Selasa, 14 Maret 2017

Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya



 Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya Selatan Jatim

Dewa-Dewa Dipercaya Mampu Memberikan Pertolongan

Meskipun  usianya tidak termasuk generasi klenteng bersejarah. Namun Klenteng Hong San Ko Tee di Jl Cokroaminoto Surabaya Selatan ini mempunyai daya tarik yang besar bagi masyarakat Tionghoa. Selain sembayang untuk arwah leluhur. Juga tempat  berdo’a untuk mendapatkan kesembuhan anggota keluarganya dan kesuksesan bisnis. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.


Klenteng  Hong San Ko Tee dibangun tahun 1970an oleh umat Tr Dharma.  Memiliki halaman  yang memanjang. Ditumbuhi berbagai tumbuhan. Salah satunya adalah Pisang. Sehingga umat yang akan beribadah merasakan hawa sejuk dan segar. Jauh dari polusi udara yang menyengat.
Di dalam Klenteng Hong San Ko Tee ini terdapat berbagai macam patung dewa. Ada petung dewa Kwan Im Poo Sat, Buddha, Ho Tek Ceng Sin, Kwan Kong, patung dewa bumi, dewa langit  dan banyak lagi patung-patung dewa yang lain. Patung-patung tersebut sangat disakralkan.
“Para umat Tri Dharma bila melakukan sembayang menuju patung-patung tersebut. Berbagai macam tujuan yang ingin dicapai. Ada yang berdo’a untuk arwah leluhurnya yang telah meninggal dunia, keselamatan, kejayaan bisnis,  ketentraman negara, melihat nasib, penyembuhan penyakit dan banyak lagi permintaan lainnya,” Buddi Enggal Kuncoro Pengurus Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya.
Mereka percaya bahwa dewa-dewa itu mampu memberikan pertolongan kepada umat Tri Dharma yang sering sembayang  di klenteng tersebut. Bukti nyata sudah banyak terbukti berdasarkan pengakuan beberapa umat yang do’anya diterima. Baik dalam bidang bisnis maupun penyakit.
Salah satunya adalah Liu Ci San warga Gubeng Raya yang orang tuanya mengalami sakit dalam dan cukup parah. Setelah melakukan sembayang di Klenteng Hong San Ko Tee selama beberapa bulan. Akhirnya orang tuanya mengalami kesembuhan total.
“Orang tua dirumah  sembuh dari sakit parah setelah saya berdo’a di klenteng ini. Barangkali do’a yang saya panjatkan tiap  usai sembayangterkabulkan,”ujar Liu Ci San putri Han Lim warga Gubeng Raya Surabaya.  
Kesembuhan penyakit orang tanya itu menjadikan dirinya sadar. Bahwa  kekuatan do’a itu mampu menyembuhkan orang yang mengalami sakit. Padahal sebelumnya kurang percaya. sejak itulah  dia  terus bersembayang di klenteng tersebut pada hari-hari tertentu dan hari besar. Seperti pada hari besar Imlek serta menghadiri Perayaan Cio Ko.     

Melihat Nasib
Kedatangan umat ke klenteng juga bukan hanya sebatas sembayang dan berdo’a untuk kesembuhan. Tapi  juga banyak umat yang melakukan kegiatan melihat nasib dengan jalan melempar benda kecil (Siak). Hal tersebut biasanya dilakukan setelah sembayang di dewa masing-masing. Mereka percaya  nasibnya dapat diketahui.
Pada umumnya yang melempar benda kecil itu adalah dari kalangan bisnismen. Jika selama satu bulan belum berhasil, mereka datang kembali untuk melakukan kegiatan tersebut hingga usahanya berhasil.
Kalau ternyata ada hasilnya. Tidak tanggung-tanggung dari sebagian keuntungan bisnisnya akan disumbangkan pada Klenteng Hong San Ko Tee. Tujuannya sebagai rasa syukur kepada para dewa yang memberikan kemurahan berupa rejeki.
Dari pihak pengurus klenteng, sumbangan uang itu untuk perawatan fasilitas klenteng dan acara bagi-bagi sembako pada perayaan keagamaan kepada masyarakat yang tidak mampu. Khususnya pada masyarakat miskin di perkotaan. Dalam bentuk uang dan bahan  sembilan pokok kebutuhan (sembako).
Acara-acara tersebut tetap terus berlangsung dari dulu hingga sekarang. Apalagi pada jaman reformasi sejak Indonesia presidennya Gus Dur. Kegiatan Klenteng Hong San Ko Tee semakin semarak. Baik dalam bidang persembayangan, ritual dan bhakti sosial. Mengingat sudah tidak ada larangan lagi oleh pemerintah. CAHYA 
    
    





Renung, Mengapa Oknum Anggota DPRRI Korupsi

Syekh Tuan Hussain

Menulis I8 Buah Kitab Fiqh, Tauhid, dan Tasawuf.


Syekh Tuan Hussain Kedah atau nama sebenarnya Hussain bin Nasir bin Muhamad Taib dilahirkan di Titi Gajah, Alor Setar pada 2 November 1863 bersamaan 20 Jamadil Awal, 1280 Hijrah. Ia berasal dari keluarga ulama’ yang tinggal di Kalimantan. Siapakah dia sebenarnya berikut ini kisahnya.

Pada sekitar tahun 1841 Haji Mas’ud, Syekh Tuan Hussain singgah di Sungai Kedah dalam perjalanan pulang ke Kalimantan dari Makkah. Di kesempatan itu Haji Mas’ud telah memainkan peranan penting membantu kerajaan Kedah dalam perang menentang Siam.
Walau bagaimanapun, Haji Mas’ud telah syahid dalam peperangan itu pada tahun 1842. Melihat keadaan itu, anaknya Muhamad Taib dan ahli keluarga yang lain telah mengambil keputusan untuk menetap di Kedah untuk mencari
kehidupan baru. Kelahiran Syekh Tuan Hussain dalam keluarga ini terus memberi sinar khususnya dalam perkembangan dakwah Islamiah.
Keluarga Muhamad Taib terdiri di kalangan  ulama’. Dalam sejarah perjuangannya, Syekh  Tuan Hussain merupakan seorang penulis kitab-kitab agama yang terkenal di Nusantara. Tokoh ini telah menghasilkan 18 buah kitab mengenai fiqh, tauhid, dan tasawuf.
Dalam mendidik ummat, Syekh Tuan Hussain mengajarkan tulisan berhuruf  jawi serta mendirikan pondok pesantren sebagai institusi pendidikan agama Islam.
Beliau mendirikan sekolah dalam satu pondok pesantren  di beberapa kawasan di Kedah. Tujuannya untuk  mengukuhkan pendidikan Islam. Diantara  tempat-tempat tersebut ialah di Bohor, Selengkoh, Padang Lumat serta di Pokok Sena, Seberang Perai.
Satu perkara yang menarik tentang tokoh ini ialah sistem dan
disiplin yang diterapkan dan dilaksanakan dalam mengendalikan sekolah yang diasaskannya. Kawasan institusi pendidikan itu dilengkapi surau.
Manakala rumah-rumah pondok (tempat penginapan) pelajar dibina secara tersusun. Untuk mereka yang berkeluarga dibina pondok di dalam kawasan sekolah. Sedangkan bagi yang masih bujang didirikan pondok di kawasan luar.
Para pelajarnya terdiridari remaja belasan tahun hingga kepada orang tua yang berumur 50 tahun. Kebanyakan mereka terdiri dari pelajar tempatan, namun ada juga yang datang dari Sumatera, Patani, dan Brunei. Hal ini menunjukkan betapa pengaruh pendidikan institusi pondok Syekh Tuan Hussain begitu meluas.
Meskipun sistem perhubungan pada waktu itu amat sukar lantaran institusi pendidikan belum banyak didirikan oleh pihak kerajaan. Pada waktu itu pelajar digalakkan bekerja sendiri bagi menampung kehidupan. Sebahagian mereka bersawah padi bersama-sama penduduk setempat.
Syekh Tuan Hussain menetapkan jadual belajar yang ketat untuk pelajar-pelajarnya. Beliau akan mengajar pada  tengah hari hingga petang. Waktu pembelajaran ini merangkumi sembahyang zuhur dan Asar secara berjemaah.
Manakala pembantu-pembantu Syekh Tuan Hussain akan mengajar pada waktu malam. Jadual yang disediakan itu adalah untuk memberi peluang kepada pelajar-pelajar pondok itu mencari nafkah kehidupan pada waktu pagi. Pondok Tuan Hussain semakin mendapat sambutan hebat dari para  pelajar.
Pada satu ketika terdapat lebih 50 buah pondok didirikan di satu-satu lokasi. Menyedari keadaan itu, Syekh Tuan Hussain memperkenalkan asrama (rumah panjang) yang boleh didiami oleh ratusan pelajar.
Dalam satu-satu musim pengajian, pondok ini mempunyai lebih dari 400 orang pelajar dan angka ini ada kalanya mencapai lebih 1000 orang.
Selain mendengar kuliah yang disampaikan oleh Syek Tuan Hussain dan pembantunya, para pelajar membaca kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain. Mereka juga turut merujuk kepada nota-nota yang disalin oleh pelajar-pelajarnya yang terdahulu.
Terdapat 18 buah kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain sendiri. Kitab itu turut digunakan di seluruh Nusantara baik melalui penerbitan maupun yang dibawa oleh bekas pelajarnya yang datang dari seluruh pelosok alam Melayu. Antara kitab itu ialah al-Nur al-Mustafid fi Aqaid Ahi al-Tauhid (1887), Tamrin al-Sibyan (1809), Hidayat al-Sibyan (1911), Hidayat al-Mutafakkirin (1918), Kasr al-Iksir (1920), Hidayat al-Talibin (1924),
Tadrih al-Sibyan (1926), dan banyak lagi.
Jelas di sini bahwa tokoh ini selain memberi kuliah, dia juga menulis, bahkan menurunkan ilmunya dalam bentuk dokumen yang sangat berharga. Semua itu dapat diwariskan hingga ke hari ini. Pastinya tokoh ini mempunyai disiplin masa yang begitu tersusun dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab.
HUSNU MUFID

Sufi, Syekh Tuan Husain

Syekh Tuan Hussain

Menulis I8 Buah Kitab Fiqh, Tauhid, dan Tasawuf.


Syekh Tuan Hussain Kedah atau nama sebenarnya Hussain bin Nasir bin Muhamad Taib dilahirkan di Titi Gajah, Alor Setar pada 2 November 1863 bersamaan 20 Jamadil Awal, 1280 Hijrah. Ia berasal dari keluarga ulama’ yang tinggal di Kalimantan. Siapakah dia sebenarnya berikut ini kisahnya.

Pada sekitar tahun 1841 Haji Mas’ud, Syekh Tuan Hussain singgah di Sungai Kedah dalam perjalanan pulang ke Kalimantan dari Makkah. Di kesempatan itu Haji Mas’ud telah memainkan peranan penting membantu kerajaan Kedah dalam perang menentang Siam.
Walau bagaimanapun, Haji Mas’ud telah syahid dalam peperangan itu pada tahun 1842. Melihat keadaan itu, anaknya Muhamad Taib dan ahli keluarga yang lain telah mengambil keputusan untuk menetap di Kedah untuk mencari
kehidupan baru. Kelahiran Syekh Tuan Hussain dalam keluarga ini terus memberi sinar khususnya dalam perkembangan dakwah Islamiah.
Keluarga Muhamad Taib terdiri di kalangan  ulama’. Dalam sejarah perjuangannya, Syekh  Tuan Hussain merupakan seorang penulis kitab-kitab agama yang terkenal di Nusantara. Tokoh ini telah menghasilkan 18 buah kitab mengenai fiqh, tauhid, dan tasawuf.
Dalam mendidik ummat, Syekh Tuan Hussain mengajarkan tulisan berhuruf  jawi serta mendirikan pondok pesantren sebagai institusi pendidikan agama Islam.
Beliau mendirikan sekolah dalam satu pondok pesantren  di beberapa kawasan di Kedah. Tujuannya untuk  mengukuhkan pendidikan Islam. Diantara  tempat-tempat tersebut ialah di Bohor, Selengkoh, Padang Lumat serta di Pokok Sena, Seberang Perai.
Satu perkara yang menarik tentang tokoh ini ialah sistem dan
disiplin yang diterapkan dan dilaksanakan dalam mengendalikan sekolah yang diasaskannya. Kawasan institusi pendidikan itu dilengkapi surau.
Manakala rumah-rumah pondok (tempat penginapan) pelajar dibina secara tersusun. Untuk mereka yang berkeluarga dibina pondok di dalam kawasan sekolah. Sedangkan bagi yang masih bujang didirikan pondok di kawasan luar.
Para pelajarnya terdiridari remaja belasan tahun hingga kepada orang tua yang berumur 50 tahun. Kebanyakan mereka terdiri dari pelajar tempatan, namun ada juga yang datang dari Sumatera, Patani, dan Brunei. Hal ini menunjukkan betapa pengaruh pendidikan institusi pondok Syekh Tuan Hussain begitu meluas.
Meskipun sistem perhubungan pada waktu itu amat sukar lantaran institusi pendidikan belum banyak didirikan oleh pihak kerajaan. Pada waktu itu pelajar digalakkan bekerja sendiri bagi menampung kehidupan. Sebahagian mereka bersawah padi bersama-sama penduduk setempat.
Syekh Tuan Hussain menetapkan jadual belajar yang ketat untuk pelajar-pelajarnya. Beliau akan mengajar pada  tengah hari hingga petang. Waktu pembelajaran ini merangkumi sembahyang zuhur dan Asar secara berjemaah.
Manakala pembantu-pembantu Syekh Tuan Hussain akan mengajar pada waktu malam. Jadual yang disediakan itu adalah untuk memberi peluang kepada pelajar-pelajar pondok itu mencari nafkah kehidupan pada waktu pagi. Pondok Tuan Hussain semakin mendapat sambutan hebat dari para  pelajar.
Pada satu ketika terdapat lebih 50 buah pondok didirikan di satu-satu lokasi. Menyedari keadaan itu, Syekh Tuan Hussain memperkenalkan asrama (rumah panjang) yang boleh didiami oleh ratusan pelajar.
Dalam satu-satu musim pengajian, pondok ini mempunyai lebih dari 400 orang pelajar dan angka ini ada kalanya mencapai lebih 1000 orang.
Selain mendengar kuliah yang disampaikan oleh Syek Tuan Hussain dan pembantunya, para pelajar membaca kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain. Mereka juga turut merujuk kepada nota-nota yang disalin oleh pelajar-pelajarnya yang terdahulu.
Terdapat 18 buah kitab yang ditulis oleh Syekh Tuan Hussain sendiri. Kitab itu turut digunakan di seluruh Nusantara baik melalui penerbitan maupun yang dibawa oleh bekas pelajarnya yang datang dari seluruh pelosok alam Melayu. Antara kitab itu ialah al-Nur al-Mustafid fi Aqaid Ahi al-Tauhid (1887), Tamrin al-Sibyan (1809), Hidayat al-Sibyan (1911), Hidayat al-Mutafakkirin (1918), Kasr al-Iksir (1920), Hidayat al-Talibin (1924),
Tadrih al-Sibyan (1926), dan banyak lagi.
Jelas di sini bahwa tokoh ini selain memberi kuliah, dia juga menulis, bahkan menurunkan ilmunya dalam bentuk dokumen yang sangat berharga. Semua itu dapat diwariskan hingga ke hari ini. Pastinya tokoh ini mempunyai disiplin masa yang begitu tersusun dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab.
HUSNU MUFID

Syekh Belabelu dengan Syekh Maulana Magribi


Kisah  Syekh Belabelu dengan Syekh Maulana Magribi di Yogyakarta

Ajarkan Islam Kepada Pengikut Nyai Roro Kidul

Syekh Belabelu dikenal sebagai wali di wilayah pantai selatan. Khususnya di Pantai Parangteritis Jogjakarta.  Ia merupakan wali yang mampu menembus eilayah pantai selatan  Pulau Jawa. Dimana  dulunya tidak ada orang yang berani memasuki. mengingat daerah tersebut telah dikuasai Nya Roro Kidul.
Oleh karena itu, bagi masyarakat muslim di wilayah pantai selatan pulau Jawa  nama Syekh Belabelu sudah tidak asing lagi. Karena dia mampu melunakkan hati masyarakat yang berhati keras dan suka  dengan masalah tahayul.
Dalam kehidupan sehari-hari,  beliau terkenal sebagai seorang wali penyebar agama Islam yang terkenal sakti. Dari kesaktiannya inilah dia dapat mengikuti perjalanan Syekh Maulana Magribi ke Makkah dalam waktu singkat. Tanpa naik Kapal Laut.
Barangkali memang tidak masuk akal jika pergi ke Makkah tanpa menggunakan kapal laut. karena jaraknya cukup jauh. Tapi faktanya memang demikian itu. Kesaktiannya itulah yang mengantarkan kesana.
“Tiba-tiba sudah berada di Makkah. Hal tersebut membuat  Syekh Maulana Magribi kaget. Karena ketika diajak masih masak dan disuruh oleh Syekh Belabelu untuk pergi lebih dahulu,”ujar Ngebehi Suwelo juru kunci  Pesarehan Syekh Belabelu di desa Pemancingan kec Kretek Keb Bantul Yogyakarta.      
Sepulangnya dari Makkah Syekh Belabelu kembali ke tempat asalnya. Yaitu di perbukitan dekat Pantai Parangkusumo. Ditempat tersebut dia melakukan tapa dengan makan nasi yang banyak krikilnya. Tujuannya agar supaya tidak tertidur pada malam hari hingga Subuh tiba.
Sikap suka tirakat tanpa memakan nasi yang berlebihan itu membuat dirinya menjadi seorang wali yang memiliki kesehatan yang stabil. jarang menderita sakit. Apalagi lingkungannya cukup mendukung dengan phon-pohonan yang lebat.
Dibukit Parangkusumo inilah Syekh Belabelu melakukan aktifitas mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.  yang waktu itu masih kafir. Dalam dakwahnya ia membantu Syekh Maulana Magribi  menyebarkan agama Islam kepada pengikut-pengikut Nyai Roro Kidul penguasa pantai selatan Pulau Jawa.
Berkat jasanya membantu Syekh Maulana Magribi dalam menyebarkan ajaran Islam dalam waktu yang singkat banyak orang-orang yang masuk Islam. Sehingga jumlah orang Islam yang ada di pantai utara dan selatan seimbang.
Setelah sukses menyebarkan ajaran Islam diwilayah yang dikuasai Nyai Roro Kidul, maka Syekh Belabelu mengikuti  Syekh Maulana Magribi menuju Kesultanan Demak Bintoro. Karena beliau selalu mengikuti kemana perginya gurunya itu.   
Kemudian di tempat tersebut ditempati para santri-santrinya dan masyarakat untuk melanjutkan dakwahnya. Dalam perkembangan zaman setelah sekian ratus tahun untuk mengenang  sebagai tempat tinggalnya, maka tempat tinggal Syekh Belabelu dijadikan sebagai tempat keramat. Orang menyebutnya dengan nama  Pesarehan Syeh Belabelu.
Untuk itu mereka menandai dengan dua nisan mirip sebuah makam yang didalamnya ada jasadnya. Kalau orang tidak tahu dikira sebuah makam. Tapi sebenarnya dulunya merupakan tempat  tinggalnya.
Pesarehannya yang berada di perbukitan Pantai Parangkusumo banyak dikunjungi masyarakat. Tujuannya berbacam-macam. Ada yang ingin pangkatnya naik dan lahan pertaniannya subur.
Cukup banyak masyarakat yang berkunjung ke tempat itu untuk sekedar menentramkan hati akibat rumah tangganya kacau dan agar pangkatnya naik serta pertaniannya tidak dimakan hama wereng. Banyak permintaan mereka yang terkabul. Mereka berasal dari  Lampung, Medan, Bali dan masyarakat sekitar. Datangnya pada hari  Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon.
Selain itu, Pesarehan Syekh Belabelu juga digunakan sebagai tempat untuk mengasah ilmu tenaga dalam oleh sejumlah perguruan yang cukup terkenal di Yogyakarta.  Karena dianggap memiliki enerki yang tinggi  bila dibandingkan dengan makam-makam yang ada.

Keramat
Ada pula yang ingin mendapatkan energi gaib untuk ilmu kanoragan. Sebagian besar warga sebelum berjiarah ke Pesarehan Syekh Maulana Magribi terlebih dahulu ke Pesarehan Syekh Belabelu. Pernah ada serombongan dari Jepara dan Kudus kakinya lumpuh ketika akan naik  bukit menuju ke Pesarehan Syekh Belabelu
Bagi masyarakat sekitar maupun luar kota, Pesarean Syekh Belabelu itu harus didatangi terlebih dahulu sebelum menuju ke Pesarehan Syekh Maulana Magribi. Karena  usianya dianggap lebih tua dari  Walisongo penyebar agama di pantai utara Jawa. Mereka juga berkeyakinan kalau dilanggar  akan  mendatangkan musibah.
“Salah satu contohnya, beberapa tahun lalu  ada rombongan penjiarah dari Jepara dan Kudus. Waktu itu mereka lebih dahulu datang ke Pesarehan Syekh Maulana Magribi. Ketika akan menuju ke Pesarehan Syekh Belabelu mendadak kakinya lumpuh dan tidak mampu mendaki bukit menuju ke pesarehan,”ujarnya. 
Kejadian tersebut menjadikan masyarakat lebih mendahulukan untuk berjiarah ke Pesarehan Syekh Belabelu daripada ke Pesarehan Syekh Maulana Megribi. Meskipun tidak ada larangan secara tertulis. Keyakinan itu begitu kuat diyakini hingga sekarang. Hanya orang jauhlah yang belum mengetahui.   HUSNU MUFID  

Senin, 06 Maret 2017

Renungan tentang Banjir

Banjir dan Longsor Terus Menerus

Tahun 2016 telah kita tinggalkan. Dimana tahun tersebut penuh dengan bebagai macam musibah, baik di  musim panas maupun hujan. Kini bangsa Indonesia memasuki tahun 2017. Pada bulan-bulan ini  musibah bencana banjir dan longsor  telah menimpa saudara-saudara kita di Indonesia.
Kalau kita perhatikan musibah yang menimpa bangsa Indonesia sekarang ini, maka tidaklah seseorang itu keluar dari dua  keadaan, yaitu yang menyenangkan dan yang menyusahkan. Di balik dua  keadaan ini ternyata Allah telah menyediakan pahala yang besar; yakni bila mendapati sesuatu yang menyusahkan maka bersabar, dan sebaliknya bila mendapati sesuatu yang menyenangkan dia akan bersyukur. Sehingga dalam kondisi apapun juga, seorang mukmin selalu mendapatkan kesempatan untuk menuai pahala.
Nasehat dari Ibnul Jauzi Rohimahulloh Ibnul Jauzi berkata, "Orang yang ditimpa ujian dan hendak membebaskan diri darinya, hendaklah menganggap bahwa ujian itu lebih mudah dari apa yang mudah. Selanjutnya, hendaklah membayangkan pahala yang akan diterima dan menduga akan turunnya ujian yang lebih besar?
Perlu diketahui, bahwa lamanya waktu ujian itu seperti tamu yang berkunjung. Untuk itu, penuhilah  secepatnya apa yang ia butuhkan, agar ujian cepat berlalu dan akan datang  kenikmatan, pujian serta kabar gembira kelak di hari pertemuan, melalui pujian sang tamu.
Oleh karerna itu sikap yang seharusnya diambil seorang mukmin di dalam menghadapi kesusahan adalah meniti setiap detik, mencermati apa yang telah terjadi di dalam jiwanya dan menguntit segala gerakan organ tubuh  yang didasari oleh kekhawatiran kalau-kalau lisan salah mengucap atau dari hati keluar ketidakpuasan.”
Dengan sikap demikian, seolah-olah fajar  telah menyingsing, malam ujian telah berlalu, sang pengembara pun melepaskan kegembiraan hatinya karena pekatnya malam telah sirna. Terbitlah mentari balasan dan sampailah si pengembara ke rumah keselamatan.
Semua musibah yang datang dan dialami itu bernilai kebaikan. Juga dapat mengantarkannya pada sifat dan kedudukan terpuji di sisi Allah Ta'ala. Yakni asalkan dapat bersikap dengan sikap yang sebagaimana mestinya pada keadaan-keadaan tersebut dengan tawakkal. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah: "Sungguh menakjubkan semua keadaan orang-orang mukmin. Sesungguhnya semua urusan yang dimilikinya itu semuanya baik, dan tidaklah hal demikian itu dimiliki kecuali hanya oleh orang-orang mukmin saja. Jika dia mendapat kesenangan, maka dia bersyukur, dan itu baik baginya; dan apabila mendapatkan kesusahan dia bersabar, dan itu baik baginya. (HR. Bukhori).
Dari sabda Rasulullah ini jelas, bahwa saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah dibulan-bulan  ini kita doakan agar mendapatkan kesabaran yang tinggi. Karena akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Amin.

KlentengHwie Ing Kiong Madiun


Sejarah berdirinya Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun

Dulunya Berada ditepi Bengawan

Setiap kota tentunya memiliki cerita tersendiri mengenai keberadaannya. Seperti madiun yang ternyata kisah sejarahnya tidak luput dari hadirnya sebuah bangunan berupa klenteng yang berdiri di salah satu Kelurahan disana.

Eksistensi Madiun tidak terlepas dari keberadaan Kelenteng Hwie Ing Kiong di Jl. HOS Cokroaminoto No. 63, Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur (Jatim). Namun tak banyak orang tahu bahwa kelenteng tersebut pada mulanya tidak berada di alamat tersebut.
Kepala Tata Usaha (TU) Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun, Erfan, mengungkapkan masyarakat Tionghoa di Madiun mula-mula menjalankan tradisi leluhur mereka untuk bersembahyang di Kuil Dewi Mazu Tian Shang Sheng Mu (Macopo) di timur Sungai Bengawan Madiun atau samping jembatan Madiun. Disinggung keberadaan lokasi Kuil Dewi Mazu tersebut, dia tidak mengetahui secara pasti.
“Jujur saya belum pernah melihat kuil Dewi Mazu lama. Beberapa pengurus juga tidak mengetahui secara pasti lokasi Kuil Dewi Mazu tersebut. Terdengar kabar, bangunan kuil di sekitar Sungai Bengawan Madiun sudah berangsur hilang karena digantikan dengan rumah-rumah warga,” kata Erfan di Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun.
Erfan menjelaskan karena sebuah kejadian penting berkaitan dengan Residen Belanda bernama Tan Soen Yong, Kuil Dewi Mazu yang tersusun dari bangunan sederhana tersebut bisa dikenal luas oleh masyarakat Madiun. Menurut dia, istri Residen di Madiun saat itu menderita sakit parah. Dokter menyarankan agar sang istri Residen menjalani pengobatan di negeri Belanda. Namun, karena keterbatasan waktu, Residen yang berkuasa atas pemerintahan dan tata laksana Madiun kala itu menolak usulan dokter.
“Kabar kondisi istri residen Belanda yang sakit terdengar hingga Liem Koen Tie, yakni Ketua Masyarakat Tionghoa Madiun waktu itu. Dia menyarankan Residen agar mengajak istrinya bersembahyang di kuil Dewi Mazu. Saran tersebut diikuti sang residen yang meminta istrinya datang ke Kuil Dewi Mazu,” ujar Erfan.
Setelah bersembahyang di Kuil Dewi Mazu, lanjut Erfan, istri sang residen pada malam harinya bermimpi didatangi seorang wanita Tionghoa yang mengenakan busana bangsawan khas negeri Tiongkok. Menurut dia, sosok perempuan yang muncul dalam mimpi istri residen tersebut menghibur dengan mengatakan penyakit yang diderita sang istri Residen tidak lama lagi akan sembuh. Setelah berkata demikian, sosok wanita itu pun menghilang dari mimpi istri residen.
“Mimpi tersebut diceritakan kepada residen dan keesokan harinya istri Residen segera meminum obat yang didapat melalui Yok Jiam atau Jiamsi Obat di Kuil Dewi Mazu selama sepekan. Sungguh suatu kejadian yang hampir tidak dapat dipercaya, sang istri Residen sembuh total dari sakit parah setelah mimpi bertemu sosok wanita berpakaian bangsawan Tiongkok,” papar Erfan.
Erfan menyampaikan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhan istrinya, sang residen lantas merestui perminataan masyarakat Tionghoa di Madiun saat itu untuk merelokasi Kuil Dewi Mazu ke tempat lebih layak, jauh dari ancaman banjir pada musim penghujan. Residen memberikan kemudahan warga Tionghoa untuk mendapatkan sebidang tanah dengan luas sekitar 10.000 m2 untuk dibangun sebuah kuil baru yang kemudian dikenal sebagai Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun di Jl. HOS Cokroaminoto No. 63, Kelurahan Kejuron.
“Pembangunan Hwie Ing Kiong Madiun dimulai tahun 1887 [Masehi] atau Yinli 2438 [menurut tarikh Imlek] dan selesai tahun 1896/Yinli 2447. Klenteng Hwie Ing Kiong Madiun baru diresmikan pada tahun 1897/Yinli 2448. Bangunan utama Hwie Ing Kiong bergaya khas Tiongkok. Berdasarkan kisahnya, arsitek dan tenaga kerja pembangunan Hwie Ing Kiong Madiun didatangkan langsung dari Fujian,” jelas Erfan.

Ubin Belanda
Erfan menceritakan ubin merah yang terpasang pada bangunan utama dibawa langsung dari Tiongkok dan sampai sekarang masih dipertahankan keutuhannya. Dia menambahkan, sebagai ungkapan rasa terima kasih, Tuan Residen Madiun menghadiahkan keramik khas negeri Belanda yang sampai sekarang masih terpasang di meja Altar Mazu sebagai memorabilian Tuan Residen.
"Setelah Kuil Dewi Mazu yang baru selesai dibangun, lanjut Erfan, dilaksanakan ritual keagamaan untuk memindahkan rupang atau kimsin Dewi Mazu dari kuil lama dengan disaksikan dan diikuti penduduk Tionghoa di Madiun,"ungka[Yuan salah seorang pengurus klenteng Hwie Ing Kiong Madiun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah warga keturunan Tionghoa turut berperan dalam relokasi Kuil Dewi Mazu ke Kelenteng Hwie Ing Kiong di Jl. HOS Cokroaminoto No. 63, Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Mereka yang dalam catatan disebut sebagai “para budiman yang telah memprakarsai pembangunan Hwie Ing Kiong” juga merupakan pengurus pertama kelenteng itu.
Mereka adalah, Kapitan : Tan Soen Yong (Chen Shun Rong), Sie Hong Gwan (Shi Hong Yuan), Letnan : Tjan Heng Gwan (Zeng Heng Yuan), Ketua : Liem Koen Tie (Lin Kun Chi), Wakil : Liem Kwong Pio (Lin Guang Biao), Bendahara : Tan Ing Ju (Chen Ying Ru), Anggota : Njoo Kie Siong (Yan Qi Song), Njoo Kie San (Yan Qi Sang), Tan Bik Swat (Chen Bi Xue), Gwe Kwie Tjong (Wei Gui Zong)
“Kelenteng Madiun dikenal dengan nama Hwie Ing Kiong yang berarti istana kesejahteraan dan kemuliaan. Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun berdiri dan menjadi tempat bernaung sebagian besar masyarakat Tionghoa di Kota Madiun maupun Kabupaten Madiun dari dulu hingga sekarang,” jelas Erfan soal bagian sejarah Madiun. Cahya/JUL

Kelenteng Sumenep Madura


Kelenteng  Pao Sian .Lin Kong Sumenep Madura Jatim

Terdapat Altar Nabi Lao Tse dan Kong Hucu

Klenteng Pao Sian Lin Kong yang cukup besar dan megah ini pernah mengalami kondisi yang memprihatinkan pada zaman kemerdekaan hingga tahun 1950. Kemudian dipugar kembali  tahun 1963 oleh umat Tridharman. Berikut ini hasil liputan wartawan posmo.


Kelenteng Pao Sian Lin Kong Sumenep terletak  di desa Pabian kecamatan Sumenep ini telah berumur 200 tahun lebih. Menurut keterangan orang-orang tua  bahwa tempat  ibadat itu asal mulanya dibangun di daerah Marengan sebuah kota kecil di kecamatan Kalianget.
Pada zaman penjajahan  kota kecil itu pernah menjadi pusat  perdagangan  yang ramai. Belum diketahui  sebabnya mengapa tempat  ibadat itu  kemudian dipindah ke tempat yang sekarang bernama Klenteng  Pao Sian Lin Kong. Hingga kini belum ada yang mengetahui siapa pendirinya.
Kemudian pada jaman kemerdekaan hingga tahun 50 an oleh karena  adanya situasi kacau. Tempat  itu tidak  terurus  sehingga bangunannya  mengalami kerusakan berat.  pada tahun 1963. Kemudian  dipugar menjadi bangunan baru oleh Yayasan Klenteng  Pao Sian Lin Kong.
Orang yang berjasa  dalam pemugaran  tempat ibadah  itu ialah Ong Kie Tjay. Karena beliau memberikan dukungan moril dan materiil yang sangat kuat. Sehingga proses pemugaran dapat terselesaikan dengan cepat. Disamping itu ada dukungan  yang besar  dari  para dermawan selaku umat Tridharma
Bangunan Klenteng Pao Sian Lin Kong terbagi dalam beberapa ruangan. Pertama, bangunan induk  yang didalamnya terdapat  tiga ruangan, diruangan tengah terdapat pula tiga buah meja Altar sembayangan lengkap dengan tempat lilin, pembakaran dupa dan menancapkan lidi hio.
Dibagian kiri, Altar sang Agung Hok Tek Ceng Sin, dibagian tengah  Altar Thian Siang Bo. Dibagian  kanan Altar Kun tek Cin Ong dan dihalaman depan  ruangan itu  terdapat meja sembayangan kepada Tuhan Thian. Ruang kiri ialah aula khusus khotbah.
Ruang kanan ialah lidang Sam Kau terdapat Altar  Nabi Lao Tse, Nabi  Sakyamani Buddha dan Nabi Kong Hucu. Pada bangunan tengah terdapat ruangan Hut Thong, didepannya adalah Altar Wie To Posat dan disebelah kanan adalah ruang Hiap Thian Siang Tie. Didalam klenteng tersebut bukan hanya terdapat Altar dewa-dewa. Tapi terdapat Altar Tri Nabi. Yaitu  Nabi  Lao Tse, Nabi Kong Hucu dan Nabi Syakyamuni Buddha.  
Di kanan kiri ruang itu ialah ruang perpustakaan, ruang bacaan, ruang perlengkapan dan ruang kantor. Dibagian belakang terdapat ruang penginapan Biokong, ruang tamu agng, peristirahatan umat khusus  yang dari luar daerah, kamar mandi dan WC.

Disediakan Ciamsi
Dalam ruangan gedung klenteng tersebut setiap upacara  kebhaktian bersama dipimpin oleh pengurua tempat ibadah. setelah  sembayang dikumpulkan  di aula  khusus  untuk diberi  sajian riwayat-riwayat. Sehingga tiap ada kebhaktian umat selalu mengikuti secara bersama-sama. 
“Bagi mereka yang ingin mengetahui nasibnya. Di klenteng itu disediakan Ciamsi (angka dalam kepingan bambu). Kemudian dilempar ke udara dan dijatuhkan ke tanah. Dari  situlah kemudian diketahui  akan nasib seseorang yang melempar benda tersebut,”ujar Liam An Kong salah seorang umat .  
Berdasarkan surat keputusan Peperada Jawa timur tahun 1967, nama klenteng  itu diganti dengan  nama Tempat Ibadah Tridharma. Sehingga berubah menjadi Yayasan Tempat Ibadah Tridharma Pao Sian Lin Kong Sumenep. Orang yang berjasa dalam pemugaran tempat ibadah itu ialah Ong Kie Tjay. CAHYA