Rabu, 19 Maret 2014

Ajaran Wakhidiyah




Ajaran Wahidiyah dari Syekh Al Mukarrom Romo KH Abdul Madjid Ma’ruf (4)
Harus Sadar Ma’rifat pada Allah wa Rosul
DALAM perjalanan manusia menuju wushul –sadar ma’rifat kepada Allah wa Rosuulihi SAW. Jika  tidak  ada yang membimbing pada umumnya akan mengalami kebingungan dan tersesat jalannya oleh  berbagai gangguan dari iblis yang sangat halus. Dengan demikian, yang bersangkutan tidak akan merasa. Ibaratnya orang akan menghadap raja atau presiden harus berhubungan  dan melalui  orang-orang yang bertugas mengatur masalah tersebut.

Tanpa melalui pejabat kerajaan atau kepresidenan yang berkompeten, sulit  sekali untuk menghadap kepadanya. Bahkan,  tidak mungkin bisa  berhasil menghadap, sekalipun yang bersangkutan berasal dari kalangan  atas. Atau  sudah  mempelajari dan mengerti cara-cara atau jalannya menghadap.
Begitu juga  soal kesadaran,  wushul ma’rifat kepada Allah wa Rosuulihi SAW, harus melalui pembimbing yang berkompeten mengantarkan wushul. Tidak cukup dengan mempelajari teori secara ilmiah saja.
“Kita dalam Wahidiyah  berkeyakinan seperti keyakinan di dunia tasawuf. Bahwa Ghoutsu Hadzaz Zaman  Rodliyallohu ‘anh. Adalah Priagung yang berkompeten pada zaman sekarang mengantarkan dan membimbing masyarakat sadar kepada Allah wa Rosuulihi SAW,”ungkap Romo KH  Abdul Latif Madjid.
“Maka dari itu kita  para  pengamal Wahidiyah  dan masyarakat, Saalikin pada umumnya  perlu dan  harus mengadakan  hubungan dengan  Ghoutsu Hadzaz Zaman RA itu adalah menerapkan  di dalam hati “LILGHOUTS BILGHOUTS”,”tambah Pemimpin Yayasan Perjuangan  Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kodya Kediri ini.

LILGHOUTS

Cara  penerapannya  sama dengan penerapan LILLAH dan LIRROSUL. Yaitu disamping niat ikhlas ibadah kepada Allah dan niat mengikuti tuntunan Rosuululloh SAW, agar ditambah lagi  niat mengikuti  bimbingan Ghoutsu Haszaz Zaman RA LILGHOUTS.
Ini penerapan  niat di dalam  hati. Jadi tidak berubah  ketentuan-ketentuan lain di bidang  syariat. Dan, juga  terbatas kepada  soal-soal yang diridloi Allah wa Rosuulihi SAW. Hal-hal  yang terlarang  seperti maksiat misalnya, sama sekali tidak  boleh disertai  niat LILGHOUTS!. Firman Allah, (31 Luqman-15).
“Kita yakin bahkan “ASHDAQU MAN ANAABA” pada zaman  sekarang ini  adalah GHOUTSU Hadzaz Zaman RA. Beliau adalah  seorang yang “AALIMUN BILLAHI WABI AHKAAMIHI” orang yang  Arif Billah dan menguasai  hukum-hukum Allah. beliau adalah  seorang Mursyid yang Kaamil Mukaamil,”katanya.

BILGHOUTS

Penerapannya juga sama  dengan BIRROSUL. Sadar dan merasa  bahwa kita  senantiasa mendapatkan  bimbingan rohani  dari Goutsu Hadzaz Zaman RA. Sesungguhnyalah  bimbingan rohani itu selalu memancar  kepada seluruh umat  dan masyarakat. Baik tidak disadari oleh masyarakat , lebih-lebih jika disadarinya.
Sebab, pancaran bimbingan  Ghoutsu Hadzaz Zaman RA yang menuntun “inaabah”. Kembali kepada Allah atau pancaran FAFIRRUU ILALLOH WA ROSUULIHI SAW, itu  memancarkan secara otomatis sebagai butir-butir mutiara yang  keluar dari lubuk  hati seorang.  Yang takholuq bi akhlaaqi Rosuullillahi shollallohu  ‘alaihi wassalam yang “rohmatan lil alamin” itu.
Penerapan  LILGHOUTS BILGHOUTS boleh  dikatakan  termasuk menyempurnakan syukur  kepada allah SWT. Artinya  disamping  bersyukur kepada Allah atas pelimpahan segala taufik, hidayah dan segala nikmat. “Kita harus bersyukur  atau sekurang-kurangnya mengerti kepada siapa saja yang menjadi sebab datangnya nikmat itu. Kalau  tidak demikian , yakni  hanya syukur kepada Allah saja dan tidak mau tahu kepada orang menjadi sebabnya nikmat diberikan Allah SAW,”ujar Kiai yang  penuh semangat.
Maka, syukur  yang demikian  itu sesuai  sabda Rosuululloh SAW, masih belum  bisa dikatakan  syukur yang bersungguh-sungguhnya syukur. Sebagaimana yang diriwayatkan  Tirmidzi dari Abu  Huroiroh, “barang siapa  tidak syukur kepada manusia, dia  tidak bersyukur kepada Allah”.
Yang dimaksud “manusia” dalam Hadist  itu adalah  orang yang menjadi perantara   memperoleh nikmat. “Kita  yakin bahwa beliau Ghoutsu Hadzaz Zaman RA. Merupakan  Wasilah (perantara), dan Rosuululloh SAW adalah “Wasilatul” “Udma”(Perantara agung) dari segala nikmat yang kita  terima dari Allah SWT. Dan perantara kita di dalam berjalan menuju  wushul –sadar kepadanya,”tambahnya.(bersambung) husnu mufid



0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat