Selasa, 03 Mei 2016

Laksamana Chengho 1


Laksamana Cheng Ho (1)
Lahir dari Keluarga Muslim Taat
Dalam sejarah Indonesia, Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain. Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Berikut ini kisah hidupnya.
                               
Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa berasal dari Provinsi Yunnan di Asia Barat Daya.
Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan Haji Ma. Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.
Pada saat Kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara. Selama 28 tahun (1405 – 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal.
Misi muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik, perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus, Vasco da Gamma, ataupun Magelhaes.
Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tionghoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.
Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi Kaisar Ming Ta’i-Teu (berkuasa tahun 1368 – 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 – 1433. Misi ibadah haji ini sengaja dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan agama.
Untuk mengesankan bahwa pelayaran haji ini tidak ada hubungannya dengan keluarga istana, sengaja diutus Hung Pao sebagai pimpinan rombongan. Rombongan haji itu tidak diikuti oleh semua armada dalam rombongan ekspedisi ke-7. Rombongan haji ini berangkat dari Calleut (kuli, kota kuno) di India menuju Mekah (Tien Fang).
Demikianlah misi perjuangan dan misi rahasia menunaikan ibadah haji yang dijalankan Cheng Ho, dan misi tersebut berhasil. Akan tetapi Cheng Ho merasa sedih karena tidak bisa bebas berlayar menuju tanah leluhurnya, Mekkah, untuk beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.
Sebelumnya, pada ekspedisi ke-5, armada Cheng Ho telah berhasil mencapai pantai timur Afrika dalam waktu tiga tahun. Dalam kesempatan tersebut, armada Cheng Ho berkunjung ke kerajaan di Semenanjung Arabiah dan menunaikan panggilan Allah ke Mekkah.
Sejarah tentang perjalanan muhibah Cheng Ho, hingga saat ini masih tetap diminati oleh berbagai kalangan, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat keturunan Tionghoa. HUSNU MUFID





Ibnu An Nafis 2


Ibn Al-Nafis (2 habis)
           
Hibahkan Perpustakaan dan Klinik untuk Rumah Sakit
Ibn Al-Nafis merupakan sosok ulama yang cukup mumpuni. Ia bukan hanya pandai dalam ilmu agama, melainkan pandai dalam ilmu kedokteran. Temuan-temuannya dalam teori ilmu kedokteran cukup mencegangkang bagi dunia kedokteran. Berikut ini laporan posmo.


Al-Nafis meyakini bahwa darah yang berasal dari bilik kanan jantung harus mengalir ke bilik kiri jantung, namun tak ada penghubung antara dua bilik tersebut. Katup jantung tak berlubang dan berpori baik yang terlihat maupun tak terlihat seperti teori yang dikemukakan Galen.
Nafis menambahkan bahwa darah dari bilik kanan jantung mengalir melalui pembuluh arteri ke paru-paru. Kemudian darah itu bercampur dengan udara dan mengalir melalui pembuluh vena ke bilik kiri jantung dan membentuk spirit vital. Di bagian lain, Al-Nafis mengajukan sebuah postulat meski dalam dunia kedokteran apa yang ia lontarkan tersebut jarang sekali dibicarakan. Ia menyatakan bahwa nutrisi bagi jantung diesktrak dari pembuluh darah yang melalui dinding-dinding jantung.
Hal ini ia katakan untuk menepis pendapat Ibn Sina yang menyatakan nutrisi bagi jantung berasal dari darah yang berada di bilik kanan jantung. Justru nutrisi jantung diperoleh dari darah yang mengalir melalui pembuluh darah yang merembes ke badan jantung. Dengan postulatnya ini, Ibn Al-Nafis meletakkan konsep dasar peredaran darah jantung. Namun kegemilangan Al-Nafis dalam bidang kedokteran ini belum dikenal selain di kawasan Arab.
Baru tiga abad setelah itu, Eropa mengenal penemuan-penemuan besar dalam bidang kedokteran melalui terjemahan tulisan-tulisan Al-Nafis dalam bahasa latin oleh Andrea Alpago pada 1547.
Tak lama kemudian, tepatnya pada 1553, Michael Servetus memaparkan tentang peredaran darah paru itu dalam buku teologinya yang berjudul Christianismi Restitutio. Andreas Vesalius menjelaskan tentang konsep peradaran darah paru dalam bukunya, De Fabrica, dengan cara yang sama dengan Ibn Al-Nafis.
Sebuah penelitian yang menarik menunjukkan bahwa pada edisi pertama bukunya, 1543, Vesalius sependapat dengan Galen. Ia menuliskan bahwa darah mengalir melalui sekat jantung dari bilik kanan ke bilik kiri jantung.
Pada edisi keduanya, 1555, ia menyangkal tulisannya itu sebagai ganti ia berpendapat bahwa dirinya tidak melihat bagaimana darah dalam kuantitas kecil dapat ditransfer melalui saluran tertentu yang ada pada sekat jantung dari bilik kanan ke bilik kiri jantung. Penjelasan lain yang sama dengan penjelasan Ibn Al-Nafis diberikan oleh Realdus Colombo pada 1559 dalam bukunya, De re Anatomica.
Kemudian pada 1628, William Harvey, mendemonstrasikan hal tersebut dengan observasi anatomik binatang dalam laboratorium mengenai gerakan darah dari bilik kanan ke paru-paru dan kembalinya darah dari bilik kiri jantung melalui pembuluh vena dan ia menegaskan bahwa ia tak dapat menemukan pori-pori apa pun yang terdapat pada sekat tebal tersebut.
Karya lain Al-Nafis adalah Kitab al-Mukhtar fi al-Aghdhiya, yang mengupas tentang efek diet bagi kesehatan. Selain itu, juga Kitab al-Shamil fi al-Tibb, semula ia rencanakan menjadi sebuah ensiklopedia yang terdiri atas 300 jilid, tetapi terhenti di tengah jalan karena Al-Nafis wafat. Sebelum Ibn Al-Nafis menghembuskan napas terakhirnya, pada 1288, ia menghibahkan perpustakaan dan kliniknya untuk rumah sakit.
Meninggalnya Al Nafis menjadikan dunia Islam kehilangan seorang ulama yang mengerti ilmu kedokteran. Karena sebelum dunia Barat maju dalam bidang ilmu kedokteran, Al-Nafis merupakan ulama yang banyak melahirkan teori-teori ilmu kedokteran. Memang sungguh luar biasa. HUSNU MUFID



Ibnu An Nafis 1


Ibn Al-Nafis (1)
       
Dokter dan Ahli Hukum Islam
Nama lengkapnya adalah Ala-al-Din Abu al-Hasan Ali Ibn Abi al-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi, yang karib dipanggil Ibn Al-Nafis. Ia dilahirkan di Damaskus, Irak, pada 1213 M. Masa kecilnya ia habiskan di Damaskus. Berikut ini kisah hidupnya.

 Ia menempuh pendidikan dalam bidang kedokteran di Medical College Hospital (Bimaristan Al-Noori) di bawah bimbingan Muhaththab al-Din Abd al-Rahim. Selain itu, ia pun mempelajari hukum Islam. Makanya di kemudian hari selain terkenal sebagai dokter ia juga dikenal sebagai pakar hukum Islam bermazhab Syafi’i.
Setelah menyelesaikan studinya di bidang kedokteran dan hukum Islam di Damaskus, pada 1236, Nafis meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kairo, Mesir. Di sana, ia belajar di Rumah Sakit Al-Nassri. Prestasinya yang gemilang membuat ia ditunjuk sebagai direktur di rumah sakit tersebut.
Sejumlah dokter spesialis di Kairo juga mendapatkan sentuhannya, termasuk Ibn al-Quff al-Masihi, yang di kemudian hari dikenal sebagai dokter bedah terbaik di Kairo. Al-Nafis dapat dikatakan sebagai dokter yang bekerja secara integral karena ia terus mempelajari ilmu kedokteran, dan memperkayanya melalui berbagai observasi yang ia lakukan.
Di bangku sekolah menengah, kita telah mengenal bagaimana darah yang ada di dalam jantung mengalir. Dari bilik kanan jantung mengalir ke bilik kiri jantung melalui pembuluh darah. Teori ini telah berkembang lama di dunia kedokteran dan menjadi kebenaran yang dianut dalam dunia kedokteran modern dewasa ini. Namun tak banyak yang tahu, siapa yang pertama kali yang mengemukakan teori tersebut. Dia adalah Ibn Al-Nafis yang dikenal sebagai dokter juga ahli hukum Islam.
Hal inilah yang membuat namanya menjulang dalam perkembangan ilmu kedokteran baik di Timur maupun Barat. Ia menjadi orang pertama yang menerangkan secara tepat hal ihwal paru-paru serta memberikan gambaran mengenai saluran pernapasan juga interaksi antara saluran udara dengan darah dalam tubuh manusia.
Ia memaparkan secara jelas pula mengenai fungsi pembuluh arteri dalam jantung sebagai pemasok darah bagi otot jantung (Cardiac Musculature). Penemuannya mengenai peredaran darah paru merupakan penemuan yang menarik dan topik yang penuh perdebatan. Al-Nafis memberikan pengaruh besar bagi perkembangan ilmu kedokteran Eropa pada abad ke-16.
Di antara dokter terkenal yang terpengaruh dan terinspirasi oleh pendapat Al-Nafis adalah Sarveratus, Colombo, serta Harvey. Jasa Al-Nafis dalam dunia kedokteran diungkap lagi pada 1924. Saat itu, seorang dokter asal Mesir, Dr. Muhyo Al-Deen Altawi, menemukan sebuah catatan yang bertajuk Commentary on the Anatomy of Canon of Avicenna di perpusatakaan negara Prussian, Berlin.
Pada saat itu, ia tengah belajar sejarah pengobatan Arab di Fakultas Kedokteran, Albert Ludwigs University, Jerman. Muhyo menyatakan bahwa catatan tersebut merupakan salah satu karya ilmiah terbaik, buah pikiran Al-Nafis mengenai anatomi, patologi, dan fisiologi. Karya tersebut mengungkap sebuah fakta ilmiah penting yang kemudian diabaikan begitu saja, yaitu gambaran tentang peredaran darah paru.
Muhyo mengungkapkan teori yang diterima sebelum penemuan besar Ibn Al-Nafis, mengenai peredaran darah paru, adalah teori yang dilontarkan oleh Galen pada abad kedua. Teori tersebut menerangkan bahwa darah mengalir dari bilik kanan jantung melalui pori-pori yang terdapat pada katup jantung ke bilik kiri jantung. Dalam teorinya, Galen juga menyebutkan bahwa sistem pembuluh vena terpisah dari sistem pembuluh arteri kecuali terjadi kontak antara keduanya melalui pori-pori. HUSNU MUFID


Sunan Ngudung


Kiprah Sunan Ngudung  di Kerajaan Demak Bintoro

Jadi Imam Masjid Demak dan Panglima Perang

Sunan Ngudung merupakan tokoh yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Meskipun namanya tidak setenar Walisongo. Tapi sebenarnya ia punya andil besar dalam mendirikan Kesultanan Demak Bintoro dari serangan kerajaan Majapahit. Seperti apakah kiprahnya. Berikut ini.

