Selasa, 03 Januari 2017

Sufi, Syekh Muhammad Nizam


Syeikh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi An- Naqsybandi 

Hatinya Lebih Tertarik  Kepada Ilmu  Spiritual 

Syeikh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi An- Naqsybandi Al-Haqqani Q.S.
lahir di Larnaca, Siprus, pada hari Minggu, tanggal 23 April 1922 – atau 26 Shaban 1340 H. Seorang ulama yang tersohor di zamannya. Berikut ini kisah hidupnya.
Bila dilihat dari keturunan ayahnya tembus ke Syekh  Abdul Qadir Jailani, pendiri Thariqat Qadiriah. Kemudian dari sisi ibunya, beliau adalah keturunan Jalaluddin Rumi, pendiri thariqat Mawlawiyyah, yang juga merupakan keturunan Hassan-Hussein (as ) cucu Nabi Muhammad saw.
Selama masa kanak-kanak di Siprus, beliau selalu duduk bersama kakeknya, salah seorang syaikh thariqat Qadiriah untuk belajar spiritualitas dan disiplin. Kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya melatih beliau pada jalan spiritual.
Ketika remaja, Syeikh Nazim sangat diperhitungkan karena tingkat spiritualnya yang tinggi. Setiap orang di Larnaca mengenal beliau, karena dengan umur yang masih amat muda mampu menasihati orang-orang, meramal masa depan dan dengan spontan membukanya. Juga tidak pernah berselisih dengan siapapun, beliau selalu tersenyum dan sabar.
Sejak umur 5 tahun sering ibundanya mencarinya, dan didapati beliau sedang  berada didalam masjid atau di makam Umm Hiram, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang berada di sebelah masjid. Banyak sekali  turis mendatangi makam tersebut karena tertarik akan pemandangan sebuah batu yang tergantung diatas makam itu.
Ketika sang ibu mengajaknya pulang, beliau mengatakan : ” Biarkan aku disini dengan Umm Hiram, beliau adalah leluhur kita.” Biasanya terlihat syaikh Nazim sedang berbicara, mendengarkan dan menjawab seperti berdialog dengannya. Bila ada yang mengusiknya, beliau katakan : “ Biarkan aku berdialog dengan nenekku yang ada di makam ini.”
Ayahnya mengirim beliau ke sekolah umum pada siang hari dan sorenya belajar ilmu-ilmu agama. Beliau seorang yang jenius diantara teman-temannya. Setelah tamat sekolah ( setara SMU ) syaikh Nazim menghabiskan malam harinya untuk mempelajari thariqat Mawlawiyyah dan Qadiriah. Beliau mempelajari ilmu Shariah, Fiqih, ilmu tradisi, ilmu logika dan Tafsir Qur’an. Beliau mampu memberikan penjelasan    hukum tentang masalah-masalah Islam secara luas.
Beliau juga mampu berbicara bagi orang-orang dari segala tingkatan spiritual. Beliau
di beri kemampuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang sulit dalam bahasa yang jelas dan mudah. Setelah tamat SMA di Siprus, syeikh Nazim pindah ke Istambul pada tahun 1359 H / 1940, dimana kedua saudara laki-laki dan seorang
saudara perempuannya tinggal. Beliau belajar tehnik kimia di Universitas Istambul, di daerah Bayazid. Pada saat yang sama beliau  memperdalam hukum Islam dan bahasa Arab pada guru beliau, syaikh Jamaluddin al-Lasuni, yang meninggal pada th 1375 H / 1955 M.
Syeikh Nazim meraih gelar sarjana pada tehnik kimia dengan hasil memuaskan
Suatu  hari ketika hasrat hati ini semakin kuat, aku diberi “penglihatan” itu. Guruku , Syeikh Sulayman Arzurumi datang dan menepuk pundakku sambil mengatakan, Sekarang sudah turun izin. Rahasia-rahasia, amanat, dan ajaran spiritualmu bukan ada padaku. Aku menahanmu karena amanat sampai engkau siap bertemu dengan guru sejatimu yang juga guruku sendiri yaitu Syeikh Abdullah ad-Daghestani. Beliau pemegang kunci-kuncimu. Temui beliau di Damaskus. Izin ini datang dariku dan berasal dari Nabi.’ ( Syeikh Sulayman Arzurumi adalah salah satu dari 313 awliya thariqat  Naqsybandi yang mewakili 313 utusan. ). HUSNU MUFID
Selama tahun pertama di Istambul, beliau bertemu dengan guru spiritual pertamanya, Syeikh Sulayman Arzurumi, seorang syeikh dari  thariqat Naqsybandi yang meninggal pada th. 1368 H / 1948 M. Sambil  kuliah syeikh Nazim belajar pada beliau sebagai tambahan dari ilmu thariqat yang telah dimilikinya yaitu Mawlawiyyah dan Qadiriah.
Biasanya beliau akan terlihat di masjid sultan Ahmad, bertafakur sepanjang malam. Syaikh Nazim menuturkan : “Disana aku menerima barakah dan kedamaian hati yang luar biasa. Aku  shalat subuh bersama kedua guruku, Shaykh Sulayman Arzurumi dan  Syeikh Jamaluddin al-Lasuni.
Mereka mengajariku dan meletakkan ilmu spiritual dalam hatiku. Aku mendapat banyak penglihatan spiritual agar pergi menuju Damaskus, tapi hal itu belum diizinkan. Sering aku melihat Nabi Muhammad memanggilku menuju ke hadapannya. Ada hasrat yang mendalam agar aku meninggalkan segalanya dan untuk pindah menuju kota suci Nabi.
Bayangan itupun berakhir. Aku mencari guruku untuk menceritakan pengalaman itu. Dua jam kemudian aku melihat syeikh menuju masjid, aku berlari menghampirinya. Beliau membuka kedua tangannya dan  berkata,” Anakku, bahagiakah engkau dengan penglihatan itu ?” Aku  sadar bahwa beliau juga telah mengetahui segalanya. “Jangan tunggu  lagi, segera berangkat ke Damaskus.” Beliau bahkan tidak memberiku  alamat atau informasi lain, kecuali sebuah nama : Syeikh Abdullah ad-Daghestani di Damaskus.
dibanding teman-temannya. Ketika Professor di universitasnya memberi saran agar melakukan penelitian, beliau katakan,” Saya tidak tertarik dengan ilmu modern. Hati saya selalu tertarik pada ilmu-ilmu spiritual.”

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat