Selasa, 15 Maret 2016

Syekh Jumadil Qubro



Sayyid Hussein Jumadil Kubro dari Samarqan Menuju Majapahit

Islamkan Raja Champa Che Bo Nga

Sayyid Hussein Jumadil Kubro merupakan seorang wali yang bukan hanya berdakwah di daerahnya. Namun juga di berbagai penjuru dunia. Adapun sasaran dakwahnya kepada masyarakat bawah hingga para raja. Seperti apakah perjalanan dakwahnya?   Berikut kisahnya.

SYEKH Jamaluddin Hussein Al Akbar lahir sekitar tahun 1270 diSamarqand, Uzbekistan, Asia Tengah. Di sana ia dididik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Zainul Khusen. Pendidikan dari ayahnya  inilah menjadikannya seorang yang memiliki ilmu cukup tinggi. Karena ilmunya langsung dari trah Rasulullah SAW.
Setelah menginjak dewasa  melakukan perjalanan dakwah kali pertama dilakukan menuju   Maghribi di Maroko,  Samarqand di Uzbekistan. Kemudian menikah dengan putri bangsawan Uzbekistan dan lahirlah Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarqandiy alias Ibrahim Asmoro.
Selanjutnya menuju ke Indo Cina untuk mengislamkan Ce Bo Nga, Raja Champa dan berhasil.   Kemudian menikahkan Ibrahim Asmoro Qondi  dengan putri dari Raja Champa dan lahirlah cucu Jumadil Kubro, yaitu Sunan Ampel, yang menjadi ayah dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Raja Champ Ce Bo Nga pun diislamkan.
Pengislaman Raja Champa merupakan prestasi terbesar dalam sejarah di wilayah Indo Cina. Karena sebelumnya  mayoritas beragama Hindu Buddha akibat pengaruh India dan Cina. Darisinilah raja Champa menurunkan wali-wali yang mampu mengislamkan tanah Jawa.
Sepeninggal Raja Champa , Ce Bo Nga terjadi kekisruhan dan penyerangan oleh Raja Vietnam. Maka, Sayyid Hussein Jumadil Kubro menyingkir ke daerah  Kelantan di kerajaan Chermin. Ia merupakan ulama yang lolos dari pembunuhan masal dari musuh-musuh kerajaan.
Kemudian menikah dengan  dengan puteri Raja Chermin. Tidak beberapa lama  melanjutkan perjalanan menuju Pulau Jawa. Karena terjadi  perebutan kekuasaan dan serangan dari kerajaan lain.   
Gubernur Jenderal Inggris Thomas Standford Raffles 'History of Java' mengatakan,   Sayyid Jumadil Kubro  mendarat di Tanjung Mas Semarang. Kemudian menetap di Terboyo untuk beberapa tahun  melakukan dakwah. Islam pun akhirnya berkembang di wilayah tersebut hingga Demak. Masyarakat muslim terbentuk. Bukti yang ada berupa bangunan makom.
Setelah  itu, melanjutkan perjalanan menuju Gunung Merapi untuk melakukan zuhud. Guna meningkatkan  spiritualitas keagamaannya. Ia menyendiri di gunung yang ditakuti masyarakat Jawa Tengah waktu itu. Boleh dibilang mengikuti jejak Nabi Musa yang meninggalkan umatnya menuju Gunung Sinai. Bukti-bukti  ia di  Gunung Merapi berupa bangunan makom.

Dirikan Masjid di Trowulan
Beberapa tahun kemudian turun menuju Trowulan Majapahit atas perintah Dewarawati, istri Raja Majapahit yang berasal dari Champa. Di Ibukota Majapahit, Sayyid Hussein Jumadil Kubro diterima dengan sambutan yang cukup bagus oleh keluarga raja, maka dari itu ia diberi tanah perdikan di Troloyo.  
Kala itu beliau dibantu Tumenggung Satim yang lebih dulu masuk Islam, sekitar abad ke-14 masehi. Karena pengaruhnya dalam memberikan pencerahan berkehidupan yang berperadaban,  Caranya berdakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani.
Ia mendirikan masjid di Troloyo Trowulan Mojokerto sebagai pusat kegiatan dakwah. Hanya saja setelah terjadi kerusuhan dan perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan Majapahit, masjid tersebut dibakar. Hingga kini tidak ada bentuknya. Hany yang tersisa makamnya. “Memang di Troloyo dulunya ada masjid sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Negara Kertagama. Saat Kediri menyerang Majapahit dibawah Patih Udara itulah masjid tersebut dibakar hingga tidak ada wujudnya,”ujar Dr. Mohammad Naim, dosen Sejarah Islam Universitas Negeri Jember.  
Sementara menurut Martin Van Bruinessen, peneliti sejarah Islam Indonesia dari Universitas Utrecht, Belanda beberapa tahun lalu menyatakan, Syekh Jumadil Qubro wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. meninggal dalam posisi perang membela kerajaan Majapahit. Sekaligus mempertahankan masjid yang didirikan itu. Namanya Troloyo berarti tiga kematian.
Syekh Jumadil Qubro  diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit yaitu pada awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan Majapahit di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu dan Anjasmoro. HUSNU MUFID

Silsilah

Syekh  Jumadil Kubro
bin Sayyid Zainul Khusen
bin Sayyid Zainul Kubro
bin Sayyid Zainul Alam
bin Sayyid Zainal Zainal Abidin
bin Sayyid Khusen



.



0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat