Selasa, 26 April 2016

KH Abdullah Faqih Cemoro Songgon Banyuwangi


KH. Abdullah Faqih Cemoro Songgong  Banyuwangi


Dulu santrinya Mbah Kiai Faqih ini ribuan,” ujar Gus Umar Abdullah, 55, salah satu cucu KH. Abdullah Faqih bin Umar. Kiai Faqih ini santri urutan ke-22 dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Saat belajar, satu angkatan dengan KH. Hasyim Asyari dan KH.Wahab Hasbullah, dua kiai besar asal Jombang yang dikenal sebagai pendiri NU.

Kiai yang juga satu angkatan adalah KH. Munawwir, pendiri pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak, Jogjakarta; KH. Ma’shum, pendiri pondok pesantren Lasem, Rembang; dan KH. Syamsul Arifin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus Situbondo.

Usai belajar dari maha guru Syaikhona Kholil, Bangkalan, Kiai Faqih diberi mandat menyebarkan Islam di daerah Banyuwangi. Dan pada tahun 1917 dia masuk Dusun Cemoro, Desa Balak. “Ketemu dengan bapak Haji Hambali, juragan tanah, Kiai Faqih diberi tanah dan dibuatkan pondok pesantren,” katanya.
Dalam perkembangannya, pesantren yang didirikan kiai Faqih itu pesat. Santri yang ada saat itu mencapai ribuan. Para santri itu tidak hanya dari daerah Banyuwangi, tapi juga banyak dari Jember, Bondowoso, hingga Banten. “Mbah Kiai (Kiai Faqih) ini keturunan Raden Umar Banten, jadi namanya tersohor hingga Banten,” ungkap Gus Umar.

Dalam perkawinannya dengan al marhumah Suryati, Kiai Faqih memiliki lima putra, yakni KH. Ahmad Muhtarom, KH. Sholeh Abdullah, Siti Maryam, Mohammad Idris, dan Salamah. “Saya cucu dari anak kedua Mbah Kiai,” terangnya. Gus Umar mengaku semasa kecil sering mendapat cerita tentang Kiai Faqih dari ayahnya, KH. Sholeh Abdullah.

Kawasan Cemoro pada tahun 1917 hingga 1970 merupakan pondok pesantren besar dan terkemuka di bumi Blambangan. Diantara santri Pesantren Cemoro adalah KH. Harun, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi; KH. AbdulManan, Mberasan, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar; dan KH. Ahmad Kyusairi.

“Alumni banyak menjadi kiai besar,” cetusnya. Dari cerita yang disampaikan ayahnya, Gus Umar menyebut Kiai Faqih itu dikenal pejuang yang gigih menumpas penjajah di Bumi Blambangan. “Belanda mencari-cari keberadaan Mbah Kiai untuk dibunuh, tapi selalu gagal.
Padahal, Mbah Kiai ngajar ngaji di dalam masjid,” terangnya. Kiai Faqih wafat pada malam Jumat Kliwon tahun 1953 Masehi di usia 83 tahun. Kiai karismatis itu dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat istrinya, almarhumah Suryati, yang meninggal lebih dulu di usia 60 tahun.

“Setiap 8 Syawal rutin dilaksanakan haul Mbah Kiai Abdullah Faqih di halaman Masjid Cemoro ini,” jelasnya. (radar)

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat