Senin, 11 Agustus 2014

Masjid Kendal Jateng


Masjid Agung Kendal, Jateng
Dibangun Wali Joko Sejak 1500 Masehi

Kendal merupakan kota kecil di jalur Pantura. Jika kita melintasi kota Kendal, pasti akan menemukan sebuah masjid yang terletak di tengah kota. Masjid itu didirikan oleh Wali Joko, yang hingga sekarang dikenal dengan nama Masjid Agung Kendal. Berikut laporan wartawan posmo.

Masjid Agung Kendal, Jawa Tengah yang terletak di Jalan Raya Barat (depan pusat perkantoran pemerintahan) Kendal dan merupakan masjid tertua di Kabupaten Kendal. Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1500 Masehi, atau tepatnya 1210 H.
Adanya makam di kompleks masjid, pada awalnya adalah rumah Wali Joko. Selain makam Wali Joko yang berada di depan sebelah selatan Masjid Agung, di belakang masjid juga terdapat dua makam ulama. Yaitu makam Kiai Abu Sujak yang di era 1800-an adalah penghulu pertama Masjid Agung dan makam Wali Hadi yang meninggal pada 1930. Semasa hidup, Wali Hadi merupakan pengisi pengajian di masjid ini.
Seiring berjalannya waktu, masjid yang berdiri gagah di pusat Kota Kendal ini telah mengalami delapan kali renovasi. Hal ini memang disayangkan banyak pihak. Khususnya umat Islam pencinta sejarah Islam. Karena renovasi yang menghilangkan bentuk aslinya merupakan upaya penghilangkan jejek peninggalan penyebar Islam. Hal itu kemudian dimaklumi, mungkin pengurus masjid dulu itu tidak mengerti sejarah. Sehingga berani mengubah bentuk masjid bersejarah yang bernilai cagar budaya bagi umat Islam.
Dalam sejarah disebutkan masjid tersebut dibangun sekitar abad 15, yaitu pada zaman Kesultanan Demak. Masjid tersebut dibangun oleh Raden Suweryo atau biasa dikenal dengan Wali Joko yang pernah tinggal di Pulau Sperapat Juwana Kabupaten Pati. Kemudian menetap selamanya di Kendal.
Tidak banyak benda peninggalan yang dapat ditemui di masjid ini. Menurut catatan takmir masjid, sejarah hanya menyisakan maksurah atau tempat salat bagi bupati kala itu. Mimbar tempat khotbah berbahan kayu jati yang di bagian muka bertuliskan tahun 1210 yang terdapat di sebelah kiri mimbar, serta bergambar beduk dan penabuhnya.
Sejumlah peninggalan asli bangunan dari Wali Joko adalah 16 tiang penyangga masjid dengan masing-masing berdiameter 40 centimeter. Peninggalan asli lainnya yaitu kusen, jendela, dan daun pintu masjid. Tiang penyangga yang asli ada di bangunan utama, namun sekarang sudah dilapisi agar lebih kuat menjadi sekitar 60 cm. Sekarang total menjadi 80 tiang karena sudah ditingkat.
Bangunan awal Masjid Agung Kendal menyerupai Masjid Agung Demak, yakni tidak terdapat kubah, pada atapnya berbentuk seperti prisma. Luas bangunan waktu itu hanya 27x27 meter. Sedangkan atapnya terbuat dari sirap (susunan kayu tipis, red) yang bersusun tiga. Sekarang luasnya menjadi 50 x 50 meter persegi.
Atapnya juga sudah diganti dengan asbes. Tempat wudu berupa kolah pendem yang mendapat aliran air dari Sungai Kendal yang dibuat oleh Wali Joko sendiri, letak kolamnya ada di depan masjid sebelah selatan utara makam Wali Joko.
Di bulan suci, takmir Masjid Agung menyediakan makan dan minum untuk berbuka bagi semua lapisan masyarakat. Misalnya, para musafir yang kebetulan singgah di masjid itu. Selain melestarikan tradisi tersebut, di bulan Ramadan takmir masjid juga menggelar pengajian kitab kuning.
Banyak santri kalong atau santri pendatang mengaji di masjid ini setiap malamnya. Mereka datang dari beberapa wilayah di Kendal. Kitab kuning berisi uraian dan penjabaran para ulama yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Seperti di masjid-masjid umumnya, pada Ramadan juga diisi dengan kegiatan tadarus.

Nasi Bungkus Berkah
Kemudian pada bulan tertentu diadakan haul Wali Joko. Sebungkus nasi dengan lauk oseng-oseng dan telur, sudah menjadi ritual tahunan memperingati haul Wali Joko dan Wali Hadi, Pendiri Masjid Agung Kendal. Diceritakan oleh takmir masjid, demi mendapat sebungkus nasi di tradisi haul Wali Joko dan Wali Hadi, para peziarah memadati makam Wali Joko di kompleks Masjid Agung Kendal. Mereka saling berebut dan dorong di depan pos satpam, padahal pembacaaan doa belum selesai. Tahun ini pihak panitia telah menyiapkan sekitar 2.000 nasi bungkus untuk dibagikan peziarah dalam rangka haul Wali Joko dan Wali Hadi.
Nasi bungkus tersebut dikatakan dapat membawa berkah bagi seseorang yang memakannya. Tidak hanya untuk orang yang sakit, nasi bungkus yang didapat akan ditabur di sawah agar hasil melimpah. Seorang warga, Ngatinem mengungkapkan bahwa dirinya mengaku rela berdesakan dan berebut nasi bungkus ini untuk mendapatkan berkah dari makanan tersebut.
Jumlah 2.000 nasi bungkus yang disediakan takmir masjid langsung habis dalam waktu kurang sepuluh menit. Selain dibawa pulang, banyak juga peziarah yang menikmati nasi bungkus di halaman Masjid Agung.
 “Nasi bungkus akan dibawa pulang dan akan diberikan kepada keluarga saya yang sakit. Diharapkan setelah memakan nasi bungkus ini penyakitnya bisa sembuh. Saya mempercayai hal itu,” urai KH Makmun Amin, takmir Masjid Agung Kendal Cahya


Rabu, 06 Agustus 2014

Situs Peninggalan Sendang Duwur Lamongan





Kekeramatan Sumur Giling Sunan Sendang Duwur di Lamongan, Jatim
----------------------------------------------------------------------------------------
Dibuat di Atas Bukit Amintuno

Keberadaan sumur gemuling ada diatas bukit. Sumur ini buatan Sunan Sendang Duwur atau  yang lebih dikenal dengan nama  Raden Noer Rochmat.  Sumur ini memiliki keunikan tersendiri dan keramat. Berikut ini laporan posmo. 

Sumur Giling mempunyai kedalaman 35 m di lengkapi dengan alat untuk mengambil  air yang di sebut Gilingan yang di pasang di atas lubang sumur. Menurut ceritanya setelah berhasil Raden Noer Rochmat  mendirikan masjid di puncak Gunung Amintuno, beliau kesulitan untuk mendapatkan air wudlu di sekitar.
Dalam semedinya, atas ijin Allah Raden Noer Rochmat di beri petunjuk ada asap kecil yang menjulang tinggi. Setelah di dekati ternyata ada sebuah pusaka yang menancap di tanah. Kemudian tanah itu di gali hingga keluar airnya. Lalu pusaka itu di beri nama Sumber Wangun Wati
Kemudian Raden Noer Rochmat ketika membuka lahan pertaniannya, beliau kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan pertanian tersebut, untuk mengairi tanamannya beliau membuat sebuah sumur. Raden Noer Rochmat  merasa senang karena sumur tersebut juga bisa di manfaatkan oleh penduduk sekitar.
Masyarakat gembira dengan adanya sumur tersebut. Karena selama ini mengalami kesulitan air. Sunan Sendang Duwurlah yang memberi pertolongan kepada masyarakat sekitar. Sehingga tidak mengalami kesulitan air lagi, baik untuk keperluan kebutuhan sehari-haru maupun lahan pertanian.
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, sebab banyak kejadian yang membuat Raden Noer Rochmat menjadi sedih dan merasa berdosa. Salah satu kejadiannya yaitu ketika didesa itu punya acara hajatan sapi yang akan di sembelih tiba-tiba menjadi kebal. Sehingga tidak bisa di potong.
Akibatnya sapi tersebut di tusuk sama pohon rontal/siwalan. Sehingga sumur itu di tutup dengan batu gilang dan di atasnya di tanami pohon jangkang yang sampai sekarang tempat itu terkenal dengan sebutan sumur jangkang. Hany saja  orang-orang  jarang yang berani mendekati sumur tersebut. Jika mendekat dan mengambil airnya kalau  ada keperluan saja. Mengingat sumur itu telah dikeramatkan
Sumur sedalam 35 meter itu terletak di atas bukit.  Warga dan peziarah meyakini sumur ini memiliki keistimewaan. Pasalnya, di ketinggian bukit yang mencapai 70 meter dari permukaan tanah, terdapat sumur yang mengeluarkan air melimpah. Padahal, di daerah di bawah perbukitan sering kesulitan air.
Untuk mengambil air di dalam sumur, Sunan Sendang Duwur membuat gilingan dari kayu.
Gilingan kemudian dilengkapi tali. Di depan gilingan, tepatnya di kanan dan kiri, dibuatkan tempat duduk. Ketika gilingan itu diputar, maka tali yang dipasang akan mengangkat dan menurunkan timba.   ”Jadi sambil duduk, kaki kita menggerakkan gilingan seperti mengayuh sepeda.” kata Syaifullah.

Ritual Mandi Air
Sumur itu kini dijaga warga setempat bernama Alim. Pria berusia 50-an tahun itulah yang duduk di kursi dan mengayuhkan kakinya ke alat penggilingan untuk menimba air. Belakangan ini, Alim sering sekali mendapatkan order menimba air sumur untuk para caleg.
Terakhir, pada akhir pekan lalu Alim melayani seorang caleg partai besar yang bertarung memperebutkan kursi DPR RI. Menurut juru kunci makam, Syaifullah, banyak caleg yang datang untuk menjalani ritual mandi di sumur tua itu. Tepat di sebelah sumur, terdapat kamar mandi. Ada lubang di dinding kamar mandi. Air dari sumur, dialirkan ke dalam bak di kamar mandi melalui lubang itu.
Si caleg itu datang tengah malam. Selain alasan lebih khusyuk, agar tidak menarik perhatian warga dan peziarah lain. Ritual mandi air sumur itu diyakini para caleg bisa membersihkan diri mereka dari kesialan. Mereka percaya, air sumur giling ini bisa memudahkan mereka menduduki kursi wakil rakyat.
Makanya,  sekalipun air dan suhu perbukitan cukup dingin, para caleg tidak mempedulikannya. ”Biasanya yang menyuruh mandi itu penasihat spiritual caleg. Jadi, kami di sini hanya
Pria yang juga keturunan  Sunan Sendang Duwur itu mengatakan, setelah ritual mandi, para caleg ini biasanya naik ke bukit untuk berdoa di areal inti makam Sunan Sedang Duwur. Mereka membaca doa atau berdiam diri mulai pukul 01.00 sampai 03.00. Doa yang dipanjatkannya pun bermacam-macam.
Hanya saja Syaifullah sudah mewanti-wanti agar para caleg dan rombongannya itu tidak berbuat yang aneh-aneh selama di areal makam. “Saya sudah katakan jangan sampai aneh-aneh atau mendekati kesyirikan. Kalau ketahuan, saya langsung tegur. Di dalam makam saya juga sudah buat tulisan besar agar para peziarah selalu berdoa dan meminta kepada Allah, bukan ke makam,” kata bapak dua anak itu. Gamal Ayatullah




makam Sunang Geseng




                                         Makam Kanjeng Sunan Geseng di Bantul Yogyakarta

                                            Sarana  Tempat Tirakat Para Santri

  1. Syiar Islam Wali Songo bermula dari tlatah pesisir utara. Lambat-laun menyebar ke pesisir selatan, lantaran syiar para wali yang mengembara dari daerah satu ke daerah lain. Jejak syiar Islam para wali meninggalkan banyak  makam-makam keramat.Di antaranya, makam Sunan Geseng di Piyungan, Bantul Yogyakarta. Berikut ini  laporan posmo
     
  2. Pedukuhan Srimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta, merupakan daerah pertanian yang subur. Areal persawahan berhektar-hektar masih bisa disaksikan di sepanjang jalan menuju bukit tinggi tempat Makam Sunan Geseng berada. Bukit besar yang merupakan bagian dari perbukitan seribu Gunung Kidul itu menjadi batas wilayah desa Piyungan sebelah selatan. Warga sekitar percaya, kesuburan tanah di desa itu tak lepas dari berkah Kanjeng Sunan Geseng. Karena itu, setiap habis masa panen masyarakat setempat mengadakan syukuran dengan kenduri massal di komplek Makam Sunan Geseng.

  3. Tak berlebihan, jika Makam Sunan Geseng di desa Piyungan itu dikeramatkan. Cukup banyak orang yang dating berziarah, baik masyarakat umum maupun para santri-santri. Mereka melakukan tirakat selama beberapa hari..

  4. “Sudah dua bulan saya bertirakat di makam Sunan Geseng. Malam berdzikir dan wirid, siang harinya mengaji sampai khatam. Dua bulan ini saya sudah khatam Quran enam kali rasanya senang sekali.Tirakat di Makam Sunan Geseng,  biasanya dilakukan selama 40 hari atau lebih. Kalau belum mendapat ilham, biasanya peziarah belum akan pulang. Saya sendiri  sudah mendapat ilham dua kali,”ujar Hafidz..

  5.  Selama di makam Sunan Geseng ia  melihat penampakan Kanjeng Sunan Geseng yang wajahnya sangat halus seperti tak ada pori-porinya dan bersinar. Waktu itu Kanjeng Sunan mengatakan, orang di dunia ini hanya memikirkan umur. Peringatan dari Kanjeng Sunan, bahwa orang di dunia ini hanya memikirkan perkara duniawi saja. Sebab, umur itu dari kata bahasa Arab, umurun, yang berarti perkara.

  6. Sedangkan ilham kedua berkaitan dengan tujuan saya. Ini rahasia. Tetapi, tujuan saya tirakat adalah untuk belajar dari kehidupan. Kiai Guru saya berpesan, bertirakat di Makam Sunan Geseng ini agar saya bisa menjadi kiai dan mendirikan pesantren sendiri. Belajar dari para leluhu

  7. Kisah syiar Islam Wali asal Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah itu sangat legendaris. Seperti yang sudah mafum diketahui umum, Sunan Geseng adalah murid Kanjeng Sunan Kalijaga. Kesaktiannya sangat tinggi.

  8. Bahkan sebelum menjadi wali, Sunan Geseng yang semula bernama Cokrojoyo itu sudah terkenal gentur laku tirakat. Ketika orang kesulitan mencari nira sebagai bahan membuat gula kelapa, Cokrojoyo tak pernah kekurangan nira. Mantra yang selalu ditembangkan setiapkali hendak memanjat pohon kelapa membuat nira yang diperolehnya senantiasa melimpah.

  9. Muhammad Hafidz (30), pelaku tirakat di Makam Sunan Geseng yang ditemui posmo pekan kemarin, mengungkap, sudah sejak kecil Cokrojoyo dikenal gentur laku tirakat dan menjalani hidup sebagai pembuat gula kelapa. Namun, kehidupannya berubah total setelah pertemuannya dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Cokrojoyo terpikat oleh kesaktian Kanjeng Sunan Kalijaga yang bisa merubah setangkup gula kelapa menjadi emas.

  10. Kisah Sunan Geseng yang sudah populer menceritakan, ketika itu Cokrojoyo sedang membuat gula kelapa sembari melantunkan tembang. Sunan Kalijaga yang belum dikenalnya datang dan menanyakan maksud dari tembang yang dilantunkan oleh Cokrojoyo itu.

  11. Dengan yakinnya, Cokrojoyo mengatakan kalau tembang yang dilantunkannya itu adalah mantra yang bisa membuat gula aren buatannya bagus dan berlimpah. Namun, Sunan Kalijaga menyangkal. Tidak terima disangkal, Cokrojoyo lalu meminta Sunan Kalijaga membuktikan kesaktiannya.

  12.  

  13. Murid Sunan Kalijogo

  14. Lalu, terjadilah peristiwa setangkup gula aren menjadi emas lantaran sabda Kanjeng Sunan Kalijaga. Cokrojoyo yang terkejut melihat gula kelapa menjadi emas, segera memburu Kanjeng Sunan Kalijaga untuk berguru.Cokrojoyo akhirnya diterima menjadi murid Kanjeng Sunan Kalijaga. Sejak itu, Cokrojoyo mengikuti Kanjeng Sunan Kalijaga untuk berguru sembari menyebarkan Islam.

  15. Suatu ketika Kanjeng Sunan Kalijaga hendak pamit pergi ke Demak Bintoro, dan Cokrojoyo diperintahkan menunggui tongkatnya di tengah hutan. Patuh dengan perintah sang guru, Cokrojoyo segera duduk bersila di depan tongkat Kanjeng Sunan. Sementara itu, Kanjeng Sunan segera pergi ke Demak.

  16. Kanjeng Sunan baru ingat kalau meninggalkan Cokrojoyo bertapa di tengah hutan setelah tiga tahun kemudian. Kanjeng Sunan segera mencarinya. Tetapi, hutan tempat Cokrojoyo bertapa sudah sangat lebat. Kanjeng Sunan lalu memutuskan mencarinya dengan cara membakar semak belukar yang sangat lebat. Anehnya, Cokrojoyo tidak ikut terbakar. Kanjeng Sunan mendapati Cokrojoyo sedang bersujud di hadapan tongkatnya. Kanjeng Sunan lalu mencabut tongkatnya dan segera membawa Cokrojoyo ke sebuah sendang.

  17. Sekarang, sendang tempat memandikan Cokrojoyo itu dinamakan Sendang Panguripan atau Sendang Banyu Urip. Berada di dekat Kali Oya desa Dlingo, Bantul, sebelah selatan desa Srimulyo. Di desa Dlingo itu, kata Hafidz, ada sebuah pedukuhan bernama Mulad. Dari kata mulad-mulad yang berarti api yang berkobar-kobar.

  18. Mungkin pedukuhan Mulad itu tempat Cokrojoyo bertapa dan dibakar. Dan, sesudah mandi di Sendang Panguripan Cokrojoyo ditasbihkan menjadi wali dengan gelar Sunan Geseng.Kisah perjalanan Cokrojoyo sampai menjadi wali, menjadi inspirasi bagi banyak santri di banyak daerah. Ziarah ke makam Sunan Geseng merupakan perintah dari gurunya di sebuah pesantren di Boyolali.  KOKO T.

  19.  

Rabu, 11 Juni 2014

Kesultanan Demak Beri Gelar Kekerabatan




Gelar Budaya Kesultanan Glagahwangi Dhimak di Demak

Penganugrahan Gelar Kekerabatan
Pagelaran Budaya Kesultanan Demak yang diadakan DYMM Sultan Suryo Alam Raja Demak akan digelar pada Rabu dan Kamis, 5-6 Juni 2014 di Balai Witono Karaton Glagahwangi Dhimak Jl Pangeran Demak 100 Demak, Jawa Tengah. Berikut ini laporan posmo.

Gelar Budaya tahun 2014 ini dimulai pada Rabu (4/6) dengan acara selamatan dengan tujuan agar proses Gelar Budaya Kesultanan Demak berjalan dengan lancar. Mengingat acara tersebut sangat penting. Karena rencananya akan dihadiri para raja, sultan se-Indonesia, presiden, dan capres serta cawapres.
Kehadiran tokoh-tokoh penting negara seperti Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Calon Presiden Prabowo dan Jokowi diharapkan Indonesia nantinya menjadi tenteram dan damai dalam pagelaran demokrasi. Karena di acara gelar budaya Kesultanan Demak bersifat independen dalam Pilpres mendatang. Tujuannya menjaga netralitas.
“Ya, kita pada posisi independen tidak memihak. Kami mengundang presiden dan calon presiden dalam rangka ikut serta melestarikan budaya bangsa. Sehingga nantinya kalau kedua calon presiden yang sedang berkampanye, jika nanti jadi presiden akan memajukan budaya Indonesia,” ujar DYMM Sultan Suryoalamsyah Joyokusumo dengan tersenyum.
Kemudian Kamis malam Jumat, (5/6) diadakan Gelar Budaya 2014 Karaton Glagahwangi Dhimak mulai pukul 16.00 wib sampai selesai. Dalam acara ini digelar Pementasan Tarian Tradisional/Kabudayaan, Wedar DYMM Sri Sultan Suryoalam Joyokusumo, Penganugerahan Gelar Kerabat Keraton, Kethoprak, Barongan, Wayangan Ruwatan Bumi Nusantara.
“Kami mengadakan gelar Budaya Kesultanan Demak ini merupakan even tahunan. Kita buat lebih bersemangat guna mengembangkan seni budaya. Sehingga budaya Kesultanan Demak akan tetap terus ada di tengah-tengah masyarakat. Apalagi tahun ini Capres kita undang untuk hadir dalam rangka pengenalan budaya Kesultanan Demak,” ujar KP.H. Fadhil Mansyurrudin P, S.H. M.H. didampingi sekretaris panitia KRMAT Kusmanto Yudhonegoro.
Adapun susunan acara yang digelar pada Kamis, 6 Juni 2014 mendatang dimulai pukul 10.30-19.00 wib melantunkan gending-geding Jawa untuk menyemarakkan suasana Balai Witono Kesultanan Demak. Kemudian pukul 19.00-19.00 wib tamu undangan memasuki Balai Witono. Tamu undangan memasuki Balai Witono. Rombongan presiden, pejabat, raja/sultan, dan tamu VIP dengan diiringi cucuk lampah disambut oleh DYMM Sri Sultan Suryoalam Joyokusumo.
Sebagai acara inti, pukul 19.00-19.40 wib menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pukul 19.40-20-00 pembacaan ayat suci Alquran. Pukul 20.00-20.30 Tari Gambyong. Pukul 20.30-20.50 Wedar DYMM Sri Sultan Suryoalam Joyokusumo. Pukul 20.50-21.30 wib diisi acara sambutan dari perwakilan raja, gubernur, Bupati Demak, Presiden Republik RI.
Pada pukul 21.30-21.45 penyerahan cinderamata. Pukul 21.45-22.05 tarian tradisional Glagahwangi Dhimak dan pertunjukan silat. Pukul 22.05-22.50 wib penganugerahan gelar kekerabatan didahului pembacaan Surat Keputusan diiringi gending-gending Jawa. Penganugerahan gelar kekerabatan ini diberikan kepada Calon Presiden yang sedang bertarung secara damai memperebutkan kursi kepresidenan setelah Presiden Susilo Bambang Yudoyono meletakkan jabatannya.
Kemudian dilanjutkan pembacaan doa. Setelah itu pada 23.00-23.05 diadakan penyerahan wayang dan lakon dilanjutkan jamuan makan malam dengan diiringi gending. Pada 23.05 diadakan pagelaran Wayang Purwo. Pada makan malam ini diikuti oleh para sultan, raja, dan capres yang datang.

Wujudkan Perdamaian
Tahun 2014 di acara Gelar Budaya Kesultanan Demak ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena tahun ini lebih meriah dan didukung para panitia yang berjumlah banyak. Di antaranya sebagai Pembina dan Penasihat adalah Sinuhun Prabu Nata XI, Laksda (Pur) KP. Budi Harjo Wira Samudra, Irjen (Pur) Drs. Chaerul Rasyid, S.H., M.H., Dr. KP. Suparjono, KRHT. Widi (Abah Sulton) LSM Tajam dan KP. Joyopuspo. Penanggung Jawabnya DYMM Sri Sultan Suryoalam Joyokusumo
“Kemudian diperkuat tokoh penting yaitu sebagai ketua KP. H. Fadhil Mansyurrudin P., S.H., M.H, wakil ketua KRHT Supriyono, S.Sos, Sekretaris KRMAT Kusmanto Yudhonegoro, wakil sekretaris KRT. Triwinarto AP SI, Bendahara I Gusti Ratu Sri Kumayati, SE, RMT Umaryono, RMT Mustain, dan masih banyak lagi seksi-seksi yang cukup penting tidak dapat kami sebutkan di sini,” ujar KP. H. Fadhil Mansyurrudin P., S.H., M.H.
Seluruh panitia memang berharap pada acara Gelar Budaya Kesultanan Demak berjalan dengan sukses. Karena acara yang digelar menjunjung tinggi kebudayaan dan perdamaian sesama anak bangsa yang sebentar lagi ada pemilihan presiden. Sehingga jalannya pilpres mendatang benar-benar aman dan damai. Siap menang dan siap kalah.
“Pagelaran Budaya Kesultanan Demak memang sangat penting. Tidak bisa dipisahkan antara agama, ulama, dan umaroh serta budaya. Contohnya Walisongo masuk ke Jawa tidak mengubah budaya. Sehingga aman dan tenteram. Begitupula cara gelar budaya saat ini mengundang Prabowo dan Jokowi tujuannya biar negara kondusif,” ungkap Abah Sulton, salah satu penasihat Gelar Budaya karaton Glagahwangi Dhimak. HUSNU MUFID