain. Air yang ada hanya di sendang tersebut. Meskipun keruh tetap dipakai. 
Melihat warga Dusun Brumbung hanya  memiliki satu pilihan  dalam menggunakan air, maka Sunan Drajat mendekati Sendang Brumbung. Lantas ber jalan ketempat lain untuk menancapkan tongkatnya.
Kemudian di tanah tersebut menyemburlah air tawar yang berlimpah. Padahal tanah di situ bercampur dengan bebatuan. warga dusun kemudian banyak yang datang untuk melihat secara langsung.
"memang  karomah Sunan Drajad  membuat sumur cukup dengan tongkat bisa keluar air jernih. Mungkin sudah ahlinya dalam menemukan mata air di daerah yang tandus dan berbatu," ungkap Juru Kunci Makam Sunan Drajat, Yahya ditemui di kompleks Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.
Sunan Drajat menganjurkan agar masyarakat sementara memakai air tawar  yang dibuatkan itu guna memenuhi kehidupan sehari-hari. Mengenai  Sendang Brumbung jangan dulu digunakan. 
Tapi  meminta kepada warga agar membersihkan Sendang Brumbung secara bersama-sama. Pembersihan pun dilakukan bersama sama dengan cara menguras dan mengambil  kotoran yang berada di  bawah air sendang.
Rupanya  warga tidak berhasil membersihkan Sendang Brumbung. Karena  ternyata   air sendang  justru tetap saja airnya berwarna coklat. Apalagi  hujan terus mengguyur dengan derasnya tiap malam.
Sunan Drajat menduga bahwa kotornya Sendang Brumbung.  Karena banyak masyarakat yang belum memeluk Islam. Masih banyak yang menyembah agama kerajaan Majapahit dan menyembah  pohon besar serta batu besar.

Air Jernih Kembali
Akhirnya Sunan menyampaikan pesan, jika warda dusun Brumbung ingin  sendangnya  kembali airnya jernih dan bisa digunakan untuk keperluan lainnya, maka harus  memeluk agama Islam. Karena nanti Allah SWT akan membantu.
Saat itu pula seluruh warga Dusun Brumbung bersedia masuk Islam asalkan benar-benar air sendang kembali dapat digunakan dan wabah penyakit pageblug hilang dari dusunnya. 
Tidak lama kemudian Sunan Drajad mengambil  kedua bokor yang dimiliki. Bokor tersebut digunakannya untuk membersihkan sendang. Maka seketika lenyaplah segala kotoran yang membuat sendang keruh. Sendang Brumbung menjadi jernih kembali.
Atas peristiwa tersebut akhirnya banyak masyarakat Brumbung yang semula memeluk agama leluhur mulai beralih dan menjadi pemeluk agama Islam. Setelah air sendang  bersih dan airnya jernih, maka Sunan Drajat menyembuhkan satu-persatu masyarakat yang tadinya terkena wabah penyakit dengan menggunakan air sendang. HUSNU MUFID

Senin, 13 November 2017

Kisah Sunan Kuning Tulungagung


Kisah Sunan Kuning Menyebarkan Islam di Tulungagung

Mengislamkan Penyembah Batu dan Pohon

Zaenal Abidin merupakan tokoh penyebar agama Islam  di kawasan barat dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Tulungagung. Masyarakat luas menyebutnya dengan sebutan Sunan Kuning. Siapakah dia sebenarnya. Berikut ini kisahnya. 

Nama asli Sunan Kuning adalah  Zainal Abidin berasal dari Jawa Tengah. Ketika usia muda    nyantri di Pondok  Pesantren yang dipimpin Kiai Mohammad  Besari, tokoh ulama yang cukup ternama dan disegani asal Jetis, Ponorogo. Waktu itu iam mendapat  tanah perdikan dari Sunan Pakubuwono II dari Keraton Surakarta.
Selama menjadi santri, termasuk santri yang memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Karena mampu menguasai ilmu agama Islam secara  menyeluruh mulai tafsir, hadis, al qur'an dan kitab-kitab kuning.
Usai menuntut ilmu di Kota Reog, itu Sunan Kuning diberikan tugas atau amanat untuk menyebarkan agama Islam di daerah timur. Yakni, Tulungagung dan sekitarnya, termasuk Blitar dan Kediri. Karena 3 daerah tersebut masih banyak  yang belum memeluk agama Islam. mengingat dulunya merupakan wilayah kekuasaa kerajaan Kediri dan Majapahit.
Zainal Abidin diyakini menginjakkan kaki di Tulungagung sekitar tahun 1727 silam. Kedatangannya beliau dikuatkan oleh sumber  dari  buku Sejarah dan Babat Tulungagung yang diterbitkan di oleh Pemkab Tulungagung,
Perlu diketahui bahwa, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama
"Di daerah Tulungagung pada waktu tersebut, masih hutan belantara. pohon-pohon besar masih banyak.Sehingga memungkinkan untuk warga mengkeramatkan hingga melakukan penyembahan. Hal itulah yang memicu hati Sunan Kuning untuk meluruskan,"ungkap Kiai Suud salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al Fatah Tulungagung..
Kedatangannya di Tulungagung  Zaenal Abidin diikuti santri-santrinya mengajarkan kepada warga Tulungagung dan sekitar, untuk memeluk agama Islam secara utuh. Tetapi ada saja halangan. Termasuk hinaan atau dipandang miring dari masyarakat yang belum memeluk agama Islam. Bahkan ada penentangan secara halus.
Halangan dan hinaan tidak membuat Sunan Kuning menyerah begitu saja. ia tetap terus menyebarkan agama Islam ditengah-tengah masyarakat yang masih menyembah batu dan pohon.
Model dakwahnya dengan cara-cara yang santun. Lebih banyak  memberikan contoh daripada berbicara. kalau berbicara hanya dengan santri-santrinya yang belajar kepadanya. Tidak ada  cacian maupun hujatan kepada pemeluk agama dan keparcayaan lain. Hingga akhirnya banyak umat Islam yang memeluk agama Islam.
Setelah banyak pengukutnya, Sunan Kuning mendirikan sebuah masjid untuk kegiatan belajar agama Islam dan shalat berjamaah. Saat itupula  kondisi umat Islam mulai tertata dan tidak ada yang menghalangi di daerah Bonorowo waktu itu.   Masjid Macanbang sendiri dibangun tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid zaman kerajaan Demak.
Dulu, di depan masjid terdapat kubahan batu besar yang menyerupai kolam. Bahkan, tembok-tembok pagar batu bata mirip batu candi yang berukuran besar. Tembok pagar tersebut hingga kini masih berdiri dengan kokoh. Sementara kubangan kini telah tiada.
Di masjid, juga terdapat bebera  benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.
Selama sekian tahun berdakwah di  Tulungagung akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di belakang masjid. di Dusun Krajan, Desa Macanbang, Kecamatan Gondang. Tulungagung.
Makamnya
Makam Sunan Kuning dalam perkembangannya menjadi salah satu tempat yang ramai diziarahi. Terutama di malam Jumat Legi. Tak hanya dari Tulungagung dan sekitarnya, tetapi juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Maklum, Zainal Abidin konon berasal dari Jawa Tengah
Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.
Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. HUSNU MUFID

Kisah Sunan Kalijogo dan Wayang Kulit

Kisah Sunan Kalijaga Membuah Wayang Kulit 

Wayang Kulit Kalahkan Wayang Golek

Ketika  masa jayanya kerajaan  Demak Bintoro hiburan Wayang Kulit menjadi tontonan yang paling digemari masyarakat. Sehingga  Sunan Kalijaga menjadikan sarana  untuk berdakwah Bagaimana kisahnya. berikut ini. 

Wayang merupakan seni pertunjukkan rakyat yang mengambil cerita dari epos besar Ramayana dan Mahabarata dalam ajaran Hindu pada zaman kerajaan Majapahit sangat digemari masyarakat. Karena  merupakan satu-satunya dan paling faforit. Bentuknya  bulat seperti  gambaran manusia biasa yang bisa dalam wujud wayang golek. dimainkan dengan tangan dipanggung.
Melihat hal itu, maka Walisongo memiliki penilaian dan strategi lainj untuk memanfaatkan pertunjukan wayang golek yang banyak diminati masyarakat  waktu itu.
Salah satu Walisongo yang memperhatikan Wayang Golek itu adalah Sunan Kalijaga putra Adipati Wilatikta dari Tuban. Tapi ideyang cukup cemerlang itu mendapat tentangan dari Sunan Ampel dan Sunan Giri. Karena pertunjukan Wayang Golek itu  seperti memainkan patung dan dalam ajaran Islam dilareang. 
Mendengar pendapat Sunan Ampel dan Sunan Giri yang kurang menyetujui  media Wayang Golek digunakan sarana untuk berdakwah, maka Sunan Kalijaga mengubah pikirannya dengan mengubah Wayang Golek  dalam bentuk  Wayang Kulit.
Ide itu  kemudian diwujudkan dengan memodifikasinya sedemikian rupa secara kreatif menjadi media dakwah Islami. Dimana wayang tersebut dibuat dengan kulit kambing.
Hal tersebut, untuk menyiasati gambar atau patung manusia yang terlarang dalam Islam. Bentuk wayang kemudian secara bertahan diubah menjadi hanya bentuk bayangan (wayang) dari manusia. Dengan deformasi itu tidak berarti wayang di era Kerajaan Islam merusak wayang yang tumbuh dan berkembang di masa Kerajaan Majapahit.
Tapi memberikan sofistikasi dan memberikan nilai estetika yang lebih dari sebelumnya. Rupanya estetika itu mendapat sambutan yang baik dari Sunan Ampel dan Sunan Giri. Hingga akhirnya bisa ditampilkan sebagai media dakwah Islam di wilayah kerajaan Demak Bintoro.
Usai melakukan modifikasi dalam bentuk fisik. kemudian Sunan Kalijaga melakukan perubahan  alur cerita atau materi yang ada. Diantaranya adalah   dengan mengembangkan cerita kepercayaan politeis (banyak Tuhan) menjadi monoteis (tauhid). Waktu itu di era Kerajaan Demak, kisah para Dewa dimodifikasi menjadi sederajat dengan para Nabi atau malaikat. Jadi perspektifnya monoteis bukan lagi politeis.
Strategi tersebut rupanya mendapat dukungan  para Walisongo dan umat islam waktu itu. Untuk pentas yang pertama kali adalah di halaman masjid Demak Bintoro. Sunan Kalijaga memerintahkan bagi masyarakat yang ingin melihat Pagelaran Wayang Kulit terlebih dahulu melakukan wudhu.
Permintaan itupun disetujui masyarakat. karena memang  ingin melihat pertunjukan Wayang Kulit karya Sunan Kalijaga.  Hingga akhirnya  pertunjukan Wayang Kulit itu digelar dimana-mana. Setiap digelar,  penontonnya selalu banyak. Juga yang masuk Islam pun semakin banyak.  Karena cukup membaca syahadat.
Waktu itu memang sangat fenomenal. karena Pagelaran Wayang Golek yang  merupakan  budaya  darai kerajaan Majapahit kalah pamor dan penontonnya sedikit. Apalagi Sunan Kalijaga mampu memainkan  dengan suara yang cukup bagus saat mendalang.
Pagelaran  Wayang Kulit [un  berlanjut dimainkan  para santri-santri Sunan Kalijaga diberbagai daerah. Hingga akhirnya menjadi hiburan yang  sangat disenangi masyarakat.
Masyarakat pun terlena dengan kisah-kisah yang ditampilkan. Syarat dengan ajaran-ajaran Islam. Culup banyak warga setelah menyaksikan pagelaran Wayang Kulit  sepulangnya  menyatakan diri sebagai seorang muslim.

Tidak Dipungut Biaya
Rupanya Wayang Kulit mampu menjadikan orang-orang yang semula hanya menyembah batu, pohon besar dan tidak mengenal Tuhan menyatakan diri masuk  Islam. Karena itulah, wayang mengandung makna lebih jauh dan mendalam, karena mengungkapkan gambaran hidup semesta. Wayang dapat memberikan gambaran lakon kehidupan umat manusia dengan segala masalahnya. Dalam dunia pewayangan tersimpan nilai-nilai pandangan hidup Jawa dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan kesulitan hidup.
Waktu itu  pagelaran Wayang Kulit tidak dipungut biaya. demikianpula yang mengundang puntidak ditarik uang Pagelarang Wayang Kulit. Karena sudah menjadi tanggungjawab Sunan Kalijaga dan santri-santrinya.  Wayang kemudian menjadi konsumsi umum sebagai sarana hiburan dan pelaksanaan ritual tradisi di masyarakat  santri waktu itu.
 Sunan Kalijaga adalah salah satu dari Walisongo yang namanya paling tenar di kalangan masyarakat, karena beliau sangat pandai bergaul di segala lapisan masyarakat dan toleransinya yang sangat tinggi. Sunan Kalijaga sangat berjasa bagi perkembangan agama Islam dan perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia, terutama kebudayaan wayang. Sejarah perkembangan wayang tidak lepas dari peranan Sunan Kalijaga. Wayang di dalam masyarakat Jawa sebelum agama Islam berkembang telah menjadi sebagian dari hidupnya, dan di dalam dakwah, Sunan Kalijaga menjadikan wayang ini sebagai alat atau media demi suksesnya dakwah Islam..HUSNU MUFID.



Kisah Sunan Dalem Diserang   Tentara Kerajaan Sengguruh

Dibantu  Ribuan  Pasukan Lebah

Syekh Maulana Zainal Abidin atau lebih dikenal Sunan Dalem merupakan putra Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Syekh Maulana Ishaq. Beliau merupakan sultan kedua dari kesultanan Giri Kedaton (1428 Saka). Berikut ini kisah hidupnya.

Syekh Maulana Zainal Abidin atau lebih dikenal Sunan Dalem  merupakan sultan kedua dari kesultanan Giri Kedaton (1428 Saka). Ia  yang mendapatkan amanah menggantikan Sunan Giri atau  lebih dikenal  bernama Raden Samudro atau Raden Paku. yang wafat.
Sunan Dalem mulai memegang peranan di Giri Kedaton sejak tahun 1506 M, atau sezaman dengan Sultan Trenggana di kesultanan Demak Bintoro. Pada masa itu pula terjadi peristiwa pendudukan kota kerajaan Majapahit oleh pasukan Islam pada tahun 1527 M. Waktu itu lokasi kerajaan Majapahit berada di  Kediri yang dipimpin  Raja Girindawardhana.
Selain itu, pada masa pemerintahan Sunan Dalem ada penyerangan dari kerajaan Sengguruh  terjadi pada tahun 1535 M. Penyerangan tersebut menjadikan ia  mengungsi ke  Desa Gumeno Kecamatan Manyar Gresik. Pada masa itu diperintah Ki Dang Palih, atas persetujuan Syekh Manganti, paman Sunan Dalem.
Dipengungsian itu  Sunan Dalem ke Desa Gumeno dalam kondisi sakit.  makannya   hanya dengan bubur dan ikannya ayam yang telah disuwir-suwir. Makanan tersebut dikemudian hari menjadi makanan tradisi lokal di Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik hingga sampai saat ini. Selanjutnya  dinisbahkan kepada Sunan Dalem, yakni buka puasa dengan “Kolak Ayam” yang dilaksanakan setiap tanggal 23 Ramadhan atau yang lebih dikenal dengan istilah “Sanggring”.
Disaat Sunan Dalem mengungsi di Desa Gumeno, Raja kerajaan  Sengguruh yang berdiri di Pasuruan. Dimana kerajaan tersebut  merupakan sisa-sisa tentara kerajaan yang mencoba ingin mendirikan kembali Majapahit yang telah runtuh.
Alasan kerajaan tersebut ingin menguasai kerajaan  Giri Kedaton. Karena  dianggap sebagai  pintu masik   Kesultanan Demak Bintoro. Mengingat  kesultanan yang  dipimpin Sultan Trenggono dibawah kekuasaan Kedaton Giri.
Saat Istana Kedaton Giri ditinggalkan  Sunan Dalem, maka tentara  dari kerajaan  Senguruh  berusaha membuka dan merusak makam Sunan Giri yang dikenal dengan nama Raden Paku. Juru kunci makam Syekh Grigis mencoba menghalang-halangi. Tapi tidak berdaya dan dibunuh secara  keji. Hingga meninggal dunia.
Kemudian muncul kekuatan baru yaitu  tawon tiba-tiba muncul di  dalam makam. Kawanan lebah yang jumlahnya cukup banyak keluar dari dalam makam. Sehingga membikit  tentara  kerajaan Sengguruh kewalahan  menghadapi tawon tersebut. Pedang dan tombak tidak mampu  mengalahkan tawon. malahan banyak yang tersengat. Kemudian meninggal dunia. Sisanya  melarikan diri dan pulang ke Pasuruan. 

Peninggalannya
Setelah kembali ke Giri, Sunan Dalem meminta agar dibuatkan makam untuk Syekh Grigis disebelah timur makam Sunan Giri, juru kunci yang terbunuh oleh pasukan kerajaan Sengguruh.
Sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat Gumeno, Sunan Dalem mendirikan pembangunan masjid dengan atap bertingkat tiga, oleh masyarakat sekitar disebut Masjid Tiban. Sayangnya  masjid tersebut kini sudah tidak ada lagi bentuk wujudnya. karena telah dirumah  oleh  pengurus masjid yang tidak mengerti akan nilai-nilai sejarah Islam.
Dalam catatan sejarah disebutkan Sunan Dalem wafat pada tahun 1545 M dan dimakamkan disebelah barat makam Sunan Giri, selanjutnya kekuasaan kesultanan Giri Kedaton diamanahkan kepada Sunan Sedomargi untuk menjadi Sultan Giri ke-III.
Sunan Dalem hanya meninggalkan warisan yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat  Desa Gumeno, yaitu kolak dengan suwir ayam dan kulah samping masjid yang digunakan untuk wudhu. Sedangkan bentuk masjidnya sudah dibongkar dengan bangunan baru. HUSNU MUFID

Sunan NYamlungan Jepara

Kisah Sunan Nyamplungan Menginjakkan Kaki di Pulau  Karimunjawa

Raja Ular Menolak Kedatangannya


Raden Amir Hasan merupakan putra dari Sunan Muria. Mendapat tugas untuk tinggal di Pulau Karimunjawa. Bagaimanakah kisahnya ketika berada di sana. Berikut ini.
Nama  asli Sunan Nyamplung adalah  Raden Amir Hasan. Putra Sunan Muria dari istri Dewi Sujinah. Merupakan anak kesayangan ketika masih  kecil hingga remaja. Menginjak usia remaja  dititipkan kepada pamannya, Sunan Kudus yang merupakan pamannya sendiri.  Harapan nanti akan menjadi  seorang  pemuda yang memiliki ilmu agama  yang tinggi dan pandai  ilmu silat.  Harapan tersebut  menjadi kenyataan. Karena di kemudian hari  menjadi sosok pemuda yang sangat taat dalam menjalankan ibadah dan menjadi pendekar pilih tanding.
Melihat perkembangan putranya, maka Sunan Muria yang sangat bangga. Kemudian memerintahkannya untuk merantau guna menyebarkan agama Islam di sebuah pulau yang kini dikenal dengan nama Pulau Karimunjawa.
Sunan Muria melihat  sebuah pulau dari Gunung Muria. Dimana pulau tersebut  kadang muncul  dipermukaan laut dan kadang tenggelam. Hal tersebut yang membuat tertarik  dan menyuruh putranya untuk datang ke  pulau tersebut.
Sunan Nyamplungan  tidak menolak atas perintah ayahnya untuk mendatangi Pulau Karimunjawa. Kemudian beserta  dua pengawalnya  berangkat menuju pulau tersebut dengan  menunggang kuda. mengingat jarak yang ditempuh cukup jauh.
Keberangkatannya diberi sangu bahan makanan, uang, mustoko untuk atap masjid,  dan senjata. Tidak lupa pula dengan  dua buah biji Nyamplung agar nantinya ditanam di pulau tersebut. Mustaka Masjid sampai saat ini masih berada di kompleks pemakaman Sunan Nyamplung.
Kepergian Amir Hasan ke pulau Karimunjawa  tidak  sepengetahuan ibunya. Istilahnya tidak pamit. Karena khawatir tidak diperbolehkan.  Mengetahui anaknya tidak berada di rumah, Sang Ibu terkejut dan segera bergegas menyusulnya ke pantai. Maksudnya hanya ingin memberi tambahan bekal. Sesuai kesukaan anaknya, Nyai Sunan Muria membawakan pecel lele dan siput yang telah dimasak.
Namun, ketika ia sampai di pantai, sang anak telah berangkat bersama dua pengiringnya. Dengan rasa kecewa akhirnya bungkusan pecel lele dan bungkusan siput dibuang ke laut. Hingga akhirnya pulang ke rumah.
Ketika Amir Hasan sampai di daratan Karimunjawa, ia mulai mencari tempat yang cocok untuk menyebarluaskan agama Islam. Tiba-tiba seekor raja ular menghadangnya. Ular itu bertubuh pendek, berwarna hitam dan sangat berbisa. Ular itu berusaha menggigit Amir Hamzah tetapi tidak mempan. Namun Amir Hamzah sangat marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta. Sampai sekarang jenis ular yang dikenal dengan nama 'Ular Edor' ini, matanya buta dan umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
Konon, kayu yang digunakan Amir Hamzah mengutuk Ular Edor itu ialah Kayu Setigi. Maka tak heran jika Kayu Setigi ini kemudian dipercaya masyarakat Karimunjawa dapat menyerap bisa dari semua binatang, termasuk ular.
Pulau yang terlihat kremun-kremun dari daratan Jawa itu akhirnya menjadi tempat tinggal Amir Hasan dan pohon Nyamplung yang ditanamnya tumbuh subur berkembang biak hingga mengitari pulau. Sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan sebagai "Sunan Nyamplungan".Hingga akhir hayatnya  Amis Hasan meninggal dunia di Pulau Karimunjawa.

Makamnya Diatas Bukit
Makam Sunan Nyamplungan terletak di Puncak Gunung Karimunjawa sebelah utara. Di pintu gerbang pemakaman itu terdapat dua buah pohon besar, Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Kayu Dewa".
Menurut kepercayaan masyarakat di sana sampai sekarang, kayu Dewadaru ini mempunyai khasiat dan bahkan dikeramatkan. Konon, barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, akan terhindar dari niat orang mencuri dan orang bermaksud jahat lainnya.
Berat jenis Kayu Dewadaru dan Kayu Segiti lebih besar dari air, sehingga jika diletakkan di air kayu tersebut akan tenggelam. Sedangkan Kayu Kalimosodo, konon dapat digunakan untuk menghalau lelembut atau roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Biasanya, kayu ini diisi mantra-mantra oleh "orang-orang pintar" di sana sesuai keinginan pemilik kayu. HUSNU MUFID