Rabu, 19 Maret 2014

Makam Bupati Tuban Haryo Dalem



Misteri Makam Buyut Haryo Dalem Mantan Bupati Tuban

Ganti Atap, Nyawa Bisa Melayang


Keberadaan makam Mbah Buyut di desa Kadipaten Bojonegoro penuh misteri. Tidak ada warga masyarakat yang berani mengganti atap makam yang terbuat dari  alang-alang (welet) dengan genting. Karena nyawa yang menjadi taruhannya. Masa pergantian  alang-alang itu pun menunggu saat daun pohon rebet  jatuh. Setelah itu ditanggapkan kesenian kerawitan semalam suntuk. 

Pangeran Haryo  Dalem yang lebih terkenal dengan julukan Mbah Buyut Haryo Dalem ini,   sebenarnya mantan  bupati Tuban pada masa Kerajaan Mataram. Dia adalah seorang yang masih keturunan raja dari kerajaan Mojopahit. Gaya hidupnya  menyukai kedamaian daripada berperang, sebagaimana yang pernah dilakukan leluhurnya.
Ketika  terjadi perang  saudara di Mataram,  ia memilih meninggalkan kadipatan menuju kota Bojonegoro. Kepergiannya  disertai  istrinya  RA Sri Oning  dengan dikawal Punggawa Singolaksono dan prajurit yang setia lainnya. Alasanya, untuk menghindari perang melawan saudaranya sendiri  merebut kekuasaan.
Di Bojonegoro, Pangeran Haryo Dalem menjalani hidup sederhana.  Hidup bersama rakyat  kecil. Kehidupannya  itu dilalui selama beberapa puluh tahun.  Boleh dibilang hidup tenteram bersama rakyat  hingga akhir hayat dan dimakamkan di desa Kadipaten  kota  Bojonegoro.

Alang-Alang

Ada keanehan dalam makam Pangeran Haryo Dalem, yaitu  atap bangunan rumah makam yang sampai sekarang masih terbuat dari  alang-alang (welet). Tidak ada orang yang berani mengganti dengan genteng. Masyarakat mempercayai, jika mengganti taruhannya  adalah nyawanya sendiri.
Pernah pada jaman dahulu, salah seorang lurah Bojonegoro yang pertama yakni Mbah Jelamprong, ingin mengganti  atap makam  yang terbuat dari alang-alang itu dan diganti dengan genteng. Alasan agar kuburan Haryo Dalem terlihat lebih baik. Tapi niat baik itu diurungkan setelah melakukan tirakatan  dalam makam tersebut.
“Mbah Jelamprong yang terkenal sakti waktu itu mendapat pesan, jika sampai diganti nyawanya yang menjadi taruhannya. Akhirnya tidak jadi menganti,” ujar Sutrisno, juru kunci makam yang tinggal di Jl Dewi Sartika gang Payung no. 61 desa Kadipaten Bojonegoro. 
Dari kejadian itu, Jelamprong tidak berani melaksanakan niatnya untuk mengganti atap makam. Takut mendapatkan celaka, mengingat taruhannya cukup berat. Bahkan sampai saat ini tidak seorang pun yang berani melakukannya. Warga hanya berani merubah   pagar pengeliling makam dan tempat peristirahatan penziarah. “Atapnya sampai sekarang  tetap diganti dengan alang-alang dan bukan genting,” ujarnya.

Kesenian Tradisional

Penggantian atap  alang-alang itu dilakukan pada  Rabu Pahing. Namun terlebih dahulu harus melihat rontoknya daun Krebet yang ada di depan makam. “Memang pohon yang besar dan usianya ratusan tahun ini menjadi tanda untuk melakukan pergantian atap makam,” ungkapnya.
“Pada saat pergantian atap makam, maka harus diramaikan  dengan menanggap kesenian tradisional  kerawitan sehari semalam suntuk. Ratusan sampai ribuan orang yang datang, baik dalam kota maupun dari luar,” tambahnya.
Pada hari-hari tertentu, warga dari luar kota seperti  Jakarta, Magelang, Yogyakarta, Solo dan Madiun banyak yang datang untuk berziarah maupun melakukan tirakatan. Kedatangan mereka  ke makam cukup unik.  Bukan pada pagi maupun siang hari. Tapi  tengah malam dan pulang pada pagi hari, baik rombongan maupun pribadi.
Kedatangan  mereka ke makam biasanya diawali dengan membaca al-Quran dan tahlil. Kemudian berdoa keselamatan, lancar rejeki dan pangkatnya naik. Tidak sedikit yang doanya dikabulkan Allah swt. Lantas membangun pagar dan altar makam, serta memberi payung pada makam. husnu mufid
     
 

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat