Rabu, 21 Desember 2016

Syekh MUhammad




Syeh Muhammad Ibnu Abbad

Tokoh Poros Kebangkitan Tasawuf

Asal usul Syeh Muhammad Ibnu Abbad ini lahir di Spanyol. Ia mengenal tasawuf setelah belajar pada sejumlah tokoh sufi dan mempelajari karya-karya sufi ternama.
Dari belajar ilmu tasawuf inilah ia akhirnya menjadi seorang tokoh sufi Tarekat Syadzaliyah. Berikut ini ceritanya.

Syeh Muhammad Ibnu Abbad (1332-1390) adalah seorang  tokoh sufi Tarekat Syadziliyah terkemuka kelahiran Spanyol pada abad ke-14. Ia lahir pada   tahun 1332 di Ronda, sebuah kota di puncak bukit  di Spanyol, yang waktu itu berada di bawah  kekuasaan Dinasti Mariniyah. Pada usia tujuh  tahun ia sudah dapat menghafah al-Qur’an dan  mulai mempelajari fiqih Madzhab Maliki.
Pada  tahun 1347, ia terpaksa hijrah ke Fez, Maroko,   akibat tekanan dan penaklukan kembali orang-orang Kristen yang berhasil mengalahkan   Sultan Mariniyah pada tahun 1340 dan membuat kehidupan kaum muslimin di Spanyol menjadi  semakin sulit. Di Fez, Ibnu Abbad kembali belajar fiqih Maliki  dan teologi. Mentor termasyhur Ibnu Abbad di bidang fiqih adalah asy-Syarif at-Talimsani (1369 M), seorang pemimpin kebangkitan kembali Malikisme. Sementara itu di bidang teologi, ia belajar teologi Asy’ariyah kepada al-Abili ( 1356 M), dengan kajian kitab Al-Irsyad, karya  al-Juwaini ( 1086 M), salah seorang guru   al-Ghazali. Di samping kedua pokok kajian tersebut, ia juga mempelajari himpunan hadits Nabi Shahih Muslim, karya Muslim al-Muwaththa’  dan karya Malik bin Anas. Karya yang disebut terakhir ini dipelajari dari al-Imrani, seorang  faqih kenamaan yang disebut-sebut sangat tertarik pada tasawuf. Ibnu Abbad sendiri mengenal tasawuf lewat guru-guru fiqihnya yang juga mengajarkan tasawuf secara pribadi, dengan  memakai karya-karya klasik al-Maliki, al-Ghazali  dan Suhrawardi.
Situasi kota Fez yang sangat kacau akibat  perebutan kekuasaan setelah meninggalnya Sultan Abu Inan pada tahun 1358 M, memaksa Ibnu Abbad                            untuk kembali meninggalkan kota ini menuju ke  barat (Sale), sebuah kota di tepi laut Atlantik.
Di sana ia berguru kepada Ibnu Asyir (1300-1362 M), seorang wali yang dikenal sebagai tokoh poros kebangkitan tasawuf di luar tarekat.  Ia kemudian menjadi murid kesayangan dari Ibnu Asyir. Di bawah bimbingan Ibnu Asyir, Ibnu Abbad
banyak mengetahui dan membaca tasawuf dari  berbagai cabang tarekat serta gayanya, sampai  pada akhirnya ia memutuskan menjadi anggota                     Tarekat Syadziliyah.
Setelah Ibnu Asyir meninggal, Ibnu Abbad  meninggalkan Sale menuju Tangiries. Di sana ia  berguru kepada seorang sufi yang tidak begitu   dikenal, Abu Marwan Abul Malik. Setelah tinggal untuk beberapa waktu, ia kembali ke Fez, dan di                    sana ia berkenalan dan bersahabat dengan Yahya  as-Sarraj dan Abu Rabi Sulaiman al-Anfasi. Atas  permintaan kedua sahabatnya ini ia menulis  At-Tanbih yang diselesaikannya antara 1370-1372 M.
Setelah itu Ibnu Abbad kembali ke Sale dan tinggal di sana sampai sekitar 1375 M. Kemudian, karena reputasi dan integritas pribadinya, serta  kemasyhuran Tanbih-nya, Sultan Abu al-Abbas  Ahmad lalu mengangkatnya sebagai imam dan khatib
Masjid Qayrawiyin di Fez, institusi agama dan  ilmu tertua yang paling bergengsi di Afrika Utara.
Sebagai khatib, Ibnu Abbad dalam menyampaikan  khutbah-khutbahnya lebih memilih dan menyukai  gaya didaktis (pengajaran) ketimbang nasihat atau peringatan. Ia dengan setia menunaikan  tugas-tugasnya, meyakinkan jamaah dengan caranya yang halus dan membimbing mereka menuju kepada Allah Maha Pencipta, yakni ketulusan, kepastian, dan rasa syukur.
Ia juga suka menggugah langsung hati nurani jamaah,  lewat materi-materi dakwahnya yang selaras dengan kehidupan sehari-hari. Yang menarik, Ibnu Abbad tidak memandang khutbah  umum itu sebagai forum yang tepat untuk                     menyampaikan masalah-masalah tasawuf.
Sebaliknya, ia membahas masalah tasawuf secara  lebih mendalam melalui syarah kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah dan dua koleksi  surat-suratnya (keseluruhannya ada 45 buah surat) yang berhasil diedit oleh P. Nwya,                        seorang Jesuit asal Irak. Melalui dua karyanya  inilah dapat memahami gambaran jiwa Ibnu Abbad  dan metode bimbingan spiritualnya.
Dengan rendah hati ia mengakui bahwa dirinya  tidak pernah menikmati dzauq, “pengalaman  mistis” atau secara langsung mencicipi “kebahagiaan” yang tidak terucapkan; ia tidak  pernah mengalami luapan perasaan yang membuatnya
ekstase seperti dialami oleh para sufi lain.  Oleh karena itu, tidak satu pun tema-tema
sentral seperti ucapan-ucapan syathah, hal atau  maqam kaum sufi yang bisa ditemukan dalam  surat-suratnya. Demikian juga tidak ditemukan  topik-topik favorit para teoritis sufi dalam  tulisan-tulisannya seperti pembahasan tentang   alam-alam yang mesti ditempuh jiwa, pemikiran   tentang Dzat yang Wujudnya Mesti Ada, dan tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Akan   tetapi ia merasa puas dengan apa yang telah    dipelajari dan ditelaahnya terhadap kitab-kitab    para guru sufi sebelumnya.  HUSNU MUFID


0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat