Rabu, 24 Agustus 2016

Syekh Maulana Magribi dan Syekh Jambu Karang



Kisah Syekh Maulana Magribi di Gunung Panungkulan
Menghislamkam Putra Raja Pajajaran Melalui Adu Kesaktian
Syekh Maulana Magribi seorang wali yang berasal dari Timur Tengah datang ke Pulau Jawa setelah mendapat ilham untuk  mendatang Tiga Cahaya Putih. Ia berhasil mengislamkam seorang  pertapa anak Raja Pajajaran yang telah menguasai cahaya tersebut setelah adu kesaktian. Berikut ini kisahnya.       

Syekh Maulana Magribi seorang ulama dari Timur Tengah bukan hanya memiliki ilmu agama yang cukup tinggi. Tapi juga mempunyai ilmu karomah tingkat tinggi. Oleh karena itu, dalam dakwahnya juga menggunakan ilmu karomah yang disertai ilmu silat tenaga dalam. Hal tersebut sesuai dengan zamannya.
Suatu hari  Syekh Maulana Magribi,  sesudah sholat Subuh mendapat Ilham agar menemukan  tiga buah cahaya putih menjulang tinggi diangkasa yang letaknya di Pulau Jawa.  Maka berangkatlah  bersama-sama dengan 298 sahabatnya menuju Pulau Jawa dengan mengarungi samudera yang ombaknya cukup besar.
Kemudian sampailah mereka di pelabuhan  Gresik. Dipandangilah langit-langit yang penuh dengan bintang. Tapi tidak terlihat  ada tanda-tanda tiga cahaya putih yang sesuai dengan ilhamnya.   Setelah sekian lama tinggal di Gresik, terlihatlah cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah barat. Kemudian mengambil keputusan kembali kearah barat menuju pelabuhan  Pemalang Jawa Tangah. Ditempat tersebut Syekh Maulana Maghribi meminta para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu
Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga akhirnya sampailah  di tempat yang dituju. Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa.
Dari Pemalang menuju ke selatan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal bahaya
‘Pertapa itu adalah Raden Mundingwangi putra Raja Pajajaran I.  Ia tidak mau dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya. Tapi lebih suka menjadi seorang pertapa disejumlah gunung. Bahkan berhasil menemukan Tiga Cahaya Putih  beserta 160 pengikutnya di Gunung Panungkulan di Desa Grantung Kecamatan Karangmoncol,”ungkap KH. KRT. MUrsyiddafa Alfatahillah, SH, MA pewaris ilmu Syekh Jambu Karang dari Banjarnegara. .
Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’, tetapi tidak dijawab oleh Raden Mundingwangi. Karena tidak paham dengan bahasa Arab. Lantas  Haji Datuk dan  Syekh Maulana Maghribi menyapa dengan bahas India.
Mendengar bahasa India, maka  Raden Mundingwangi menjawab : ‘Sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang Sakti’. Kemudian  Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pertapa tersebut untuk menunjukkan kesaktiannya. Maka  diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa.
Syekh Maulana Maghribi  mengimbangi dengan melepaskan bajunya dan dilemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa. Hal itu menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul. Tetapi Raden Mundingwangi belum mau menyerah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit.
Syekh Patas Angin
Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh.
Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.
Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulng tinggi. Lalu, Syekh Maulana Maghribi berkata : ‘Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’. Setelah ternyata tidak ada kesanggupan dari Raden Mundingwangi, maka beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.
Akhirnya Raden Mundingwangi menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam.
Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selanjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa menyerah kalah). Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung).
Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yng tidak mengenal kering dimusim kemarau.
Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).
Sesaat setelah Syekh Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin ribut yang mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim.
Sebagai rasa terimakasih, maka  Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama ‘Rubiah Bhakti’ yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa.
Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi ‘Atas Angin’. Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu :Makdum Kusen,  Makdum Medem, Makdum Umar,  Makdum,  Makdum Sekar.
Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang’. Kemudian Syekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’.

Syekh Magelung


Kisah Syekh Magelung dari Kerajaan Masir Menuju Cirebon
Menemui Sunan Gunung Jati atas Perintah Nabi
Khidir
Nama Syekh Magelung yang asli adalah Arifin Syam, putra dari kepala bagian pembesar istana Raja Hut Mesir. Di belakang namanya ada kata Syam diambil dari kota Syam, Syiria. Ia dari Mesir menuju Cirebon guna untuk mencari Sunan Gunung Jati. Berikut kisah perjalanannya menuju Pulau Jawa.
Syekh Magelung lahir di Syam, Syria. Sejak bayi telah ditinggalkan oleh ayah bundanya ke hadirat Allah SWT. Dibesarkan oleh seorang muslim yang taat menjalankan ibadah. Ia pintar dalam segi bahasa bahkan saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan panggilan sufistik kecil di kalangan guru dan pendidik lainnya.
Sejak usia 11 tahun beliau telah menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda di berbagai tempat ternama sepeti Madinah, Mekkah, Istana Raja Mesir, Masjidil Aqso Palestina, dan berbagai tempat ternama lainnya. Ia memiliki rambut yang panjang. Semakin hari semakin memanjang tidak terurus. Hal semacam ini bukan karena Syekh Magelung tidak mau mencukur rambutnya yang lambat laun jatuh ke tanah. Karena tidak bisa dipotong dengan senjata tajam apa pun.
Ketika terjadi perang antara kerajaan Mesir dengan kerajaan Romawi dan Tartar, Arifin Syam menjadi panglima perang bergelar Panglima Mohammad Syam Magelung Sakti. Selama memimpin perang tidak menggunakan pedang maupun tombak untuk membunuh musuhnya. Namun menggunakan rambutnya yang seperti kawat baja. Kesaktian rambutnya pula membuat pasukan musuh pontang panting.
Setelah perang usai ia bertemu dengan Nabiyullah Khidir AS yang mengharuskan mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya menuju maqom kewalian kamil. Pertemuan tersebut menjadikan meninggalkan istana untuk mencari seorang mursyid. Dengan perbekalan makanan dan ratusan kitab yang dibawanya, Syekh Magelung mulai mengarungi belahan dunia dengan naik perahu. Beliau mulai mendatangi beberapa ulama terkenal. Namun tidak satu pun dari mereka yang menerimanya, mereka malah berbalik ingin menjadi muridnya.
Dengan kekecewaan yang mendalam, Syekh Magelung mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari mursyid yang diinginkannya hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang pertapa sakti bernama Resi Purba Sanghiyang Dursasana Prabu Kala Sengkala di perbatasan sungai Selat Malaka.
Ia disarankan datang ke Pulau Jawa, sesungguhnya di sana telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh Waliyullah. Dengan perkataan sang Resi barusan, Syekh Magelung sangat senang mendengarnya dan setelah pamit langsung meneruskan perjalanannya menuju Pulau Jawa.
Dengan semangat yang menggebu beliau langsung melanjutkan perjalanan menuju Cirebon. Sedangkan di tempat lain Syarif Hidayatulloh/Sunan Gunung Jati yang sudah mengetahui kedatangan Syekh Magelung kemudian menjemput di Pelabuhan Cirebon dengan menyembunyikan jati dirinya.
Saat tiba di Pelabuhan Cirebon Syekh Magelung langsung disambut kedatangannya oleh Sunan Gunung Jati dan diajak salat duhur terlebih dahulu. Sambil terheran-heran Syekh Magelung mengikuti langkah manusia asing di hadapannya. Setelah usai salat diajak menuju kota Cirebon, tetapi sebelum sampai di tempat tujuan Sunan Gunung Jati memotong rambutnya dan langsung menghilang dari hadapan Syekh Magelung. Tahu rambutnya telah terpotong beliau langsung berkeyakinan bahwa tiada lain manusia tadi adalah Sunan Gunung Jati yang dimaksud. Lalu beliau pun memanggilnya tiada henti hingga ke seluruh pelosok desa.
Terpotonngya Rambut Baja
Kisah terpotongnya rambut Syekh Magelung kini masih dilestarikan dan menjadi nama desa hingga kini yaitu di Desa Karang Getas sebelah selatan kantor Wali Kota Cirebon.
Dengan rasa bersemangat, Arifin Syam terus mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya barusan memotong rambutnya. Beliau terus berlari sambil memanggil nama Sunan Gunung Jati terus-menerus. Pada suatu tempat tanpa disadari olehnya, beliau masuk dalam kerumunan orang banyak yang tak lain sedang dibuka perlombaan memperebutkan putri cantik dan sakti, Nyimas Gandasari Panguragan.
Merasa dirinya masuk gelanggang arena, wanita cantik yang tak lain adalah Nyimas Gandasari langsung menyerangnnya. Merasa dirinya diserang secara mendadak, Syekh Magelung langsung mengelak dan menjauhinya. Dengan serangan berapi-api Nyimas Gandasari langsung melipatgandakan tenaganya untuk mengalahkan.
Dengan perasaan dongkol, Syekh Magelung akhirnya memutuskan untuk melayaninya dengan bersungguh hati hingga di tengah perjalanan Nyimas Gandasari sangat kewalahan. Merasa kesaktiannya kalah di bawah pemuda asing yang kini sedang dihadapinya, maka dengan sesekali loncatan Nyimas Gandasari berucap, "Ya Kanjeng Susuhan Sunan Gunung Jati, Yajabarutihi ila sulthonil alam, kun fayakun Lailaha Illallah Muhamad Rosululloh" lalu melarikan diri dengan maksud agar pemuda tadi tidak sampai mengejarnya. Lain dengan jalan pikiran Moh. Syam waktu itu setelah beliau mendengar nama Sunan Gunung Jati disebutnya, beliau tambah berambisi untuk mencari tahu, maka disusullah Nyimas Gandasari, hingga sampai tangan kanannya terperangkap.
Kanjeng Sunan Gunung Jati berkata kepada Syekh Magelung. "Wahai kisanak, Anda mencari siapa di tempat yang sepi seperti ini?" Lalu Syekh Magelung pun menjawabnya, "Kisanak mohon maaf sesungguhnya saya datang kemari mencari gadis untuk meminta bantuannya, di mana saya bisa menemui Sunan Gunung Jati?" Dengan tersenyum akhirnya Sunan Gunung Jati berterus terang siapa dirinya. Dengan pengakuan tersebut, Syekh Magelung berganti nama dengan sebutan Pangeran Soka. HUSNU MUFID.
Merasa dirinya panik, Nyimas Gandasari langsung melepaskan tangan Syekh Magelung sambil tubuhnya menukik tajam ke bawah. Pada saat yang bersamaan Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur di sungai Kali Jaga, kedatangan Nyimas Gandasari yang wajahnya terlihat pucat pasi dan sambil menuding ke arah depan.

