Kamis, 16 Oktober 2014

Perang Diponegoro 3

Jejak Perang Jawa Pangeran Diponegoro (3)
“Museum Karisidenan
Kedu Diyakini Keramat”

Karisidenan Kedu tempat berlangsungnya perundiungan licik antara Belanda dan Pangeran Diponegoro, kini menjadi museum. Meja kursi perundingan masih utuh, juga bale-bale tempat Diponegoro menjalankan sholat. Juga jubah kuning dan kain putih surban Diponegoro masih dijaga kekeramatannya. Setiap pengunjung yang hendak masuk ke dalam ruang bekas perundingan itu diharuskan melepas alas kaki. Jika tidak, dipastikan pengunjung bisa mendapat petaka.

SESUDAH menjadi museum, Karisidenan Kedu diberi nama Museum Kamar Pengabdian Pangeran Diponegoro. Berada di sebelah Kantor Bakorwil II yang meliputi daerah Kedu dan Surakarta Jawa Tengah. Staf Bakorwil Kedu dan Surakarta, Subiyanto, kepada posmo menjelaskan, Badan Koordinasi Wilayah Kedu dan Surakarta fungsinya adalah membantu kerja Gubernur Jawa Tengah di wilayah Kedu dan Surakarta. Namun karena museum Diponegoro juga berada satu komplek, Bakorwil juga turut menangani kepengurusannya.
Subiyanto mengakui, Museum Kamar Pengabdian Pangeran Diponegoro memang masih dipercaya keramat. Di dalamnya terdapat jubah kuning dari kain santung yang dikenakan Pangeran Diponegoro ketika mengikuti perundingan. Juga kain putih bekas surban Pangeran Diponegoro masih ada. Keduanya dilindungi dengan dibuatkan almari kaca. Demikian pula dengan sejumlah cangkir dan teko serta dua buah kitab tharib. Sementara itu, meja kecil perundingan juga masih dibiarkan apa adanya. “Masih bisa dilihat di pojok kanan kiri meja itu, ada bekas goresan jari Pangeran Diponegoro ketika menahan amarah dalam proses perundingan itu”, katanya.
Kecuali itu, juga masih tersimpan bale.bale tempat Pangeran Diponegoro menjalankan ibadah sholat dan lukisan foto proses penangkapan Pangeran Diponegoro dan lukisan Pangeran Diponegoro menunggang kuda. Selama ini, kata Subiyanto, tidak ada satu pun pengunjung yang berani masuk tanpa melepas alas kaki. Bagaimana un, katanya, kamar itu masih keramat.
Seperti diketahui, perundingan yang berlangsung curang itu terjadi pada tanggal 28 Maret 1830. Pawit, petugas jaga museum kepada posmo menjelaskan, pada akhir bulan Februari 1830, sebenarnya Jendral de Kock sudah tiba di Magelang. Tetapi karena pada bulan itu masih bulan Ramadhan, Pangeran Diponegoro tak bersedia datang. Lalu diputuskan pada tanggal 25 Maret. Pangeran Diponegoro berangkat ke Magelang menaiki kuda Kiai Gentayu, diiring oleh istri selirnya yang setia, RAy Ratnaningsih dan putranya RM Raab, dan seorang penasejatnya bernama Kiai Baddarudin. Keberangkatan Pangeran Diponegoro itu disertai 100 pasukan.

Akhir Perang Jawa
Pawit mengatakan lagi, ruang yang digunakan untuk perundingan itu adalah ruang kerja Jendral de Kock. Dan, dalam perundingan itu putra Pangeran Diponegoro diperkenankan mengikuti jalannya perundingan. Sementara itu di pihak Belanda, ada Residen Kedu bernama Mayor Ajudan de Strure, Letkol Roest dan Kapten Roest. Sebenarnya, kata Pawit, sebelum perundingan itu berlangsung Belanda sudah sepakat berjanji untuk membiarkan Kanjeng Pangeran Diponegoro pulang dengan aman jika tidak ditemukan kata sepakat. Beberapa kesepakatan di antara Jendral de Kock sebelum perundingan itu berlangsung adalah, selama perundingan di Magelang Pangeran Diponegoro tetap dalam keadaan bebas dan merdeka, jika dalam perundingan tidak menghasilkan kesepakatan, Pangeran Diponegoro bebas kembali ke tempat yang dikehendaki untuk melanjutkan peperangan, dan selama perundingan Pangeran Diponegoro tidak akan menambah jumlah pasukannya, begitu pula sebaliknya.
Namun seperti diketahui bersama, kata Pawit, Belanda ingkar janji. Ketika Pangeran Diponegoro tak mau menyudahi perang dan menuntut kemerdekaan murni, Jenderal de Cock memberi kode agar pasukan Belanda merangsek masuk ke dalam ruang perundingan dan menangkap Pangeran Diponegoro. Maka, tertangkaplah Pangeran Diponegoro yang kemudian langsung dibawa ke Ungaran. Lalu, pada hari yang sama itu pula Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Gedung Karesidenan Semarang.
Pawit mengatakan, pada tanggal 5 April 1830 Pangeran Diponegoro dipindahkan lagi ke Benteng Batavia dengan menggunakan Kapal Pollux. Setibanya di Batavia pada tanggal 11 April 1830, Pangeran Diponegoro ditahan di Stadhuis yang sekarang ini menjadi Museum Fatahillah. Pada tanggal 30 April 1830, sambung Pawit lagi, Gubernur Jenderal Van Den Bosch menjatuhkan hukuman pengasingan dan Pangeran Diponegoro pun diasingkan ke Sulawesi sampai wafatnya. “Bangunan Residen Kedu ini sengaja dipertahankan untuk melestarikan nilai sejarahnya. Memang, sejumlah bangunan sudah banyak yang dipugar, seperti mushola yang kini sudah dibangun masjid besar di utara museum. Namun semua koleksi yang ada di museum tersebut semuanya adalah merupakan barang peninggalan Pangeran Diponegoro semasa berada di Karesidenan Kedu”, pungkasnya.

Petilasan Raden Basah Sentot Dikenal Gawat
Tak jauh dari Bakorwil II Eks Karisidenan Kedu dan Surakarta di Magelang, Jawa Tengah, terdapat sebuah cungkup makam keramat yang dipercaya sebagai petilasan Raden Ali Basah Sentot Prawiryodirjo. Makam itu berada di dekat Kali Progo yang mengalir di barat Museum Kamar Pengabdian Pangeran Diponegoro alias Bakorwil II Eks Karisidenan Kedu Surakarta. Raden Ali Basah Sentot adalah salah satu manggala yudha Pangeran Diponegoro yang dikenal sakti mandraguna.
Selama ini, Makam Raden Ali Basah Sentot Prawirodirjo dipercaya berada di Bengkulu. Kisahnya berawal ketika Raden Basah itu membelot dari Pangeran Diponegoro, dan memilih menjadi tentara bayaran kompeni Belanda. Raden Ali Basah lalu dikirim ke Sumatera Barat dengan tugas melawan pemberontakan Padri. Permintaan Raden Basah untuk kembali ke Jawa sesudah selesai Perang Padri tak dikabulkan oleh Belanda. Lalu ketika wafat pada 17 April 1855, Raden Basah dimakamkan di Bengkulu.
          Jauh sebelum terkena bujuk rayu kompeni Belanda, Raden Ali Basah Sentot merupakan salah satu senopati perang Pangeran Diponegoro yang sakti dan setia. Pada perundingan licik di Karisidenan Kedu, Raden Basah Sentot juga turut serta dalam rombongan. Menjadi lumrah, manakala kemudian tak jauh dari Karisidenen Kedu Surakarta tersebut terdapat makam yang dipercaya sebagai petilasan Raden Basah Sentot yang terkenal dengan sebutan Makom Mbah Basah.
          Kendati hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari Karisidenan Kedu Surakarta, Makom Mbah Basah sulit ditemukan. Letaknya berada di sudut selatan timur pedukuhan Kayuares, di bantaran Sungai Progo yang tersembunyi di balik hamparan luas persawahan desa setempat. Makom Mbah Basah terasa wingit, lantaran berada sendiri di tengah pojok desa yang sangat sepi. Sementara itu, pohon kamboja di belakangnya menghiasi cungkup makom yang berpagar keliling setinggi satu meter.
          Petilasan Ali Basah Sentot dibuatkan nisan dan bertuliskan namanya dalam huruf aksara Jawa. Sementara itu di pagar bagian depan cungkup makam bertuliskan nama sang juru kunci makam, Mbah Narko Bilowo. Memandang keluasan komplek Makam Mbah Basah di pekarangan kosong yang rimbun oleh semak dan pepohonan liar, membuat suasana pengepungan Belanda ketika terjadi proses perundingan antara Pangeran Diponegoro dengan Jendral De Kock bisa terasakan. Sangat mungkin, jika kemudian di tempat itu ada petilasan Raden Ali Basah Sentot yang ketika dalam perundingan memang turut serta mengiringi keberangkatan Pangeran Diponegoro.

Dikenal Angker
          Masih jarang orang mengetahui keberadaan Makom Mbah Basah. Warga setempat menyebutnya makom, yang berarti petilasan dan bukan makam yang berarti kuburan. Menurut Mbah Narko, Makom Mbah Basah ditemukan secara tidak sengaja. Ketika itu tahun 1968, ada seorang warga setempat bernama Mbah Wiryo yang tak berani pulang ke rumah lantaran kalah berjudi. Karena takut pulang itu, Mbah Wiryo memilih tidur di bawah pohon beringin besar di pinggir desa. Saking lelahnya, di tempat yang sebenarnya cukup membuat bulu kuduk merinding itu Mbah Wiryo terlelap tidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, Mbah Wiryo seperti mendengar suara yang menyuruhnya pulang dan bertobat.
Pada lain waktu, kejadian aneh kembali terjadi. Salah seorang warga kesurupan dan meminta diantarkan ke lokasi Makom Mbah Basah. Akibat kejadian itu, Mbah Wiryo lalu meyakini tempatnya bermalam ketika kalah berjudi memang merupakan petilasan tokoh sakti. Lalu dari kontak batin diketahui tempat itu merupakan petilasan Raden Basah Sentot Prawirodirjo. Mbah Wiryo kemudian memberinya tanda dengan membangunkan cungkup kecil dan dikeramatkan. Sejak itu, banyak orang berdatangan untuk bertirakat menyampaikan ujub. Dari sekian pelaku tirakat yang kabul ujubnya, dibangunlah petilasan Mbah Basah seperti yang terlihat sekarang.
          Mbah Narko mengatakan, tak ada pantangan untuk bertirakat di Makom Mbah Basah. Namun permintaan jelek seperti meminta nomor togel atau berjudi bisa mendatangkan walat. Menurutnya, sudah banyak pelaku tirakat yang meminta ujub perjudian berakhir dengan malapetaka. Kendati sampai kini masih banyak orang laku tirakat di Makom Mbah Basah, namun jarang warga di desa itu yang mengetahui keberadaan makom. Warga setempat lebih mengetahui tentang keberadaan watu pasujudan, yang berada di tengah aliran Kali Progo di barat Museum Kamar Pengabdian Pangeran Diponegoro.
Watu Pasujudan itu dianggap aneh, lantaran ketika banjir besar batu tersbut tidak tenggelam. Namun warga kini sudah mengetahui, tidak tenggelamnya watu pasujudan itu karena memang batu itu merupakan dataran kecil di tengah aliran Sungai Progo. Batu itulah petilasan Pangeran Diponegoro, yang ketika menjelang perundingan dibangun gubuk untuk bersembahyang. Batu itu sampai kini juga masih ada, dan hanya sejumlah orang tertentu saja yang berani laku tirakat di atas batu tersebut. KOKO T.


Perang Diponegoro 2


Perang Diponegoro 2
Perang Besar Berakhir Licik
Banyak pakar sejarah mengakui, Perang Jawa yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro merupakan perang rakyat pribumi melawan penjajah Belanda yang paling gemilang di awal abad XIX. Selama dalam kurun waktu 5 tahun, lebih dari 200.000 penduduk Jawa, 8.000 serdadu Belanda dan 7.000 prajurit pribumi tewas menjadi korban. Perang Diponegoro juga menyisakan kisah kesaktian sang pangeran dan para panglimanya.
Kedahsyatan Perang Diponegoro, telah menimbulkan begitu banyak kerugian di pihak Belanda. Laskar Diponegoro menjadi pasukan pribumi yang tidak terkalahkan. Tetapi, politik kotor Belanda menyudahinya. Secara tidak terhormat, Belanda menjebak Pangeran Diponegoro dalam sebuah perundingan di Karisidenan Kedu Surakarta, Magelang, Jawa Tengah. Tetapi sebelum penjebakan itu terjadi, pengkianatan yang melemahkan kekuatan perang Pangeran Diponegoro juga terjadi. Dua senopati perang Diponegoro yang paling gagah, Kiai Mojo dan Raden Ali Basah Sentot Prawirodirjo berkhianat.
          Ki Roni Sodewo mengatakan, semasa dalam perang itu seluruh keuangan yang diperlukan dipegang dan diatur oleh Pangeran Diponegoro. Suatu ketika, Raden Ali Basah Sentot meminta agar diperkenankan untuk memungut upeti sendiri dari rakyat dan menggunakannya untuk keperluan perang. Namun, pada kenyataannya Raden Basah justru lebih sering menarik upeti ketimbang memikirkan peperangan. “Belanda yang mengetahui lalu menangkapnya. Tetapi, Belanda yang licik menawari Raden Basah gaji yang besar, jika mau berperang di pihaknya. Raden Basah menyanggupi dan dikirimlah Raden Basah ke Bengkulu untuk memerangi pasukan Padri. “Tetapi, dalam perang itu Raden Basah juga membelot dan justru bergabung dengan Pasukan Padri. Jadi, Raden Basah itu mendapatkan gelar pahlawan nasional karena membela Padri. Namun dengan Pangeran Diponegoro, Raden Basah berkhianat”, kata Ki Roni.
           Sementara itu Kiai Mojo yang selama dalam masa jaya pertempuran menjadi senopati yang setia, juga tak luput dari godaan hawa nafsu kekuasaan. Ketika Pangeran Diponegoro berhasil menggempur Kesunanan Surakarta pada tahun 1827, Kiai Mojo meminta agar Pangeran Diponegoro segera mentasbihkan diri sebagai raja. Duduk di dampar kencono Kesunanan Surakarta dan jumeneng nata. Namun, Pangeran Diponegoro menolaknya. Sebab, bukan itu tujuan perangnya. “Kiai Mojo memang sangat berharap Pangeran Diponegoro menjadi raja, agar dirinya sendiri bisa menjadi Adipati di Kartosuro. Bahkan, Kiai Mojo juga membuatkan istana untuk Pangeran Diponegoro di desa Mutihan, Wates, Kulonprogo. Namun, itu pun ditolaknya. Pangeran Diponegoro menegaskan, tujuannya berperang bukan untuk menjadi raja atau pemimpin politik pemerintahan. Melainkan hanya ingin menjadi pemimpin agama dan mengusir kompeni Belanda dari tanah Jawa”, terang Ki Roni.

Muslihat Belanda
          Di tengah kegamangan para pengikutnya itu, sambung Ki Roni, perundingan damai di Karisdenan Kedu terjadi. Awalnya pada tanggal 16 Februari 1830, Kolonel Cleerens menemui Pangeran Diponegoro di Remo, Bagelen, Purworejo untuk mengajak berunding dan mengakhiri peperangan. Tawaran damai itu tentu saja diterima, dan dipastikan perundingan akan diadakan pada tanggal 28 Maret 1830. Tetapi sejak sebulan sebelumnya ketika dalam bulan puasa, Pangeran Diponegoro dan pasukannya sudah berada di kawasan Karisidenan Kedu. Di sebelah barat Karisidenan di bantaran Kali Progo, laskar Diponegoro membuat perkemahan. Sementara itu, Pangeran Diponegoro membuat gubuk di tengah batuan datar di tengah aliran Kali Progo. Di Gubuk itu Pangeran Diponegoro menjalankan ibadah sholat.
Batu datar di tengah Kali Progo itu kini dikenal sebagai Petilasan Pasujudan Pangeran Diponegoro. Sementara itu tidak jauh dari kawasan itu pula, terdapat petilasan Raden Ali Basah Sentot yang sudah dibuatkan cungkup. “Sebenarnya pada perundingan itu, niat Pangeran Diponegoro hanya untuk halal bi halal dengan Jendral de Kock. Sebab, saat itu adalah hari ketiga Idul Fitri. Jadi, meskipun saling bermusuhan hubungan Jenderal de Kock dan Pangeran Diponegoro terjalin baik. Sering berkirim surat dan berkomunikasi. Bahkan setiap bulan Ramadhan, Belanda memberi kesempatan kepada Pangeran Diponegoro untuk menjalankan ibadah puasa dan tidak berperang selama dalam bulan suci itu”, jelas Ki Roni.
Namun, tak dinyana Kolonel Du Perron mengkhianati perundingan itu. Pangeran Diponegoro yang tak mau menghentikan perlawanannya langsung ditangkap. Dalam Babad Diponegoro yang ditulis tangan sendiri oleh Pangeran Diponegoro, kata Ki Roni, saat itu Pangeran Diponegoro memang sengaja tidak melawan. Bahkan dalam babad itu, dituliskan seandainya saja mau, Pangeran Diponegoro bisa menusukkan kerisnya ke tubuh de Kock. Namun, Pangeran Diponegoro memikirkan nasib laskarnya yang tidak menyadari penyergapan licik itu. Sementara itu, seluruh Karisidenan Kedu telah dikepung pasukan Belanda. “Berakhirlah Perang Diponegoro itu dengan penangkapan licik. Pada saat itu Pangeran Diponegoro menitipkan putra-putrinya kepada Belanda, dan kemudian diserahkan kepada Keraton. Perang Jawa berakhir pada tanggal 28 Maret 1830 dalam perundingan licik di Karisidenan itu”, pungkas Ki Roni. KOKO T.

Perang Diponegoro 1

Jejak Perang Jawa Pangeran Diponegoro (1)
“Tebar Semangat Jihad Fisabilillah”

       Jauh sebelum negara ini terbentuk, perang melawan kompeni Belanda sudah berlangsung di banyak daerah di Nusantara. Dari sekian kisah perang itu, perlawanan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta menjadi sangat legendaris. Bahkan, pada suatu masa di era itu, Pangeran Diponegoro dimitoskan sebagai Sultan Heru Cakra.

JAUH sebelum zaman perang kemerdekaan RI, banyak tokoh ningrat dari beberapa kerajaan dan suku di Nusantara sudah berkali-kali terlibat perang melawan penjajahan Belanda. Di Yogyakarta, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang bertahta di Mataram Hadiningrat pada tahun 1613-1646 Masehi, tercatat pernah menggempur Belanda di Batavia Jakarta pada tahun 1625 Masehi. Sesudah itu pada zaman Sunan Mangku Rat I, pun Belanda juga tiada lupt dari perang suksesi tahta Raja-raja Mataram. Sampai pada akhirnya politik pecak belah devide et impera kolonial Belanda berhasil memecah Kerajaan Mataram menjadi empat. Dimulai dengan Perjanjian Giyanti 1755 Masehi yang memecah Kerajan Mataram menjadi Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Lalu, pada tahun 1757 Surakarta dipecah lagi dengan berdirinya Kadipaten Mangkunegara. Dan, Yogakarta dipecah pula dengan memunculkan Kadipaten Puro Paku Alaman pada tahun 1813 Masehi.
       Politik pecah belah Belanda terbukti manjur. Juga akal bulusnya yang selalu bisa menelikung para pejuang bangsa ini. Tidak kecuali, Pangeran Diponegoro yang terkenal sakti mandraguna. Putra Sultan HB III dari istri selir RAy Mangkorowati dari Pacitan, Jawa Timur itu terpaksa harus mengalah ketika ditipu dalam sebuah perundingan damai di Karisidenan Kedu dan Surakarta, Magelang, Jawa Tengah. Akibat tipu muslihat Belanda dalam perundingan pada tanggal 28 Maret 1830 Masehi itu, perang besar Pangeran Diponegoro yang oleh bangsa Belanda disebut Perang Jawa tersebut selesai.
        Tetapi, setelah hampir dua abad lamanya zaman itu berlalu, kisah besar Pangeran Diponegoro tetap dikenang. Bahkan menjadi kisah legendaris dan fenomenal dari sesosok priyayi Jawa yang hebat dalam menggelar strategi perang gerilya dengan semangat jihad fisabilillah. Pangeran Diponegoro menjadi fenomenal, lantaran spirit perjuangannya yang kental dengan jargon keislaman. Juga sarat dengan kepercayaan mistik Jawa yang membuatnya dipercaya sebagai Ratu Adil Heru Cakra. Di akhir masa kejayaan perangnya, Pangeran Diponegoro digelari Kanjeng Sultan Abdulhamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifatuloh. Gelar itu dianggap penyebab retaknya hubungan antara Pangeran Diponegoro dengan Kesultanan Ngayogyakarta. Sebab, dengan gelar itu Pangeran Diponegoro dianggap hendak mendirikan kerajaan sendiri. Akibat dari itu, Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta mengirimkan prajurit untuk membantu Belanda dalam memerangi Pangeran Diponegoro.

Awal Perang
       Retaknya hubungan antara Pangeran Diponegoro dengan kerabat keraton, telah membuat semua keturunan Pangeran Diponegoro dilarang masuk ke dalam keraton. Namun keretakan hubungan darah dalem Pangeran Diponegoro itu, sebenarnya adalah akibat ulah Belanda yang sengaja menerapkan politik adu domba di antara para pangeran. Politik kotor Belanda devide et impera, selalu digunakan pihak Belanda sejak zaman Sunan Mangku Rat I di Pleret untuk menyingkirkan para pangeran yang membahayakan kekuasaannya di Jawa.
       RH Heru Wahyukismoyo, MSi, pengajar ilmu budaya mataraman membabar, campur tangan kompeni Belanda terhadap pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta sudah terjadi sejak zaman Sultan HB I. Campur tangan pihak Belanda tersirat dalam setiap kebijakan dan peraturan kerajaan yang menguntungkan pihak Belanda. Bahkan, setiap pergantian raja pasca Sultan HB I, Belanda selalu ikut campur. Sultan pengganti raja dianggap tidak sah tanpa ada dukungan dari Belanda. Untuk lebih memecah kekuasaan raja, Belanda juga menempatkan seorang patih dalem yang sengaja dibuat untuk mengendalikan keputusan raja. Sedemikian dalam campur tangan pihak Belanda dalam setiap roda pemerintahan kerajaan, sehingga di kalangan para pangeran selalu ada ketegangan antara yang pro dan kontra dengan Belanda.
Ketegangan di antara para pangeran itu meruncing, ketika Sultan HB III mangkat pada tahun 1814 Masehi. Pangeran Jarot, putra mahkota Sultan HB III, saat itu masih berusia 10 tahun. Tetapi dengan dukungan pihak Belanda, Pangeran Jarot tetap diangkat sebagai raja pengganti. Belanda kemudian menetapkan Wali Kerajaan untuk mengampu sang raja yang masih muda itu untuk menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Wali Kerajaan itu dipimpin oleh adik kandung mendiang Sultan HB III dan Pangeran Diponegoro sebagai putra tertua Sultan HB III dari istri selir. Pada masa itulah kebencian Pangeran Diponegoro terhadap Belanda kian memuncak. Pasalnya, setiap kebijakan dan peraturan kerajaan yang disarankan oleh Wali Kerajaan tak pernah diindahkan oleh Belanda. Pada akhirnya Pangeran Diponegoro lebih memilih keluar dari istana. Tinggal di desa Tegalrejo, Yogyakarta, memperdalam ilmu agama dan menyepi dari kehidupan istana yang penuh intrik.
Namun, berada jauh di luar tembok istana tak membuat Pangeran Diponegoro bisa tenang. Sebaliknya, kebencian Pangeran Diponegoro semakin menjadi, tatkala Belanda semakin merongrong kekuasaan Sultan. Tahun 1822 Masehi ketika Sultan HB V jumeneng nata, Belanda memutuskan sistem pemerintahan kerajaan dijalankan oleh Patih Danurejo bersama Reserse Belanda. Tak khayal, Pangeran Diponegoro memprotes keras. Puncak kemarahan Pangeran Diponegoro tak terbendung lagi, manakala pada tahun 1825 Masehi Belanda membuat jalan yang menghubungkan Kota Yogyakarta dan Magelang melewati halaman rumahnya di Tegalrejo. Sontak saja, Pangeran Diponegoro geram dan naik pitam. Patok-patok jalan yang dipasang Belanda di halaman rumahnya dicabuti. Tak pelak, pun kemudian Belanda menggempur kediaman Pangeran Diponegoro. Tepat pada tanggal 20 Juli 1825, peristiwa pengepungan itu terjadi. Bersama keluarga dan laskar setianya, Pangeran Diponegoro untuk sementara waktu menyelamatkan diri. Sejak itu, perang gerilya Pangeran Diponegoro pun dimulai. KOKO T.

Makam Mbah Sambu Lasem



Jejak Sejarah Mbah Sambu di Kota Lasem

Putra Pangeran Benowo yang Berjasa Menumpas Perampok
Menyusuri pusat kota Lasem, Jawa Tengah, ada sebuah bangunan masjid yang cukup besar, indah, dan megah. Banyak yang berkunjung ke masjid tersebut untuk beribadah dan beristirahat sejenak. Ada juga yang memiliki tujuan khusus dengan berziarah ke makam salah satu tokoh legendaris di daerah yang terkenal dengan keindahan batik lasemnya. Berikut ini kisahnya.


Dengan penelusuran data, Mbah Sambu memiliki nama asli Sayyid Abdurrahman Basayaiban dan wafat 1671. Beliau adalah putra Pangeran Benawa, putra dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, raja dari Kerajaan Pajang, menantu Sultan Trenggono Raja Kerajaan Islam Demak.
Mbah Sambu dikenal berjasa dalam meredam aksi perompak yang menimbulkan kekacauan yang berlarut-larut di pusat kota Lasem. Wilayah Lasem saat itu meliputi Sedayu, Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara. Atas jasanya itu Mbah Sambu yang juga menantu Adipati Lasem diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang di Kec. Lasem sampai ke selatan di Kec. Pancur.
Mbah Sambu juga berhasil mengusir Kompeni VOC dari Rumah Gedong yang bermarkas di Kauman, Desa Karang Turi. Setelah kosong dikuasai Mbah Sambu memberi kesempatan menempati sementara kepada warga termasuk yang berstatus Boro (mencari kerja) selama tidak mampu membeli rumah atau kontrak. Sampai sekarang Rumah Gedong tua peninggalan abad 17 itu masih berdiri megah, masih ditempati beberapa kepala keluarga
Hingga akhir hayatnya dimakamkan di Lasem. Makamnya cukup dikeramatkan. Makam tersebut berada di dalam sebuah bangunan yang unik, indah, dan penuh karya artistik. Nuansanya juga cukup nyleneh, namun sungguh apik, arsitekturnya menyerupai bangunan ala tionghoa yang dipadu dengan budaya Jawa dengan begitu dinamis. Di dalam bangunan unik tersebut terdapat sebuah bangunan lagi berbentuk kubah dengan warna keemasan dan tembaga. Pada bagian pintunya terdapat sebuah papan nama bertuliskan, “Makam Mbah Sambu-Sayyid Abdurrohman”. Jika dirunut silsilahnya menyambung kepada Gus Dur, mantan Presiden RI.
Setelah memasuki ruang yang tidak begitu besar tersebut, terlihat taburan bunga-bunga pemakaman dan lembaran kain putih menyelubungi sebuah makam yang membuat suasana di dalam nampak kesakralannya. Di samping makam Mbah Sambu terdapat satu makam lagi yang berselubung kain putih, yakni makam istrinya Mbah Sambu. Nuansa sejuk terasa di dalam ruang makam ini karena digunakannya keramik yang berwarna hijau pada dinding dan lantainya.
Pemerintah seharusnya tanggap menetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Berbeda dengan makam yang disakralkan lainnya, makam ini cukup terbuka karena siapa pun bisa berkunjung dan memasuki ruang makam asalkan sopan dan bisa menjaga sikap. Tetapi yang jelas, ada aturan untuk mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan makam.
Tak jauh dari makam Sambu juga ada beberapa makam kuno lainnya yang juga dinaungi bangunan. Makam-makam itu juga sering menjadi tujuan wisata religi. Sayang, keaslian situs makam-makam kuno pudar karena bangunan makam yang sudah disemen dan dikeramik. Mungkin hal itu dilakukan karena demi faktor kebersihan dan kenyamanan bagi para peziarah.

Tradisi Tahunan
Ada sebuah tradisi tahunan di makam ini yaitu Haul Mbah Sambu untuk mengenang sejarah dan perjuangan Mbah Sambu. Kegiatan itu dipusatkan di kompleks Makam Mbah Sambu dan Masjid Agung Kota Lasem. Bebergai kegiatan diadakan untuk menyemarakkannya seperti karnaval budaya, Batik Lasem Festival, khitanan massal, istighotsah, napak tilas sejarah, pentas kesenian dan sebagainya.
Kegiatan berupa tahlil dan doa bersama untuk peringatan Haul Mbah Sambu pada tanggal 19 Oktober. Dalam catatan Cerita Sejarah Lasem gubahan R.P. Kamzah (1858 Masehi) dan ditulis ulang oleh R.P. Karsono (1920 Masehi), nama beliau adalah Syekh Maulana Sham Bwa Smarakandhi dan masyarakat sekitar akhirnya menyebut beliau dengan nama Mbah Sambu. Tetapi, dalam prasasti marmer berukuran kecil bertuliskan huruf Arab menyatakan bahwa nama asli beliau adalah Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayyid Abdurrahma Basyaiban.
Beliau berasal dari Tuban dan menetap di Lasem untuk kemudian berdakwah dan menjadi guru agama bagi masyarakat Lasem pada abad ke-15 Masehi. Karisma beliau begitu dikenal terutama bagi kalangan pesantren di Indonesia, khususnya di Jawa. Dari beliau jugalah Ulama-Ulama di Lasem lahir, sehingga sampai sekarang banyak sekali pondok-pondok pesantren di daerah Lasem. Sehingga Lasem juga dikenal dengan sebutan Kota Santri. Cahya