Selasa, 24 Desember 2013

Kiai The Ling Sing


Kisah Kiai Telingsing Berdakwah di Kudus

Guru Utama Seni Ukir Sunan Kudus

Nama Kiai Telingsing tidak asing bagi masyarakat Kudus. Beliau merupakan salah satu ulama besar pada era peralihan pengaruh Hindu ke Islam. Kiai Telingsing adalah tokoh ulama dari Cina yang juga penasihat Sunan Kudus. Berikut ini kisahnya:

Kiai Telingsing memang termasyhur karena pekerjaannya. Sebelumnya, ia seorang juru sungging atau pemahat dari Cina, nama aslinya Tee Ling Sing. Karena keahliannya memahat dengan alat sungging, kemudian mengilhami terjadinya kampung Sunggingan. Semasa hidup, Kiai Telingsing ikut menyebarkan Islam secara diam-diam saat zaman Hindu. Bukan berarti pada saat itu menyebarkan Islam dilarang, namun ia lebih menyukainya dengan cara demikian demi menghormati masyarakat Hindu.
Sebelum Jepara terkenal sebagai kota ukir, kota Kudus terlebih dahulu terkenal sebagai pusat ukir. Ukiran diperkenalkan kepada masyarakat Kudus saat imigran terkenal dari kota Yunan-Cina, The Ling Sing, datang di abad ke-15. Dia datang ke Kudus tidak hanya menyebarkan agama Islam, tetapi juga mengajarkan seni ukir kayu. Ukirannya dikenal dengan sebutan, Sung Ging, yang terkenal kehalusannya serta adikarya yang menakjubkan. Sunan Kudus pun menjadi muridnya dalam bidang seni ukir.
Ilmu seni ukirnya kemudian dipraktikkan masyarakat Kudus dan dijadikan sebagai ladang bisnis ukiran kayu pada pintu rumah. Oleh karena itu, dari abad ke-16 sampai abad 18, pengrajin ukir kayu Kudus menerima berbagai pesanan untuk membangun rumah kayu. Bahan utamanya kayu jati dengan kualitas terbaik yang disuplai dari hutan Blora, Tuban, dan Bojonegoro.
Semula, ia bukan pemeluk Islam. Namun karena kasoran (kalah) ilmu dengan Sunan Kudus atau Syekh Ja’far Shodiq sewaktu berguru dengan Kiai Telingsing, memilih masuk Islam. The Ling Sing kemudian dikenal sebagai mubaligh (penyebar Islam) yang dikenal dengan nama Kiai Telingsing. Nama ini kini diabadikan menjadi nama jalan besar di Kota Kudus. Di Kudus juga terdapat kampung yang bernama Sunggingan, diperkirakan dari sebutan Kiai Telingsing.
Caranya dengan mengajarkan bagaimana beribadah dengan khusyuk kepada masyarakat. Karena kesabarannya itu, banyak orang tertarik dan memeluk agama Islam. Memang hal ini tidak banyak diketahui banyak orang. Sebagai ulama besar, ia rendah hati, tidak sombong, dan peduli terhadap sesama. Sosoknya patut diteladani. Sampai akhir hayatnya, jasa-jasanya dalam ikut menyebarkan Islam tetap dikenang,’’ kata Munawir, juru kunci makam Kiai The Ling Sing.
Ketika Islam masuk di Kudus, Tee Ling Sing (nama asli Kiai Telingsing) ikut memeluk Islam yang disebarkan Ja’far Shodiq. Namun karena Kiai Telingsing meninggal dunia, ia tak dapat meneruskan amanat sebagai penasihat Sunan Kudus. Dia dimakamkan di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus. Nama Sunggingan, diperkirakan dari sebutan Kiai Telingsing.

Makamnya
Makam Kiai Telingsing sering didatangi peziarah dari berbagai penjuru baik dari Kudus maupun luar kota. Di sekitar makam Kiai Telingsing juga terdapat puluhan makam lain. Menurut sejarah, kompleks makam ini dulunya dipakai sebagai tempat pemakaman umum.
Ini terlihat di sekeliling makam Kiai Telingsing banyak nisan yang tidak ditulis nama-nama yang meninggal. Namun ada yang mengatakan, makam di sekelilingnya para kerabat Kiai Telingsing.
Sebagian besar kompleks makam Kiai Telingsing, bentuk bangunannya masih asli, dan makam ini mirip dengan bangunan zaman Hindu. Bangunan aslinya terbuat dari bata merah kuno, ukuran besar, dengan sistem gosok tanpa perekat. Makam ini berukuran panjang 1.296 cm, lebar 12 cm dan tinggi nisan 48 cm, terbuat dari bata merah kuno.
Berdasarkan teknik dan bahan yang digunakan, masjid ini sezaman dengan Masjid Menara Kudus. Hanya tahun berapa Kiai Telingsing meninggal belum diketahui. Ketika Munawir membukakan pintu bagian depan makam Kiai Telingsing, ia memberikan beberapa penjelasan mengenai dua pintu depan yang berukuran kecil, tingginya kurang dari 150 cm. Pintu ini semula tinggi, namun karena sesuatu hal bangunan dan pintu mlorot (turun) menjadi pendek seperti ini. Kalau mau masuk ke makam, kepala harus menunduk karena memang rendah untuk dilalui. Filosofi pintu pendek ini dapat diartikan kalau masuk ke dalam makam harus meminta izin atau kulanuwun dengan menundukkan kepala.
HUSNU MUFID

Prabu Tawang Alun

Kisah Sunan Tawang Alun I di  Lamongan

Sembunyikan Identitas Raja Dalam Berdakwah

Tak banyak yang tahu siapa sosok Mbah Alun. Di era tahun 1960an makam ini lebih terkesan angker lantaran dikelilingi pohon besar. Namun setelah beberapa tahun kemudian kesan tersebut hilang. Sejak direnovasi banyak pengunjung dari berbagai daerah yang mengunjungi makam ini hanya sekedar ngalap berkah. Berikut ini laporan posmo.

