Senin, 10 Maret 2014

Revolusi Kasih Sayang Bung Hari



REVOLUSI KASIH SAYANG
Salam PerKaSa - Penuh Rasa Kasih Sayang
Di dunia ini tidak ada orang yang tidak pernah berbuat salah dan dosa. Sekalipun itu seorang “NABI”. Saya teringat sebuah cerita ada seorang pelacur yang tertangkap basah pada suatu penggrebegan yang dilakukan SATPOL PP dan masyarakat pada jaman dulu kala dan diserahkan pada  Raja Syailendra. Raja Syailendra adalah seorang raja yang arif dan bijaksana. Pimpinan penggrebeg berkata dengan nada emosi, “Wahai Raja Syailendra, ini kami serahkan seorang pelacur yang sedang praktek maksiat di desa kami. Sesuai dengan hukum yang berlaku maka jika kedapatan orang berzina dan tertangkap basah oleh paling sedikit 4 orang, maka penzinah tersebut dihukum rajam sampai mati…!”
 Raja Syailendra dengan ucapan yang lembut dan tegas bertanya kepada para penggrebeg   ,”Wahai rakyatku yang budiman, adakah diantara kalian yang tidak pernah berbuat salah dan dosa ? Jika ada maka majulah ke depan akan aku kasih hadiah sebongkah emas berlian…!” Ternyata dari sekian banyak penggrebeg tersebut tidak ada satupun yang maju ke depan. Bahkan mereka satu-persatu mundur dan pamit pulang. Rupanya mereka menyadari jika mereka pernah berbuat salah dan dosa. Singkat cerita pelacur tersebut bertobat dan bekerja sesuai jalan yang benar. Kemudian menyatakan masuk Ajaran Budi Pekerti Luhur yang disebarkan oleh Raja Syailendra. Cerita ini sesuai dengan perintah para kaum bijak. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Syain. Maksudnya negeri Syailendra, negeri  Jawa Dwipa atau Nusantara yang penuh Ajaran Budi Pekerti Luhur. Pokoknya komplit!                                                                                 
Dari ilustrasi diatas jika saya seorang pemimpin puncak di negeri ini saya akan mengampuni seluruh kaum koruptor termasuk Akil Mochtar sekalipun tapi dengan syarat membeberkan semua yang tersangkut korupsi dan mereka semua mau bertobat dan mau mengembalikan semua kekayaan kepada negara, dan negara mengembalikan uang tersebut untuk kesejahteraan SRI-Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan cara ini Akil Mochtar dkk masih punya kesempatan memperbaiki diri. Pendekatan dan penyadaran ini saya pakai ilmu Revolusi Kasih Sayang yang sudah kami peringati berkali-kali setiap tanggal 27 Desember dari kota satu ke kota lain yang kami beri nama Hari Kasih Sayang Nasional atau disingkat HAKASANA. Hakasana yang barusan kami laksanakan di Amphiteater Perpustakaan Nasional Bung Karno Blitar pada tanggal 27 Desember 2013 dengan menampilkan ZIARAH BUNG KARNO, Pagelaran Senibudaya dan Makanan Rakyat (GELAR SEMARAK), Program Studi Peduli Kemanusiaan (PROSPEK) dan TOBAT NASIONAL yang doanya dilantunkan oleh perwakilan dari masing-masing tokoh agama dan aliran kepercayaan. Alhamdulilah berkat DOA TOBAT NASIONAL 27 Desember 2013 pas ERUPSI GUNUNG KELUD 13 Februari 2014, BLITAR bebas dari bencana alam. Semua berkat rahmat TUHAN YANG MAHA KASIH SAYANG.
Rounded Rectangle: RADEN HARI SUNARYANTO
Penggali “Hari Kasih Sayang Nasional”
Jalan Raya Bung Hari No. 11 Talun
Blitar 66183 Jawa Timur
Email : bungharispi@yahoo.co.id
HP. 0852 3569 2727
Dengan Revolusi Kasih Sayang ini saya ingin Seluruh Rakyat Indonesia merasakan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin dunia dan akhirat. Dengan HAKASANA, sebagai pemimpin saya akan menyatukan trah/pengikut Bung Karno dan Pak Harto agar mau hidup GUYUB RUKUN demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang asli bukan amandemen. Saya yakin dengan Revolusi Kasih Sayang, pasti Indonesia Raya (INDRA) jadi Mercusuar Dunia (MERDU). Kepemimpinan saya, saya kasih nama ORDE PERKASA (Penuh Rasa Kasih Sayang) sehingga Indonesia jadi Perkasa abadi selamanya dibawah perlindungan Tuhan Yang Maha Kasih Sayang. Sekian. Terimakasih. Merdeka !                                                   Blitar , 06 Maret 2014

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat