Minggu, 29 September 2013

Seminar Perisai Diri




Dari Seminar Kesilatnas Perisai Diri Pusat di Surabaya

Silat Memfilter Masuknya Budaya Luar di Era Globalisasi

Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat menggelar Seminar Membangun Persatuan dan Kesatuan Bangsa Melalui Pencak Silat sebagai Budaya Bangsa di Era Globalisasi pada Minggu, 22 September 2012 di Hotel Twin Surabaya kemarin. Berikut ini laporan posmo.

Seminar yang digelar Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat cukup manarik minat peserta dan semarak. Karena dihadiri tokoh-tokoh senior murid langsung dari RMS Dirdjoatmojo, perdiri Perisai Diri seperti Soebagyo, Yahya Buari, Bambang Priyokuncoro, Joko Setiadi, Gundono Pendekar Kelana, dan murid lainnya yang hingga kini masih tetap memiliki kepedulian terhadap Perisai Diri.
Sejumlah cabang Paguyuban Perisai Diri hadir. Seperti Jakarta, Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, Jakarta, Demak, Blitar, Trenggalek, dan sejumlah cabang Perisai Diri lainnya. Mereka datang untuk mengikuti seminar.
Dalam seminar tersebut sebagai moderator Dr. I Komang, Ketua Yayasan Kesilatnas Perisai Diri Pusat. Sedangkan narasumbernya Dr. Suparyono, Ketua Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat, Ir. Untung Bakesbang Jatim, DYMM Sultan Suryoalam Raja Demak, Pratomo, Ketua IPSI Jatim.
Acara seminar dibuka dengan pertunjukan atraksi dari murid-murid Paguyuban Perisai Diri Mojokerto yang cukup menarik bagi peserta seminar. Semua mata memandang ke arah depan. Karena permainan jurus-jurusnya memiliki daya keindahan dan kecepatan dalam menyerang dan menghindar.
Kemudian dilanjutkan acara sesi seminar. Dalam seminar tersebut pembicara pertama Pratomo dari IPSI Jatim mengatakan, pencak silat merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki potensi besar dalam pembentukan karakter kebaikan anak bangsa. Hal ini dilakukan melalui visi, misi, dan strategi yang dimiliki perguruan silat. Visinya adalah pembentukan karakter, misinya meraih juara dan strateginya menyelenggarakan turnamen.
Oleh karena itu, IPSI merekomendasi pemerintah untuk mendukung, swasta memberikan sponsor, menjaga keharmonisan antarperguruan, menjaga nilai olahraga yang sportif, memberikan apresiasi pencak silat.
Sedangkan Ir. Untung Bakesbang Jatim menjelaskan, sekarang ormas memiliki ciri-ciri tersendiri. Tetapi kalau dulu harus azas tunggal. Sehingga memiliki karakter tersendiri antara satu perguruan silat. Sementara Dr. Suparyono, Ketua Paguyuban Perisai Diri Pusat menyatakan, pencak silat tumbuh subur di lingkungan agama Islam dan Buddha. Karena itu punya makna silaturahim. Zaman dulu pertandingan silat tidak melukai, tetapi hanya merebutkan kopiyah.
Kini di era globalisasi silat dari luar negeri sudah banyak yang masuk ke Indonesia. Jika pencak silat tidak ingin tergilas, maka akan hancur akibat kalah bersaing. Hal ini berpengaruh pada perjuangan bangsa. Untuk itu, Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri harus tampil kedepan memperjuangkan pencak silat agar tetap diminati anak-anak muda Indonesia. Juga akan tetap mengamankan ajaran RMS Dirdjoatmojo secara utuh dan murni.

Ilmu Panahan

Kemudian pembicara terakhir DYMM Sultan Suryoalam selalu pembina Paguyuban Perisai Diri Pusat menyatakan, silat sudah ada sejak zaman Majapahit hingga sekarang masih tetap ada. Hal ini memiliki kelebihan yaitu mampu membuat seseorang pergi ke mana-mana seperti Gudono Pendekar Kelana dari Perisai Diri. Beliau bisa keluar negeri gara-gara bisa silat.
Ke depannya Perisai Diri harus dikelola secara modern. Dimana anggotanya memiliki kartu identitas. Sehingga dapat diketahui jumlahnya. Begitupula dengan masalah keuangan harus tercatat bila mendapat sumbangan dari Bakesbang atau lainnya.. Sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh lagi punya usaha lagi yaitu sebuah Perguruan Tinggi, pertambangan, padepokan sendiri seperti Padepokan Shaolin di Cina. Sehingga dapat digunakan sebagai tempat latihan para murid-murid, pendekar dan tempat tinggal pendekar yang sudah tua dengan kehormatan yang tinggi.
Di tengah-tengah diskusi seminar yang sedang hangat dalam perbincangan Deni Trisanto anggota senior Perisai Diri menyampaikan pendapat, bahwa RMS Dirdjoatmojo memiliki ilmu memanah dan dirinya yang hingga kini terus mengajarkannya. Bahkan presiden hingga Menpora menyaksikan saat anaknya mengadakan atraksi di Mal dan kantor wali kota. Ia buktikan dengan menampilkan slide. Banyak peserta langsung menuju penampilan slide memanah.
Dari situ akhirnya seminar memutuskan ilmu memanah RMS Dirdjoatmojo akan diajarkan kembali kepada murid-murid Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat dibawah pimpinan Dr, Suparjono Jl Penjaringan Asri PS 1-J No. 39 Surabaya. Bagi para orang tua yang ingin belajar dan kursus dipersilakan.
Begitu pula dengan anak-anak muda yang suka akan ilmu silat dan panahan, baik pelajar maupun mahasiswa jika ingin belajar jangka panjang maupun pendek akan diterima dengan senang hati. Oleh karena itu, jangan disia-siakan kesempatan ini. Mengingat Perisai Diri memiliki komitmen menjadikan pesilat meraih perestasi kejuaaraan nasional dan internasional. HUSNU MUFID



Rabu, 18 September 2013

Imam Ghozali


Biografi Imam Al-Ghozali dan Pemikiran Keislamannya





Pembangun Agama dan Pemberi Jalan Terang Menuju Tuhan





Sosok al-Ghozali bagi masyarakat muslim dan dunia barat sudah tidak asing lagi. Hal tersebut karena pemikiran dan karyanya yang cukup cemerlang dan mampu mempengaruhi pola pikir manusia dimasanya hingga sekarang. Ia dapat digolongkan sebagai pembangun agama nomor satu dan pemberi jalan terang menuju Tuhan. 





Pendidikan dan Karyanya


Al Ghozali nama aslinya adalah Abu Hamid Bin Muhammad bin Achmad al-Ghozali, lahir tahun 1058M/450 H di Tus dekat Mashad, suatu kota kecil di Khurasan (Iran). Kata –kata al-Ghozzali dengan satu z dari kata ghazzal artinya tukang pemintal benang. Karena pekerjaan ayah al-Ghozali ialah memintal benang wol. Sedangkan al-Ghozali dengan satu z, diambil  dari kata-kata Ghazalah, nama kampung kelahirannya al-Ghazali.


Ayah al-Ghazali, adalah seorang tasawuf yang saleh dan meninggal dunia ketika al-Ghazali beserta saudaranya  masih kecil. Akan tetapi sebelum wafatnya ia telah menitipkan kedua anaknya kepada seorang tasawuf guna untuk mendapatkan bimbingan dan pemelihararaan dalam hidupnya.


Menjelang usia remaja ia belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan dan akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini ia wafat tahun 478H/1085M. Selanjutnya ia berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota  Mu’askar, dan dari padanya ia mendapatkan penghargaabn dan kehormatan yang besar. Sehingga ia tinggal di kota itu enam tahun lamanya.


Pada  tahun 483H/1090M, ia dangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah Bagdad, dan pekerjaan itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Bagdad, selain mengajar  Imam Ghozali mengadakan bantahan-bantahan terhadap pemikiran-pemikiran golongan Batiniah, Ismailiyah, golongan filsafat dan lain-lain. Selama itu ia tertimpa keragu-raguan tentang kegunaan pekerjaannya, sehingga akhirnya  ia menderita penyakit yang tidak  bisa diobati dengan obat lahiriah (Fisioterapi).


Pekerjaannya itu kemudian ditinggalkannya pada tahun 484H untuk menuju Damsyik, dan dikota ini ia merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih  dua tahun, dengan tasawuf sebagai jalan hidupnya.


Kemudian ia pindah ke Palestina dan disini pun ia tetap merenung, membaca dan menulis dengan mengambil  tempat di baitul –Maqdis.


Sesudah itu tegaklah hatinya untuk menjalankan ibadah haji, dan setelah selesai ia pulang kampung ke negeri kelahirannya yaitu kota Tus. Disana tetap seperti biasanya berkhalwat dan beribadah. Keadaan tersebut berlangsung sepuluh tahun lamanya. sejak kepindahannya ke Damsyik, dan dalam masa  ini ia menulis buku-buku  mengenai Islam (fiqih), tasawuf, tafsir, otobiografi  dan adab kesopanan.


Sebagian buku-buku tersebut  diatas dalam bahasa Arab  dan Persia. dari karya-karyanya  itulah al-Ghozali dikalangan kaum muslimin besar sekali. Sehingga menurut pandangan orang ketimuran (orientalis)  agama Islam yang digambarkan  oleh kebanyakan kaum muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali.


Menurut B.B. MacDonald, untuk dunia Islam al-Ghozali masih menjadi tokohnya yang terbesar, sama dengan kedudukan Agustinus atau Aquinas untuk dunia Kristen. Kitabnnya yang terbesar adalah Ihya’Ulumuddin yang artinya “menghidupkan ilmu-ilmu agama”, dan dikarang selama beberapa  tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hajzz, Tus.


Buku yang lain yaitu al-Munqidz min ad-Dhalal (penyelamat dari kesesatan), berisi tentang sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Diantara penulis-penulis modern banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan autobiografi.Ibnu Arabial-Ibri dan Raymaond Martin banyak mengambil pemikiran-pemikiran al-Ghazali untuk menguatkan pemikirannya.





Sikapnya Terhadap Para Filosof


Pikiran al-Ghozali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh kegoncangan batin. Sehingga  sukar diketahui kesatuan dan kejelasan corak pikirannya. Seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap filosof-filosof dan terhadap aliran-aliran aqidah pada masanya. Dalam bukunya Tahafut al-Falasifah dan-Munqidz min al-Dlalal, al-Ghozali menentang filosof-filosof Islam. Bahkan mengkafirkan mereka dalam tiga soal.


Antara lain: pengingkaran kebangkitan jasmani, membataskan ilmu Tuhan kepada hal-hal yang besar saja dan kepercayaan tentang qadimnya alam dari keazaliannya. Akan tetapi  dalam bukunya yang lain, yaitu Mizan a-l Amal, dikatakan bahwa ketiga-tiga persoalan tersebut menjadi kepercayaan orang-orang tasawuf juga. Begitu juga    dalam bukunya al-Madlnun’Ala Ghairi Ahlihi ia mengikuti qadimnya alam.


Kemudian dalam al-Munqidzul Min ad-Dlalal ia menyatakan bahwa kepercayaan yang dipeluknya ialah kepercayaan orang-orang tasawuf. Akan tetapi dalam bukunya  yang lain lagi, Mi’raj as-Salikin ia menentang  orang-orang tasawuf yang mengatakan adanya kebangkitan rohani saja. Jadi al-Ghozali menentang  kepercayaan dalam tiga soal tersebut dalam beberapa bukunya, tetang mempercayainya dalam buku-buku yang lain.


Maka dari itu ia lebih tepat digolongkan kepada “pembangun agama” nomor satu, yang semua jalan pemikirannya terutama bersumber kepada al-Qur’an dan Hadist, dan kalau memakai sumber lain  dalam Islam, sumber-sumber ini hanya dijadikn sebagai alat untuk menghidupkan ajaran-ajaran  agama  dan untuk membantu menerangi  jalan Tuhan.


Dengan demikian, al-Ghozali  telah mencapai hakikat agama yang belum pernah diketemukan oleh orang-orang yang sebelumnya dan mengembalikan kepada nilai-nilai  agama yang telah hilang tidak menentu. Jalan yang terdekat kepada Tuhan ialah jalan hati. husnu mufid 





 

Air Terjun Coban Rondo


Air Tenjun Coban Rondo di Lereng Gunung Kawi  Pujon Malang

Mandi Kungkum Bisa Datangkan Jodoh


Panorama yang indah di air terjun Coban Rondo mengundang orang untuk datang. Ditambah lagi hawanya yang sejuk membuat orang semakin betah berlama-lama bersama keluarga. Di balik itu, pemandian ini ternyata menyimpan misteri yakni, bila mandi di air terjun itu bisa mendatangkan jodok. Tapi sebaliknya tempat ini pantangan bagi muda-mudi yang lagi pacaran, karena bisa memutuskan hubungan. Mengapa begitu?


Dapatkan Jodoh
Air Terjun Coban Rondo  ini terletak di lereng Gunung Kawi. Posisinya berada di  Dukuh Sebaluh Desa Pandesari Kecamatan Pujon, Malang. Kondisi lingkungan sekitarnya masih asri  dan belum dirusak oleh masyarakat sekitar. Sehingga udara disekitar air terjun tersebut masih terasa nyaman.
Kondisi demikian itu  mengakibatkan banyak orang datang  untuk sekedar bertamasya bersama keluarga pada hari libur. Selain itu ada maksud-maksud lain. Yaitu untuk cepat dapat jodoh. Khususnya bagi mereka yang belum mendapatkan pasangan hidup di dunia.
"Kalau ada orang yang melakukan tirakat di Air Terjun Coban Rondo, karena sudah lama tidak dapat jodoh,  Insya Allah akan laku kawin," ujar Ustad Sobirin warga setempat.
Untuk mendapatkan keinginan tersebut biasanya seseorang laki-laki maupun perempuan harus rela kungkum dan bersemadi selama beberapa jam. Bagi yang baru menjalani sudah barang tentu ada perasaan rasa takut. Tapi kalau sudah diniati dari rumah, perasaan takut itu hilang dengan sendirinya.
Sudah banyak orang yang ingin mendapatkan jodoh dengan mandi  di air terjun Coban Rondo ini. Mereka yang berhasil bukan hanya dari daerah sekitar, melainkan luar kota pun cukup banyak.  Tapi ada juga yang gagal. Hal tersebut karena mereka tidak sungguh-sungguh dalam melakukan ritual.  
Kegagalan orang yang melakukan lelaku biasanya tidak kuat menahan dinginnya air dan bayang-bayang mahluk halus yang kadang-kadang muncul. Meskipun sebenarnya mahluk tersebut tidak akan mengganggu jalannya laku ritual. Hanya ingin berkenalan saja terhadap orang yang melakukan lelaku.

Pantangan Berpacaran

Lelaku kungkum tersebut hanya dikhususkan pada orang yang belum mendapatkan pasangan. Sedangkan bagi  pemuda-pemudi yang sudah punya pasangan dan  berpacaran ditempat tersebut tidak diperbolehkan. Karena resikonya besar, yaitu  nanti akan putus dengan kekasihnya.
Hal tersebut dikait-kaitkan dengan cerita masa lalu. Konon ceritanya jaman dahulu ada sepasang suami isteri  yang menikah di Gunung Anjasmoro. Kemudian diutus gurunya untuk datang ke lereng Gunung Kawi. Sesampainya ditempat tujuan melihat ada air terjun yang sangat indah dan airnya segar. 
Ditempat tersebut, kedua pasang suami isteri itu lantas mandi bersama-sama dalam waktu yang cukup lama. Maklum sudah beberapa hari badannya tidak terkena air. Karena terbuai dengan air terjun tersebut, sehingga lupa kalau ada pemuda yang melihat dari celah-celah pepohonan.
Pemuda yang melihat itu tertarik pada wanita yang mandi di air terjun tersebut. Ingin saja mengawininya. Oleh ibunya diperingatkan agar  tidak merusak pagar ayu. Akan tetapi tidak digubrisnya. Kenekatan pemuda itu membuat suami wanita tersebut marah besar. Inginnya mengajak berkelahi.
Maka  terjadilah perkelahian seru di tebing air terjun Coban Rondo. Karena sama-sama sakti, akhirnya kedua laki-laki yang berkelahi itu meninggal dunia. Sedangkan  wanita itu menjadi janda (rondo) dan menetap disitu hingga akhir hayat. husnu mufid 


   

Abu Nawas

Abu Nawas di Jaman Khalifah Harun Al Rasyid Kerajaan Abbasyiah di Bagdad Penyair Yang Pandai Mengarang dan Tipu Muslihat Abu Nawas adalah putra dari seorang hakim dari Persia. Dia adalah penyair yang cerdik dan pandai mengarang cerita lucu-lucu bahkan jorok. Dibumbui dengan cerita tentang tipu muslihat dan kecerdikan. Soal tipu muslihat dan kecerdikan inilah dijadikan siasat untuk menghadapi musuh-musuhnya oleh Khalifah Harun Al Rasyid. Sekarang siasat tersebut digunakan Presiden Sadam Hussein untuk mempertahankan kekuasaannya dan menghabisi musuh-musuhnya di dalam negeri maupun pasukan koalisi. Putra Seorang Hakim Kerajaan Nama Abu Nawas dalam sejarah Islam sudah tidak asing lagi. Nama aslinya adalah Hasan Ibn Hani. Lahir sekitar tahun 120 H di Persia wilayah Irak selatan sekarang dan meninggal tahun 195 H/810 M. Dia hidup pada jaman khalifah Harun Al Rasyid dari kerajaan Bani Abbasyiyah yang berpusat di Bagdad. Ayah Abu Nawas adalah seorang ahli hukum dan hakim yang cukup disegani pada jaman Khalifah Harun Al Rasyid (786-809 M) dari dinasti kerajaan Abbasyiah. Banyak persoalan-persoalan tentang hukum yang diselesaikan dengan bijak oleh ayahnya. Sehingga hukum Islam benar-benar ditegakkan. Tapi keahlian hukum yang dimiliki ayahnya itu tidak diajarkan kepada Abu Nawas, melainkan pelajaran sastra yang diajarkan melalui guru-guru sastra. Dari sastra inilah dia mulai mengenal penyair-penyair yang terkenal di kota Bagdad. Waktu itu para pujangga atau penyair mendapatkan tepat utama di jaman Khalifah Harun Al Rasyid. Dari pergaulannya dengan para penyair itulah menjadikan Abu Nawas berminat besar mempelajari karya sastra. Untuk itulah dia melakukan perjalanan di berbagai kerajaan Timur Tengah guna memperdalam ilmu sastra pada penyair-penyair terkenal waktu itu. Hasilnya cukup memuaskan. Dia menjadi seorang penyair ternama di jajirah Arab. Ribuan orang mengagumi karya-karyanya yang dianggap berbeda dengan penyair sebelumnya. Yaitu lucu, cerdik, kritis, dan penuh tipu muslihat. Orang yang mendengarkan ceritanya dipastikan senang dan tertawa baik lewat tulisan maupun lesan. Seperti Kisah Seribu Satu Malam yang mengagumkan itu hingga kini. “Bahkan kota Bagdad mendapat sebutan sebagai kota seribu satu malam itu bermula dari Abu Nawas. Dia sangat pandai mendongeng, melawak dan cerdik dalam hal tipu muslhat,”ujar DR Ali Mufodi, MA Pakar Timur Tengah dan dosen sejarah Islam Pasca Sarjana IAIN Snan Ampel Surabaya. Tinggal Diistana Kepiawaian Abu Nawas dalam membuat syair membuat Khalifah Harun Al Rasyid tertarik. Kemudian dijadikan sebagai anak asuh di dalam istana kerajaan Dinasti Abbasyiah di kota Bagdad. Di dalam istana tersebut dia semakin pandai mendongeng dengan cerita-cerita yang lucu penuh dengan kecerdikan dan bahkan jorok. Cerita-cerita lucu dan penuh kecerdikan dalam karya Abu Nawas menjadikan inspirasi bagi Khalifah Harun Al Rasyid untuk memperdaya lawan-lawan politiknya. Seperti menghabisi kaum Alawiyin di sebelah selatan laut Kaspia, keluarga Barmak dan kerajaan Bizantium dengan bujukan lembut disertai tipu muslihat. Dengan siasat cerdik yang dimiliki Abu Nawas itulah, Harun Al Rasyid menjadi seorang khalifah mampu membawa kerajaan mencapai puncak peradaban pada Dinasti Abbasyiah. Dimana wilayahnya membentang dari Maroko di sebelah barat hingga India sebelah Timur. Musuh-musuhnya yang mencoba menyerang ke Bagdad mengalami kegagalan. Tanpa harus dihadapi dengan kekuatan tentara yang cukup besar. Kecerdikan Abu Nawas yang dipakai khalifah Harun Al Rasyid sampai sekarang dipakai oleh Sadam Hussein untuk merebut dan mempertahankan kekuasaannya. Hal ini dibuktikan ketika Sadam dan tentara melakukan pemberontakan kepada Inggris tahun 1950 agar hengkang dari Bagdad dan melakukan pemberontakan bersama tentara kepada Raja Faesol boneka Inggris tahun 1958 M. Pemberontakan tersebut berhasil yang kemudian mendirikan negara Republik Irak. Kini kecerdikan Abu Nawas itu dipakai kembali oleh Sadam Hussein dalam perang melawan Pasukan Koalisi yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Spanyol. Dimana tentara Irak tidak menggunakan seragam kebesaran, melainkan memakai baju biasa dan membaur dengan rakyat. Kecerdikan Abu Nawas tersebut rupanya membawa hasil. Sehingga pasukan koalisi tidak mampu menggulingkan dalam waktu yang cepat. Bahkan diantara mereka saling bunuh, tembakan rudalnya meleset, pikirinya dilanda setres dan menghadapi kendala yang jauh dari perhitungan semula. husnu mufid

Pondok Pesantren Salafiyah Rogojampi

Kiai Abdul Ghofar, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Putri Rogojampi Banyuwangi, Jatim Tegakkan Kebenaran, Gembleng Pemuda Tingginya ilmu yang dimiliki, baik kedigdayaan maupun agama menjadikan dirinya memiliki tanggungjawab besar. Keluar masuk kampung dalam mensyiarkan Islam sudah menjadi lakunya, tidak ada sedikitpun rasa gentar dalam menegakkan kebenaran. Tidak heran bila sering mendapat kepercayaan dari kiai-kiai sepuh untuk mengatasi berbagai persoalan. Selain itu, juga melakukan gemblengan pada anak muda. Itulah gambaran Kiai Abdul Ghofar, pengasuh pondok pesantren Salafiyah Putri Rogojampi Banyuwangi. SEJAK kecil, Kiai Abdul Ghofar hidup di lingkungan keluarga santri yang sederhana. Kakeknya (KH Zainudin) merupakan Ulama’ yang sangat terkenal di daerah Rogojampi Banyuwangi. Banyak orang yang datang untuk menuntut ilmu. Baik itu ilmu agama Islam maupun ilmu hikmah seperti penangkal santet yang waktu itu disukai masyarakat. Tinggianya ilmu yang dimiliki kakeknya asal Banten itu rupanya menurun pada cucunya yakni Abdul Ghofar. Hal itu sudah terlihat tanda-tandanya sejak kecil dimana beliau suka belajar agama Islam. Orang tuanya juga berperan besar membentuk pribadi dan ketekunannya belajar agama, terutama di Madrasah Ibtidaiyyah. Setelah lulus, Abdul Ghofar melanjutkan menuntut ilmu ke berbagai pesantren. Salah satunya Ponpes Darussalam Blokagung Jajag. Saat belajar di pesanten, Abdul Ghofar menunjukkan tingginya ilmu yang dimiliki dibanding dengan teman-teman yang lain. Beliaupun mendapat berhatian serius dari kiainya dan setelah dirasa tepat, maka diminta untuk membantu mengajar mengaji di pesantren yang di Darussalam. Ternyata tugas yang diembankan itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Setelah pengalaman dan ilmu yang dimiliki cukup, pulanglah Abdul Ghofar ke rumahnya dan menikah, kemudian mendirikan organisasi dibak (sholawat Nabi Muhammad SAW) dan membantu mengajar di pesantren milik orang tuanya, yaitu Pesantren Putri Salafiyah Kauman Rogojampi yang kemudian menjadi pemangku menggantikan orang tuanya. Perkembangan pesantren salafiyah ini semakin berkembang, dan banyak orang tua yang menyerahkan anaknya untuk dididik dan diajari ilmu. Pesantren yang dulunya memiliki santri sedikit menjadi banyak. Bahkan kini bangunan pondoknya megah dan terawat bersih. Berjuang Tanpa Pamrih Ilmu dam aktivitasnya di pesantren menambah pengaruhnya semakin luas di masyarakat. Konon, tingginya ilmu yang dimiliki telah mampu menyamai kiai-kiai sepuh yang ada di Banyuwangi. Namun demikian, beliau tetap merendahkan diri dan tidak mau menyombongkan diri. Sikap yang demikian itu menjadikan kiai-kiai banyak yang menyukai, bahkan kalau ada persoalan yang menyangkut orang banyak, seringkali Kiai Abdul Ghofar diserahi tugas. Salah satunya persoalan penggembelengan menjelang Pemilu 1999 lalu dan baru-baru ini saat akan dimunculkannya Memorandum ke II. “Saya menggembleng anak muda karena mendapat tugas kiai sepuh. Begitu juga saat gegernya kasus Bupati Banyuwangi Purnomo Sidik, Ninja, saya juga ikut menghadap DPR RI di Jakarta belum lama ini,” ungkapnya. Kepercayaan yang diterima dari para kiai dan masyarakat tidak disia-siakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Meskipun tidak ada imbalan yang menjanjikan. Yang penting baginya dapat menegakkan kebenaran dimuka bumi. Menjelang pemilu '99 lalu juga diserahi tugas kampanye PKB. Meski tidak masuk ke kursi DPRD Banyuwangi, namun tidak membuatnya putus asa. Jabatan hanyalah sebuah titipan dan tidak kekal. Yang penting baginya telah berbuat untuk PKB. Meskipun dirinya tidak mendapatkan jabatan di DPR. Meskipun suara PKB nomor sati di Kabupaten Banyuwangi. Setelah gagal menjadi anggota dewan, Kiai Abdul Ghofar memusatkan diri dalam kegiatan berda’wah. Dari kampung keluar kampung hingga keluar kota. Sampai-sampai jarang berada dirumah. Sesekali memberikan gemblengan kepada pemuda-memuda yang menginginkannya. husnu mufid.

Senin, 16 September 2013

Ponpes Khamdaniyah Sidoarjo Jatim

* Ponpes Khamdaniyah, Siwalan Panji Sidoarjo, Jawa Timur Tempat Nyantrinya Para Ulama Besar Pesantren klasik yang hingga kini konsisten dengan kesalafannya adalah Pesantren Khamdaniyah. Bangunan pondokan santri tidak berubah. Masih berupa bilik-bilik yang dibuat dari kayu dan anyaman bambu. Khas perkampungan tempo dulu. Sebagai tempat siar Islam, agaknya pesantren yang berada di desa Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo ini tidak mementingkan wadah. Namun mengutamakan isi/hasilnya. Betapa tidak ! sebut saja, Syaikhona Cholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Kakek Gus Dur), KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Mbah Ud (Pagerwojo), dan ulama-ulama besar lainnya, hasil didikan pesantren ini. Pesantren Khamdaniyah didirikan pada tahun 1787 M. Nama Khamdaniyah diambil dari nama pendirinya, yaitu KH. Khamdani. Namun, di luar kota Sidoarjo terkenal dengan nama pesantren Siwalanpanji. Pesantren ini termasuk pondok tertua di Sidoarjo, Jawa Timur. Tujuannya, tak lain meneruskan perjuangan Walisongo, mensiarkan ajaran-ajaran Islam. Banyak cerita menarik ketika Kiai Khamdani hendak mendirikan pondok di kawasan Desa Siwalanpanji ini. Kala itu tanah pondok masih berupa rawa. Kiai Khamdani yang lahir di Pasuruan pada tahun 1720 M itu di kenal sebagai pribadi yang Zahid (tidak mementingkan urusan duniawi), abid (ahli ibadah), dan wara (berhati-hati dalam segala hal). Sehingga diberi banyak karamah oleh Allah ta’ala. Menurut Gus Rokhim, Ketika kawasan masih berupa rawa, Mbah Khamdani berdoa memohon kepada Allah agar tanah rawa diangkat ke permukaan untuk dijadikan tempat syiar Islam waktu itu. Tidak berselang lama, beberapa bulan kemudian, tanah yang sebelumnya rawa tiba-tiba mengering dan menjadi daratan. Tidak hanya itu, pada awal awal pengerjaan pondok, kayu bangunan pondok yang didatangkan dari cepu melalui jalur laut tiba-tiba pecah dan tergulung ombak, sehingga berserakan di laut. Namun karena pertolongan Allah, kayu-kayu yang semula berpencar ini, bergerak sendiri melalui sungai, menuju ke sungai di seberang kawasan pondok. Ada satu kayu yang tersangkut di kawasan Kediri, dan sekarang disebut menjadi kayu cagak Panji. Karamah-karamah tersebut menjadikan magnet tersendiri, sehingga banyak santri yang mengirik putra-putranya untuk belajar di pesantren ini. Menurut Gus Rokhim, pemangku pondok pesantren Khamdaniyah sekarang ini adalah generasi ke 7 dari Kiai Khamdani. Silsilah beliau bila dirunut ke atas, merupakan ulama-ulama klasik tempo dulu hingga ke walisongo. Beliau adalah salah seorang putra Kiai Mirrodani bin Kiai Sufyan bin Khassan Sanusi bin Sa’dulloh bin Sakorudi bin mbah Sholeh Semendi, yang dikenal sebagai waliyullah. Kiai Khamdani memiliki dua orang putra yang meneruskan perjuangannya, yaitu Kiai Abdurohim dan Kiai Ta’qub. Para putranya memegang tongkat estafet perjuangannya. Murai dari dua putranya ini, merupakan periode keemasan pondok pesantren Khamdaniyah Siwalanpanji Buduran. Pesantren siwalan panji ini cukup dikenal dalam Sejarah Nasional Indonesia, apalagi dalam tarikh penyebaran Islam di Jawa Timur dan penyebaran pola pendidikan Pesantren di Indonesia. Hal ini karena banyak tokoh Islam dan tokoh Pergerakan Nasional yang pernah nyantri atau menimba ilmu dan mendapatkan gemblengan dari para Masyayih di Pesantren ini. KH Hasyim Asy'ari, tokoh Pergerakan Nasional dan pendiri Nahdlotul Ulama' (NU) pernah belajar cukup lama di Pesantren ini, beliau juga sempat di ambil sebagai menantu oleh KH Ya'qub Hamdani. Namun keturunan dari KH Hasyim Asyari dan Khodijah binti KH ya'qub yang pada waktu itu diberi nama Abdulloh meninggal ketika masih bayi di Makkah Al-Mukarromah. Kiai Nawawi atau Raden Sepuh bin Raden Bustaman yang berasal dari Solo Jawa Tengah, Pendiri Pesantren Ma'had Arriyadl Ringin Agung Pare Kediri termasuk santri. Diperkirakan angkatan senior Pesantren Siwalanpanji, karena beliau lahir tahun 1818 M dan mulai nyantri di Siwalanpanji tahun 1835 M kemudian pada tahun 1870 residen Kediri memberi izin mendirikan pesantren Ringin Agung. DIAN

Silaturrahmi Keraton Nusantara








Halal Bihalal Silaturrahmi Keluarga Besar Kesultanan Demak dan Kesultanan Nusantara di Istana Balai Witono Glagahwangi Dhimak Demak

Satukan Trah Raden Patah Mancanegara dan Indonesia

Karaton Glagahwangi Dhimak menggelar halal bihalal Silaturrahmi Keluarga Besar Kesultanan Demak dan Kesultanan Nusantara pada Kamis malam Jumat, 12 September 2013 di Istana Balai Witono Glagahwangi, Dhimak Jl Pangeran Demak 100 Demak, Jawa Tengah.

Acara tersebut akan dihadiri para tamu undangan yang terdiri atas raja dan sultan dari berbagai daerah Indonesia dan luar negari yaitu Malaysia, Thailand, dan Singapura yang masih terkait dengan keturunan Raden Patah. Juga akan hadir pula Paguyuban Trah Hamengkubuwono Yogyakarta dan putra perdana mentri Malaysia hadir serta Prabu Jauhari Notobroto Raja Kerajaan Nusantara.
“Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan talisilaturrahmi persaudaraan. Sehingga tersambung ikatan persaudaraan yang selama ini terputus akibat jarak yang cukup jauh atau kepatin obor. Istilahnya yang lebih kren adalah menyambung tulang-tulang yang berserakan dibelahan bumi,” ujar DYMM Sultan Suryo Alam Joyo Kusumo Raja Demak di Istana Balai Witono Glagahwangi Dhimak.
Dengan bertemunya seluruh keluarga besar Trah Raden Patah di Indonesia dan mancanegara, maka sudah barang tentu akan semakin kuat persatuan kembali sesama anak cucu pendiri Kesultanana Demak Bintoro. Mengingat selama ini dalam kondisi tercerai berai dan banyak yang belum kenal antara sesama trah Raden Patah. “Nah, dengan acara tersebut dapat saling mengenalkan diri. Sehingga budaya-budaya Kesultanan Demak Bintoro akan kembali hidup dan berjaya di bumi Indonesia,” tambahnya.
Dalam acara halal bihalal Silaturrahmi Keluarga Besaran Kesultanan Demak dan Kesultanan Nusantara ini diawali dengan semaan membaca Alquran 30 zuz oleh hafidil Quran dan dimeriahkan musik islami Rebana Glagahwangi dan Pengajian Umum KH KRHT. Drs. Niam Ansori, M.PdI Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam Demak, pemberian santunan pada anak yatim piatu dan janda-janda tua.
Setelah itu dilanjutkan dengan acara Deklarasi Pendirian Koperasi Nusantara dan Peresmian Lembaga Bantuan Hukum Keraton Glagahwangi Dhimak. Dengan harapan Karaton Glagahwangi Dhimak akan mampu berkiprah di tengah-tengah masyarakat dalam bidang perkoperasian dan memberikan bantuan hukum kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum.
“Kedepannya Karaton Glagahwangi Dhimak memiliki kegiatan yang bukan hanya bersifat budaya, tetapi bergerak dalam bidang ekonomi dalam bentuk Koperasi dan bidang hukum untuk memberikan pembelaan pada rakyat kecil yang diistilahkan dengan nama Wong Cilik,” ujar DYMM Sultan Suryo Alam Syah Joyo Kusumo Raja Demak di Istana Balai Witono Demak dengan tersenyum.

Jamuan Makan

Kemudian dilanjutkan dengan acara prosesi penyerahan Tombak Kiai Slamet dan Ayam Jantan dari timur oleh Ketua Dewan Pendekar Dunia dan Pengageng Gunung Penanggungan Airlangga. Prosesi ini merupakan ciri khas setiap kegiatan yang digelar di Istana Balai Witono Karaton Glagahwangi Dhimak Demak.
Usai prosesi penyerahan tombak Kiai Slamet dilanjutkan sambutan oleh KGPH Hadi Suryo satrio Negoro adik Sri Sultan HB Kubuwono X selaku Ketua Dewan Pendiri Silaturrahmi Raja Nusantara. Dalam sambutannya nanti akan mengajak seluruh Trah Raden Patah untuk meningkatkan tali silaturahmi.
Setelah acara seremonial halal bihalal berakhir dilanjutkan dengan ramah tamah seluruh undangan yang hadiri di Istana Balai Witono Karaton Glagahwangi Dhimak dan dilanjutkan jamuan makan khas Kesultanan Demak Bintoro. HUSNU MUFID