Kamis, 16 Oktober 2014

Perang Diponegoro 1

Jejak Perang Jawa Pangeran Diponegoro (1)
“Tebar Semangat Jihad Fisabilillah”

       Jauh sebelum negara ini terbentuk, perang melawan kompeni Belanda sudah berlangsung di banyak daerah di Nusantara. Dari sekian kisah perang itu, perlawanan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta menjadi sangat legendaris. Bahkan, pada suatu masa di era itu, Pangeran Diponegoro dimitoskan sebagai Sultan Heru Cakra.

JAUH sebelum zaman perang kemerdekaan RI, banyak tokoh ningrat dari beberapa kerajaan dan suku di Nusantara sudah berkali-kali terlibat perang melawan penjajahan Belanda. Di Yogyakarta, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang bertahta di Mataram Hadiningrat pada tahun 1613-1646 Masehi, tercatat pernah menggempur Belanda di Batavia Jakarta pada tahun 1625 Masehi. Sesudah itu pada zaman Sunan Mangku Rat I, pun Belanda juga tiada lupt dari perang suksesi tahta Raja-raja Mataram. Sampai pada akhirnya politik pecak belah devide et impera kolonial Belanda berhasil memecah Kerajaan Mataram menjadi empat. Dimulai dengan Perjanjian Giyanti 1755 Masehi yang memecah Kerajan Mataram menjadi Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Lalu, pada tahun 1757 Surakarta dipecah lagi dengan berdirinya Kadipaten Mangkunegara. Dan, Yogakarta dipecah pula dengan memunculkan Kadipaten Puro Paku Alaman pada tahun 1813 Masehi.
       Politik pecah belah Belanda terbukti manjur. Juga akal bulusnya yang selalu bisa menelikung para pejuang bangsa ini. Tidak kecuali, Pangeran Diponegoro yang terkenal sakti mandraguna. Putra Sultan HB III dari istri selir RAy Mangkorowati dari Pacitan, Jawa Timur itu terpaksa harus mengalah ketika ditipu dalam sebuah perundingan damai di Karisidenan Kedu dan Surakarta, Magelang, Jawa Tengah. Akibat tipu muslihat Belanda dalam perundingan pada tanggal 28 Maret 1830 Masehi itu, perang besar Pangeran Diponegoro yang oleh bangsa Belanda disebut Perang Jawa tersebut selesai.
        Tetapi, setelah hampir dua abad lamanya zaman itu berlalu, kisah besar Pangeran Diponegoro tetap dikenang. Bahkan menjadi kisah legendaris dan fenomenal dari sesosok priyayi Jawa yang hebat dalam menggelar strategi perang gerilya dengan semangat jihad fisabilillah. Pangeran Diponegoro menjadi fenomenal, lantaran spirit perjuangannya yang kental dengan jargon keislaman. Juga sarat dengan kepercayaan mistik Jawa yang membuatnya dipercaya sebagai Ratu Adil Heru Cakra. Di akhir masa kejayaan perangnya, Pangeran Diponegoro digelari Kanjeng Sultan Abdulhamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifatuloh. Gelar itu dianggap penyebab retaknya hubungan antara Pangeran Diponegoro dengan Kesultanan Ngayogyakarta. Sebab, dengan gelar itu Pangeran Diponegoro dianggap hendak mendirikan kerajaan sendiri. Akibat dari itu, Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta mengirimkan prajurit untuk membantu Belanda dalam memerangi Pangeran Diponegoro.

Awal Perang
       Retaknya hubungan antara Pangeran Diponegoro dengan kerabat keraton, telah membuat semua keturunan Pangeran Diponegoro dilarang masuk ke dalam keraton. Namun keretakan hubungan darah dalem Pangeran Diponegoro itu, sebenarnya adalah akibat ulah Belanda yang sengaja menerapkan politik adu domba di antara para pangeran. Politik kotor Belanda devide et impera, selalu digunakan pihak Belanda sejak zaman Sunan Mangku Rat I di Pleret untuk menyingkirkan para pangeran yang membahayakan kekuasaannya di Jawa.
       RH Heru Wahyukismoyo, MSi, pengajar ilmu budaya mataraman membabar, campur tangan kompeni Belanda terhadap pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta sudah terjadi sejak zaman Sultan HB I. Campur tangan pihak Belanda tersirat dalam setiap kebijakan dan peraturan kerajaan yang menguntungkan pihak Belanda. Bahkan, setiap pergantian raja pasca Sultan HB I, Belanda selalu ikut campur. Sultan pengganti raja dianggap tidak sah tanpa ada dukungan dari Belanda. Untuk lebih memecah kekuasaan raja, Belanda juga menempatkan seorang patih dalem yang sengaja dibuat untuk mengendalikan keputusan raja. Sedemikian dalam campur tangan pihak Belanda dalam setiap roda pemerintahan kerajaan, sehingga di kalangan para pangeran selalu ada ketegangan antara yang pro dan kontra dengan Belanda.
Ketegangan di antara para pangeran itu meruncing, ketika Sultan HB III mangkat pada tahun 1814 Masehi. Pangeran Jarot, putra mahkota Sultan HB III, saat itu masih berusia 10 tahun. Tetapi dengan dukungan pihak Belanda, Pangeran Jarot tetap diangkat sebagai raja pengganti. Belanda kemudian menetapkan Wali Kerajaan untuk mengampu sang raja yang masih muda itu untuk menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Wali Kerajaan itu dipimpin oleh adik kandung mendiang Sultan HB III dan Pangeran Diponegoro sebagai putra tertua Sultan HB III dari istri selir. Pada masa itulah kebencian Pangeran Diponegoro terhadap Belanda kian memuncak. Pasalnya, setiap kebijakan dan peraturan kerajaan yang disarankan oleh Wali Kerajaan tak pernah diindahkan oleh Belanda. Pada akhirnya Pangeran Diponegoro lebih memilih keluar dari istana. Tinggal di desa Tegalrejo, Yogyakarta, memperdalam ilmu agama dan menyepi dari kehidupan istana yang penuh intrik.
Namun, berada jauh di luar tembok istana tak membuat Pangeran Diponegoro bisa tenang. Sebaliknya, kebencian Pangeran Diponegoro semakin menjadi, tatkala Belanda semakin merongrong kekuasaan Sultan. Tahun 1822 Masehi ketika Sultan HB V jumeneng nata, Belanda memutuskan sistem pemerintahan kerajaan dijalankan oleh Patih Danurejo bersama Reserse Belanda. Tak khayal, Pangeran Diponegoro memprotes keras. Puncak kemarahan Pangeran Diponegoro tak terbendung lagi, manakala pada tahun 1825 Masehi Belanda membuat jalan yang menghubungkan Kota Yogyakarta dan Magelang melewati halaman rumahnya di Tegalrejo. Sontak saja, Pangeran Diponegoro geram dan naik pitam. Patok-patok jalan yang dipasang Belanda di halaman rumahnya dicabuti. Tak pelak, pun kemudian Belanda menggempur kediaman Pangeran Diponegoro. Tepat pada tanggal 20 Juli 1825, peristiwa pengepungan itu terjadi. Bersama keluarga dan laskar setianya, Pangeran Diponegoro untuk sementara waktu menyelamatkan diri. Sejak itu, perang gerilya Pangeran Diponegoro pun dimulai. KOKO T.

Makam Mbah Sambu Lasem



Jejak Sejarah Mbah Sambu di Kota Lasem

Putra Pangeran Benowo yang Berjasa Menumpas Perampok
Menyusuri pusat kota Lasem, Jawa Tengah, ada sebuah bangunan masjid yang cukup besar, indah, dan megah. Banyak yang berkunjung ke masjid tersebut untuk beribadah dan beristirahat sejenak. Ada juga yang memiliki tujuan khusus dengan berziarah ke makam salah satu tokoh legendaris di daerah yang terkenal dengan keindahan batik lasemnya. Berikut ini kisahnya.


Dengan penelusuran data, Mbah Sambu memiliki nama asli Sayyid Abdurrahman Basayaiban dan wafat 1671. Beliau adalah putra Pangeran Benawa, putra dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, raja dari Kerajaan Pajang, menantu Sultan Trenggono Raja Kerajaan Islam Demak.
Mbah Sambu dikenal berjasa dalam meredam aksi perompak yang menimbulkan kekacauan yang berlarut-larut di pusat kota Lasem. Wilayah Lasem saat itu meliputi Sedayu, Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara. Atas jasanya itu Mbah Sambu yang juga menantu Adipati Lasem diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang di Kec. Lasem sampai ke selatan di Kec. Pancur.
Mbah Sambu juga berhasil mengusir Kompeni VOC dari Rumah Gedong yang bermarkas di Kauman, Desa Karang Turi. Setelah kosong dikuasai Mbah Sambu memberi kesempatan menempati sementara kepada warga termasuk yang berstatus Boro (mencari kerja) selama tidak mampu membeli rumah atau kontrak. Sampai sekarang Rumah Gedong tua peninggalan abad 17 itu masih berdiri megah, masih ditempati beberapa kepala keluarga
Hingga akhir hayatnya dimakamkan di Lasem. Makamnya cukup dikeramatkan. Makam tersebut berada di dalam sebuah bangunan yang unik, indah, dan penuh karya artistik. Nuansanya juga cukup nyleneh, namun sungguh apik, arsitekturnya menyerupai bangunan ala tionghoa yang dipadu dengan budaya Jawa dengan begitu dinamis. Di dalam bangunan unik tersebut terdapat sebuah bangunan lagi berbentuk kubah dengan warna keemasan dan tembaga. Pada bagian pintunya terdapat sebuah papan nama bertuliskan, “Makam Mbah Sambu-Sayyid Abdurrohman”. Jika dirunut silsilahnya menyambung kepada Gus Dur, mantan Presiden RI.
Setelah memasuki ruang yang tidak begitu besar tersebut, terlihat taburan bunga-bunga pemakaman dan lembaran kain putih menyelubungi sebuah makam yang membuat suasana di dalam nampak kesakralannya. Di samping makam Mbah Sambu terdapat satu makam lagi yang berselubung kain putih, yakni makam istrinya Mbah Sambu. Nuansa sejuk terasa di dalam ruang makam ini karena digunakannya keramik yang berwarna hijau pada dinding dan lantainya.
Pemerintah seharusnya tanggap menetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Berbeda dengan makam yang disakralkan lainnya, makam ini cukup terbuka karena siapa pun bisa berkunjung dan memasuki ruang makam asalkan sopan dan bisa menjaga sikap. Tetapi yang jelas, ada aturan untuk mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan makam.
Tak jauh dari makam Sambu juga ada beberapa makam kuno lainnya yang juga dinaungi bangunan. Makam-makam itu juga sering menjadi tujuan wisata religi. Sayang, keaslian situs makam-makam kuno pudar karena bangunan makam yang sudah disemen dan dikeramik. Mungkin hal itu dilakukan karena demi faktor kebersihan dan kenyamanan bagi para peziarah.

Tradisi Tahunan
Ada sebuah tradisi tahunan di makam ini yaitu Haul Mbah Sambu untuk mengenang sejarah dan perjuangan Mbah Sambu. Kegiatan itu dipusatkan di kompleks Makam Mbah Sambu dan Masjid Agung Kota Lasem. Bebergai kegiatan diadakan untuk menyemarakkannya seperti karnaval budaya, Batik Lasem Festival, khitanan massal, istighotsah, napak tilas sejarah, pentas kesenian dan sebagainya.
Kegiatan berupa tahlil dan doa bersama untuk peringatan Haul Mbah Sambu pada tanggal 19 Oktober. Dalam catatan Cerita Sejarah Lasem gubahan R.P. Kamzah (1858 Masehi) dan ditulis ulang oleh R.P. Karsono (1920 Masehi), nama beliau adalah Syekh Maulana Sham Bwa Smarakandhi dan masyarakat sekitar akhirnya menyebut beliau dengan nama Mbah Sambu. Tetapi, dalam prasasti marmer berukuran kecil bertuliskan huruf Arab menyatakan bahwa nama asli beliau adalah Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayyid Abdurrahma Basyaiban.
Beliau berasal dari Tuban dan menetap di Lasem untuk kemudian berdakwah dan menjadi guru agama bagi masyarakat Lasem pada abad ke-15 Masehi. Karisma beliau begitu dikenal terutama bagi kalangan pesantren di Indonesia, khususnya di Jawa. Dari beliau jugalah Ulama-Ulama di Lasem lahir, sehingga sampai sekarang banyak sekali pondok-pondok pesantren di daerah Lasem. Sehingga Lasem juga dikenal dengan sebutan Kota Santri. Cahya

Selasa, 16 September 2014

Makam Wali Gembyang Kendal






Kisah Syiar Islam Wali Gembyang, di Kendal, Jawa Tengah

Dikenal Wali yang Mandi Ucape
Wali Gembyang merupakan salah satu ulama terkenal penyebar agama Islam dan juga pendiri di Kabupaten Kendal. Oleh karena itu Wali Gembyang termasuk sosok yang dituakan di kabupaten ini. Beliau dimakamkan di Kelurahan Patukangan. Berikut laporan wartawan posmo.

Selain makam Wali Joko dan Wali Hadi, di Kabupaten Kendal juga terdapat makam seorang wali yang namanya cukup tersohor dan dituakan. Makam tersebut berjarak kurang lebih 1 kilometer dari Masjid Agung Kendal. Tepatnya di Kelurahan Patukangan, Kec. Kota Kendal, Kabupaten Kendal. Untuk menuju ke makam, peziarah bisa menaiki becak yang telah tersedia di depan masjid.
Setelah sampai di lokasi akan terlihat bangunan dengan ukuran sekitar 6x8 meter dengan papan nama bertuliskan “Makam Wali Gembyang”. Tidak jauh dari makam tersebut terdapat rumah penjaga makam atau juru kunci. Peziarah disarankan meminta izin terlebih dahulu jika ingin masuk atau berziarah karena ditakutkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang sudah-sudah.
Menurut penuturan Jayus Asrori selaku juru kunci, Konon Wali Gembyang merupakan sosok kiai pejuang yang memperjuangkan Kabupaten Kendal. Beliau juga merupakan seorang ulama yang memiliki kelinuwihan. Selain berjuang Wali Gembyang juga mensyiarkan ajaran Islam seperti yang dilakukan oleh para waliyullah.
Nah, sebelum berjuang di Kendal, rupanya Wali Gembyang telah terlebih dahulu mensyiarkan Islam di negara Cina. Cukup lama beliau hidup di Cina. Di sana beliau dipanggil dengan nama Han Byan. Padahal nama asli Wali Gembyang adalah Hamzah. Dari nama aslinya bisa disimpulkan bahwa beliau berasal dari negara Arab yakni Hamzah. Sedangkan Gembyang merupakan nama panggilan yang semula Han Byan.
Kemudian Beliau masuk ke Jawa dan sempat melakukan pertemuan dengan Sunan Kalijogo di Demak. Setelah itu Beliau diutus untuk menuju Kendal dan mengembangkan ajarannya. Sesampainya di Kendal Wali Gembyang benar-benar berjuang dan membantu mengembangkan Kabupaten Kendal dalam segala bidang.
Sekitar tahun 1628 Masehi, dalam perjuangan serta syiarnya, Wali Gembyang memiliki ribuan santri yang ikut dalam ajaran Toreqot Satariyah. Semasa hidupnya Wali Gembyang dikenal dengan sifatnya yang ramah, sederhana dan sopan. Namun dibalik itu semua beliau memiliki suatu kelinuwihan yang sungguh luar biasa.
Beliau dikenal dengan kesaktiannya saat berucap sumpah dalam beradu kebenaran..Karena apa yang diucapkan oleh Wali Gembyang atau ucapan orang lain yang beradu kebenaran, maka hal itulah yang bakal benar-benar terjadi, dalam bahasa Jawa sering disebut dengan “Mandi Ucape”. Sebab dahulu pernah ada kejadian yang benar-benar membuat kaget.
Ada sepasang suami istri yang sedang bertengkar datang ke makam Wali Gembyang. Sempat saya dengar mereka melakukan sumpah jika salah satu dari mereka akan menerima akibatnya jika berkata tidak benar. Tidak jauh melangkah dari makam sang suami langsung jatuh pingsan kemudian dibawa ke rumah juru kunci.
Setelah dibacakan berbagai macam doa, tiba-tiba sang suami tersadar dan langsung memeluk istrinya sambil mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Sejak itulah setiap peziarah yang baru sekali datang ke makam Wali Gembyang akan diberi tahu agar tidak berbicara kotor dan mengucapkan sumpah di areal makam.

Dilarang Bersumpah
Sebisa mungkin bagi orang yang memiliki masalah akan berusaha ditengahi terlebih dahulu oleh Jayus Asrori, baru bisa melanjutkan ziarah. “Tidak sedikit orang yang datang ke makam Wali Gembyang untuk melakukan sumpah-sumpahan,” ungkapnya.
Karena kekeramatannya inilah kemudian banyak peziarah yang berdatangan baik itu dari Kendal maupun dari luar kota Kendal. Bahkan tidak jarang ada yang menginap hingga berhari-hari dengan alasan ingin mencari karomah dari Mbah Gembyang.
 “Saya sering mengingatkan peziarah, jangan meminta kepada Mbah Gembyang, mintalah kepada Allah. Karena kita yang masih hidup tidak bisa meminta kepada orang yang sudah meninggal karena orang yang meninggal hanya bisa menerima doa kita yang masih hidup,” tutur lelaki yang sudah berusia 44 tahun ini.
Banyak sekali peziarah yang salah kaprah tentang hal ini. Banyak dari mereka yang meminta agar diberi keselamatan dunia dan akhirat, serta diberikan panjang umur, ditambah rezeki, dilunasi utang, bisa segera pergi haji, menjadi khusnul khotimah saat maut menjemput, dan lain sebagainya kepada Mbah Gembyang.
Berkali-kali pula sang juru kunci mengingatkan agar tidak salah arah. Walau dianggap keramat, makam tetaplah makam, dan di dalamnya hanya jasad orang yang sudah meninggal. Jadi jika menginginkan sesuatu ingatlah hanya kepada Allah SWT. Mereka yang sudah meninggal hanya sebagai penyambung saja.
Selain terkenal dengan kekeramatan akan ucapan, Wali Gembyang juga dikenal suka berkuda saat berjuang dan mensyiarkan agama. Hingga saat ini tidak jarang para peziarah yang kerap mendengar derap langkah kuda di sekitar makam. Padahal di Kelurahan Patukangan tidak ada satu pun penduduk yang memiliki kuda. Cahya

Kamis, 28 Agustus 2014

Sejarah Wali Joko Kendal




Sejarah Wali Joko di Kendal, Jateng (1)
Nyuswito kepada Sunan Bonang dan Kalijaga

Wali Joko merupakan salah satu santri Sunan Kalijaga yang ditugasi untuk menyebarkan agama Islam di sekitar Kendal. Wali Joko yang memiliki nama kecil Jaka Suwirya ini masih memiliki hubungan dengan Sunan Katong yang konon dimakamkan di Kaliwungu. Berikut ini laporan posmo.

Saat masih muda, Wali Joko bernama Pangeran Panggung. Beliau merupakan putra bungsu Prabu Kertabumi atau Prabu Brawijaya V dengan Permaisuri Dewi Murdaningrum (Candrawati), seorang putri dari Kerajaan Campa. Wali Joko masih memiliki hubungan darah dengan Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak Bintoro. Raden Patah adalah putra Prabu Kertabumi dengan Permaisuri putri Kerajaan Campa, Dewi Kian (Tan Bumi) dari tanah Canyu Thailand (Muangthai).
Saat masih kecil, Wali Joko menyandang nama Raden Joko Suwiryo, namun nama itu berubah menjadi sebutan Pangeran Panggung ketika beliau menginjak usia dewasa. Jika dilihat dalam segi usia, Raden Patah lebih tua daripada Pangeran Panggung. Beliau lahir tahun 1450 Masehi, sedangkan Batoro Katong 1457 Masehi dan Wali Joko (Pangeran Panggung) sendiri sebagai putra Kertabumi V putra ragil lahir 1463 Masehi.
Perjalanan hidup Wali Joko dimulai setelah berakhirnya kekuasaan kerajaan Majapahit yang kalah perang dengan kerajaan Kediri. Saat itu kerajaan Kediri di bawah kepemimpinan Prabu Girinda Wardana. Prabu Brawijaya V pun tersingkir dan melarikan diri menuju wilayah Bojonegoro, tepatnya di Desa Singorojo yang berada dibawah kaki Gunung Lawu.
Wali Joko Putra terakhir Kertabumi ikut terpental dengan ayahandanya. Beliau lari ke arah timur Tuban. Bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit, berdirilah kerajaan Islam yang didirikan oleh Raden Patah untuk pertama kalinya di Tanah Jawa, yakni kerajaan Demak. Setelah itu nama Raden Patah diabadikan dengan gelar Syekh Sultan Alam Akbar.
“Berbeda dengan Wali Joko, selama berada di tempat pengungsian, Wali Joko berkenalan dengan salah seorang murid Sunan Ampel yang bernama Syekh Maulana Magdum Ibrahim, seorang mubaligh di Desa Bonang-Tuban. Selama berada di Tuban, Wali Joko banyak belajar mengenai ajaran Islam dengan teman barunya,” ujar HM Makmun Amin Takmir Masjid Kendal.
Seiring berjalannya waktu, Wali Joko mendengar kabar bahwa di Desa Bintoro, Demak, telah berdiri sebuah kerajaan Islam yang didirikan oleh kakaknya, Raden Patah. Wali Joko pun langsung tertarik untuk segera pergi ke sana. Keinginannya untuk kembali bergabung dengan kakaknya seakan luapan air laut yang tidak terbendung membanjiri hati dan pikirannya. Sebab beliau ingin mendapatkan ketenangan batin dengan memperdalam ilmu agama.
Akhirnya dengan diantar oleh teman barunya yang juga guru sekaligus pembimbing agamanya. Syekh Maulana Magdum Ibrahim menuju ke Demak dan bertemu dengan Raden Patah. Setelah menyampaikan niatnya di hadapan kakaknya (R.Patah), Wali Joko diutus untuk berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Karena di situlah para mantan prajurit dan punggawa Majapahit nyuswito (nyantri), tidak terkecuali Raden Patah sendiri.
Setelah Nyuswito kepada Kanjeng Sunan Kalijaga, nama Pangeran Panggung diberi Laqab oleh Kanjeng Sunan dengan nama Syekh Rafi'udin. Hal tersebut dilakukan oleh Kanjeng Sunan untuk menakhidkan agar beliau menyadari bahwa setelah beberapa tahun nyantri, sudah waktunya untuk mendapatkan pengukuhan (wisuda).
Wali Joko pun diberikan izin oleh kanjeng Sunan Kalijaga untuk mengembangkan ilmu yang telah diperoleh selama nyantri. Hal ini semata-semata agar wali Joko sadar bahwa setelah diberikan nama baru dan nyucup ilmu sariat, makrifat hakikat, dia (R. Suwiryo) sekarang bukan Suwiryo sebagai punggowo projo atau prajurit Majapahit lagi, tetapi sudah berganti baju baru dengan Rafi'udin yang berarti penegak syariat agama Islam.

Berdakwah
Setelah mendapat izin serta restu dari Kanjeng Sunan, Wali Joko langsung berangkat untuk mengembangkan ilmunya dengan cara berdakwah. Beliau ditugaskan oleh Kanjeng Sunan untuk berdakwah di wilayah bagian Barat Semarang, yakni wilayah Kendal. Sesampainya di tempat tujuan, Wali Joko mula-mula menciptakan suasana lingkungan yang teduh, nyaman, dan indah dengan membangun sebuah tempat tinggal.
Dengan adanya tempat tinggal tersebut, Wali Joko berharap, masyarakat Kendal yang berkunjung ke rumahnya akan merasa senang, nyaman, dan akhirnya kerasan untuk tinggal berlama-lama di sana. Pertama Wali Joko mengajarkan tauhid pengenalan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pelajaran Aqo'id atau Aqidah ahlussunah Wal Jamaah.
Di samping Aqo'id juga mengajarkan Alquran, kemudian juga diajarkan Toriqoh Qodiriyah dan Naqshobandiyah. Ibarat pepatah, siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan pula. Tidak perlu waktu lama, Wali Joko memiliki sejumlah santri semakin hari murid-murid yang mengaji semakin banyak berdatangan dari berbagai desa. Konon meliputi daerah Gringsing (Batang) dan Kali Salak Limpung (Pekalongan).
Semakin hari semakin bertambah banyak, pondok Wali Joko pun sudah tidak muat untuk menampung para santri yang terus berdatangan. Satu-satunya jalan harus membangun masjid yang mampu menampung para santri. Maka dibangunlah masjid pada tahun 1493. Dibantu oleh para santrinya, Wali Joko kemudian membangun sebuah masjid, sarana perhubungan, saluran irigasi, dan masih banyak lagi.
Kala itu usia Wali Joko sekitar 30 tahun. Bangunan masjid yang pertama dengan ukuran 27 x 27 meter, terdiri 16 saka atapnya bersusun 3 dibuat dari sirap. Lantai plaster tempat wudu berupa kolah pendem yang mendapat aliran air dari Sungai Kendal yang dibuat sendiri oleh Wali Joko dengan menggoreskan tongkat dari Kedung Pengilon Desa Magangan.
Mengingat kebutuhan untuk pemeliharaan masjid dan untuk menjamin para santri yang mondok di masjid, Wali Joko membuka lahan pertanian di Desa Kauman, Karangsari. Langenharjo dan Sukolilan. Berjumlah kurang lebih 49 Ha, yang sekarang menjadi bondo masjid kenal dengan status wakaf bersertifikat. Demikian perjuangan Wali Joko hingga wafat sekitar umur 63 tahun, atau tahun 1526 M, dimakamkan di rumahnya atau makam Wali Joko sekarang terletak di sebelah tenggara Masjid Agung Kendal sekarang. Cahya



Sejarah Wali Joko di Kendal, Jateng (2-Habis)

Mengajarkan Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah
Wali Joko merupakan generasi wali setelah Walisongo. Ia mendapat tugas dari Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di sekitar Kendal. Perjalanan hidupnya selalu berpindah-pindah dari desa satu ke desa yang lain. Kesukaannya melakukan zuhud di pinggir sungai yang jauh dari keramaian masyarakat. Hingga akhirnya menetap di Kendal. Berikut ini laporan posmo.

Setelah Wali Joko memiliki tempat tinggal yang permanen, maka ia berniat untuk selamanya tinggal di Kendal. Karena dengan adanya tempat tinggal tersebut, Wali Joko berharap, masyarakat Kendal yang berkunjung ke rumahnya akan merasa senang, nyaman, dan akhirnya kerasan untuk tinggal berlama-lama di sana. Sebab selama ini beliau bertempat tinggal berpindah-pindah. Salah satunya di Pulau Seperapat Juwana, Pati.
Di Kendal Wali Joko mengajarkan tauhid untuk pengenalan ajaran Islam terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Yaitu Allah Yang Maha Pencipta. Kemudian memberikan pelajaran tentang pelajaran Aqo'id atau Aqidah ahlussunah Wal Jamaah. Ajaran ini berasal dari Walisongo yang selama ini memberikan ilmunya kepada Wali Joko. Salah satunya adalah Sunan Kalijaga.
Di samping Aqo'id juga mengajarkan Alquran, kemudian juga diajarkan Tarekat Qadiriyah dan Naqshabandiyah. Ajaran ini rupanya mengena langsung di hati masyarakat. Sehingga banyak orang yang belajar kepada Wali Joko. Dalam waktu singkat Kendal penduduknya banyak yang beragama Islam.
Ibarat pepatah, siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan pula. Tidak perlu waktu lama, Wali Joko memiliki sejumlah santri semakin hari semakin banyak berdatangan dari berbagai desa. Konon meliputi daerah Gringsing (Batang) dan Kali Salak Limpung (Pekalongan).
Semakin hari semakin bertambah banyak, pondok pesantren Wali Joko pun sudah tidak muat untuk menampung para santri yang terus berdatangan. Satu-satunya jalan harus membangun masjid yang mampu menampung para santri. Maka dibangunlah masjid pada tahun 1493.
Dibantu oleh para santrinya, Wali Joko kemudian membangun sebuah masjid, sarana perhubungan, saluran irigasi, dan masih banyak lagi. Mengingat kebutuhan untuk pemeliharaan masjid dan untuk menjamin para santri yang mondok di masjid. Sehingga dapat ditampung semuanya ke dalam masjid yang baru dibangun itu.
Bangunan masjid yang didirikan tidak jauh berbeda dengan Masjid Demak. Boleh dikatakan hampir sama jika dilihat dari luar. Yaitu beratap tumpang tanpa ada menaranya. Atapnya terbuat dari papan jati. Mengingat zaman dahulu belum mengenal genteng. Sebagian besar bangunan masjid terbuat dari kayu jati. Lagi pula kayu jati waktu itu cukup mudah didapat di daerah Kendal.

Kolah Pendem
Kala itu usia Wali Joko sekitar 30 tahun. Bangunan masjid yang pertama dengan ukuran 27 x 27 meter, terdiri atas 16 saka atapnya bersusun 3 dibuat dari sirap. Lantai plaster tempat wudu berupa kolah pendem yang mendapat aliran air dari Sungai Kendal yang dibuat sendiri oleh Wali Joko dengan menggoreskan tongkat dari Kedung Pengilon, Desa Magangan.
Kemudian untuk mencukupi kebutuhan para santri agar tidak kesulitan makan dan minum, maka Wali Joko membuka lahan pertanian di Desa Kauman, Karangsari, Langenharjo, dan Sukolilan. Berjumlah kurang lebih 49 Ha, yang sekarang menjadi bondo masjid Kendal dengan status wakaf bersertifikat.
Demikian perjuangan Wali Joko hingga wafat sekitar umur 63 tahun, atau tahun 1526 M, dimakamkan di rumahnya atau makam Wali Joko sekarang terletak di sebelah tenggara Masjid Agung Kendal sekarang. Para peziarah hanya dapat melihat makamnya.
Sayang sekali rumah yang didirikan itu dirobohkan secara total oleh pengurus masjid. Hal ini karena tidak mengerti akan arti pentingnya bangunan bersejarah perjuangan Wali Joko dalam upaya menyebarkan agama Islam di Kendal. Umat Islam yang berziarah hanya tinggal mendengar sebuah cerita tanpa ada bukti fisik rumah Wali Joko. Cahya