Rabu, 18 September 2013

Imam Ghozali


Biografi Imam Al-Ghozali dan Pemikiran Keislamannya





Pembangun Agama dan Pemberi Jalan Terang Menuju Tuhan





Sosok al-Ghozali bagi masyarakat muslim dan dunia barat sudah tidak asing lagi. Hal tersebut karena pemikiran dan karyanya yang cukup cemerlang dan mampu mempengaruhi pola pikir manusia dimasanya hingga sekarang. Ia dapat digolongkan sebagai pembangun agama nomor satu dan pemberi jalan terang menuju Tuhan. 





Pendidikan dan Karyanya


Al Ghozali nama aslinya adalah Abu Hamid Bin Muhammad bin Achmad al-Ghozali, lahir tahun 1058M/450 H di Tus dekat Mashad, suatu kota kecil di Khurasan (Iran). Kata –kata al-Ghozzali dengan satu z dari kata ghazzal artinya tukang pemintal benang. Karena pekerjaan ayah al-Ghozali ialah memintal benang wol. Sedangkan al-Ghozali dengan satu z, diambil  dari kata-kata Ghazalah, nama kampung kelahirannya al-Ghazali.


Ayah al-Ghazali, adalah seorang tasawuf yang saleh dan meninggal dunia ketika al-Ghazali beserta saudaranya  masih kecil. Akan tetapi sebelum wafatnya ia telah menitipkan kedua anaknya kepada seorang tasawuf guna untuk mendapatkan bimbingan dan pemelihararaan dalam hidupnya.


Menjelang usia remaja ia belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan dan akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini ia wafat tahun 478H/1085M. Selanjutnya ia berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota  Mu’askar, dan dari padanya ia mendapatkan penghargaabn dan kehormatan yang besar. Sehingga ia tinggal di kota itu enam tahun lamanya.


Pada  tahun 483H/1090M, ia dangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah Bagdad, dan pekerjaan itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Bagdad, selain mengajar  Imam Ghozali mengadakan bantahan-bantahan terhadap pemikiran-pemikiran golongan Batiniah, Ismailiyah, golongan filsafat dan lain-lain. Selama itu ia tertimpa keragu-raguan tentang kegunaan pekerjaannya, sehingga akhirnya  ia menderita penyakit yang tidak  bisa diobati dengan obat lahiriah (Fisioterapi).


Pekerjaannya itu kemudian ditinggalkannya pada tahun 484H untuk menuju Damsyik, dan dikota ini ia merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih  dua tahun, dengan tasawuf sebagai jalan hidupnya.


Kemudian ia pindah ke Palestina dan disini pun ia tetap merenung, membaca dan menulis dengan mengambil  tempat di baitul –Maqdis.


Sesudah itu tegaklah hatinya untuk menjalankan ibadah haji, dan setelah selesai ia pulang kampung ke negeri kelahirannya yaitu kota Tus. Disana tetap seperti biasanya berkhalwat dan beribadah. Keadaan tersebut berlangsung sepuluh tahun lamanya. sejak kepindahannya ke Damsyik, dan dalam masa  ini ia menulis buku-buku  mengenai Islam (fiqih), tasawuf, tafsir, otobiografi  dan adab kesopanan.


Sebagian buku-buku tersebut  diatas dalam bahasa Arab  dan Persia. dari karya-karyanya  itulah al-Ghozali dikalangan kaum muslimin besar sekali. Sehingga menurut pandangan orang ketimuran (orientalis)  agama Islam yang digambarkan  oleh kebanyakan kaum muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali.


Menurut B.B. MacDonald, untuk dunia Islam al-Ghozali masih menjadi tokohnya yang terbesar, sama dengan kedudukan Agustinus atau Aquinas untuk dunia Kristen. Kitabnnya yang terbesar adalah Ihya’Ulumuddin yang artinya “menghidupkan ilmu-ilmu agama”, dan dikarang selama beberapa  tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hajzz, Tus.


Buku yang lain yaitu al-Munqidz min ad-Dhalal (penyelamat dari kesesatan), berisi tentang sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Diantara penulis-penulis modern banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan autobiografi.Ibnu Arabial-Ibri dan Raymaond Martin banyak mengambil pemikiran-pemikiran al-Ghazali untuk menguatkan pemikirannya.





Sikapnya Terhadap Para Filosof


Pikiran al-Ghozali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh kegoncangan batin. Sehingga  sukar diketahui kesatuan dan kejelasan corak pikirannya. Seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap filosof-filosof dan terhadap aliran-aliran aqidah pada masanya. Dalam bukunya Tahafut al-Falasifah dan-Munqidz min al-Dlalal, al-Ghozali menentang filosof-filosof Islam. Bahkan mengkafirkan mereka dalam tiga soal.


Antara lain: pengingkaran kebangkitan jasmani, membataskan ilmu Tuhan kepada hal-hal yang besar saja dan kepercayaan tentang qadimnya alam dari keazaliannya. Akan tetapi  dalam bukunya yang lain, yaitu Mizan a-l Amal, dikatakan bahwa ketiga-tiga persoalan tersebut menjadi kepercayaan orang-orang tasawuf juga. Begitu juga    dalam bukunya al-Madlnun’Ala Ghairi Ahlihi ia mengikuti qadimnya alam.


Kemudian dalam al-Munqidzul Min ad-Dlalal ia menyatakan bahwa kepercayaan yang dipeluknya ialah kepercayaan orang-orang tasawuf. Akan tetapi dalam bukunya  yang lain lagi, Mi’raj as-Salikin ia menentang  orang-orang tasawuf yang mengatakan adanya kebangkitan rohani saja. Jadi al-Ghozali menentang  kepercayaan dalam tiga soal tersebut dalam beberapa bukunya, tetang mempercayainya dalam buku-buku yang lain.


Maka dari itu ia lebih tepat digolongkan kepada “pembangun agama” nomor satu, yang semua jalan pemikirannya terutama bersumber kepada al-Qur’an dan Hadist, dan kalau memakai sumber lain  dalam Islam, sumber-sumber ini hanya dijadikn sebagai alat untuk menghidupkan ajaran-ajaran  agama  dan untuk membantu menerangi  jalan Tuhan.


Dengan demikian, al-Ghozali  telah mencapai hakikat agama yang belum pernah diketemukan oleh orang-orang yang sebelumnya dan mengembalikan kepada nilai-nilai  agama yang telah hilang tidak menentu. Jalan yang terdekat kepada Tuhan ialah jalan hati. husnu mufid 





 

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat