Rabu, 19 Maret 2014

Pesantren Miftahul Ulum Sulawesi Selatan



KH Abdul Manan, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sulawesi Selatan

Tebar Ilmu Mahabbah, Taklukkan Hati Masyarakat

Untuk hindup berdampingan dengan suku lain di luar pulau Jawa jaman sekarang bukanlah hal yang mudah. Karena banyaknya ancaman dari penduduk setempat. Bahkan pengusiran yang didapat. Seperti yang dialami kyai-kyai di Sambas Kalimantan. Sehingga terpaksa mengungsi ke tempat lain. Tapi lain dengan KH Abdul Manan, keberadaannya di Sulawesi Selatan mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat setempat. Malahan dibantu dalam mendirikan pondok pesantren. Masyarakat hatinya takluk kepadanya. Hal tersebut tidak lain karena menebarkan  Ilmu Mahabbah terlebih dahulu. Berikut ini ceritanya.


Pelajari Ilmu Mahabbah
KH Abdul Manan lahir di Blitar  5-6-1952, ketika masih kanak-kanak bercita-cita menjadi penyebar agama Islam  di  luar pulau Jawa.   Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pergi ke berbagai pesantren yang diyakini  dapat menjadikan dirinya seorang kyai yang tangguh. Tahan gertakan dan ancaman siapapun.
Kyai yang didatangi adalah, KH Ihsan di  kampungnya, KH Khobir dan KH Lukman di  Mangunsari Tulungagung. Pada kyai-kyai tersebut, KH Abdul Manan tidak menyianyiakan waktunya  untuk menimba ilmu.  Bidang yang digeluti berbagai ilmu agama. Tapi menghususkan diri pada Ilmu  Qori’ah dan Ilmu Mahabbah.
Untuk mempelajari dua ilmu tersebut, harus melakukan tirakat. Tidak makan makanan tertentu yang mengandung lemak, panas dan dingin. Menahan rasa lapar serta menjauhkan diri dari tindakan maksiat. Juga melakukan sholat malam dan membaca do’a-do’a makbul penebar kasih sayang. Hal ini dilakukan selama bertahun-tahun.
Ditengah-tengah giat-giatnya belajar  di pesantren, pemerintah mengeluarkan program transmigrasi ke  Sulawesi Selatan. Maka  timbul niatan untuk ikut dalam program tersebut. Dasarnya, ilmu yang telah dimiliki sudah layak diamalkan di luar pulau Jawa. Khususnya kaum transmigran.
“Keinginan saya waktu itu cukup kuat. Paling tidak nantinya dapat ikut melakukan pembinaan kepada transmigran. Jangan sampai kena arus yang tidak baik. Hanya Allah swt saja sebagai andalannya,”ujar KH Abdul Manan.
Ketika sampai di daerah Sulawesi Utara, KH Abdul Manan bergiat melakukan dakwah. Diawali dengan membangun pesantren. Mulanya bangunan yang didirikan cukup sederhana dengan santri yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Akan tetapi lama-kelamaan jumlahnya cukup banyak.

Tebarkan Ilmu Mahabbah
Untuk menjalankan tugasnya sebagai kyai yang sukses di pulau Suku Bugis bukan hanya mengandalkan  ilmu akal saja. Tapi   Ilmu Mahabbah (batin) pun digunakan. Dengan harapan tidak sampai  terjadi apa-apa. Mengingat tantangan berda’wa di luar kampung halaman tantangannya cukup berat.
“Saya tebarkan Ilmu Mahabbah di daerah transmigran. Alhamdulillah saya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat setempat. Mereka menganggap satu saudara seiman dan sebangsa  Indonesia,”ujar KH Abdul Manan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum  desa Argo Mulyo Kec Kalanakiri Mangku Tanah Luwuk Utara Sulawesi Selatan.
Ilmu Mahabbah yang dimiliki itu rupanya makbul dan mustajab. Sehingga  keberadaannya di tengah Suku Bugis dapat diterima dan tidak mendapat tantangan keras yang berujung pada pengusiran.  Seperti yang dialami kyai asal Madura di Sambas Kalimanta.
“Dengan berhasilnya  bergaul bersama orang-orang Bugis dan Lombok di Sulawesi Selatan. Membuat bupati simpatik. Kemudian memberi bantuan kebun.  Memang Ilmu mahabbah yang dikasih guru  dulu, benar-benar berkhasiat,”ujar KH Abdul Manan meyakinkan.
Adapun bacaan Imu Mahabbah sebagai berikut: Robbana Innaka Jami’unnasi Liyaumil Laroibafil. Innaka Latuhliful  Miaad.
Artinya, Ya, Tuhan kami engkaulah yang maha mengumpulan  manusia pada hari-hari  yang tidak diragukan. Dan sesunggunya engkau  tidak mengingkari janji.
Kini iimu yang dimiliki i diamalkan kepada santri-santri dan pemuda-pemuda setempat. Tujuannya biar timbul rasa kasih sayang sesama bangsa Indonesia. Jauh dari rasa permusuhan. Persatuan dan kesatuan antar sesama manusia tetap dijaga. “Jangan sampai seperti yang dialami  kyai asal Madura di Sambas. Mereka bersama santrinya diusir ke luar daerah. Kini terpaksa tinggal dipengungsian,”ujarnya. husnu mufid
 
 





0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat