Rabu, 19 Maret 2014

Pesantren Aswajah Aceh barat



Tengku Syeh H Abu Bakar Sabil, Pengasuh Pondok Pesantren Ahlussunah Waljama’ah  Aceh Barat
Taklukkan Isi Lautan dengan Hizib

Dalam usianya yang sudah mendekati 80 tahun ini, ternyata tidak membuat turun semangatnya menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar. Beliau memang tidak memiliki ilmu kedigdayaan, namun mengamalkan hizib bahar dan hizib nasar  yang ternyata kekuatannya begitu dahsyat. Selain dilindungi malaikat, juga bisa dipakai menundukkan isi air laut. Kini, apa yang dimiliki itu diwariskan pada para santrinya. Itulah sosok Tengku Syeh Abu Bakar Sabil, pengasuh Ponpes Ahlussunnah Waljama’ah Babussalam Ujung Baruh Johar Pahlawan Melabuh Aceh Barat.

Dari silsilah keluarga, Tengku  Syeh H Abu Bakar  Sabil yang lahir 10 Oktober 1928 tidak ada darah kiai. Baik dari ayah maupun sang ibu. Namun semua tidak jadi soal, karena bukan itu yang menjadi ukurannya. Yang terpenting menjadi seorang kiai atau panutan umat adalah mereka yang tinggi ilmu agamanya, ahlaq yang mulia serta punya tekad yang kuat menyebarkan agama di muka bumi Allah swt.
Berangkat dari situlah, untuk mewujudkan cita-citanya itu ia akhirnya menimba ilmu agama pada Haji Muhammad, seorang wali ulama’ besar   di  Darussalam Labuhan Aceh. Di sini ia ngengsukaweruh selama 10 tahun. Ilmu yang dipelajari sebagaimana umumnya santri-santri seperti Ilmu Tasawuf,  Fikih, Tafsir, Al Qur’an dan ilmu alatnya yang lain. Semua itu merupakan ilmu syariat yang perlu dipelajari dan tertanam dalam diri, baru kemudian melangkah ke ilmu hikmah.
Setelah dinyatakan lulus, ia kemudian  mengajar di Pesantren  Nur Darussalam   selama 13 tahun. Meski sudah banyak ilmu yang dimiliki, namun sudah menjadi sifat manusia yang selalu kurang. Maka ia pun pindah ke  Ponpes Darul Muhtar. Ilmu yang dipelajari adalah syariat, hakekat dan ma’rifat. Ilmu inilah merupakan pelengkap dari ilmu-ilmu yang selama ini dimiliki.

Amalkan Hizib

Dari ilmu-ilmu itulah dirinya mengetahui kehebatan  Hizbul  Bahar, Hizbul Nasar dan Asmaul Husna  (nama-nama Allah) kalau dibaca. Karenanya,  selama di pesantren secara diam-diam ia  mengamalkannya agar tidak diketahui  teman-temannya. Mengingat ilmu tersebut tidak untuk gagah-gagahan  dan dipamer-pamerkan. Ia mengaku tidak mempelajari ilmu kedigdayaan seperti yang banyak dipelajari para kiai di Jawa. Dengan mengamalkan  asma-asma Allah, Hizbul Bahar dan Hizbul Nasar dianggap sudah cukup, karena mengandung kekuatan dahsyat. “Kalau  dibaca atau diamalkan setiap hari. Maka  Malaikat  akan menjaga   dan isi laut tunduk pada kita dan rezki datang dengan sendirinya,” ujarnya.
Meski ilmu yang dimiliki masih belum cukup, Syeh Bakar Sabil kembali ke kampung halamannya  ke Ujung Baruh. Selang beberapa bulan tepatnya tahun 1971, ia pun  mendirikan pesantren. Ilmu yang pernah dipelajari itu tetap diamalkan, dengan harapannya agar tidak ada hambatan selama mendirikan sebuah pesantren. 
Ternyata apa yang dirintisnya membuahkan hasil. Pesantren yang baru didirikan lancar. Padahal banyak kiai-kiai lain bila mendirikan pesantren seringkali mendapat tantangan masyarakat sekitar. Ada yang diusir, dilempari batu dan dibakar. Misalnya, di  Sambas dan di pulau Jawa.
“Alhamdulillah saya sendiri tidak. Malahan mendapat dukungan  masyarakat luas. Resepnya berserah diri kepada Allah swt dan membaca Isim (Asmaul Husna), Hizbul Bahar dan Hizbul Nasar sepanjang hari,” ungkapnya tenang. Bahkan, lanjutnya, pesantren yang didirikan mengalami kemajuan cukup pesat. Santri-santri semakin banyak jumlahnya. Alumninya telah banyak yang mendirikan pesantren di daerah-daerah dan sukses besar.
Hal tersebut tidak lepas dari sistem pemberian ilmu yang bagus.  Dalam pemberian ilmu dibagi menjadi dua. Mereka yang ilmunya masih rendah hanya diberil ilmu alat sebagaimana umumnya. Tapi  untuk santri-santri yang  ilmunya dinilai tinggi diberikan ilmu tambahan seperti  Hizbul Bahar, Hizbul Nazar dan Isim.
“Tujuan saya nantinya sebagai bekal mendirikan pesantren di tengah-tengah  masyarakat. Mengingat tantangannya cukup berat. Dengan mengamalkan bacaan tersebut, Malaikat akan menjaga mereka. Isi laut akan tunduk. Tidak sampai menggulingkan perahunya semisal menyebrangi lautan dan rezeki datang sendiri,” ungkapnya.  husnu mufid  
      







0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat