Rabu, 21 Desember 2016

Syekh Maulana Ishak /Wali Lanang



Kisah Wali Lanang dari Gunung Gresik Menuju Kerajaan Blambangan 

Hentikan Wabah Pageblug Dapat Putri Raja

Wali Lanang atau lebih dikenal dengan nama Syekh Maulana Ishak merupakan seorang penyebar agama Islam pertama di Blambangan Nanyuwangi. Kedatangannya atas ajakan dari Patih Bajul Segara atas perintah Prabu Menak Sembuyu untuk mengusir wabah pageblug. Berikut ini kisahnya.
Wali Lanang datang ke tanah Jawa pada tahun 1404 Masehi. Pada awalnya datang di tanah Jawa menetap di Gresik. Kemudian ke Blambangan. Tujuannya  untuk melakukan penyembuhan terhadap putri Menak Sembuyu yaitu Sekardadu. 
Pada saat itu wabah penyakit pageblug melanda.  Banyak rakyat yang terserang penyakit. Termasuk Putri sekardadu. Cukup banyak  dukun,  yang datang untuk menyembuhkannya, namun belum sembuh juga. Hal ini menjadikan khawatiran Prabu Menak Sembuyu. Karena melihat putrinya belum sembuh-sembuh.
Kesedihan Prabu Menak Sembuyu itu terdengar oleh seorang Resi Kandabaya. Lalu ia datang ke kerajaan Blambangan dan menyampaikan bahwa yang dapat menyembuhkan adalah seorang ulama yang datang dari kerajaan Pasai dan kini tinggal di Gunung Gresik. Namanya Wali Lanang.
Nasehat Resi Kandabaya diterima dengan senang hati oleh Prabu Menak Sembuyu.  Kemudian mengutus Patih Bajul Sengara untuk menemui Wali Lanang. Guna meminta pertolongan untuk menyembuhkan sang Putri dan rakyat Blambangan.
Patih Bajul Sengara yang diikuti oleh beberapa prajurit. Mereka melakukan perjalanan dengan berkuda untuk menuju Gunung Gresik.
Setelah melakukan perjalanan berkuda selama enam hari, sampailah kesepuluh prajurit berkuda di Gunung Gresik, dan menemui Syeikh Maulana Ishaq atau Wali Lanang.
Wali Lanang menanyakan maksud kedatangan Patih Bajul Segaran.  Apa maksud kalian dating bersama prajurit  Blambangan ke Gunung Gresik. “Saya  diperintah  Prabu Menak Sembuyu raja Blambangan untuk menemui Wali Lanang agar datang ke Blambangan untuk menghilangkan wabah pageblug dan sekaligus menyembuhkan penyakit putrid Sekardadu,“, jawab patih Bajul Sengara.
“Jika berhasil menyembuhkan dan mengusir  wabah pageblug yang sudah memakan  korbannyawa cukup banyak, maka akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu oleh Prabu Menak Sembuyu, “lanjut Bajul Sengara meyakinkan.
Tawaan yang cukup mengiurkan itu menjadikan Wali Lanang berfikr ulang. Karena selama ini apa yang dilakukan dalam hal mengobati masyarakat tidak disertai pamrih balas budi. Tapi berdasarkan keikhlasan semata. Karena Allah SWT.
Namun dibalik itu, Wali Lanang ingin menyebarkan agama Islam di wilayah Blambangan. Latar belakang inilah yang menjadikan ia bersedia  memenuhi permintaan Patih Bajul Segara. “Baiklah aku akan memenuhi permintaan Raja kamu sekalian, karena aku tidak sampai hati untuk mengecewakannya, tapi hal ini kulakukan bukan karena iming-iming yang akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu. Yang kulakukan adalah ikhlas semata tanpa mengharap imbalan jasa apapun,”ujar Wali Lanang..
Betapa gembiranya Patih Bajul Sengara mendengar Wali Lanang bersedia mengusir wabah pageblug  di kerajaan Blambangan. Saat itu pula ia  mengajak prajuritnya untuk bergegas kembali ke Blambangan.
Patih Bajul Segara
Wali Lanang juga berangkat menuju kerajaan Blambangan sendirian dengan menunggang kuda. Dalam waktu yang singkat sampai di istana kerajaan Blambangan. Prabu Menak Sembuyu menyambut dengan suka cita dengan harapan  akan hilangnya wabah penyakit pageblug.
Kedatangan Wali Lanang rupanya tidak sia-sia bagi rakyat dan keluarga kerajaan. Karena dalam kurun satu bulan wabah penyakit yang selama ini menghantuai rakyat berangsur-angsur hilang dan kehidupan menjadi damai dan sehat sejahtera. Begitupula dengan putri  raja Sekardadu tersembuhkan.
“Dan sesuai janjiku, maka kujodohkan dia dengan putriku Dewi Sekardadu, sekarang ini adalah perayaan hari ketujuh atas pernikahan Maulana Ishaq atau Wali Lanang dengan putriku” tegas Pra Menak Sembuyu.
Patih Baju Sengara terperanjat mendengar apa yang dikatakan oleh sang raja. Karena sewaktu di Gunung Gresik rombongannya disuruh berangkat terlebih dahulu oleh Wali Lanang. Tetapi  datang lebih dahulu dari rombongan mereka.
Dalam batin Pati Bajul Segara menyatakan bahwa, Wali Lanang bukan orang sembarangan, orang yang sangat tinggi ilmunya. Untuk itu, ia  segera menemui karena  masih belum percaya. Jangan-jangan ada orang lain yang mengaku-ngaku sebagai Wali Lanang.
Setelah melihat sendiri bahwa pria yang bersanding di pelaminan disamping Dewi Sekardadu adalah benar-benar Wali Lanang atau Syeikh Maulana Ishaq, baru Patih Segara percaya akan kesaktian ulama dari Gunung Gresik itu.
Seperti kita ketahui bahwa tujuan dakwah agama Islam adalah menyadarkan orang yang berbuat kesalahan dengan sikap dan budi pekerti yang halus yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, bukan membasmi mereka yang salah. Sikap yang demikian inilah akhirnya Blambangan menjadi wailayah berpenduduk Islam mayoritas  hingga sekarang. HUSNU MUFID
Seiring berjalannya waktu, semakin hari semakin banyak pengikut Syeikh Maulana Ishaq, mereka dengan sukarela menjadi pengikut Syeikh Maulana Ishaq dan masuk agama Islam. Melihat kenyataan ini Prabu Menak Sembuyu menjadi kawatir, apalagi Syeikh Maulana Ishaq melarang memakan binatang yang tidak disembelih atas nama Allah, melarang makan binatang buas, babi dan beliau melarang menyembah berhala. Padahal hal tersebut adalah kesenangan dan sudah menjadi kebiasaan di Blambangan pada waktu itu.
Keberadaan Wali Lanang di istana Blambangan menjadikan banyak penduduk sekitar istana berdatangan untuk meminta pengobatan kepada Wali Lanang. Rakyat ditolong dengan sabar dan telaten, banyak dari mereka yang sakit telah disembuhkan. Lama-lama penduduk simpati pada ajaran yang telah dibawah oleh Syeikh.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat