Sabtu, 23 November 2013
Minggu, 29 September 2013
Makam Bejagung 3
Ziarah
Ke Makam Sunan Bejagung Lor, Di Tuban, Jawa Timur (3)
Menyalakanlampu di Masjidil Haram
Meski
bukantermasuk salah satu dari Wali Songo, namun kanjeng Sunan Bejagung juga
tercatatsebagai wali yang ikut berkiprah dalam perjuangan Islam di tanah Jawa.
Makamdan sejumlah peninggalanya pun hingga kini menjadi salah satu tujuan
wisatareligi di Kabupaten Tuban.Tepatnya di Desa Bejagung, KecamatanSemanding,
Kabupaten Tuban.
Penyebaran
Agama Islam dikabupaten Tuban tidak terlepas dari peran seorang ulama besar
bernama SyekhAbdullah As’ari (Sunan Bejagung Lor). Sebab, sejak kecil beliau
diajakberda’wah oleh ayahandanya (Syekh Maulana Ibrahim Asmara bin Sayyid
JamaludinAl Khusaini Al Kubra atau tersohor dengan sebutan Syekh Jumadil Kubra
yangpusarannya berada di Mojokerto, Jawa Timur) bersama dua orang
saudaranya(Maulana Ibraohim Assamarqondi dan Maulana Ishaq ayah Sunan Giri) ke
Sumateradan Jawa (Nusantara).
Jadi
tidak heran, ketika beranjakdewasa dan tua. Beliau masih terus memperjuangkan
agama Allah di tanah Jawa. Halitu dikuatkan dengan keterangan Buku Babad Tanah
Jawa dan Buku Babad Tuban,juga berdasarkan buku dokumen Bejang yang menerangkan
bahwa semasa hidupnyaKanjeng Sunan Bejagung, selain siar agama. Kanjeng sunan
bejagung jugamempunyai karomah, salah satunya adalah setiap sore beliau selalu
pergi keMakkah untuk menyalakan Lampu Masjidil Haram Makkah dan menjadi
MuadzinMasjidil Haram Makkah Al Mukarromah.
Bahkan
ada satu keyakinan yangsampai sekarang masih diwanti-wanti oleh warga sekitar.
Yaitu tentang larangan makanikan meladang. Kenapa? Menurut ceritanya,
suatu saat Sunan Bejagung diajak pergi Hajioleh Santrinya yang dari
bangsa Jin. Santri tersebut sanggup menggendong SunanBejagung dari Tuban sampai
ke Masjidil Haram Makkah. Tetapi setelah digendongdan terbang ke angkasa, tepat
diatas samudra , Sunan Bejagung dilepas dan jatuhke Laut. Tetapi Sunan Bejagung
Selamat lantaran ditolong oleh ikan meladang dandipinggirkan sampai
Jeddah suatu Pantai di Hadramaut (yang sekarangdikenal dengan Saudi Arabia).
Setelah
sampai di Arab SunanBejagung berpesan kepada semua anak cucunya jangan sampai
makan ikan meladang.Dan ternyata sampai sekarang anak cucu keturunan Sunan
Bejagung tidak diperkenankanmakan ikan meladang. Bila makan ikan meladang maka
timbul penyakit gatal.
Silsilah
Sunan Bejagung denganurutan Nabi Muhammad :
1. NabiMuhammad
SAW.
2. BerputriSiti
Fatimah Az-sahro’ (Isatri Sayidina Ali Bin Abi Tholib )
3. BerputeraSayyid
Husain.
4. BerputeraSayyid
Ali Zainul Abidin.
5. BerputeraSayyid
Muhammad Al-Baqir.
6. BerputeraSayyid
Ja’far Shodiq.
7. BerputeraSayyid
Ali Al ‘Uroidli.
8. BerputeraSayyid
An- Naqib Ar- Rumi.
9. BerputeraSayyid
Isa An- Naqib Al-Bashori.
10. BerputeraSaqyyid
Achmad Muhajirb Al- Faqih Al- Muqoddam.
11. BerouteraSayyid
Ubaidillah.
12. BerputeraSayyid
‘Alawi.
13. BerputeraSayyid
Muhammad.
14. BerpyteraSayyid
‘Alawi.
15. BerpyteraSayyid
Ali Kholi’ Qosam.
16. BerputeraSayyid
Muhammad Shodiq Murrobath
17. BerputeraSayyid
Abdul Malik.
18. BerputeraSayyid
Abdullah Khon.
19. BerputeraSayyid
Ahmad Syah .
20. BerputeraSayyid
Jamaluddin Al kusaini atau Sayyid Jamalludin Kubra atauSayyid
Jumaddil Kubro.
Berputera
21 orang, tiga orang diantaranya ialah :
1. MaulanaIbrahim
Asmoro (Sunan Gresik,Tuban )
2. MaulanaIshak
( Sunan Pasai ,Sumatra )
3. SayyidAbdullah
Asy’ari ( Sunan Bejagung, Tuban )
Sayyid
Abdullah Asy’ari yang dikenal dengan nama Sunan Bejagungini berputera 3 orang :
(1)
Syekh Abdurrahim atau Sunan Pojok.
(2)
Nyai Faiqoh atau Isteri Pangeran Penghulu atau Syekh HasyimAlamuddin atau Sunan
Bejagung ke-2, makamnya di Bejagung kidul, di sekitarmakam ini terdapat Situs
peninggalan pondasi Masjid, petilasan dalem kasunananBejagung , dan
dilestarikan oleh masyaraka Bejagung dalam bentuk PondokPesantren Sunan
Bejagung (yang didalamnya terdapat Lembaga Pendidikan : RA,Madrasah Ibtidaiyah,
SMP Islam, Madrasah Aliyah, dan Madrasah DiniyahTakmiliyah)
(3)
Syekh Afandhi atau Sunan Waruju, makamnya di belakangPengimaman Masjid
Bejagung. HARIS
Makam Bejagung 2
Ziarah
Ke Makam Sunan Bejagung Lor, Di Tuban, Jawa Timur (2)
Pohonmaja,
saksi bisu Islamnya Gajah Mada
Dihalaman
Pondok Pesantren Sunan Bejagung terdapat sebuah gugusan batu besar dansebatang
pohon maja. Keduanya bukanlah pohon dan batu biasa, pasalnya di tempatitulah
konon ceritanya, mahapatih Gajah Mada yang dikenal sakti mandra gunadengan ilmu
Barat Ketigo-nya menyatakan keislamannya. Benarkah?
Lokasinya
tidak terlampau jauh dengan pusara Kanjeng SunanBejagung Lor. Dekat dengan
mushola dan berada di belakang kantor pondok. Terdapatsebuah gugusan batu
berukuran besar. Bentuk gugusan batu itu juga tak terlihataneh, nyaris sama
dengan batu yang sering dijumpai di daerah-daerah kapur.
Sepintas
melihtanya tidak ada yang istimewa dengan batu itu.Apalagi disela-sela batu
tumbuh rumput-rumput liar, sedangkan disebelahnya tumbuhsebatang pohon maja,
yang banyak dijumpai dikabupaten Mojokerto. Namun, bagimasyarakat sekitarnya,
batu dan pohon maja itu ternyata menyimpan rahasia. Pasalnya,menurut keyakinan
warga setempat, batu itu adalah tempat di mana Patih GajahMada menyatakan
keislamannya dengan dibimbing Kanjeng Sunan Bejagung. Setelah diamerasa kalah
digdaya dengan keilmuan yang dimiliki kanjeng sunan.
Dalam
legenda disebutkan, setelah Gajah-gajah dari Majapahit menjadibatu, para
pasukan Majapahit kembali dan Lapor kepada Sang Prabu Hayam wuruk bahwa semua Gajah Pasukan
Majapahit menjadi batu. Kemudian SangPrabu memerintahkan kepada Patih Gajah Mada yang terkenal
dengan Ilmunya Barat Ketigo
untuk mencoba sejauh mana Ilmu SunanBejagung.
BerangkatlahPatih
Gajah Mada tanpa balatentara. Dia menyamar dan menggunakan nama Barat Ketigo.Kemudian dia mengaduk
air laut Tuban sampai keruh dan berpura-pura mencari ikandodok. Setelah
diketahui oleh Sunan Bejagung, Barat ketigo ditanya, iamenjawab. “mencari ikan
dodok, karena adiknya hamil dan nyidam ingin makan ikandodok”.
AkhirnyaSunan
Bejagung mengambil lontar dibuat timba dan Barat ketigo diperintah
untukmengambil daun waru. Setelah tempayan lontar tersebut diisi dengan air dan
daunwaru dimasukkan kedalam timba. Seketika itu daun waru menjadi ikan Dodok.
“Kejadianinilah yang selalu diingat oleh Masyarakat Desa Bejagung, dan sampai
sekarangapabila ada warga yang akan mengadakan kenduri selalu menggunakan ikan
dodokkering,” kata KH Abdul Matin pengasuh pondok Bejagung .
Pohon Kelapa Direbahkan Dengan Jari Tangan
Dari
sini sebenarnya Gajah Mada merasa bahwa ia telahdikalahkan oleh Sunan Bejagung.
Namun ia masih belum juga puas. Ia kemudianberusaha memamerkan kesaktiannya
dengan menggoyang sebuah pohon kelapa hinggasemua buahnya rontok. Sunan
Bejagung yang melihat itu hanya mengatakan “ Jikaingin mengambil buah kelapa
jangan seperti itu”. Beliau lantas menuding sebuahpohon kelapa yang segera tertunduk
begitu tangan Sunan Bejagung menudingnya danGajah Mada dipersilahkan mengambil
buah pohon kelapa yang telah rebah itu.
Gajah
Mada pun segera mengambil buah kelapa itu, lantasdiminumnya. Tak hanya satu, ia
mengambil ribuan buah kelapa untuk diminumsekaligus. Gajah Mada kemudian
berujar bahwa sekian banyak buah kelapa telah iaminum tetapi rasa hausnya masih
belum juga hilang. Mendengar itu Sunan Bejagungkemudian mengambil buah maja
berduri yang telah jatuh ke tanah.
Buah
maja itu lantas dikupas, dikeluarkan isinya dan diisidengan air kemudian
disuguhkan kepada Gajah Mada. Anehnya, air dalam buah majayang lebih kecil dari
kelapa itu seperti tak habis-habisnya saat diminum GajahMada. Bahkan Gajah Mada
merasa sudah tak kuat lagi minum dan menyatakan bahwaia menyerah.
Ia
mengakui bahwa telah kalah dari Sunan Bejagung. Dari situGajah Mada kemudian
bersedia untuk memeluk Islam dengan dibimbing oleh SunanBejagung. Setelah ia
mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih, ia beralih namamenjadi Patih Barat Ketigo
dan menghabiskan sisa hidupnya di Bejagung. Makamnyakini terletak tak jauh dari
makam Sunan Bejagung Kidul, dikenal dengan namaMakam Panjang.
Bakam Bejagung 1
Ke Makam Sunan Bejagung
Lor, Di Tuban, Jawa Timur (1)
Mantukan
Pangeran Majapahit, Karena Ketauhitannya
Meski
pada awalnya makam ini kurang dikenal sebagaimana makamSunan Bonang dan Makam
MaulanaIbrahim Asmoro Qondi, di TubanJawa Timur. Namun lambat laun, makam Sunan
Bejagung yang dikelilingi puluhan pohon-pohonbesar berusia ratusan tahun.
Sekarang ini, banyak di ziarahi ratusan umatmuslim dari penjuru tanah air.
Pemandangan itulah yang terlihat saat Posmo berziarah di makam sang wali.
Berjarak
sekitar satu kilometerke selatan, atau satu jalur dengan obyek wisata pemandian
Bektiharjo dan tempatwisata goa akbar. Situs wisata religi Sunan Bejagung masih
terlihat asri.Nampak semua bangunannya masih asli. Ada beberapa gerbang kecil,
saat posmo hendakmasuk ke dalam pusara Sunan Bejagung. Terlihat, sebelum
cungkup sang wali, diseklilingnya juga ada ratusan makam-makam yang lain.
Tidak
hanya itu, komplek makamini juga tumbuh pohon-pohon berukuran besar yang
usianya diperkirakan ratusantahun. Meskipun begitu, pohon-pohon itu nampak
masih kokoh dan kuat. Daripengalaman wartawan Koran ini yang pernah ziarah dua
kali ke makam sunanBejagung. Ketika siang hari, suasanya sangat sejuk
begitupula pada saat malamhari. Semilir angin di sekitaran makam, membawa hawa
ketentraman tersendiriketika berziarah ke makam.
Saat
berada di makam pada Selasa,20 Agustus 2013, Posmo ditemani H. Achmad Toha,
juru kunci makam Sunan BejagungLor. Dari sini diketahui bahwa Sunan bejagung
adalah Syaikh Abdullah Asy’ari yangtidak lain adalah adik atau saudara ayah
dari Sunan Ampel, yaitu MaulanaIbrahim Asmoroqondi. Melihat garis keturunan
itu, tentu saja beliau adalahkakek dari Sunan Bonang. Yang pusara ketiga wali
ini sama-sama berada dikabupaten Tuban.
Menurut
penuturan Toha, semasahidupnya, Sunan Bejagung lebih memilih untuk
bermasyarakat, dengan mengajarkanilmu cocok tanam dan pertanian, yang
diselinggi dengan siar agama. Ketimbang hidupdi pemerintahan. Singkat cerita,
lantaran niatan hatinya karena lillah hitaallah, semua yangdihajatkannya
pun akhirnya terkabul. Sebab, lambat laun, misi siar agama yangdilakukan
kanjeng sunan pun berhasil, dan pengikut beliaupun semakin hari jugasemakin
banyak.
Bahkandari
cerita juru kunci juga mengatakan kalau salah seorang dari putera Mahkota
KerajaanMajapahit putera Prabu Hayam Wuruk (Brawijaya IV) bernama
PangeranKusumohadi yang sekarang dikenal dengan Pangeran Pengulu atau
Syekh HasyimAlamuddin atau Sunan Bejagung Kidul, pergi dari Kerajaan dan
menjadi santrikanjeng sunan untuk belajar ilmu Syariat , Thoriqot, Haqiqot, dan
Ma’rifat.“Pangeran Kusumohadi adalah salah seorang santri yang dikirim
oleh SyekhJumadil Kubro untuk mencari kanjeng sunan, agar dia mau belajar agama
samabeliau,” kata Toha kepada Posmo.
Dapatkan
Santri Kerajaan
Ibarat
wejangan jawa bilang’ sopo seng temen bakal tinemu’.Lantaran getol belajar
agama islam Pangeran Kusumohadi akhirnya menjadiorang Alim, sholeh, dan
ketauhidannya sangat tinggi. Ketimbang santri kanjengsunan lainnya. Karena hal
itulah, Kusumohadi diambil menantu SunanBejagung. Melihat kemampuan
menantunya juga ahli dalam mengajarkan agama,akhirnya Kusumohadi
dipasrahi siar di wilayah Bejagung Kidul.Sementara Syekh Maulana Abdullah
Asy’ari uzlah (berpindah) ke bagian utara yangsekarang dikenal dengan Bejagung
Lor.
Ternyata
keberadaan Kusumohadi diketahu ayah handanya. Seketikaitu juga, beliau
memerintahkan Patihnya bernama Gajah Mada yang memiliki ilmuKadigjayan yang
sangat tinggi dan terkenal dengan Ilmu Barat Ketigo, untukmengajak Sang Putera
Mahkota untuk pulang ke kerajaan. Berita itupun didengaroleh Pangeran
Kusumohadi, dan dia langsung menghadap kanjeng Sunan untukmembantunya. Sebab
sang Pangeran masih ingin tetap menekuni Ilmu Agama Islam.
Selanjutnya
Sunan Bejagung menggaret tanah sekitar PadepokanKasunanan Bejagung yang sampai
sekarang dikenal dengan ‘Siti Garet’ agartentara Majapahit tidak bisa masuk.
Tidak lama dari peristiwa itu, salahseorang santri melapor kepada Kanjeng Sunan
bahwa di sebelah selatanKasunanan Banyak Pasukan Gajah dari Majapahit.
Kanjeng Sunan mengatakan “tidakgajah
tetapi batu”. Seketika itu semua gajah menjadi batu.
Yangsampai sekarang dikenal dengan Watu Gajah. HARIS
**
Masyarakat
Desa Bejagung, dan sampai sekarangapabila ada warga yang akan mengadakan
kenduri selalu menggunakan ikan dodokkering,” kata KH Abdul Matin pengasuh
pondok Bejagung .
Pohon Kelapa Direbahkan Dengan Jari Tangan
Dari
sini sebenarnya Gajah Mada merasa bahwa ia telahdikalahkan oleh Sunan Bejagung.
Namun ia masih belum juga puas. Ia kemudianberusaha memamerkan kesaktiannya
dengan menggoyang sebuah pohon kelapa hinggasemua buahnya rontok. Sunan
Bejagung yang melihat itu hanya mengatakan “ Jikaingin mengambil buah kelapa
jangan seperti itu”. Beliau lantas menuding sebuahpohon kelapa yang segera tertunduk
begitu tangan Sunan Bejagung menudingnya danGajah Mada dipersilahkan mengambil
buah pohon kelapa yang telah rebah itu.
Gajah
Mada pun segera mengambil buah kelapa itu, lantasdiminumnya. Tak hanya satu, ia
mengambil ribuan buah kelapa untuk diminumsekaligus. Gajah Mada kemudian
berujar bahwa sekian banyak buah kelapa telah iaminum tetapi rasa hausnya masih
belum juga hilang. Mendengar itu Sunan Bejagungkemudian mengambil buah maja
berduri yang telah jatuh ke tanah.
Buah
maja itu lantas dikupas, dikeluarkan isinya dan diisidengan air kemudian
disuguhkan kepada Gajah Mada. Anehnya, air dalam buah majayang lebih kecil dari
kelapa itu seperti tak habis-habisnya saat diminum GajahMada. Bahkan Gajah Mada
merasa sudah tak kuat lagi minum dan menyatakan bahwaia menyerah.
Ia
mengakui bahwa telah kalah dari Sunan Bejagung. Dari situGajah Mada kemudian
bersedia untuk memeluk Islam dengan dibimbing oleh SunanBejagung. Setelah ia
mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih, ia beralih namamenjadi Patih Barat Ketigo
dan menghabiskan sisa hidupnya di Bejagung. Makamnyakini terletak tak jauh dari
makam Sunan Bejagung Kidul, dikenal dengan namaMakam Panjang.
Pohon
maja berduri (mojori) itu saat ini memang telah tumbang. Tetapi ditempat
yang sama, dihalaman Ponpes Sunan Bejagung, kini telah tumbuh sebatang pohon
maja yang masihagak muda. Pohon itu berdekatan dengan batu tempat Gajah Mada
menyatakankeislamannya. HARIS
Seminar Perisai Diri
Dari Seminar Kesilatnas Perisai Diri Pusat di Surabaya
Silat Memfilter Masuknya Budaya Luar di Era Globalisasi
Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat menggelar
Seminar Membangun Persatuan dan Kesatuan Bangsa Melalui Pencak Silat sebagai
Budaya Bangsa di Era Globalisasi pada Minggu, 22 September 2012 di Hotel Twin
Surabaya kemarin. Berikut ini laporan posmo.
Seminar yang digelar Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri
Pusat cukup manarik minat peserta dan semarak. Karena dihadiri tokoh-tokoh
senior murid langsung dari RMS Dirdjoatmojo, perdiri Perisai Diri seperti Soebagyo,
Yahya Buari, Bambang Priyokuncoro, Joko Setiadi, Gundono Pendekar Kelana, dan
murid lainnya yang hingga kini masih tetap memiliki kepedulian terhadap Perisai
Diri.
Sejumlah cabang Paguyuban Perisai Diri hadir. Seperti
Jakarta, Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, Jakarta, Demak, Blitar, Trenggalek, dan
sejumlah cabang Perisai Diri lainnya. Mereka datang untuk mengikuti seminar.
Dalam seminar tersebut sebagai moderator Dr. I Komang,
Ketua Yayasan Kesilatnas Perisai Diri Pusat. Sedangkan narasumbernya Dr.
Suparyono, Ketua Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat, Ir. Untung Bakesbang
Jatim, DYMM Sultan Suryoalam Raja Demak, Pratomo, Ketua IPSI Jatim.
Acara seminar dibuka dengan pertunjukan atraksi dari
murid-murid Paguyuban Perisai Diri Mojokerto yang cukup menarik bagi peserta
seminar. Semua mata memandang ke arah depan. Karena permainan jurus-jurusnya
memiliki daya keindahan dan kecepatan dalam menyerang dan menghindar.
Kemudian dilanjutkan acara sesi seminar. Dalam seminar
tersebut pembicara pertama Pratomo dari IPSI Jatim mengatakan, pencak silat
merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki potensi besar dalam pembentukan
karakter kebaikan anak bangsa. Hal ini dilakukan melalui visi, misi, dan
strategi yang dimiliki perguruan silat. Visinya adalah pembentukan karakter,
misinya meraih juara dan strateginya menyelenggarakan turnamen.
Oleh karena itu, IPSI merekomendasi pemerintah untuk
mendukung, swasta memberikan sponsor, menjaga keharmonisan antarperguruan,
menjaga nilai olahraga yang sportif, memberikan apresiasi pencak silat.
Sedangkan Ir. Untung Bakesbang Jatim menjelaskan,
sekarang ormas memiliki ciri-ciri tersendiri. Tetapi kalau dulu harus azas
tunggal. Sehingga memiliki karakter tersendiri antara satu perguruan silat.
Sementara Dr. Suparyono, Ketua Paguyuban Perisai Diri Pusat menyatakan, pencak
silat tumbuh subur di lingkungan agama Islam dan Buddha. Karena itu punya makna
silaturahim. Zaman dulu pertandingan silat tidak melukai, tetapi hanya
merebutkan kopiyah.
Kini di era globalisasi silat dari luar negeri sudah
banyak yang masuk ke Indonesia. Jika pencak silat tidak ingin tergilas, maka
akan hancur akibat kalah bersaing. Hal ini berpengaruh pada perjuangan bangsa.
Untuk itu, Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri harus tampil kedepan memperjuangkan
pencak silat agar tetap diminati anak-anak muda Indonesia. Juga akan tetap
mengamankan ajaran RMS Dirdjoatmojo secara utuh dan murni.
Ilmu Panahan
Kemudian pembicara terakhir DYMM Sultan Suryoalam
selalu pembina Paguyuban Perisai Diri Pusat menyatakan, silat sudah ada sejak
zaman Majapahit hingga sekarang masih tetap ada. Hal ini memiliki kelebihan
yaitu mampu membuat seseorang pergi ke mana-mana seperti Gudono Pendekar Kelana
dari Perisai Diri. Beliau bisa keluar negeri gara-gara bisa silat.
Ke depannya Perisai Diri harus dikelola secara modern.
Dimana anggotanya memiliki kartu identitas. Sehingga dapat diketahui jumlahnya.
Begitupula dengan masalah keuangan harus tercatat bila mendapat sumbangan dari
Bakesbang atau lainnya.. Sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh lagi punya usaha lagi yaitu sebuah
Perguruan Tinggi, pertambangan, padepokan sendiri seperti Padepokan Shaolin di
Cina. Sehingga dapat digunakan sebagai tempat latihan para murid-murid,
pendekar dan tempat tinggal pendekar yang sudah tua dengan kehormatan yang
tinggi.
Di tengah-tengah diskusi seminar yang sedang hangat
dalam perbincangan Deni Trisanto anggota senior Perisai Diri menyampaikan
pendapat, bahwa RMS Dirdjoatmojo memiliki ilmu memanah dan dirinya yang hingga
kini terus mengajarkannya. Bahkan presiden hingga Menpora menyaksikan saat
anaknya mengadakan atraksi di Mal dan kantor wali kota. Ia buktikan dengan
menampilkan slide. Banyak peserta langsung menuju penampilan slide memanah.
Dari situ akhirnya seminar memutuskan ilmu memanah RMS
Dirdjoatmojo akan diajarkan kembali kepada murid-murid Paguyuban Kesilatnas
Perisai Diri Pusat dibawah pimpinan Dr, Suparjono Jl Penjaringan Asri PS 1-J
No. 39 Surabaya. Bagi para orang tua yang ingin belajar dan kursus
dipersilakan.
Begitu pula dengan anak-anak muda yang suka akan ilmu
silat dan panahan, baik pelajar maupun mahasiswa jika ingin belajar jangka
panjang maupun pendek akan diterima dengan senang hati. Oleh karena itu, jangan
disia-siakan kesempatan ini. Mengingat Perisai Diri memiliki komitmen
menjadikan pesilat meraih perestasi kejuaaraan nasional dan internasional. HUSNU
MUFID
Rabu, 18 September 2013
Imam Ghozali
Biografi Imam Al-Ghozali dan
Pemikiran Keislamannya
Pembangun Agama dan Pemberi
Jalan Terang Menuju Tuhan
Sosok al-Ghozali bagi
masyarakat muslim dan dunia barat sudah tidak asing lagi. Hal tersebut karena
pemikiran dan karyanya yang cukup cemerlang dan mampu mempengaruhi pola pikir
manusia dimasanya hingga sekarang. Ia dapat digolongkan sebagai pembangun agama
nomor satu dan pemberi jalan terang menuju Tuhan.
Pendidikan dan Karyanya
Al Ghozali nama aslinya
adalah Abu Hamid Bin Muhammad bin Achmad al-Ghozali, lahir tahun 1058M/450 H di
Tus dekat Mashad, suatu kota kecil di Khurasan (Iran). Kata –kata al-Ghozzali
dengan satu z dari kata ghazzal artinya tukang pemintal benang. Karena
pekerjaan ayah al-Ghozali ialah memintal benang wol. Sedangkan al-Ghozali
dengan satu z, diambil dari kata-kata
Ghazalah, nama kampung kelahirannya al-Ghazali.
Ayah al-Ghazali, adalah
seorang tasawuf yang saleh dan meninggal dunia ketika al-Ghazali beserta
saudaranya masih kecil. Akan tetapi
sebelum wafatnya ia telah menitipkan kedua anaknya kepada seorang tasawuf guna
untuk mendapatkan bimbingan dan pemelihararaan dalam hidupnya.
Menjelang usia remaja ia
belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan dan akhirnya di
Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini ia wafat tahun
478H/1085M. Selanjutnya ia berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota Mu’askar, dan dari padanya ia mendapatkan
penghargaabn dan kehormatan yang besar. Sehingga ia tinggal di kota itu enam
tahun lamanya.
Pada tahun 483H/1090M, ia dangkat menjadi guru di
sekolah Nidzamah Bagdad, dan pekerjaan itu dilaksanakan dengan sangat berhasil.
Selama di Bagdad, selain mengajar Imam
Ghozali mengadakan bantahan-bantahan terhadap pemikiran-pemikiran golongan
Batiniah, Ismailiyah, golongan filsafat dan lain-lain. Selama itu ia tertimpa
keragu-raguan tentang kegunaan pekerjaannya, sehingga akhirnya ia menderita penyakit yang tidak bisa diobati dengan obat lahiriah
(Fisioterapi).
Pekerjaannya itu kemudian
ditinggalkannya pada tahun 484H untuk menuju Damsyik, dan dikota ini ia
merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih dua tahun, dengan tasawuf sebagai jalan
hidupnya.
Kemudian ia pindah ke
Palestina dan disini pun ia tetap merenung, membaca dan menulis dengan
mengambil tempat di baitul –Maqdis.
Sesudah itu tegaklah hatinya
untuk menjalankan ibadah haji, dan setelah selesai ia pulang kampung ke negeri
kelahirannya yaitu kota Tus. Disana tetap seperti biasanya berkhalwat dan
beribadah. Keadaan tersebut berlangsung sepuluh tahun lamanya. sejak
kepindahannya ke Damsyik, dan dalam masa
ini ia menulis buku-buku mengenai
Islam (fiqih), tasawuf, tafsir, otobiografi
dan adab kesopanan.
Sebagian buku-buku
tersebut diatas dalam bahasa Arab dan Persia. dari karya-karyanya itulah al-Ghozali dikalangan kaum muslimin
besar sekali. Sehingga menurut pandangan orang ketimuran (orientalis) agama Islam yang digambarkan oleh kebanyakan kaum muslimin berpangkal pada
konsepsi al-Ghazali.
Menurut B.B. MacDonald,
untuk dunia Islam al-Ghozali masih menjadi tokohnya yang terbesar, sama dengan
kedudukan Agustinus atau Aquinas untuk dunia Kristen. Kitabnnya yang terbesar
adalah Ihya’Ulumuddin yang artinya “menghidupkan ilmu-ilmu agama”, dan dikarang
selama beberapa tahun dalam keadaan
berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hajzz, Tus.
Buku yang lain yaitu
al-Munqidz min ad-Dhalal (penyelamat dari kesesatan), berisi tentang sejarah
perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya terakhir terhadap
beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Diantara penulis-penulis
modern banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan
autobiografi.Ibnu Arabial-Ibri dan Raymaond Martin banyak mengambil
pemikiran-pemikiran al-Ghazali untuk menguatkan pemikirannya.
Sikapnya Terhadap Para
Filosof
Pikiran al-Ghozali telah
mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh kegoncangan batin.
Sehingga sukar diketahui kesatuan dan
kejelasan corak pikirannya. Seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap
filosof-filosof dan terhadap aliran-aliran aqidah pada masanya. Dalam bukunya
Tahafut al-Falasifah dan-Munqidz min al-Dlalal, al-Ghozali menentang
filosof-filosof Islam. Bahkan mengkafirkan mereka dalam tiga soal.
Antara lain: pengingkaran
kebangkitan jasmani, membataskan ilmu Tuhan kepada hal-hal yang besar saja dan
kepercayaan tentang qadimnya alam dari keazaliannya. Akan tetapi dalam bukunya yang lain, yaitu Mizan a-l
Amal, dikatakan bahwa ketiga-tiga persoalan tersebut menjadi kepercayaan
orang-orang tasawuf juga. Begitu juga
dalam bukunya al-Madlnun’Ala Ghairi Ahlihi ia mengikuti qadimnya alam.
Kemudian dalam al-Munqidzul
Min ad-Dlalal ia menyatakan bahwa kepercayaan yang dipeluknya ialah kepercayaan
orang-orang tasawuf. Akan tetapi dalam bukunya
yang lain lagi, Mi’raj as-Salikin ia menentang orang-orang tasawuf yang mengatakan adanya
kebangkitan rohani saja. Jadi al-Ghozali menentang kepercayaan dalam tiga soal tersebut dalam
beberapa bukunya, tetang mempercayainya dalam buku-buku yang lain.
Maka dari itu ia lebih tepat
digolongkan kepada “pembangun agama” nomor satu, yang semua jalan pemikirannya
terutama bersumber kepada al-Qur’an dan Hadist, dan kalau memakai sumber
lain dalam Islam, sumber-sumber ini
hanya dijadikn sebagai alat untuk menghidupkan ajaran-ajaran agama
dan untuk membantu menerangi
jalan Tuhan.
Dengan demikian,
al-Ghozali telah mencapai hakikat agama
yang belum pernah diketemukan oleh orang-orang yang sebelumnya dan
mengembalikan kepada nilai-nilai agama
yang telah hilang tidak menentu. Jalan yang terdekat kepada Tuhan ialah jalan
hati. husnu mufid
Air Terjun Coban Rondo
Air Tenjun Coban Rondo di Lereng Gunung Kawi Pujon MalangMandi Kungkum Bisa Datangkan Jodoh
Panorama yang indah di air terjun Coban Rondo mengundang orang untuk datang. Ditambah lagi hawanya yang sejuk membuat orang semakin betah berlama-lama bersama keluarga. Di balik itu, pemandian ini ternyata menyimpan misteri yakni, bila mandi di air terjun itu bisa mendatangkan jodok. Tapi sebaliknya tempat ini pantangan bagi muda-mudi yang lagi pacaran, karena bisa memutuskan hubungan. Mengapa begitu?Dapatkan JodohAir Terjun Coban Rondo ini terletak di lereng Gunung Kawi. Posisinya berada di Dukuh Sebaluh Desa Pandesari Kecamatan Pujon, Malang. Kondisi lingkungan sekitarnya masih asri dan belum dirusak oleh masyarakat sekitar. Sehingga udara disekitar air terjun tersebut masih terasa nyaman.Kondisi demikian itu mengakibatkan banyak orang datang untuk sekedar bertamasya bersama keluarga pada hari libur. Selain itu ada maksud-maksud lain. Yaitu untuk cepat dapat jodoh. Khususnya bagi mereka yang belum mendapatkan pasangan hidup di dunia."Kalau ada orang yang melakukan tirakat di Air Terjun Coban Rondo, karena sudah lama tidak dapat jodoh, Insya Allah akan laku kawin," ujar Ustad Sobirin warga setempat.Untuk mendapatkan keinginan tersebut biasanya seseorang laki-laki maupun perempuan harus rela kungkum dan bersemadi selama beberapa jam. Bagi yang baru menjalani sudah barang tentu ada perasaan rasa takut. Tapi kalau sudah diniati dari rumah, perasaan takut itu hilang dengan sendirinya.Sudah banyak orang yang ingin mendapatkan jodoh dengan mandi di air terjun Coban Rondo ini. Mereka yang berhasil bukan hanya dari daerah sekitar, melainkan luar kota pun cukup banyak. Tapi ada juga yang gagal. Hal tersebut karena mereka tidak sungguh-sungguh dalam melakukan ritual.Kegagalan orang yang melakukan lelaku biasanya tidak kuat menahan dinginnya air dan bayang-bayang mahluk halus yang kadang-kadang muncul. Meskipun sebenarnya mahluk tersebut tidak akan mengganggu jalannya laku ritual. Hanya ingin berkenalan saja terhadap orang yang melakukan lelaku.Pantangan Berpacaran
Lelaku kungkum tersebut hanya dikhususkan pada orang yang belum mendapatkan pasangan. Sedangkan bagi pemuda-pemudi yang sudah punya pasangan dan berpacaran ditempat tersebut tidak diperbolehkan. Karena resikonya besar, yaitu nanti akan putus dengan kekasihnya.Hal tersebut dikait-kaitkan dengan cerita masa lalu. Konon ceritanya jaman dahulu ada sepasang suami isteri yang menikah di Gunung Anjasmoro. Kemudian diutus gurunya untuk datang ke lereng Gunung Kawi. Sesampainya ditempat tujuan melihat ada air terjun yang sangat indah dan airnya segar.Ditempat tersebut, kedua pasang suami isteri itu lantas mandi bersama-sama dalam waktu yang cukup lama. Maklum sudah beberapa hari badannya tidak terkena air. Karena terbuai dengan air terjun tersebut, sehingga lupa kalau ada pemuda yang melihat dari celah-celah pepohonan.Pemuda yang melihat itu tertarik pada wanita yang mandi di air terjun tersebut. Ingin saja mengawininya. Oleh ibunya diperingatkan agar tidak merusak pagar ayu. Akan tetapi tidak digubrisnya. Kenekatan pemuda itu membuat suami wanita tersebut marah besar. Inginnya mengajak berkelahi.Maka terjadilah perkelahian seru di tebing air terjun Coban Rondo. Karena sama-sama sakti, akhirnya kedua laki-laki yang berkelahi itu meninggal dunia. Sedangkan wanita itu menjadi janda (rondo) dan menetap disitu hingga akhir hayat. husnu mufid
Langganan:
Postingan (Atom)
