Selasa, 15 November 2016

Radikalisme dalam Agama




Radikalisme Berkedok Agama

Indonesia yang hidup dengan sejumlah agama, tetapi rukun dan damai, tiba-tiba tercoreng oleh munculnya aksi pengeboman terhadap Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan. Aksi tak bertanggung jawab orang yang menggunakan agama sebagai kedok itu, menyebabkan situasi sesama umat beragama menjadi tegang.
Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Juhanda, membuat dampak yang kurang baik terhadap kehidupan beragama di Indonesia. Karena kekerasan ini bukan kekerasan fisik saja seperti aksi bom yang terjadi di tempat-tempat ibadah. Sehingga menimbulkan korban luka ringan maupun berat.
Aksi kekerasan terhadap gereja tidak bisa dibenarkan. Karena ajaran Islam tidak mengajarkan seorang umatnya melakukan tindakan pengeboman. Bahkan dengan bunuh diri. Tidak ada itu dalam hadis maupun Alquran. Orang yang melakukan pengeboman itu sebenarnya menggunakan agama sebagai kedok melakukan kekerasan dalam agama.
Melihat fenomena kekerasan atas nama agama di Indonesia, muncul sebuah pertanyaan apa yang menjadi penyebab fenomena kekerasan ini bisa terjadi. Gusdur mengatakan "Mereka yang melakukan kekerasan itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang penting.
Ajaran Islam yang sebenar-benarnya adalah tidak menyerang orang lain, tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diserang atau diusir dari rumah kita. Ini yang pokok.
Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya. Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan". Apakah peristiwa kekerasan itu terjadi akibat dari radikalisme? Fundamentalis dan radikalisme bukanlah monopoli dari orang Islam saja. Semua agama memiliki kaum fundamentalis dan radikalisme.
Radikalisasi adalah nilai-nilai yang mengakar dalam semangat seseorang dan mengakar dalam dirinya sendiri. Radikalisme jika dikonsumsi pribadi juga tidak salah dan radikalisasi jika dipakai secara kolektif dalam suatu kelompok juga tidak masalah.
Gerakan radikal merupakan bentuk perlawanan untuk mendapatkan kebebasan yang sangat luas. Praktik radikalisme yang terjadi di Indonesia justru berkembang dengan aksi kekerasan atas nama agama sejak peristiwa reformasi dan demokratisasi yang sedang berlangsung. Banyak organisasi yang mengatasnamakan agama terbentuk yang akhirnya secara perlahan-lahan membentuk sebuah gerakan kekerasan atas nama agama tertentu.
Ini bukan yang diharapkan dalam kehidupan kita sebagai warga negara. Yang diharapkan tentu saja hidup berdampingan dengan damai antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Kita yang orang beragama ini secara tegas mengakui dan melindungi berbagai latar belakang keyakinan, budaya, dan tradisi bangsa Indonesia bukan membawa tradisi bangsa lain untuk hadir dan mengganti tradisi serta budaya lokal yang telah tumbuh dari awal.
Agama bukanlah candu bagi masyarakat. Agama itu pembenaran akan keyakinan yang telah menjadi tradisi dan budaya. Ketika pembenaran itu bertemu dengan pembenaran yang lain, distorsi bisa saja terjadi yang acapkali kaum minoritas menjadi korban dari pembenaran atas keyakinan itu sendiri, yang belum tentu apakah kenyakinan tersebut bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.
Indonesia adalah negara yang multikultural yang beragam budaya, bahasa, adat istiadat dan agama. Perbedaan inilah yang seharusnya dihormati dan dihargai sebagai bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembenaran akan keyakinannya sendiri ditambah dengan tindakan kekerasan kepada yang berbeda selama ini menimbulkan keresahan serta perpecahan antarkelompok dalam sebuah negara yang beragam.
Oleh karena itu, pelaku kekerasan dengan menggunakan kedok agama seharusnya dihukum dan dipenjarakan. Karena sangat merugikan agama lain dan merusak citra Islam di mata pemeluk agama lain. Mengingat Islam merupakan agama rahmatanlilalamin.

husnu mufid redaktur posmo


Sufi Syekh Taqiyuddin



Syekh Taqiyyuddin An Nabhani

 

Hafal Alquran pada Usia Anak-Anak


Syekh Taqiyyuddin An Nabhani adalah seorang qadi, penyair, dan sastrawan. Dilahirkan di daerah Ijzim, padang sahara di Palestina. Sebelum balig, telah hafal Alquran. Masa mudanya pun digunakan untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi Islam. Setelah lulus mengamalkan ilmu ke berbagai sekolah Islam dan menjadi hakim.

Syekh Taqiyyuddin mendapat didikan ilmu syariah dan agama di rumah dari ayahnya dan datuk (kakek buyut)-nya. Ayahnya adalah seorang syekh yang faqih fid din (arif dalam agama) serta seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestin.
Datuknya telah mengajarkan hafalan Alquran sehingga ia bisa hafal Alquran seluruhnya sebelum balig. Ibunya juga menguasai beberapa cabang ilmu syari'ah, yang diperolehnya dari ayahnya, Syekh Yusuf bin Ismail bin Yusuf An Nabhani.
Di samping itu, Syekh Taqiyyuddin juga mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah negeri, seperti saat sekolah dasar di daerah Ijzim. Pertumbuhan Syekh Taqiyyuddin dalam suasana keagamaan yang cukup kental itu, ternyata berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan pandangan hidupnya.
Sebelum menamatkan sekolahnya di Akka, ia telah bertolak ke Kaherah untuk meneruskan pendidikannya di Universiti al-Azhar, hasil dorongan datuknya, Syekh Yusuf An Nabhani. Syekh Taqiyyuddin kemudian meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah Al Azhar pada tahun 1928 dan pada tahun yang sama, ia meraih ijazah dengan predikat sangat cemerlang. Lalu, ia melanjutkan pelajarannya di Kulliyah Darul Ulum yang saat itu merupakan cabang Al Azhar. Di samping itu, ia banyak menghadiri halaqah-halaqah ilmiyah di Al Azhar yang diikuti oleh syekh-syekh Al Azhar. Semisal Syekh Muhammad Al Hidlir Husain. Seperti yang pernah disarankan oleh datuknya. Hal itu dimungkinkan karena sistem pengajaran lama Al Azhar membolehkannya.
Ia pun menarik perhatian kawan-kawannya, karena kecermatannya dalam berpikir dan kuatnya berpendapat. Serta hujjah yang ia lontarkan dalam perdebatan-perdebatan dan perbincangan-perbincangan fikriyah. Yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga ilmu yang ada saat itu di Kaherah dan di negeri-negeri Islam lainnya.
Syekh Taqiyyuddin menamatkan kuliahnya di Darul Ulum pada tahun 1932. Pada tahun yang sama, ia menamatkan kuliahnya di Al Azhar Asy Syarif. Kemudian, aktif menghadiri halaqah-halaqah mereka mengenai bahasa Arab dan ilmu-ilmu syari'ah seperti fiqih, ushul fiqh, hadis, tafsir, tauhid, dsb.
Dalam forum-forum halaqah ilmiah tersebut, An Nabhani dikenali oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat terdekatnya dari kalangan Al Azhar sebagai seseorang dengan pemikiran yang genius, pendapat yang kukuh, pemahaman dan pemikiran yang mendalam, serta berkemampuan tinggi untuk meyakinkan orang dalam perdebatan-perdebatan dan perbincangan-perbincangan fikriyah. Demikian juga, ia sangat bersungguh-sungguh, tekun, dan bersemangat dalam memanfaatkan waktu guna menimba ilmu dan belajar.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syekh Taqiyyuddin kembali ke Palestin untuk kemudian bekerja di Kementerian Pendidikan Palestin sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah kerajaan di Haifa. Di samping itu, ia juga mengajar di sebuah Madrasah Islamiyah di Haifa. Pada tahun 1940, Syekh Taqiyyuddin diangkat sebagai Musyawir (Pembantu Qadi) dan beliau terus memegang jabatan ini hingga tahun 1945. Yakni saat ia dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadi di mahkamah Ramallah hingga tahun 1948. Pada tahun 1951, Syekh Taqiyyuddin menziarahi kota Amman untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah.
Syekh Taqiyyuddin telah meninggalkan kitab-kitab penting yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tidak ternilai harganya. Karya-karya ini menunjukkan bahwa Syekh Taqiyyuddin An Nabhani merupakan seorang yang mempunyai pemikiran bijak dan beranalisis yang cermat. Karya-karya Syekh Taqiyyuddin yang paling terkenal dan yang memuat pemikiran dan ijtihadnya. Di antaranya Nizhamul Islam, At Takattul Al Hizbi, Mahafim Hizbut Tahrir, An Nizhamul Iqthishadi fil Islam, Nizhamul Hukum fil Islam. husnu mufid


Bedah Buku Surabaya 1945 di UINSA Surabaya








Dari Bedah Buku Surabaya 1945 Sakral Tanahku di Surabaya

Daerah Merdeka Pertama RI dari Kekuasaan Bangsa Asing

Buku yang berjudul Surabaya 1945 Sakral Tanahku karya Frank Palmos, sejarawan dari Australia, mendapat perhatian yang cukup besar dalam acara Bedah Internasional yang diadakan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jumat, (11/11) jam 14.00 WIB di Auditorium UINSA Surabaya kemarin. Seperti apakah isinya?

Bedah Buku Surabaya 1945 Tanah Sakralku dengan narasumber Frank Palmos dan Dr. H. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag, Ketua PC NU selaku pembanding dan dimoderatori Rizal, Ketua Lembaga Tahlid Wan Naser (LTN) mendapat perhatian cukup besar dari peserta.
Dalam bedah buku tersebut, Frank Palmos menyatakan, Jawa Timur khususnya Surabaya merupakan daerah yang merdeka pertama kali dari kekuasaan bangsa asing. Boleh dikatakan sebagai tanah hitam atau sakral yang tidak masuk dalam kekuasaan. Sedangkan kota-kota lain sudah masuk ke dalam wilayah kekuasaan pemerintah Belanda. Waktu itu 50 persen wilayah Surabaya telah dikuasai Republik. Belanda tidak mampu menguasai. Kendali kekuasaan ada di tangan Arek Suroboyo yang berani mati.
Hal tersebut karena sikap heroisme rakyat Surabaya membara saat para penjajah ingin kembali menguasai Indonesia sekaligus merenggut kemerdekaan yang hampir diraih. Merdeka atau mati merupakan motto para pejuang ketika melawan para penjajah. Khususnya arek-arek Suroboyo yang kala itu semangatnya tengah berkobar seakan tidak bisa dipadamkan. Hingga puncaknya pada 10 November 1945.
Dengan berani, pejuang di Surabaya mencapai tiga capaian: menaklukkan pasukan Jepang dan melucuti senjatanya, melawan dan menggagalkan kekuatan Belanda yang hendak mengambil kembali bekas jajahannya, dan menantang tentara gabungan Inggris-India dengan misi mereka memulangkan pasukan Jepang yang telah kalah perang dan membantu Belanda berkuasa kembali di Hindia Timur (Indonesia).
”Pertempuran Tiga Hari” berlangsung tanggal 27-29 Oktober 1945. Frank mencatat ini sebagai serentetan sergapan terencana tentara rakyat Surabaya terhadap pasukan Inggris di jalan-jalan Kota Surabaya, hingga kemudian didatangkan Presiden RI Soekarno untuk meredakan pertempuran. Dalam suatu bentrokan dengan pasukan rakyat Surabaya di dekat Jembatan Merah, komandan pasukan Inggris di Surabaya, Brigadir AWS Mallaby, pada 30 Oktober 1945, tewas.

Kiai Enggan Ditulis Sejarah
Peristiwa inilah yang membuat Inggris mengeluarkan ultimatum penyerahan senjata seluruh rakyat Surabaya yang dibatasi hingga 10 November 1945, pukul 06.00. Rakyat Surabaya tidak menggubrisnya. Mereka malah memilih perang meski terdesak sampai selatan Kota Surabaya.
Inilah wujud patriotisme rakyat Surabaya dalam membela simbol negara sekaligus mempertahankan kemerdekaan. Ya, diakui, hanya di Surabaya, pejuang RI mampu memberikan perlawanan yang berarti bagi pasukan Jepang dan Inggris-India. Para Arek Suroboyo, di bawah arahan jitu para tokoh nasionalis lokal, melucuti senjata tentara Jepang, menggagalkan usaha Belanda menundukkan Surabaya dan akhirnya menggempur pasukan Inggris-India di bulan Oktober 1945.
Rakyat Surabaya akhirnya berhasil memenangkan pertempuran, sekaligus mencatat sejarah Surabaya sebagai wilayah Indonesia yang tetap merdeka. Begitulah sedikit gambaran di mana arek-arek-Suroboyo begitu hebatnya saat merebut kemerdekaan.
Sementara Dr. H. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag, Ketua PC NU mengatakan, buku Surabaya 1945 Sakral Tanahku yang ditulis Frank Palmos mengisahkan tentang perjuangan Arek Suroboyo. Namun tidak mengetengahkan perjuangan kiai dan santri. Padahal perannya dalam Peristiwa 10 November 1945 cukup besar.
Memang sejarah Indonesia tidak mencantumkan peran kiai dan santri. Hal tersebut karena penulisan sejak tahun 1980-an para sejarawan hanya mewawancarai para petinggi militer bekas pejuang kemerdekaan. Ditambah lagi memang pemerintah Orde Baru yang saat itu sedang bermusuhan dengan para kiai tidak mau menuliskan sejarah perjuangan kiai dan santri dalam sejarah.
Ditambah lagi para kiai memang tidak mau ditulis dalam sejarah dengan alasan nanti pahalanya akan hilang. Para kiai waktu itu memang ikhlas dalam berjuangan untuk kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Akibatnya hingga sekarang perannya tidak ada di buku sejarah Indonesia. Salah satunya Resolusi Jihad yang sekarang diperingati sebagai Hari Santri.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam harus menulis sejarah versi sendiri. Kalau orang lain tidak mau menulis sejarah Resolusi Jihad dengan alasan tidak pernah diberitakan di koran Asia yang waktu itu terbit. Namun kita punya bukti autentik kalau Resolusi Jihad telah diberitakan di surat kabar Kedaulatan Rakyat. Koran ini ditemukan di Belanda. Cahya/Haris

Candi Ibu Majapahit Nusantara Puri Surya Majapahit Mojokerto







Di Balik Berdirinya Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara di Mojokerto

Mengembalikan Agama Resmi Kerajaan Majapahit

Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara merupakan candi yang baru didirikan oleh Betara Agung Brahmaraja Wilatikta XI di Puri Surya Majapahit. Tujuannya untuk memunculkan kembali agama Siwa Buddha sebagai agama resmi kerajaan Majapahit dan memfasilitasi upaya melakukan ritual. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.


Di bekas reruntuhan kerajaan Majapahit bukan hanya dibangun kembali rumah-rumah khas Majapahit. Tetapi juga dibangun sebuah candi baru yang bernama Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara. Candi tersebut berlokasi tidak jauh dari Kolam Segaran. Persisnya di dalam lingkungan Puri Surya Majapahit.
Bangunan Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara terbuat dari batu bata merah yang tanahnya berasal dari Kec. Mojowarno, Mojokerto. Bahan tanah tersebut diambil dari daerah tersebut. Karena memiliki nilai yang bagus untuk dibuat bata dan kemudian disusun menjadi sebuah candi. Tahan oleh gempa dan cuaca, baik hujan maupun panasnya matahari selama bertahun-tahun.
Candi tersebut tingginya mencapai 15,8 meter. Sengaja dibuat setinggi itu dengan maksud angka 15 belas berarti Dewa Wisnu dan 8 berarti Dewa Pembawa Angin. Hal ini sesuai dengan pakem sastra bahasa sanskerta yang adiluhung, sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Negara Kertagama.
Pembuat Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara didatangkan dari Bali. Karena orang-orang Bali masih keturunan Majapahit. Sehingga mampu mengerjakan dengan teliti dan cepat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sedangkan pemrakarsannya adalah Betara Agung Brahmaraja XI pemilik Puri Surya Majapahit dan sekaligus raja Majapahit.
Pendirian Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara adalah untuk memuja arwah leluhur Majapahit. Mengingat banyak candi yang ada tidak dapat digunakan acara ritual untuk menghormati leluhur sebagaimana mestinya zaman kerajaan dulu. Karena sekarang posisi candi hanya sebagai peninggalan sejarah dan wisata. Bukan lagi diperuntukkan upacara penghormatan kepada leluhur.
Juga Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara difungsikan untuk kegiatan upacara agama Siwa Buddha. Agama tersebut merupakan agama asli Kerajaan Majapahit. Sehingga tidak kesulitan lagi melaksanakan sembayangan karena telah tersedia secara gratis.
Dengan demikian, jelaslah di balik pendirian Candi Ibu Majapahit adalah kita munculkan kembali agama tersebut agar generasi mendatang mengetahui secara pasti agama Kerajaan Majapahit. Sebab selama ini masyarakat hanya mengira bahwa agama Kerajaan Majapahit itu agama Hindu sebagaimana dianut masyarakat Bali.
“Siwa Buddha adalah agama resmi kerajaan Majapahit. Presiden Suharti tidak memasukkan agama Siwa Buddha ke dalam agama resmi di Indonesia. Namun agama Hindu yang dimasukkan. Akibatnya banyak yang tidak tahu,” ujar Betara Agung Brahmaraja XI Raja Majapahit.

Siwa Buddha
Candi tersebut merupakan satu-satunya di Tanah Jawa untuk kegiatan Upacara Sradha atau odalan untuk leluhur Majapahit. Dalam upacara tersebut menggunakan sesaji lengkap dengan ritual agama Siwa Buddha. Istilahnya sesuai dengan adat Majapahit.
Prosesi upacara Sradha sesuai dengan agama Siwa- Buddha diadakan dengan sempurna dan uniknya setiap diadakan upacara Sradha untuk leluhur Majapahit yang datang pun dari semua agama, kepercayaan, dan berbagai suku, ras, dan golongan tanpa ada sekat.
“Nah, Puri Surya Majapahit membuat candi itu guna melaksanakan ritual keagamaan Siwa Buddha di bekas reruntuhan kerajaan Majapahit. Sehingga leluhur tetap mendapatkan doa,” ujar Betara Agung Brahmaraja Wilatikta XI.
Kini Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara menjadi jujugan masyarakat yang ingin melestarikan agama Siwa Buddha yang merupakan agama resmi kerajaan Majapahit. Meskipun di Indonesia agama tersebut tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Padahal dulunya merupakan agama resmi kerajaan Majapahit.
Mereka melakukan upacara Sradha di Candi Keraton Ibu Majapahit Nusantara. Umat Siwa Buddha menikmati suasana yang cukup asri di sekitar Candi Ibu Majapahit. Sebagian besar merasakan suasana kehidupan di zaman kerajaan Majapahit. Yaitu sekeliling rumah ada sungainya. Begitu pula di sekeliling candi ada air kolamnya.
Usai melakukan upacara Seradha melakukan makan bersama nasi tumpeng Majapahit. Mereka merasakan hidup di zaman Majapahit ketika berada di lingkungan Puri Surya Majapahit. Juga berterima kasih dengan didirikannya Candi Ibu Majapahit sebagai pusat ritual agama Siwa Buddha.
Dalam perkembangannya, bukan umat Siwa Buddha yang datang dari Bali saja, melainkan masyarakat sekitar. Juga Komandan Kodim beserta stafnya melakukan kunjungan dan berlanjut bersih-bersih. Sehingga lingkungan Puri Surya Majapahit seluas 5 hektare menjadi bersih dan asri. HUSNU MUFID

Sunan Panjunan




Kisah Sunan Panjunan Berdakwah Kesultanan Cirebon

Ajarkan Ilmu Agama dan Ketrampilan Membuat Gerabah

Syekh Abdurrachman oleh masyarakat Cirebon doberi gelar Sunan Panjunan. Karena ia  awalnya bertempat tinggal di Panjunan dan  mendirikan Masjid Panjunan. Kemudian pindah ke daerah Plagon hingga akhir hayatnya. Berikut ini kisahnya.

Sunan Panjunan ketika berada di negeri asalnya bernama Pangeran Abdulrachman. Karena ia  adalah putra  Sultan Bagdad.  Konon asal mula mereka meninggalkan negaranya adalah karena mendapat murka dari ayahandanya sebagai tokoh agama penganut  Islam aliran Al-Hallaj. Ia  diusir beserta semua pengikutnya dalam tiga buah kapal yang berisikan lima ratus orang.
Kapal yang dinaikinya mendarat di pelabuhan Cirebon. Masuk wilayah saudaranya yang kini menjadi raja di Cirebon. Yaitu Sunan Gunung Jati.   
Setibanya di Cirebon, Sunan Panjunan segera menghadap penguasa setempat  dan mohon izin untuk diperkenankan tinggal. Permintaannya disetujui dan mereka semua ditempatkan di daerah Panjunan Cirebon yang tidak jauh dari pusat kerejaan Kesultanan Cirebon.
Di Cirebon  ia menyempatkan diri belajar agama Islam kepada Sunan Gunung Djati.  Setelah dinyatakan lulus sebagai murid, maka Sunan Panjunan berdakwah dengan masyarakat sekitar. Ia bukan hanya mengajari masyarakat dengan ajaran Islam, tapi juga mengajarkan ilmu membuat  gerabah. Hingga akhirnya menjadi mata pencaharian  masyarakat setempat. Karena itulah sang pangeran mendapat julukan Sunan  Panjunan dan daerah yang mereka tempati kemudian dikenal dengan nama Panjunan.
Kata Panjunan diambil dari kata Jun yang berarti gerabah. Walaupun di kampong Panjunan sekarang  sudah tidak ada lagi pengrajin gerabah, namun sampai saat ini  terdapat beberapa warga yang masih eksis mencari nafkah sebagai pedagang gerabah. Waktu itu gerabah  merupakan barang pecah belah sangat laku keras dan diminati masyarakat.
Selain membuat gerabah, Sunan Panjunan dan pengikutnya mendirikan sebuah masjid  pada tahun 1480. Namanya  Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan. Masjid Panjunan semula bernama mushala Al-Athya namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan.
Awalnya masjid ini merupakan tajug atau Mushola sederhana. Karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa, Pangeran Panjunan berinisiatif membangun Mushola tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha. Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja,
Arsitektur Masjid Panjunan merupakan perpaduan budaya Hindu, Cina, dan Islam. Barangkali ini adalah sebuah pendekatan kultural yang digunakan dalam penyebaran Agama Islam pada masa itu. Tujuannya agar tidak menyinggung masyarakat beragama lain. Hal tersebut merupakan strategi untuk menyiarkan islam ditanah yang penduduknya masih beragama Hindu Galuh.

Rajaban
Beberapa tahun kemudian  Sunan  Panjunan dan adiknya, Pangeran Kejaksan, serta pengikutnya sekitar 60 orang menuju Giri Toba. Sebelum memasuki Giri Toba  terlebih dahulu memantau daerah disekitarnya dan memerintahkan pasukannya untuk membuat tempat peristirahatan. Tempat peristirahatan ini kemudian kini  dikenal dengan nama Plagon.
Didaerah ini,   Sunan Panjunan  membuat alat-alat pertanian seperti perkakas golok, gergaji, parang, cangkul, bajlong, bodem, linggis, serta perkakas lainnya. Kemudian  mendirikan tempat pandai besi. Tempat Pandai Besi ini kemudian diberi nama Pande Domas yang berlokasi disebelah barat jembatan gantung yang melintas menuju daerah Wanantara.
Sebagai kenang-kenangan atas keberadaan mereka ketika bermukim, Sunan  Panjunan menanam tujuh buah pohon beringin di Pande Domas. ketujuh beringin itu oleh masyarakat babakan dikenal dengan nama Beringin Pitu.
Sunan Panjunan hingga akhir hayatnya meninggal 27 Rajab di Plagon. Kemudian  keluarga dan masyarakat mengadakan haul setiap bulan Rajab. Kemudian menjadi nama terkenal dengan nama Peringatan  Rajaban.  Menurut Pak Bi’in, panggilan akrab Pak Thabi’in, tahun 80-an acara haul banyak dikunjungi anak turun Sunan Panjunan. Namun, sekarang banyak masyarakat umum yang ikut merayakan. Para peziarah  itu tak hanya ingin mengenang jejak sejarah seorang kekasih Allah tetapi juga memohon keberkahan hidup kepada Allah. HUSNU MUFID