Makam Mbah Alun terletak di desa Balun Kecamatan Turi, Lamongan.  Di kampung ini berdiri tiga rumah ibadah dari tiga agama berbeda yang saling berdekatan. Tak heran jika Balun dikenal sebagai “Kampung Pancasila” atau desa tri kerukunan, lantaran harmoninya hubungan dan toleransi tinggi ketiga pemeluk agama.
Menurut Hadi, juru kunci nama desa Balun diambil dari nama makam sesepuh yang ada di desa mereka yakni Mbah Alun. Meski begitu tak banyak warga yang tahu bagaimana cerita sosok Mbah Alun ini. Warga hanya tahu kalau makam yang terletak ditengah-tengah pemakaman umum tersebut dikeramatkan.
Semasa kecil Raden Alun dibesarkan di Lamajang dan Kedhawung mengikuti orang tuanya sebagai Tumenggung yakni Menak Lumpat yang bergelar Sunan Rebut Payung. Tahun 1589, Raden Alun dititipkan oleh ayahnya untuk mengaji ke Sunan Giri.
Menak Lumpat adalah anak dari Menak Lampor Adipati Wredati masih keturunan Lembu Miruda dari Majapahit bergelar Lembu Anisraya yaitu panembahan Gunung Bromo yang masih menguasai watu putih dan Blambangan.
Tahun1591-1596 Sunan Rebut Payung berhasil mengalahkan Blambangan. Kemudian ia mengangkat adiknya Minak Luput menjadi senopati dan Minak Sumendhe menjadi penguasa Kerenon. Tahun 1596 Blambangan diserang oleh pasukan dari Pasuruan hingga terjadi peperangan hebat. Raden Alun saat itu yang sudah menjadi santri Sunan Giri juga ikut membantu melawan Pasuruan.
Tahun 1624 Raden Alun dilantik menjadi raja Lamajang Kedhawung bergelar Sunan Tawangalun. Raden Alun memiliki 4 orang anak yakni Gedhe Buyut yang merupakan Syahbandar pelabuhan Sidayu Lama Kecamatan Brondong. Kini makamnya bisa dijumpai di Buyut Setana Brondong.
Yang kedua adalah Mas Wdarba yang dinikahi Adipati pesisir utara Jawa. Kemudian Lanang Dhagiran yang dikenal dengan sebutan Kyai Brondong yang kemudian pindah menjadi Syahbandar di Bataputih yang kemudian disebut sebagai Sunan Bataputih yang makamnya kini terlenak berseberangan dengan Sunan Ampel. Terakhir adalah Mas Kembar, yaitu raja Blambangan dengan gelar Sunan Tawangalun II (1645-1691).

Kuasai Ilmu Laduni

Saat dikejar-kejar Belanda, Sunan Tawangalun ditolong oleh anaknya Lanang Dhangiran. Saat itu Sunan Tawangalun memilih melarikan diri ke wilayah Lamongan. Lanang Dhangiran kemudian menyembunyikan ayahnya ke tempat yang aman yaitu di desa Candipari (kini Balun). Dalam persembunyiannya ini, Raden Alun mengajarkan serta berdakwah Islam secara mandiri.
Disinilah Sunan Tawang Alun I mulai mengajar mengaji dan menyiarkan ajaran Islam sampai wafat Tahun 1654 berusia 80 tahun sebagai seorang Waliyullah.
Sebab menyembunyikan identitasnya sebagai Raja, maka beliau dikenal sebagai seorang ulama dengan sebutan Raden Alun atau Sin Arih. Sunan Tawang Alun I sebagai ulama hasil gemblengan Pesantren Giri Kedaton ini menguasai ilmu Laduni, Fiqh, Tafsir, Syariat dan Tasawuf. Sehingga dalam dirinya dikenal tegas, kesatria, cerdas, Alim, Arif, persuatif, dan yang terkenal adalah sifat toleransinya terhadap orang lain, terhadap budaya lokal dan toleransinya terhadap agama lain. Mus Purmadani



Minggu, 15 Desember 2013

UPACARA PERINGATAN HARI JUANG KARTIKA KE-68 DI MAKODAM V BRAWIJAYA



Upacara Peringatan Hari Juang Kartika Ke-68 pada  hari Minggu 15 Desember 2013 di Lapangan MAKODAM V BRAWIJAYA Jl.R.Wijaya Surabaya berlangsung meriah, masyarakat dari berbagai daerah luar Surabaya datang berbondong-bondong antusias menyaksikannya, ada yang naik kendaraan umum maupun naik kendaraan pribaid, ada yang rombongan naik bis.
Upacara dipimpin langsung oleh KASAD Jenderal TNI.Budiman, upacara ini intuk memperingati kemenangan Jenderal Soedirman dalam merebut Ambarawa pada tanggal 15 Desember 1945.
Artis terkenal untuk menghibur yaitu Krisdayanti, Luna Maya, Rafi Ahmad, Deny Cagur & Syahrini.
Tampak hadir mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Wiranto, mantan KASAD Jenderal (Purn) Pramono  Edhi Wibowo & mantan Gubernur Jatim Basofi Sudirman.
Setelah Upacara ada kesenian kolaborasi Jawa Timur yaitu; Reyog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi, Jaran Kepang Kediri, Tari Topeng Malang, Remo dll, juga ada peragaan beladiri militer oleh prajurit KOSTRAD.
Setelah itu di udara ada atraksi terjun payung oleh 68 Prajurit TNI-AD sesuai jumlah angka Hari Juang Kartika Ke-68, yang termasuk 5 diantaranya adalah prajurit KOWAD (Korps Wanita TNI Angkatan Darat), sedangkan penerjun yang membawa bendera merah putih adalah Prajurit KOPASSUS bernama Sertu.Inf.Iwan.
Tampak berjalan dengan tegap & gagah di hadapan pemirsa adalah defile dari berbagi kesatuan di TNI-AD, yaitu Drum Band Canka Lokananta AKMIL Magelang, Pasukan pembawa Panji-Panji TNI-AD, KOPASSUS, KOSTRAD, KOWAD, ARMED, ARHANUDSE, SIPIL TNI, VETERAN, PRAMUKA dll.
Juga ada defile Alutsista Tempur TNI-AD seperti Kendaraan Tontaipur, Tank, Panser, Meriam, Sea Rider dll, diakkhir defile masyarakat umum naik Tank & Panser, ini membuktikan bahwa TNI-AD semakin dekat dengan rakyat, juga konvoi helly tempur & helly angkut pasukan.
Sedangkan di Balai Prajurit ada Pameran Kecabangan TNI-AD yang lengkap dengan peralatan-pralatan pendukungnya.
Masyarakat bisa makan gratis untuk memperingati Hari Juang Kartika Ke-68.

Terima Kasih

   { SEW }

Selasa, 10 Desember 2013

PAMERAN ALUTSISTA TEMPUR TNI-AD






PAMERAN ALUTSISTA TEMPUR TNI-AD DALAM RANGKA HARI JUANG KARTIKA & ULANG TAHUN KODAM V/ BRAWIJAYA KE-65

Pameran Alutsista Tempur TNI-AD diselenggarakan di Lapangan MAKODAM V/BRAWIJAYA Jl.R.Wijaya no.1 Surabaya pada tanggal 13-17 Desember 2013 mulai jam 08.00-21.00 dan akan dibuka oleh KASAD Jenderal TNI Budiman pada hari Jum'at 13 Desember di Lapangan MAKODAM V/ BRAWIJAYA. Pameran ini gratis terbuka untuk umum, pengunjung bisa bebas berfoto & naik Tank.
Kepala Penerangan Kodam V/ Brawijaya Kolonel Arm.Totok Sugiarto menjelaskan bahwa alutsista yang dipamerkan yaitu : Tank Leopard, Tank Marder 1 A3, 14 unit Tank Tarantula, 13 unit Tank AMX 105mm, 13 Tank Anoa, 2 unit Tank Panhard, 2 unit Tank Saladin, 45 unit Tank Scorpion, 2 unit Tank Scorpion non 90, Tank Stormer Komando, Tank Stormer APC, 6 pucuk Meriam 105mm/ Tarik M 101, 6 pucuk Meriam 105mm, 3 unit Helly Bolco 105, 3 unit Helly serbu MI-35, 4 unit Helly Serbu MI-17, 2 unit Helly Bell 205, 3 unit Helly Bell 412 dll.
Pada hari Minggu 15 Desember 2013 diadakan UPACARA di Lapangan MAKODAM V/ BRAWIJAYA, setelah upacara ada atraksi Terjun Payung oleh Prajurit KOPASSUS & KOSTRAD, Fly Pass Helikopter Tempur, Defile Pasukan, Drum Band Canka Lokananta Taruna AKMIL Magelang serta Beladiri Militer & Kesenian Jawa Timur.
Ada Lomba Foto dengan Tema "BERSAMA RAKYAT TNI KUAT" dengan latar belakang Alutsista Tempur TNI-AD di area pameran, lomba foto ini terbuka untuk umum dengan pendaftaran gratis mulai saat pembukaan pameran. Pemotretan dilakukan pada hari Jum'at 13 Desember 2013 s/d Minggu 15 Desember 2013 mulai jam 09.00-21.00. Bagi Juara I disediakan uang Rp 10.000.000, Juara II disediakan uang Rp 7.500.000, Juara III disediakan uang Rp 5.000.000.
SYARAT LOMBA FOTO ;
~Mendaftarkan diri di Stand Pameran PENDAM V/ BRAWIJAYA mulai saat pameran dibuka.
~Media foto menggunakan pocket camera atau kamera SLR.
~File murni hasil jepretan sendiri.
~File yang diikutsertakan tidak diperkenankan olah digital.
~Peserta maximal mengumpulkan 3 buah karya foto (soft copy) dengan format file-JPEG (foto/file asli ukuran sisi sepanjang minimum 3000 pixel & resolusi 300 dpi).
~Pengambilan foto di area Pameran Alutsista Tempur TNI-AD.
~File foto yang dilombakan diserahkan langsung kepada Panitia Lomba di Kantor Penerangan Kodam V/ Brawijaya Jl.Ksatrian no.9 Surabaya dengan disertai nama-alamat-nomor hp/telp-judul foto.
~Pengumuman pemenang dilaksanakan saat penutupan pameran hari Selasa 17 Desember 2013 Jam.10.30 di Lapangan MAKODAM V/ BRAWIJAYA Jl.R.Wiyaya Surabaya.
info lebih lengkap silahkan klik www.kodam5-brawijaya.mil.id
CONTACK PERSON :
Letkol.Arh.Drs.Supyan, MT - 081334171199
Kapten Eko Wahyu S - 085230209176


Terima Kasih

{ SEW }

Rabu, 04 Desember 2013



                                                NAVAL BASE OPEN DAY (NBOD) 2013

Bagi yang ingin melihat Kapal Perang atau ALUTSISTA (Alat Utama Sistem Senjata) TNI-AL, silahkan hadir di Dermaga KOARMATIM (Komando Armada Timur) Surabaya pada hari Minggu 8 Desember 2013 mulai jam 7 Pagi sampai jam 5 Sore, terbuka gratis untuk masyarakat umum, boleh mengajak siapa saja untuk berfoto bersama atau naik Kapal Perang.
Untuk menuju Dermaga KOARMATIM, harus melalui pintu gerbang pos pertama yang berada disamping sungai Kalimas dekat Jembatan Petekan, lalu terus lurus belok kanan ikuti petunjuk arah menuju PT.PAL , di dekat PT.PAL sudah kelihatan pintu gerbang MAKOARMATIM, lurus terus sampai menuju Dermaga, sudah disediakan area parkir untuk umum.
Disitu banyak Kapal Perang yang bersandar boleh dinaiki oleh siapa saja, ada Kapal Kelas Eskorta, Kapal Penyapu Ranjau, Kapal Amfibi, Kapal Cepat, Kapal Selam yang biasanya bersandar di dekat PT.PAL dll, juga ada pameran senjata seperti senapan serbu, basoka, mortir, tank amfibi, peluncur roket, meriam dll, pengunjung bisa berfoto disitu.
Menurut info, pada waktu NBOD 8 Desember 2013 nanti akan diberikan doorprize bagi yang beruntung.
Terlihat MONJAYA (Monumen Jalesveva Jayamahe) yang berdiri dengan gagah dengan ketinggian patung 30.6 meter dengan gedung setinggi 30 meter yang merupakan karya terbaik anak bangsa yang di dalamnya ada Ruang Diorama, ruang pameran foto, pengunjung bebas masuk monumen sampai menuju puncaknya.


PENGUMUMAN :

Akan dibuka pendaftaran Calon Tamtama Prajurit TNI-AL periode tanggal 16 Desember 2013 - 9 Januari 2014, info & syarat pendaftaran harap hubungi LANTAMAL terdekat.


                                                                                                                                    Terima Kasih

                                                                                                                                        { SEW }

Sabtu, 23 November 2013

ilmu pengetahuan

penerbit menara madinah merupakan sarana untuk mencari ilmu pengetahuan

sejarah

sejarah sangat penting buat peradaban manusia

salam sukses

sukses selalu buat penerbitmenara madinah

Perjalanan Panjang




Perjalanan Panjang Setiap Manusia

Selamat Jumpa



Selamat Datang Anda di Web Penerbit Menara Madinah.

Minggu, 29 September 2013

Makam Bejagung 3

Ziarah Ke Makam Sunan Bejagung Lor, Di Tuban, Jawa Timur (3)
Menyalakanlampu di Masjidil Haram

Meski bukantermasuk salah satu dari Wali Songo, namun kanjeng Sunan Bejagung juga tercatatsebagai wali yang ikut berkiprah dalam perjuangan Islam di tanah Jawa. Makamdan sejumlah peninggalanya pun hingga kini menjadi salah satu tujuan wisatareligi di Kabupaten Tuban.Tepatnya di Desa Bejagung, KecamatanSemanding, Kabupaten Tuban.

Penyebaran Agama Islam dikabupaten Tuban tidak terlepas dari peran seorang ulama besar bernama SyekhAbdullah As’ari (Sunan Bejagung Lor). Sebab, sejak kecil beliau diajakberda’wah oleh ayahandanya (Syekh Maulana Ibrahim Asmara bin Sayyid JamaludinAl Khusaini Al Kubra atau tersohor dengan sebutan Syekh Jumadil Kubra yangpusarannya berada di Mojokerto, Jawa Timur) bersama dua orang saudaranya(Maulana Ibraohim Assamarqondi dan Maulana Ishaq ayah Sunan Giri) ke Sumateradan Jawa (Nusantara).

Jadi tidak heran, ketika beranjakdewasa dan tua. Beliau masih terus memperjuangkan agama Allah di tanah Jawa. Halitu dikuatkan dengan keterangan Buku Babad Tanah Jawa dan Buku Babad Tuban,juga berdasarkan buku dokumen Bejang yang menerangkan bahwa semasa hidupnyaKanjeng Sunan Bejagung, selain siar agama. Kanjeng sunan bejagung jugamempunyai karomah, salah satunya adalah setiap sore beliau selalu pergi keMakkah untuk menyalakan Lampu Masjidil Haram Makkah dan menjadi MuadzinMasjidil Haram Makkah Al Mukarromah.

Bahkan ada satu keyakinan yangsampai sekarang masih diwanti-wanti oleh warga sekitar. Yaitu tentang larangan makanikan meladang. Kenapa? Menurut ceritanya,  suatu saat Sunan Bejagung diajak pergi Hajioleh Santrinya yang dari bangsa Jin. Santri tersebut sanggup menggendong SunanBejagung dari Tuban sampai ke Masjidil Haram Makkah. Tetapi setelah digendongdan terbang ke angkasa, tepat diatas samudra , Sunan Bejagung dilepas dan jatuhke Laut. Tetapi Sunan Bejagung Selamat lantaran ditolong oleh ikan meladang dandipinggirkan sampai  Jeddah suatu Pantai di Hadramaut (yang sekarangdikenal dengan Saudi Arabia).

Setelah sampai di Arab SunanBejagung berpesan kepada semua anak cucunya jangan sampai makan ikan meladang.Dan ternyata sampai sekarang anak cucu keturunan Sunan Bejagung tidak diperkenankanmakan ikan meladang. Bila makan ikan meladang maka timbul penyakit gatal.

Silsilah Sunan Bejagung denganurutan Nabi Muhammad :

1.                NabiMuhammad  SAW.
2.                BerputriSiti Fatimah Az-sahro’ (Isatri Sayidina Ali Bin Abi Tholib )
3.                BerputeraSayyid Husain.
4.                BerputeraSayyid Ali Zainul Abidin.
5.                BerputeraSayyid Muhammad Al-Baqir.
6.                BerputeraSayyid Ja’far Shodiq.
7.                BerputeraSayyid Ali Al ‘Uroidli.
8.                BerputeraSayyid An- Naqib Ar- Rumi.
9.                BerputeraSayyid Isa An- Naqib Al-Bashori.
10.          BerputeraSaqyyid Achmad Muhajirb Al- Faqih Al- Muqoddam.
11.          BerouteraSayyid Ubaidillah.
12.          BerputeraSayyid ‘Alawi.
13.          BerputeraSayyid Muhammad.
14.          BerpyteraSayyid ‘Alawi.
15.          BerpyteraSayyid Ali Kholi’ Qosam.
16.          BerputeraSayyid Muhammad Shodiq Murrobath
17.          BerputeraSayyid Abdul Malik.
18.          BerputeraSayyid Abdullah Khon.
19.          BerputeraSayyid Ahmad Syah .
20.          BerputeraSayyid Jamaluddin  Al kusaini atau Sayyid  Jamalludin Kubra atauSayyid Jumaddil Kubro.

Berputera 21 orang, tiga orang diantaranya ialah :
1.                MaulanaIbrahim Asmoro  (Sunan Gresik,Tuban )
2.                MaulanaIshak ( Sunan Pasai ,Sumatra )
3.                SayyidAbdullah Asy’ari  ( Sunan Bejagung, Tuban )

Sayyid Abdullah Asy’ari yang dikenal dengan nama Sunan Bejagungini berputera 3 orang :
(1)  Syekh Abdurrahim atau Sunan Pojok.
(2) Nyai Faiqoh atau Isteri Pangeran Penghulu atau Syekh HasyimAlamuddin atau Sunan Bejagung ke-2, makamnya di Bejagung kidul, di sekitarmakam ini terdapat Situs peninggalan pondasi Masjid, petilasan dalem kasunananBejagung , dan dilestarikan oleh masyaraka Bejagung dalam bentuk PondokPesantren Sunan Bejagung (yang didalamnya terdapat Lembaga Pendidikan : RA,Madrasah Ibtidaiyah, SMP Islam, Madrasah Aliyah, dan Madrasah DiniyahTakmiliyah)
(3) Syekh Afandhi atau Sunan Waruju, makamnya di belakangPengimaman Masjid Bejagung. HARIS


Makam Bejagung 2

Ziarah Ke Makam Sunan Bejagung Lor, Di Tuban, Jawa Timur (2)
Pohonmaja, saksi bisu Islamnya Gajah Mada

Dihalaman Pondok Pesantren Sunan Bejagung terdapat sebuah gugusan batu besar dansebatang pohon maja. Keduanya bukanlah pohon dan batu biasa, pasalnya di tempatitulah konon ceritanya, mahapatih Gajah Mada yang dikenal sakti mandra gunadengan ilmu Barat Ketigo-nya menyatakan keislamannya. Benarkah?

Lokasinya tidak terlampau jauh dengan pusara Kanjeng SunanBejagung Lor. Dekat dengan mushola dan berada di belakang kantor pondok. Terdapatsebuah gugusan batu berukuran besar. Bentuk gugusan batu itu juga tak terlihataneh, nyaris sama dengan batu yang sering dijumpai di daerah-daerah kapur.

Sepintas melihtanya tidak ada yang istimewa dengan batu itu.Apalagi disela-sela batu tumbuh rumput-rumput liar, sedangkan disebelahnya tumbuhsebatang pohon maja, yang banyak dijumpai dikabupaten Mojokerto. Namun, bagimasyarakat sekitarnya, batu dan pohon maja itu ternyata menyimpan rahasia. Pasalnya,menurut keyakinan warga setempat, batu itu adalah tempat di mana Patih GajahMada menyatakan keislamannya dengan dibimbing Kanjeng Sunan Bejagung. Setelah diamerasa kalah digdaya dengan keilmuan yang dimiliki kanjeng sunan.

Dalam legenda disebutkan, setelah Gajah-gajah dari Majapahit menjadibatu, para pasukan Majapahit kembali dan Lapor kepada Sang Prabu Hayam wuruk bahwa semua Gajah Pasukan Majapahit menjadi batu. Kemudian SangPrabu memerintahkan kepada Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Ilmunya Barat Ketigo untuk mencoba sejauh mana Ilmu SunanBejagung.

BerangkatlahPatih Gajah Mada tanpa balatentara. Dia menyamar dan menggunakan nama Barat Ketigo.Kemudian dia mengaduk air laut Tuban sampai keruh dan berpura-pura mencari ikandodok. Setelah diketahui oleh Sunan Bejagung, Barat ketigo ditanya, iamenjawab. “mencari ikan dodok, karena adiknya hamil dan nyidam ingin makan ikandodok”.

AkhirnyaSunan Bejagung mengambil lontar dibuat timba dan Barat ketigo diperintah untukmengambil daun waru. Setelah tempayan lontar tersebut diisi dengan air dan daunwaru dimasukkan kedalam timba. Seketika itu daun waru menjadi ikan Dodok. “Kejadianinilah yang selalu diingat oleh Masyarakat Desa Bejagung, dan sampai sekarangapabila ada warga yang akan mengadakan kenduri selalu menggunakan ikan dodokkering,” kata KH Abdul Matin pengasuh pondok Bejagung .

Pohon Kelapa Direbahkan Dengan Jari Tangan

Dari sini sebenarnya Gajah Mada merasa bahwa ia telahdikalahkan oleh Sunan Bejagung. Namun ia masih belum juga puas. Ia kemudianberusaha memamerkan kesaktiannya dengan menggoyang sebuah pohon kelapa hinggasemua buahnya rontok. Sunan Bejagung yang melihat itu hanya mengatakan “ Jikaingin mengambil buah kelapa jangan seperti itu”. Beliau lantas menuding sebuahpohon kelapa yang segera tertunduk begitu tangan Sunan Bejagung menudingnya danGajah Mada dipersilahkan mengambil buah pohon kelapa yang telah rebah itu.

Gajah Mada pun segera mengambil buah kelapa itu, lantasdiminumnya. Tak hanya satu, ia mengambil ribuan buah kelapa untuk diminumsekaligus. Gajah Mada kemudian berujar bahwa sekian banyak buah kelapa telah iaminum tetapi rasa hausnya masih belum juga hilang. Mendengar itu Sunan Bejagungkemudian mengambil buah maja berduri yang telah jatuh ke tanah.

Buah maja itu lantas dikupas, dikeluarkan isinya dan diisidengan air kemudian disuguhkan kepada Gajah Mada. Anehnya, air dalam buah majayang lebih kecil dari kelapa itu seperti tak habis-habisnya saat diminum GajahMada. Bahkan Gajah Mada merasa sudah tak kuat lagi minum dan menyatakan bahwaia menyerah.

Ia mengakui bahwa telah kalah dari Sunan Bejagung. Dari situGajah Mada kemudian bersedia untuk memeluk Islam dengan dibimbing oleh SunanBejagung. Setelah ia mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih, ia beralih namamenjadi Patih Barat Ketigo dan menghabiskan sisa hidupnya di Bejagung. Makamnyakini terletak tak jauh dari makam Sunan Bejagung Kidul, dikenal dengan namaMakam Panjang.

Pohon maja berduri (mojori) itu saat ini memang telah tumbang. Tetapi ditempat yang sama, dihalaman Ponpes Sunan Bejagung, kini telah tumbuh sebatang pohon maja yang masihagak muda. Pohon itu berdekatan dengan batu tempat Gajah Mada menyatakankeislamannya. HARIS

Bakam Bejagung 1

Ke Makam Sunan Bejagung Lor, Di Tuban, Jawa Timur (1)
Mantukan Pangeran Majapahit, Karena Ketauhitannya

Meski pada awalnya makam ini kurang dikenal sebagaimana makamSunan Bonang dan Makam MaulanaIbrahim Asmoro Qondi, di TubanJawa Timur. Namun lambat laun, makam Sunan Bejagung yang dikelilingi puluhan pohon-pohonbesar berusia ratusan tahun. Sekarang ini, banyak di ziarahi ratusan umatmuslim dari penjuru tanah air. Pemandangan itulah yang terlihat saat Posmo berziarah di makam sang wali.

Berjarak sekitar satu kilometerke selatan, atau satu jalur dengan obyek wisata pemandian Bektiharjo dan tempatwisata goa akbar. Situs wisata religi Sunan Bejagung masih terlihat asri.Nampak semua bangunannya masih asli. Ada beberapa gerbang kecil, saat posmo hendakmasuk ke dalam pusara Sunan Bejagung. Terlihat, sebelum cungkup sang wali, diseklilingnya juga ada ratusan makam-makam yang lain.

Tidak hanya itu, komplek makamini juga tumbuh pohon-pohon berukuran besar yang usianya diperkirakan ratusantahun. Meskipun begitu, pohon-pohon itu nampak masih kokoh dan kuat. Daripengalaman wartawan Koran ini yang pernah ziarah dua kali ke makam sunanBejagung. Ketika siang hari, suasanya sangat sejuk begitupula pada saat malamhari. Semilir angin di sekitaran makam, membawa hawa ketentraman tersendiriketika berziarah ke makam.

Saat berada di makam pada Selasa,20 Agustus 2013, Posmo ditemani H. Achmad Toha, juru kunci makam Sunan BejagungLor. Dari sini diketahui bahwa Sunan bejagung adalah Syaikh Abdullah Asy’ari yangtidak lain adalah adik atau saudara ayah dari Sunan Ampel, yaitu MaulanaIbrahim Asmoroqondi. Melihat garis keturunan itu, tentu saja beliau adalahkakek dari Sunan Bonang. Yang pusara ketiga wali ini sama-sama berada dikabupaten Tuban.

Menurut penuturan Toha, semasahidupnya, Sunan Bejagung lebih memilih untuk bermasyarakat, dengan mengajarkanilmu cocok tanam dan pertanian, yang diselinggi dengan siar agama. Ketimbang hidupdi pemerintahan. Singkat cerita, lantaran niatan hatinya karena lillah hitaallah, semua yangdihajatkannya pun akhirnya terkabul. Sebab, lambat laun, misi siar agama yangdilakukan kanjeng sunan pun berhasil, dan pengikut beliaupun semakin hari jugasemakin banyak.

Bahkandari cerita juru kunci juga mengatakan kalau salah seorang dari putera Mahkota KerajaanMajapahit putera Prabu Hayam Wuruk (Brawijaya IV) bernama PangeranKusumohadi yang sekarang dikenal dengan Pangeran Pengulu atau Syekh HasyimAlamuddin atau Sunan Bejagung Kidul, pergi dari Kerajaan dan menjadi santrikanjeng sunan untuk belajar ilmu Syariat , Thoriqot, Haqiqot, dan Ma’rifat.“Pangeran Kusumohadi  adalah salah seorang santri yang dikirim oleh SyekhJumadil Kubro untuk mencari kanjeng sunan, agar dia mau belajar agama samabeliau,” kata Toha kepada Posmo.

Dapatkan Santri Kerajaan

Ibarat wejangan jawa bilang’ sopo seng temen bakal tinemu’.Lantaran getol belajar agama islam Pangeran Kusumohadi akhirnya menjadiorang Alim, sholeh, dan ketauhidannya sangat tinggi. Ketimbang santri kanjengsunan lainnya. Karena hal itulah, Kusumohadi  diambil menantu SunanBejagung. Melihat kemampuan menantunya juga ahli dalam mengajarkan agama,akhirnya Kusumohadi  dipasrahi siar di wilayah  Bejagung Kidul.Sementara Syekh Maulana Abdullah Asy’ari uzlah (berpindah) ke bagian utara yangsekarang dikenal dengan Bejagung Lor.

Ternyata keberadaan Kusumohadi  diketahu ayah handanya. Seketikaitu juga, beliau memerintahkan Patihnya bernama Gajah Mada yang memiliki ilmuKadigjayan yang sangat tinggi dan terkenal dengan Ilmu Barat Ketigo, untukmengajak Sang Putera Mahkota untuk pulang ke kerajaan. Berita itupun didengaroleh Pangeran Kusumohadi, dan dia langsung menghadap kanjeng Sunan untukmembantunya. Sebab sang Pangeran masih ingin tetap menekuni Ilmu Agama Islam.

Selanjutnya Sunan Bejagung menggaret tanah sekitar PadepokanKasunanan Bejagung yang sampai sekarang dikenal dengan ‘Siti Garet’ agartentara Majapahit tidak bisa masuk. Tidak lama dari peristiwa itu, salahseorang santri melapor kepada Kanjeng Sunan bahwa di sebelah selatanKasunanan  Banyak Pasukan Gajah dari Majapahit. Kanjeng Sunan mengatakan “tidakgajah tetapi batu”. Seketika itu semua gajah menjadi batu. Yangsampai sekarang dikenal dengan Watu Gajah. HARIS
**
Masyarakat Desa Bejagung, dan sampai sekarangapabila ada warga yang akan mengadakan kenduri selalu menggunakan ikan dodokkering,” kata KH Abdul Matin pengasuh pondok Bejagung .

Pohon Kelapa Direbahkan Dengan Jari Tangan

Dari sini sebenarnya Gajah Mada merasa bahwa ia telahdikalahkan oleh Sunan Bejagung. Namun ia masih belum juga puas. Ia kemudianberusaha memamerkan kesaktiannya dengan menggoyang sebuah pohon kelapa hinggasemua buahnya rontok. Sunan Bejagung yang melihat itu hanya mengatakan “ Jikaingin mengambil buah kelapa jangan seperti itu”. Beliau lantas menuding sebuahpohon kelapa yang segera tertunduk begitu tangan Sunan Bejagung menudingnya danGajah Mada dipersilahkan mengambil buah pohon kelapa yang telah rebah itu.

Gajah Mada pun segera mengambil buah kelapa itu, lantasdiminumnya. Tak hanya satu, ia mengambil ribuan buah kelapa untuk diminumsekaligus. Gajah Mada kemudian berujar bahwa sekian banyak buah kelapa telah iaminum tetapi rasa hausnya masih belum juga hilang. Mendengar itu Sunan Bejagungkemudian mengambil buah maja berduri yang telah jatuh ke tanah.

Buah maja itu lantas dikupas, dikeluarkan isinya dan diisidengan air kemudian disuguhkan kepada Gajah Mada. Anehnya, air dalam buah majayang lebih kecil dari kelapa itu seperti tak habis-habisnya saat diminum GajahMada. Bahkan Gajah Mada merasa sudah tak kuat lagi minum dan menyatakan bahwaia menyerah.

Ia mengakui bahwa telah kalah dari Sunan Bejagung. Dari situGajah Mada kemudian bersedia untuk memeluk Islam dengan dibimbing oleh SunanBejagung. Setelah ia mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih, ia beralih namamenjadi Patih Barat Ketigo dan menghabiskan sisa hidupnya di Bejagung. Makamnyakini terletak tak jauh dari makam Sunan Bejagung Kidul, dikenal dengan namaMakam Panjang.

Pohon maja berduri (mojori) itu saat ini memang telah tumbang. Tetapi ditempat yang sama, dihalaman Ponpes Sunan Bejagung, kini telah tumbuh sebatang pohon maja yang masihagak muda. Pohon itu berdekatan dengan batu tempat Gajah Mada menyatakankeislamannya. HARIS

Seminar Perisai Diri




Dari Seminar Kesilatnas Perisai Diri Pusat di Surabaya

Silat Memfilter Masuknya Budaya Luar di Era Globalisasi

Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat menggelar Seminar Membangun Persatuan dan Kesatuan Bangsa Melalui Pencak Silat sebagai Budaya Bangsa di Era Globalisasi pada Minggu, 22 September 2012 di Hotel Twin Surabaya kemarin. Berikut ini laporan posmo.

Seminar yang digelar Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat cukup manarik minat peserta dan semarak. Karena dihadiri tokoh-tokoh senior murid langsung dari RMS Dirdjoatmojo, perdiri Perisai Diri seperti Soebagyo, Yahya Buari, Bambang Priyokuncoro, Joko Setiadi, Gundono Pendekar Kelana, dan murid lainnya yang hingga kini masih tetap memiliki kepedulian terhadap Perisai Diri.
Sejumlah cabang Paguyuban Perisai Diri hadir. Seperti Jakarta, Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, Jakarta, Demak, Blitar, Trenggalek, dan sejumlah cabang Perisai Diri lainnya. Mereka datang untuk mengikuti seminar.
Dalam seminar tersebut sebagai moderator Dr. I Komang, Ketua Yayasan Kesilatnas Perisai Diri Pusat. Sedangkan narasumbernya Dr. Suparyono, Ketua Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat, Ir. Untung Bakesbang Jatim, DYMM Sultan Suryoalam Raja Demak, Pratomo, Ketua IPSI Jatim.
Acara seminar dibuka dengan pertunjukan atraksi dari murid-murid Paguyuban Perisai Diri Mojokerto yang cukup menarik bagi peserta seminar. Semua mata memandang ke arah depan. Karena permainan jurus-jurusnya memiliki daya keindahan dan kecepatan dalam menyerang dan menghindar.
Kemudian dilanjutkan acara sesi seminar. Dalam seminar tersebut pembicara pertama Pratomo dari IPSI Jatim mengatakan, pencak silat merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki potensi besar dalam pembentukan karakter kebaikan anak bangsa. Hal ini dilakukan melalui visi, misi, dan strategi yang dimiliki perguruan silat. Visinya adalah pembentukan karakter, misinya meraih juara dan strateginya menyelenggarakan turnamen.
Oleh karena itu, IPSI merekomendasi pemerintah untuk mendukung, swasta memberikan sponsor, menjaga keharmonisan antarperguruan, menjaga nilai olahraga yang sportif, memberikan apresiasi pencak silat.
Sedangkan Ir. Untung Bakesbang Jatim menjelaskan, sekarang ormas memiliki ciri-ciri tersendiri. Tetapi kalau dulu harus azas tunggal. Sehingga memiliki karakter tersendiri antara satu perguruan silat. Sementara Dr. Suparyono, Ketua Paguyuban Perisai Diri Pusat menyatakan, pencak silat tumbuh subur di lingkungan agama Islam dan Buddha. Karena itu punya makna silaturahim. Zaman dulu pertandingan silat tidak melukai, tetapi hanya merebutkan kopiyah.
Kini di era globalisasi silat dari luar negeri sudah banyak yang masuk ke Indonesia. Jika pencak silat tidak ingin tergilas, maka akan hancur akibat kalah bersaing. Hal ini berpengaruh pada perjuangan bangsa. Untuk itu, Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri harus tampil kedepan memperjuangkan pencak silat agar tetap diminati anak-anak muda Indonesia. Juga akan tetap mengamankan ajaran RMS Dirdjoatmojo secara utuh dan murni.

Ilmu Panahan

Kemudian pembicara terakhir DYMM Sultan Suryoalam selalu pembina Paguyuban Perisai Diri Pusat menyatakan, silat sudah ada sejak zaman Majapahit hingga sekarang masih tetap ada. Hal ini memiliki kelebihan yaitu mampu membuat seseorang pergi ke mana-mana seperti Gudono Pendekar Kelana dari Perisai Diri. Beliau bisa keluar negeri gara-gara bisa silat.
Ke depannya Perisai Diri harus dikelola secara modern. Dimana anggotanya memiliki kartu identitas. Sehingga dapat diketahui jumlahnya. Begitupula dengan masalah keuangan harus tercatat bila mendapat sumbangan dari Bakesbang atau lainnya.. Sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh lagi punya usaha lagi yaitu sebuah Perguruan Tinggi, pertambangan, padepokan sendiri seperti Padepokan Shaolin di Cina. Sehingga dapat digunakan sebagai tempat latihan para murid-murid, pendekar dan tempat tinggal pendekar yang sudah tua dengan kehormatan yang tinggi.
Di tengah-tengah diskusi seminar yang sedang hangat dalam perbincangan Deni Trisanto anggota senior Perisai Diri menyampaikan pendapat, bahwa RMS Dirdjoatmojo memiliki ilmu memanah dan dirinya yang hingga kini terus mengajarkannya. Bahkan presiden hingga Menpora menyaksikan saat anaknya mengadakan atraksi di Mal dan kantor wali kota. Ia buktikan dengan menampilkan slide. Banyak peserta langsung menuju penampilan slide memanah.
Dari situ akhirnya seminar memutuskan ilmu memanah RMS Dirdjoatmojo akan diajarkan kembali kepada murid-murid Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Pusat dibawah pimpinan Dr, Suparjono Jl Penjaringan Asri PS 1-J No. 39 Surabaya. Bagi para orang tua yang ingin belajar dan kursus dipersilakan.
Begitu pula dengan anak-anak muda yang suka akan ilmu silat dan panahan, baik pelajar maupun mahasiswa jika ingin belajar jangka panjang maupun pendek akan diterima dengan senang hati. Oleh karena itu, jangan disia-siakan kesempatan ini. Mengingat Perisai Diri memiliki komitmen menjadikan pesilat meraih perestasi kejuaaraan nasional dan internasional. HUSNU MUFID



Rabu, 18 September 2013

Imam Ghozali


Biografi Imam Al-Ghozali dan Pemikiran Keislamannya





Pembangun Agama dan Pemberi Jalan Terang Menuju Tuhan





Sosok al-Ghozali bagi masyarakat muslim dan dunia barat sudah tidak asing lagi. Hal tersebut karena pemikiran dan karyanya yang cukup cemerlang dan mampu mempengaruhi pola pikir manusia dimasanya hingga sekarang. Ia dapat digolongkan sebagai pembangun agama nomor satu dan pemberi jalan terang menuju Tuhan. 





Pendidikan dan Karyanya


Al Ghozali nama aslinya adalah Abu Hamid Bin Muhammad bin Achmad al-Ghozali, lahir tahun 1058M/450 H di Tus dekat Mashad, suatu kota kecil di Khurasan (Iran). Kata –kata al-Ghozzali dengan satu z dari kata ghazzal artinya tukang pemintal benang. Karena pekerjaan ayah al-Ghozali ialah memintal benang wol. Sedangkan al-Ghozali dengan satu z, diambil  dari kata-kata Ghazalah, nama kampung kelahirannya al-Ghazali.


Ayah al-Ghazali, adalah seorang tasawuf yang saleh dan meninggal dunia ketika al-Ghazali beserta saudaranya  masih kecil. Akan tetapi sebelum wafatnya ia telah menitipkan kedua anaknya kepada seorang tasawuf guna untuk mendapatkan bimbingan dan pemelihararaan dalam hidupnya.


Menjelang usia remaja ia belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan dan akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini ia wafat tahun 478H/1085M. Selanjutnya ia berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota  Mu’askar, dan dari padanya ia mendapatkan penghargaabn dan kehormatan yang besar. Sehingga ia tinggal di kota itu enam tahun lamanya.


Pada  tahun 483H/1090M, ia dangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah Bagdad, dan pekerjaan itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Bagdad, selain mengajar  Imam Ghozali mengadakan bantahan-bantahan terhadap pemikiran-pemikiran golongan Batiniah, Ismailiyah, golongan filsafat dan lain-lain. Selama itu ia tertimpa keragu-raguan tentang kegunaan pekerjaannya, sehingga akhirnya  ia menderita penyakit yang tidak  bisa diobati dengan obat lahiriah (Fisioterapi).


Pekerjaannya itu kemudian ditinggalkannya pada tahun 484H untuk menuju Damsyik, dan dikota ini ia merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih  dua tahun, dengan tasawuf sebagai jalan hidupnya.


Kemudian ia pindah ke Palestina dan disini pun ia tetap merenung, membaca dan menulis dengan mengambil  tempat di baitul –Maqdis.


Sesudah itu tegaklah hatinya untuk menjalankan ibadah haji, dan setelah selesai ia pulang kampung ke negeri kelahirannya yaitu kota Tus. Disana tetap seperti biasanya berkhalwat dan beribadah. Keadaan tersebut berlangsung sepuluh tahun lamanya. sejak kepindahannya ke Damsyik, dan dalam masa  ini ia menulis buku-buku  mengenai Islam (fiqih), tasawuf, tafsir, otobiografi  dan adab kesopanan.


Sebagian buku-buku tersebut  diatas dalam bahasa Arab  dan Persia. dari karya-karyanya  itulah al-Ghozali dikalangan kaum muslimin besar sekali. Sehingga menurut pandangan orang ketimuran (orientalis)  agama Islam yang digambarkan  oleh kebanyakan kaum muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali.


Menurut B.B. MacDonald, untuk dunia Islam al-Ghozali masih menjadi tokohnya yang terbesar, sama dengan kedudukan Agustinus atau Aquinas untuk dunia Kristen. Kitabnnya yang terbesar adalah Ihya’Ulumuddin yang artinya “menghidupkan ilmu-ilmu agama”, dan dikarang selama beberapa  tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hajzz, Tus.


Buku yang lain yaitu al-Munqidz min ad-Dhalal (penyelamat dari kesesatan), berisi tentang sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Diantara penulis-penulis modern banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan autobiografi.Ibnu Arabial-Ibri dan Raymaond Martin banyak mengambil pemikiran-pemikiran al-Ghazali untuk menguatkan pemikirannya.





Sikapnya Terhadap Para Filosof


Pikiran al-Ghozali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh kegoncangan batin. Sehingga  sukar diketahui kesatuan dan kejelasan corak pikirannya. Seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap filosof-filosof dan terhadap aliran-aliran aqidah pada masanya. Dalam bukunya Tahafut al-Falasifah dan-Munqidz min al-Dlalal, al-Ghozali menentang filosof-filosof Islam. Bahkan mengkafirkan mereka dalam tiga soal.


Antara lain: pengingkaran kebangkitan jasmani, membataskan ilmu Tuhan kepada hal-hal yang besar saja dan kepercayaan tentang qadimnya alam dari keazaliannya. Akan tetapi  dalam bukunya yang lain, yaitu Mizan a-l Amal, dikatakan bahwa ketiga-tiga persoalan tersebut menjadi kepercayaan orang-orang tasawuf juga. Begitu juga    dalam bukunya al-Madlnun’Ala Ghairi Ahlihi ia mengikuti qadimnya alam.


Kemudian dalam al-Munqidzul Min ad-Dlalal ia menyatakan bahwa kepercayaan yang dipeluknya ialah kepercayaan orang-orang tasawuf. Akan tetapi dalam bukunya  yang lain lagi, Mi’raj as-Salikin ia menentang  orang-orang tasawuf yang mengatakan adanya kebangkitan rohani saja. Jadi al-Ghozali menentang  kepercayaan dalam tiga soal tersebut dalam beberapa bukunya, tetang mempercayainya dalam buku-buku yang lain.


Maka dari itu ia lebih tepat digolongkan kepada “pembangun agama” nomor satu, yang semua jalan pemikirannya terutama bersumber kepada al-Qur’an dan Hadist, dan kalau memakai sumber lain  dalam Islam, sumber-sumber ini hanya dijadikn sebagai alat untuk menghidupkan ajaran-ajaran  agama  dan untuk membantu menerangi  jalan Tuhan.


Dengan demikian, al-Ghozali  telah mencapai hakikat agama yang belum pernah diketemukan oleh orang-orang yang sebelumnya dan mengembalikan kepada nilai-nilai  agama yang telah hilang tidak menentu. Jalan yang terdekat kepada Tuhan ialah jalan hati. husnu mufid 





 

Air Terjun Coban Rondo


Air Tenjun Coban Rondo di Lereng Gunung Kawi  Pujon Malang

Mandi Kungkum Bisa Datangkan Jodoh


Panorama yang indah di air terjun Coban Rondo mengundang orang untuk datang. Ditambah lagi hawanya yang sejuk membuat orang semakin betah berlama-lama bersama keluarga. Di balik itu, pemandian ini ternyata menyimpan misteri yakni, bila mandi di air terjun itu bisa mendatangkan jodok. Tapi sebaliknya tempat ini pantangan bagi muda-mudi yang lagi pacaran, karena bisa memutuskan hubungan. Mengapa begitu?


Dapatkan Jodoh
Air Terjun Coban Rondo  ini terletak di lereng Gunung Kawi. Posisinya berada di  Dukuh Sebaluh Desa Pandesari Kecamatan Pujon, Malang. Kondisi lingkungan sekitarnya masih asri  dan belum dirusak oleh masyarakat sekitar. Sehingga udara disekitar air terjun tersebut masih terasa nyaman.
Kondisi demikian itu  mengakibatkan banyak orang datang  untuk sekedar bertamasya bersama keluarga pada hari libur. Selain itu ada maksud-maksud lain. Yaitu untuk cepat dapat jodoh. Khususnya bagi mereka yang belum mendapatkan pasangan hidup di dunia.
"Kalau ada orang yang melakukan tirakat di Air Terjun Coban Rondo, karena sudah lama tidak dapat jodoh,  Insya Allah akan laku kawin," ujar Ustad Sobirin warga setempat.
Untuk mendapatkan keinginan tersebut biasanya seseorang laki-laki maupun perempuan harus rela kungkum dan bersemadi selama beberapa jam. Bagi yang baru menjalani sudah barang tentu ada perasaan rasa takut. Tapi kalau sudah diniati dari rumah, perasaan takut itu hilang dengan sendirinya.
Sudah banyak orang yang ingin mendapatkan jodoh dengan mandi  di air terjun Coban Rondo ini. Mereka yang berhasil bukan hanya dari daerah sekitar, melainkan luar kota pun cukup banyak.  Tapi ada juga yang gagal. Hal tersebut karena mereka tidak sungguh-sungguh dalam melakukan ritual.  
Kegagalan orang yang melakukan lelaku biasanya tidak kuat menahan dinginnya air dan bayang-bayang mahluk halus yang kadang-kadang muncul. Meskipun sebenarnya mahluk tersebut tidak akan mengganggu jalannya laku ritual. Hanya ingin berkenalan saja terhadap orang yang melakukan lelaku.

Pantangan Berpacaran

Lelaku kungkum tersebut hanya dikhususkan pada orang yang belum mendapatkan pasangan. Sedangkan bagi  pemuda-pemudi yang sudah punya pasangan dan  berpacaran ditempat tersebut tidak diperbolehkan. Karena resikonya besar, yaitu  nanti akan putus dengan kekasihnya.
Hal tersebut dikait-kaitkan dengan cerita masa lalu. Konon ceritanya jaman dahulu ada sepasang suami isteri  yang menikah di Gunung Anjasmoro. Kemudian diutus gurunya untuk datang ke lereng Gunung Kawi. Sesampainya ditempat tujuan melihat ada air terjun yang sangat indah dan airnya segar. 
Ditempat tersebut, kedua pasang suami isteri itu lantas mandi bersama-sama dalam waktu yang cukup lama. Maklum sudah beberapa hari badannya tidak terkena air. Karena terbuai dengan air terjun tersebut, sehingga lupa kalau ada pemuda yang melihat dari celah-celah pepohonan.
Pemuda yang melihat itu tertarik pada wanita yang mandi di air terjun tersebut. Ingin saja mengawininya. Oleh ibunya diperingatkan agar  tidak merusak pagar ayu. Akan tetapi tidak digubrisnya. Kenekatan pemuda itu membuat suami wanita tersebut marah besar. Inginnya mengajak berkelahi.
Maka  terjadilah perkelahian seru di tebing air terjun Coban Rondo. Karena sama-sama sakti, akhirnya kedua laki-laki yang berkelahi itu meninggal dunia. Sedangkan  wanita itu menjadi janda (rondo) dan menetap disitu hingga akhir hayat. husnu mufid