Senin, 16 Januari 2017

Tahun baru 2017


Menatap Masa Depan di Tahun 2017
Kita telah memasuki Tahun Baru 2017. Pergantian tahun merupakan hal yang biasa. Kita isi dengan melakukan muhasabah (evaluasi diri) terhadap apa yang sudah dikerjakan selama 2016.Jika ada hal yang baik hendaknya terus ditingkatkan, jika ada hal yang kurang baik segera ditinggalkan.
Di tahun 2017 ini  hendaknya umat memperbanyak bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia berupa umur panjang, kesehatan dan kemurahan rezeki. Untuk hal tersebut,  umat Islam hendaknya memperbanyak zikir dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Agar pada tahun mendatang dimudahkan semua urusannya, dikabulkan semua hajatnya dan diselamatkan dari berbagai fitnah, ujian dan cobaan.
Jangan lupa  berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara dari berbagai ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Sehingga bangsa dan negara Indonesia menjadi negara yang aman, maju sejahtera lahir dan batin.
Tidak kalah penting dalam memasuki Tahun Baru 2017 harus tetap dengan semangat kesederhanaan, menjauhkan diri dari sikap boros, berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan yang tidak banyak manfaatnya.
Oleh karena itu, ditahun yang penuh dengan persaingan yang begitu ketat, ,maka kita sebagai umat Islam hendaknya menekankan kualitas baik secara jasmani maupun rohani. Jika  kita belum siap, maka sudah barang tentu  akan menjadi penonton dan tersingkir dalam dunia kerja. Sebab bangsa lain sudah jauh-jauh hari menyiapkan kedatangan tahun 2017 ini..
Semua elemen masyarakat muslim  siap tidak siap harus siap menghadapi tahun ini. Meski begitu, pendampingan dan proteksi dari pemerintah juga sangat diperlukan agar dapat eksis dan mampu bersaing dengan tenaga kerja atau produk-produk dari Negara asing.
Tahun 2017  merupakan tahun yang cukup menjanjikan bagi umat islam di Indonesia. Karena masyarakat  muslim telah bangkit dari tidurnya untuk menyongsong tahun yang penuh dengan keberuntungan. Sehingga untuk hidup lebih layak dapat tercapai.
Mengingat  Islam mengajarkan hari ini adalah hari yang harus lebih baik dari hari kemarin. Oleh Karen itu tahun 2017 harus lebih baik dari tahun 2016. Dengan demikian Islam telah mengajarkan hidup lebih baik, Ajaran tersebut memang harus dicamkan bai umat Islam sejak zaman dahulu..
Untuk itulah kehadiran Islam di Indonesia yang sangat damai, yakni lewat jalur perdagangan dan perkawinan di awal masuknya, memberikan pesan bahwa pendekatan budaya cenderung menjadi model dalam berislam di negeri ini. Pendekatan kebudayaan, merupakan cara yang cukup soft (lembut) memberikan perubahan dan arah kemajuan. Karenanya modelitas kekerassan dan kekasaran tentu hal yang cukup bersebarangan dari historis Islam di masa lalu.
Wajah keislaman lebih cenderung inklusif dan penuh toleransi di atas keberagaman. Nabi telah berhasil mencontohkan idealitas kehidupan yang mana warganya dapat hidup bersama tanpa harus ada orang atau pihak yang harus disingkirkan kecuali menganggu stabilitas kehidupan sosial politik secara menyeluruh. Karenanya gagasan pemikiran yang tampil seharusnya tetap memantulkan nilai-nilai keuniversalan ajaran Islam.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam  harus menatap  tahun baru ini sebagai tahun yang  optimis dalam  menjalani kehidupan. Siapa yang sungguh-sungguh, maka akan meraih hasil yang maksimal dan mendapatkan kesuksesan.
Terlebih dalam hubungan dengan kehidupan sosial politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai paket ajaran yang universal, Islam memiliki sisitem nilai yang menembus batas-batas teritorial. Karenanya Islam tidak boleh diklaim sebagai agama lokal, agama etnis, atau agama bangsa. Islam dibumikan untuk mengilhami nilai-nilai berkehidupan. Karenanya yang harus dicermati dalam menggali ajarannya, kita harus menyerap aspek substantif yang mengiringi berbagai sistem norma yang tertuang dalam berbagai kaidah-kaidah perilaku, baik yang terkait dengan kehidupan privat maupun publik.

Sufi, Syekh Muhammad Nizam


Syeikh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi An- Naqsybandi 

Hatinya Lebih Tertarik  Kepada Ilmu  Spiritual

Syeikh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi An- Naqsybandi Al-Haqqani Q.S.
lahir di Larnaca, Siprus, pada hari Minggu, tanggal 23 April 1922 – atau 26 Shaban 1340 H. Seorang ulama yang tersohor di zamannya. Berikut ini kisah hidupnya.
Bila dilihat dari keturunan ayahnya tembus ke Syekh  Abdul Qadir Jailani, pendiri Thariqat Qadiriah. Kemudian dari sisi ibunya, beliau adalah keturunan Jalaluddin Rumi, pendiri thariqat Mawlawiyyah, yang juga merupakan keturunan Hassan-Hussein (as ) cucu Nabi Muhammad saw.
Selama masa kanak-kanak di Siprus, beliau selalu duduk bersama kakeknya, salah seorang syaikh thariqat Qadiriah untuk belajar spiritualitas dan disiplin. Kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya melatih beliau pada jalan spiritual.
Ketika remaja, Syeikh Nazim sangat diperhitungkan karena tingkat spiritualnya yang tinggi. Setiap orang di Larnaca mengenal beliau, karena dengan umur yang masih amat muda mampu menasihati orang-orang, meramal masa depan dan dengan spontan membukanya. Juga tidak pernah berselisih dengan siapapun, beliau selalu tersenyum dan sabar.
Sejak umur 5 tahun sering ibundanya mencarinya, dan didapati beliau sedang  berada didalam masjid atau di makam Umm Hiram, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang berada di sebelah masjid. Banyak sekali  turis mendatangi makam tersebut karena tertarik akan pemandangan sebuah batu yang tergantung diatas makam itu.
Ketika sang ibu mengajaknya pulang, beliau mengatakan : ” Biarkan aku disini dengan Umm Hiram, beliau adalah leluhur kita.” Biasanya terlihat syaikh Nazim sedang berbicara, mendengarkan dan menjawab seperti berdialog dengannya. Bila ada yang mengusiknya, beliau katakan : “ Biarkan aku berdialog dengan nenekku yang ada di makam ini.”
Ayahnya mengirim beliau ke sekolah umum pada siang hari dan sorenya belajar ilmu-ilmu agama. Beliau seorang yang jenius diantara teman-temannya. Setelah tamat sekolah ( setara SMU ) syaikh Nazim menghabiskan malam harinya untuk mempelajari thariqat Mawlawiyyah dan Qadiriah. Beliau mempelajari ilmu Shariah, Fiqih, ilmu tradisi, ilmu logika dan Tafsir Qur’an. Beliau mampu memberikan penjelasan    hukum tentang masalah-masalah Islam secara luas.
Beliau juga mampu berbicara bagi orang-orang dari segala tingkatan spiritual. Beliau
di beri kemampuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang sulit dalam bahasa yang jelas dan mudah. Setelah tamat SMA di Siprus, syeikh Nazim pindah ke Istambul pada tahun 1359 H / 1940, dimana kedua saudara laki-laki dan seorang
saudara perempuannya tinggal. Beliau belajar tehnik kimia di Universitas Istambul, di daerah Bayazid. Pada saat yang sama beliau  memperdalam hukum Islam dan bahasa Arab pada guru beliau, syaikh Jamaluddin al-Lasuni, yang meninggal pada th 1375 H / 1955 M.
Syeikh Nazim meraih gelar sarjana pada tehnik kimia dengan hasil memuaskan
dibanding teman-temannya. Ketika Professor di universitasnya memberi saran agar melakukan penelitian, beliau katakan,” Saya tidak tertarik dengan ilmu modern. Hati saya selalu tertarik pada ilmu-ilmu spiritual.”
Selama tahun pertama di Istambul, beliau bertemu dengan guru spiritual pertamanya, Syeikh Sulayman Arzurumi, seorang syeikh dari  thariqat Naqsybandi yang meninggal pada th. 1368 H / 1948 M. Sambil  kuliah syeikh Nazim belajar pada beliau sebagai tambahan dari ilmu thariqat yang telah dimilikinya yaitu Mawlawiyyah dan Qadiriah.
Biasanya beliau akan terlihat di masjid sultan Ahmad, bertafakur sepanjang malam. Syaikh Nazim menuturkan : “Disana aku menerima barakah dan kedamaian hati yang luar biasa. Aku  shalat subuh bersama kedua guruku, Shaykh Sulayman Arzurumi dan  Syeikh Jamaluddin al-Lasuni.
Suatu  hari ketika hasrat hati ini semakin kuat, aku diberi “penglihatan” itu. Guruku , Syeikh Sulayman Arzurumi datang dan menepuk pundakku sambil mengatakan, Sekarang sudah turun izin. Rahasia-rahasia, amanat, dan ajaran spiritualmu bukan ada padaku. Aku menahanmu karena amanat sampai engkau siap bertemu dengan guru sejatimu yang juga guruku sendiri yaitu Syeikh Abdullah ad-Daghestani. Beliau pemegang kunci-kuncimu. Temui beliau di Damaskus. Izin ini datang dariku dan berasal dari Nabi.’ ( Syeikh Sulayman Arzurumi adalah salah satu dari 313 awliya thariqat  Naqsybandi yang mewakili 313 utusan. ). HUSNU MUFID
Bayangan itupun berakhir. Aku mencari guruku untuk menceritakan pengalaman itu. Dua jam kemudian aku melihat syeikh menuju masjid, aku berlari menghampirinya. Beliau membuka kedua tangannya dan  berkata,” Anakku, bahagiakah engkau dengan penglihatan itu ?” Aku  sadar bahwa beliau juga telah mengetahui segalanya. “Jangan tunggu  lagi, segera berangkat ke Damaskus.” Beliau bahkan tidak memberiku  alamat atau informasi lain, kecuali sebuah nama : Syeikh Abdullah ad-Daghestani di Damaskus.
Mereka mengajariku dan meletakkan ilmu spiritual dalam hatiku. Aku mendapat banyak penglihatan spiritual agar pergi menuju Damaskus, tapi hal itu belum diizinkan. Sering aku melihat Nabi Muhammad memanggilku menuju ke hadapannya. Ada hasrat yang mendalam agar aku meninggalkan segalanya dan untuk pindah menuju kota suci Nabi.

Kelenteng An Hien Bio Magetan Maospati


Kemistisan Kelenteng An Hien Bio Maospati Magetan

Jika  Ingin Motret Harus Izin Dewa Dulu

Kelenteng An Hien Bio Masopati  merupakan kelenteng yang berada di kecamatan. Kondisinya masih tampak asli terbuat dari kayu. Kesan wingt masih terasa. Karena jika mau masuk kedalam harus minta izin dan melakukan doa terlebih dahulu. Berikut ini hasil liputannya.
Kelenteng An Hien Bio tampak sepi dan tak sesemarak kelenteng lain dalam merayakan Imlek. Atap kelenteng berupa genting sudah tampak kusam. Pintu dan pagarnya pun masih terbuat dari kayu. Keasliannya masih terjaga selama beberapa  puluh tahun.
Warga sekitar kelenteng,  juga mengaku sejak kecil kelenteng itu sudah ada. Pasa zaman Belanda banyak yang melakukan sembayangan hingga Presiden Soekarno. Tapi ketika Presiden Soeharto berkuasa pelan-pelan  umat yang sembayang berkurang. Karena warga Tiongkok banyak yang pindah keagama lain. Hanya sedirkit yang tetap  menganut agama Kong Hucu dan Tri Dharma.
Untuk memasuki Kelenteng An Hien Bio Maospati yang berlokasi di Jalan Raya Madiun-Ngawi, Kelurahan Maospati, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tidak boleh berperilaku sembarangan. harus mengikuti aturan yang berlaku.
Apa pun yang hendak dilakukan harus terlebih dahulu meminta izin dewa melalui penjaga kelenteng, Liong Pwoe alias Pudjianto. Jika melanggar sudah barang tentu akan mendapatkan masalah. Mengingat kelenteng memiliki kekuatan gaib yang berasal dari leluhur.
Sebelum mengamati suasana di dalam kelenteng, memang harus izin terlebih dahulu kepada Dewa. Tidak boleh masuk kemudian memotret dan mengambil gambar patung Dewa atau Dewi KIem Sin senaknya sendiri, Karena bisa mendapat masalah. 
Pernah ada seseorang masuk kelenteng  mengambil gambar tanpa meminta izin dewa. Kemudian oleh Liong Pwoe penjaga kelenteng disuruh minta izin terlebih dahulu. Sebab khawatir ada apa-apa kalau nggak izin. Maklum orang yang masuk kelenteng tersebut tidak mengetahui tata aturan yang berlaku. 
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka Liong Pwoe selaku penjaga kelenteng  mengambil tiga batang hio (dupa) dan melakukan doa di depan patung Hok Tek Cin Sin atau Dewa Bumi yang jadi sesembahan di kelenteng. Dengan harapan akan terjadi keselamatan. Orang yang masuk tanpa izin itu disuruh keluar dan menunggu dihalaman.
Usai berdoa, Liong Pwoe mengajak orang yang ada dihalaman luar tadi  masuk ke dalam kelenteng. Kemudian  menunjukkan cara unik untuk mengetahui apakah dewa mengizinkan kami mengambil gambar atau tidak.  Penjaga kelenteng itu  meraih dua buah alat dari kayu berbentuk seperti lambung terbelah.
"Ini nanti saya lempar. Kalau salah satunya tengkurap dan lainnya tengadah berarti diizinkan. Sebaliknya jika dua alat itu sama-sama tengkurap atau tengadah berarti sang dewa tidak berkenan diambil gambarnya,"ujarnya.
Ditengah-tengah suasana  hening kelenteng dan aroma hio yang menyengat. Liong Pwoe melempar dua alat itu dan salah satunya ternyata tengkurap. yang menandakan diizinkan. "Silakan memotret dan mengambil gambar. Pada hakekatnya Dewa telah mengizinkan,” ucapnya.
Dengan isyarat diijinkannya oleh Dewa, maka  tamu yang datang itu langsung memotret benda-benda yang ada di dalam kelenteng. Mereka senang sekali. Sehingga dapat mengabadikan didalamnya. Izin dari Dewa merupakan anugerah tersendiri bagi pengunjung Kelenteng An Hien Bio Maospati.
Pada perayaan di zaman sekarang semakin ramai. Khususnya Perayaan tahun baru Imlek. Warga Tionghoa Maospati di Kabupaten Magetan menyambut dengan penuh suka cita, mereka merayakannya  dengan wajah penuh senyum dengan senyum. Karena selama zaman Presiden Soeharto berkuasa tidak dapat merasayakan dengan bebas. karena banyak pengawasan.
Menurut Ki Lawu Maospati  warga setempat dan tokoh pemuda, perayaan tahun baru Imlek di Magetan masih tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya, mereka merayakannya dengan penuh hikmat dan sederhana.
Tradisi di Kelenteng An Hien Bio Maospati Magetan, pada malam tahun barunya, mereka bersembahnyang di Klenteng bersama keluarga, berdoa, mendoakan leluhurnya, keluarganya dan kerabat- kerabatnya serta semua umat.
Sementara itu, jajaran polres bersama dengan Kodim Magetan tetap melakukan penjagaan pada  perayaan Imlek ini, mereka berjaga – jaga sejak malam hingga sore hari di sekitar CAHYA
Warga Tionghoa Magetan (Konghucu) berharap, pada tahun baru Imlek kali ini, kehidupan bisa lebih baik lagi. Juga  bangsa Indonesia dapat lebih baik dari sebelumnya. Serta selalu menagajak untuk berbuat kebaikan agar terjalin persatuan dan kesatuan yang kuat.
"Perlu diketahui, untuk tahun baru Imlek tahun ini, adalah tahun Ayam Api, warga berharap di tahun kera ini bisa membawa kehidupan yang lebih baik, dan keberkahan bagi keluarga serta umat seluruh Indonesia,"ungkap Ki Lawu Maospati.

Sunan Ampel san Pertapa


Kisah Sunan Ampel dengan Pertapa Muda

Beri Pelajaran Berjalan Diatas Air
Sunan Ampel dan Pertapa
Setelah sekian lama menetap di Ampel Denta, Sunan Ampel membangun perkampungan diwilayah yang ditempati. Waktu itu Ampel Denta  pemberian Raja Majapahit berada ditengah-tengah sungai. Tidak seperti sekarang ini menjadi daratan.
Kemudian Sunan Ampel membangun Ampel Denta menjadi sebuah perkampungan yang penuh dengan buah-buahan. Rumah-rumah yang ada ditata dengan baik. begitupula dengan pondok pesantren yang didirikan dibangun dengan arsitektur bangunan yang indah.
Kondisi ini menjadikan banyak masyarakat Majapahit datang untuk mengaji dan dinggal selama beberapa minggu. bahkan ada yang beberapa bulan. Karena merasa nyaman. Hal ini menjadikan Ampel Denta sebagai pemukiman yang indah dan modern waktu itu.
Hal ini mengundang para santri-santri yang berasal dari  Pulau Madura, Maluku, Kalimantan datang untuk belajar mengaji. Mereka merasa nyaman dan tinggal selama satu hingga dua tahun. Suasananya benar-benar membuat santri-santri yang mengaji nyaman dan nyaman.   
Setelah dirasa santri-santrinya dapat ditinggal di Pesantre Ampel Denta Surabaya, maka Sunan Ampel ingn berdakwah keluar rumahnya. Untuk itu ia keluar pesantrennya melewati sungai. Karena memang tempat tinggalnya dikelilingi sungai.
Dalam perjalanan dakwahnya melewati sungai, Sunan Ampel bertemu dengan seorang petapa sakti di pinggir sungai yang bening dan tenang. lagi pula tidak terlalu dalam.  Pertapa itu terlihat berlari dari pinggir ke tengah sungai dengan kekuatan tenaganya mencoba berjalan diatas sungai. 
Ia mencoba berlari diatas sungai yang tenang dan bening itu. Tapi baru tiga langkah terjatuh ke dalam sungai. Kemudian bangkit lagi mencoba berjalan diatas sungai. Mukanya semakin kusuh dan amarah terlihat dari raut wajahnya. Karena sering gagal berjalan diatas air.
Pertapa itu mendapat perhatian Sunan Ampel saat melintas dipinggir sungai. kemudian bertanya. “Lagi apa pertapa muda dipinggir sungai. Jatuh bangun diatas air  sungai. ,” tanya Sunan Ampel.
Nasehat  Sunan Ampel rupanya menyentuh hati  sang pertama. Saat itupula ia tersadar dan tidak melanjutkan belajar berjalan diatas air. Ia belajar kepada Sunan Ampel  di Ampel Denta. Label sebagai pertapa sakti ditinggalkan. kemudian menjadi santri yang berilmu tinggi.  HUSNU MUFID
Sunan Ampel pun menjawab dengan santai, meskipun pertapa muda itu  mengatakan dengan suara yang  keras. “Mohn maaf   pertanyaanku yang membuatmu marah. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sedang engkau lakukan.” ujar Sunan Ampel. dengan tersenyum.
Petapa muda itu menjawab dengan lantang, “Aku sedang belajar berjalan di atas air. Ingin mengikuti petapa-petapa lain yang bisa berjalan diatas air yang tenang bagaikan kaca.”.
Sunan Ampel menyampaikan pertanyaan lagi, “Oh.. Sudah berapa lama engkau aak muda mempelajari ilmu berjalan diatas air?”. “Dua belas tahun.” jawab pertapa muda.
Jawaban pertapa muda itu membuat Sunan Ampel ingin menyadarkan  petapa agar tidak menyia-nyiakan hidupnya hanya belajar  ilmu berjalan diatas air yang mustahil bisa dilakukan dengan sukses.
“Apa kau bilang? Aku  membuang-buang waktu. Lihatlah, aku sudah bisa mencapai setengah lebar sungai selama dua belas tahun. Kini tinggal separonya saja.” jawan petapa muda.
“Jadi, engkau membutuhkan dua belas tahun lagi untuk bisa menyeberangi sungai ini. Sungguh sia-sia apa yang kamu pelajari selama ini,?” sindir Kanjeng Sunan.
“Apa urusanmu mengajari aku? Aku pertapa tidak  butuh nasehatmu. Aku tidak butuh nasehatmu. Enyahlah engkau, wahai Sunan Ampel. Ajari santri-santrimu aja!” ujar pertapa muda.
Nasehat
Melihat kemarahan pertapa muda yang sudah tidak bisa dinasehati lagi, maka  Sunan Ampel pun pergi tanpa pamit “Maaf jika pertanyaanku menggangumu. Aku hanya ingin mengetahui apa yang engkau lakukan.” Ujar Kanjeng Sunan Ampel. Santun.
Kanjeng Sunan Ampel pun pergi. Tak lama kemudian, dari jarak yang tidak terlalu jauh dengan si laki-laki, Kanjeng Sunan Ampel terlihat menyeberangi sungai seraya berdiri, tanpa menyentuh air. Si pertapa tidak percaya melihat pemandangan itu.
Ia bergegas mendekat, lalu berenang ke arah Kanjeng Sunan Ampel yang menyeberangi sungai dengan santainya. “Tuan, ajari aku. Maafkan kesalahanku. Aku ingin bisa melakukan ini sebagaimana engkau lakukan.” pinta si laki-laki.
Setelah mampu menyeberangi sungai tanpa basah sedikit pun, Kanjeng Sunan memberitahukan kepada si laki-laki agar menggunakan akalnya dengan baik, agar memanfaatkan karunia yang diberikan oleh Allah Ta’ala dalam rangka ibadah kepada-Nya.
Melalui kisah ini, Kanjeng Sunan Ampel hendak memberitahukan kepada kaum Muslimin bahwa dakwah adalah seni menghadirkan solusi. Ia tidak cukup dengan menyalahkan lalu berpangku tangan. Dakwah adalah memberi tahu, kemudian menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi umat. Bukan mencaci tanpa kontribusi.
Pertapa itu langsung menjawab dengan nada marah, “Ada Apa bertanya. Bukankah aku sedang mencoba berjalan diatas air. Karena aku telah berakhir bertapa," ujar  pertapa pertapa muda.