Nama asli Sunan Ngudung adalah Raden Usman Haji, putra Raden Ali Murtadla  dari perawinan dengan seorang putri raja dari Sumenep Madura.  Kakeknya bernama  Syekh Maulana Ibrahim Asmorokondi dan buyutnya bernama Syekh Djumadil Kubro, penyebar Islam lintas benua Asia yang makamnya kini di Mojokerto.
Sunan Ngudung menikah dengan Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel. Dari perkawinan tersebut lahir Raden Amir Haji, yang juga bernama Jakfar Shadiq alias Sunan Kudus. Perkawinan ini boleh dibilang perkawinan keluarga agar tidak terlepas dari trah unggul darah biru.
Kemudian Usman Haji menikah dengan Siti Syari’at mempunyai anak bernama Amir Hasan (Sunan Manyuran). Sedangkan Nyai Gede Tundo menikah dengan Kholifah Husain (Sunan Kertoyoso) mempunyai anak Kholifah Suhuroh. Selain Rara Siti Taltun, Raden Santri juga menikah dengan Dyah Retno Maningjum Binti Arya Tejo.
Pada masa Sultan Pati Unus Sunan Ngudung diangkat sebagai imam Masjid Demak menggantikan Sunan Bonang sekitar tahun 1520. Mengingat  Sunan Bonang pindah ke Daerah Lasem Rembang dan melakukan dakwah di Pulau Bawean. Sehingga kekosongan  Imam Besar Masjid Demak harus diisi.
Selain sebagai Imam Besar di Masjid Demak, Sunan Ngudung diangkat sebagai panglima perang oleh Sultan Pati Unus dalam menghadapi kerajaan Majapahit yang memang sejak lama ingin menghancurkan kerajaan Demak Bintoro. Waktu itu Patih Udara dan Raja Gerindrawardana mengkudeta  Prabu Brawijaya V yang akhirnya melarikan diri ke Gunung Lawu.
“Sunan Ngudung sengaja diangkat sebagai  Panglima Perang karena dianggap memiliki keunggulan dan bela diri dan kesaktian.Hanya saja musuh yang dihadapi di medan perang Raden Kusen yang beragama Islam. Kondisi inilah yang membuat rasa bimbang. Karena yang dihadapi adalah saudara sendiri di medang perang,”ujar KH. Syukron Zajilan, MPdI dosen UINSA Surabaya.   
Dimana Raden Kusen, adik tiri Raden Patah sendiri yang menjabat sebagai adipati Terung (dekat Krian Sidoarjo). Raden Kusen merupakan seorang muslim namun tetap setia terhadap Majapahit.  Kondisi inilah yang membuat Sunan Ngudung tidak bertempur seratus persen.
Dalam perang tersebut Sunan Ngudung memakai baju perang bernama Kyai Antakusuma (sekarang disebut Kyai Gondil). Baju pusaka itu diperoleh Sunan Kalijogo yang cukup melegenda itu. Dengan baju tersebut ia melangkah dengan keyakinan akan mampu mengalahkan kerajaan Majapahit yang kini dipimpin oleh Grindrawardhana yang berpusat di Kediri.
Di medan perang Raden Kusen merasa yakin akan mampu mengalahkan Sunan Ngudung. Karena barusan mengalahkan  tentara Majapahit yang pimpinan Brawijaya V atau Sunan Lawu yang melarikan diri ke Gunung Lawu.  
Dalam pertempuran tersebut  Sunan Ngudung  gugur sebagai syahid tahun 1424 M. Karena Raden Kusesn membunuh  dengan beringas. Tanpa ampun. Karena diliputi rasa dendam ingin menghancurkan kerajaan Majapahit yang telah ditinggalkan Raden patah. Kemudian jabatan Sunan Ngudung sebagai panglima perang digantikan oleh Sunan Kudus.
Di bawah kepemimpinan Sunan Kudus  pihak Kesultanan Demak Bintoro berhasil mengalahkan Majapahit. Raden Kusen dapat dikalahkan  tanpa melakukan pembunuhan. Karena Sunan Kudus tidak ingin membunuh adik Raden Patah yang usinya lebih tua. Hal tersebut disebutkan dalam  Naskah Hikayat Hasanuddin.  HUSNU MUFID


Silsilah

Usman Haji atau Sunan Ngudung           
Sayyid Ali Murtadho “RADEN SANTRI” bin
Maulana Ibrahim Asmarakandi bin
Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar Khan bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
Muhammad Sohibul Mirbath (Hadhramaut)
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidillah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uraidhi bin
Ja'far ash-Shadiq bin
Muhammad al-Baqir bin
Ali Zainal Abidin bin
Imam Husain bin
Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra bin
Nabi Muhammad