Senin, 01 Agustus 2016

Raden Patah Raja Demak Bintoro


Raden Patah Cucu Raja Kerajaan Champa

Seorang Wali Yang Jadi Raja Islam Pertama di Jawa

Nama Patah sendiri berasal dari kata al-Fatah, yang artinya "Sang Pembuka", karena ia memang pembuka kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Raden Patah lahir 1455 di Palembang dan meninggal tahun 1518 di Demak. Ibunya dari kerajaan Champa dan Ayahnya Brawijaya V kerajaan Majapahit. Berikut ini kisahnya.

Sewaktu muda Raden Patah bergelar Senapati Jimbun. Jin Bun artinya orang kuat. Nama tersebut identik dengan nama Arabnya "Fatah (Patah)" yang berarti kemenangan. Setelah menjadi Adipati Demak  bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Ketika menjadi raja bergelar  bergelar  Sultan Surya Alam Akbar dan memerintah kerajaan Demak 1500-1518 M.
Istri  Raden Patah ada tiga orang. Yang pertama adalah putri Sunan Ampel, menjadi permaisuri utama, melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangeran sabrang Lor dan Sultan Trenggono.
Istri yang kedua seorang putri dari Randu Sanga, melahirkan Raden Kanduruwan. Raden Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan Trenggono berjasa menaklukkan Sumenep. Sejak itu kerajaan Sumenep menjadi sebuah kerajaan Islam. Dan pada keruntuhan kerajana Demak keturunan Raden Patah Banyak yang lari ke Sumenep.  
Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa. Ketika Pangeran Samrang Lor meninggal tahun 1521, Raden Kikin dan Raden Trenggana bersaing memperebutkan takhta. Raden Kikin akhirnya mati dibunuh putra sulung Raden Trenggana yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawato, di tepi sungai. Oleh karena itu, Raden Kikin pun dijuluki Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya bunga yang gugur di sungai.
Sewaktu masih dalam kandungan ibu Raden Patah dikirim ke Palembang diberikan kepada Arya Damar  putra sulung Brawijaya V. raja kerajaan Majapahit. Setelah Raden Patah lahir, ibunya menikah dengan Arya Damar. Dari hasil perkawinannya itu melahirkan seorang anak bernama  Kin San (alias Raden Kusen).  
“Menginjak usia remaja Raden Patah dengan Raden Kusen merantau ke Pulau Jawa untuk menemui ayahnya di kerajaan Majapahit. Ia juga  menolak menggantikan Arya Damar menjadi bupati Palembang sebagai bawahan kerajaan Majapahit. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya yang masih saudaranya sendiri dari jalur ibunya,”ujar Prof Dr. Ali Mufridi,MA dosen UINSA Surabaya..
Setelah dinyatakan lulus sebagai santri Sunan Ampel, maka Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit dan mendapatkan  jabatan sebagai Adipati Terung di Kriyan Sidoarjo. Sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren. Hal ini sesuai dengan perintah Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa Tengah yang penduduknya masih banyak yang belum masuk Islam. 
Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Santrinya datang dari berbagai penjuru  daerah. Kota Demak telah menjadi kota santri. Mereka bukan hanya diajari ilmu agama Islam, melainkan ilmu keprajuritan dan pemerintahan.  Melihat kondisi tersebut, Brawijaya (alias Bhre Kertabumi di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak.
Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.  Raden Kusen meminta Raden Patah menghadapkan  ke Majapahit.  Merasa terkesan dan akhirnya Brawijaya V mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara. Setelah menjadi Adipati Demak, Raden Patah  menaklukkan Semarang tahun 1477 untuk dijadikan sebagai bawahan.

Tidak Serang Majapahit
Pada tahun 1479 ia meresmikan Masjid Agung Demak sebagi pusat pemerintahan. Ia juga memperkenalkan pemakaian Salokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan. Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran. Kuil Sam Po Kong di Semarang tidak dipaksa kembali menjadi masjid, sebagaimana dulu saat didirikan oleh Laksamana Cehng Ho yang beragama Islam.
Sikapnya terhadap kerajaan Majapahit tetap menaruh hormat dan tidak melakukan pemberontakan. Karena  Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit meskipun berbeda agama, Brawijaya tetaplah ayah Raden Patah. Oleh karena itu, Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Budha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya.
Prof. Dr. N. J. Krom dalam buku “Javaansche Geschiedenis” dan Prof. MohYamin dalam buku “Gajah Mada” mengatakan bahwa bukanlah Demak yg menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V, tetapi adalah Prabu Girindrawardhana.
Kemudian pasca serangan Girindrawardhana atas Majapahit pada tahun 1478 M, Girindrawardhana kemudian mengangkat dirinya menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya VI.
Kekuasaan Girindrawardhana tidak begitu lama, karena Patih Udara  melakukan kudeta dan mengangkat dirinya sebagai Prabu Brawijaya VII. Perang antar Demak dan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya VII bukan pada masa Raden Fatah dan Prabu Brawijaya V.
Pada tahun 1485 Nyoo Lay Wa mati karena pemberontakan kaum pribumi. Maka, Jin Bun mengangkat seorang pribumi sebagai bupati baru bernama Pa-bu-ta-la, yang juga menantu Kung-ta-bu-mi. Tokoh Pa-bu-ta-la ini identik dengan Prabu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya yang menerbitkan prasasti Jiyu tahun 1486 dan mengaku sebagai penguasa Majapahit, Jenggala, dan Kadiri.
Selain itu, Dyah Ranawijaya juga mengeluarkan prasasti Petak yang berkisah tentang perang melawan Majapahit. Berita ini melahirkan pendapat kalau Majapahit runtuh tahun 1478 bukan karena serangan Demak, melainkan karena serangan keluarga Girindrawardhana.


Raden Patah meninggal dunia tahun 1518 dalam usia 63 tahun. Dimana kondisi kerajaan mencapai kejayaan. Kemudian  Ia digantikan Yat Sun sebagai raja selanjutnya, yang dalam Babad Tanah Jawi bergelar Pangeran Sabrang Lora tau Pati Unus. HUSNU MUFID





Rabu, 13 Juli 2016

Masjid Soko Tunggal Banyumas






Melihat Masjid Saka Tunggal Legok Pekuncen, Banyumas
Ide RM Tumenggung Cokronegoro III
 Masjid Saka Tunggal di Legok Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas merupakan masjid tua. Tempat ibadah umat Islam ini masih mempertahankan arsitek bangunan saat kali pertama dibangun. Berikut laporannya.
BUKAN hanya Masjid Saka Tunggal yang berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon. Di Kabupaten Banyumas ada juga Masjid Saka Tunggal di Dusun Legok, Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Kedua masjid ini memiliki keistimewaan dengan saka tunggalnya. Artinya, masjid ini hanya memiliki satu saka penyangga. Masjid Saka Tunggal tersebut masih mempertahankan arsitek bangunan sejak kali pertama dibangun dan kondisinya masih terawat. Sehingga, dapat dijadikan sebagai aset wisata religi bagi Pemerintah Kabupaten Banyumas.
 Lokasi Masjid Saka Tunggal atau Masjid Darussalam terletak di Dusun Legok, Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Berjarak sekitar 40 km dari kota Purwokerto, dengan melalui jalan yang mudah dan jalur yang tidak begitu ramai. Sedangkan keberadaan Masjid Saka Tunggal Darussalam berada di tepi jalan raya dan sangat strategis karena tidak jauh dari masjid ini terdapat Stasiun Kereta Api Legok.
Dikatakan oleh Muchdjaeri seorang aktivis Islam yang sekarang masih sebagai ta’mir masjid tersebut bahwa pemberian nama tersebut diberikan pada Tahun 1968. Berjalannya waktu Masjid Darussalam telah mengalami beberapa kali perehaban. Saat rehab kali pertama pada bagian usuk emperan, dengan menghabiskan enam batang glugu (batang pohon kelapa). "Sudah sekitar delapan kali rehab, terutama pada bagian pondasi, pagar keliling, dan tempat wudu, kata Muchdjeri.
 Menurut Muchdjeri, Masjid Saka Tunggal Darussalam didirikan pada tahun 1915 M atas prakarsa Bupati Purwokerto yang saat itu dijabat oleh Raden Mas Tumenggung Cokronegoro III, yang memerintah Kabupaten Purwokerto pada tahun 1905 -1920. Tercatat pula pada prasasti yang menempel pada dinding masjid tepatnya di atas pintu tengah masjid yang bertuliskan dengan menggunakan huruf Arab dan berbahasa Jawa yang berbunyi 6 Syuro 1846; 17-11-1915; 1334 Hijroh, Legok Kranggan Ajibarang. Yasa dalem Kanjeng Bendoro Rahaden Mas Tumenggung Aryo Cokronegoro Ingkang Jumeneng Hadipati ing Nagari Purwokerto Banyumas, Pengulu Hakim Muhammad Hadirejo, serta Landrat Purwokerto. “Jika dihitung, maka umur masjid Saka Tunggal Darussalam hingga tahun 2016 telah berusia 101 tahun dan masjid ini berdiri pada 17 November 1915 yang jatuh pada Hari Sabtu Manis,” jelasnya.
Menurut catatan sejarah bahwa pada tahun 1831 hingga tahun 1936 wilayah Banyumas terdiri atas dua Kabupaten yaitu Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purwokerto. Selanjutnya pada tahun 1905 hingga 1920 Bupati Purwokerto dijabat oleh RMT Cokronegoro III. Pada masa pemerintahan RMT Cokronegoro III berhasil dibangun jalur kereta api antara Kroya hingga Cirebon yang relnya melalui wilayah Kota Purwokerto, yang selanjutnya dibangun pula beberapa stasiun berdiri sepanjang jalur Cilacap-Cirebon, salah satunya adalah stasiun Legok. Ketika itu belum berdiri wilayah Pekuncen, yang ada wilayah Ajibarang yang memiliki perwakilan di daerah Kranggan. Pada waktu itu sarana transportasi pemerintahan yang dinggap lancar hanya menggunakan jasa kereta api dan pada saat itu stasiun Legok dikenal sebagai Legok Kranggan. Berjalannya waktu sekarang Kranggan merupakan Desa yang berdiri sendiri dan Legok merupakan Dusun yang termasuk dalam wilayah Desa Pekuncen, Kabupaten Banyumas.
Di masa pembangunan Stasiun Legok, Bupati Purwokerto RMT Cokronegoro III mempunyai inisiatif untuk membangun sebuah masjid di kompleks stasiun Legok yang terbuat dari beton dan hanya memiliki satu tiang penyangga utama (Saka Tunggal). Konon, dengan adanya penamaan Masjid Saka Tunggal yang diberi nama Darussalam tersebut telah menuai beberapa kritikan dan pernyataan ketidakcocokan dari beberapa orang. Namun hingga kini dapat teratasi. Sehingga masjid ini masih terawat dan digunakan oleh umat Islam sebagai tempat ibadah.
Masjid Saka Tunggal Darussalam dibangun di atas tanah seluas 20 m x 13 m dengan tinggi bangunan 3,25 m dan memiliki bentuk segi 8 (delapan), terdiri atas 5 sisi di bagian serambi depan dan 3 sisi bangunan utama masjid. Tiang penyangga utama masjid ini menggunakan sebuah tiang beton (adukan terbuat dari semen, kapur, pasir, semen merah, dan batu kali), tiang penyangga yang hanya satu dan berbentuk segi delapan ini disebut saka tunggal, yang mempunyai makna adanya Tuhan Yang Maha Esa.
 Hingga kini masjid Saka Tunggal Darussalam masih berdiri kokoh dan digunakan oleh warga sekitar masjid sebagai salah satu tempat sarana beribadah. ADJI WALOEJO
Sedangkan bentuk masjid segi 8 memiliki makna adanya arah mata angin yang secara filosofis mengandung makna bahwa Masjid Saka Tunggal Darussalam sebagai tempat syiar Islam dapat tumbuh dan berkembang ke segala arah. Sedangkan pada serambi memiliki sudut yang berjumlah 5 hal ini menandakan adanya rukun Islam yang berjumlah 5. Sedangkan pada sisi tembok yang memiliki 3 dinding melambangkan 3 kerukunan umat beragama. Yaitu hubungan antara manusia dengan Allah swt, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam. Pintu serambi depan terdiri atas 3 pintu yang menandakan 3 amalan yang tetap dialirkan pahalanya oleh Allah swt yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh.