Rabu, 19 Maret 2014

Klenteng Kudus



Klenteng Hon Hin Bio Jl A Yani Kudus Jawa Tengah

Sejak Jaman Belanda Kegiatannya Tak Pernah Surut

Keberadaan Klenteng Hon Hin Bio Kudus ini sejak jaman Belanda tak pernah surut. Berbagai kegiatan diadakan. Warga sekitar menghargai keberadaannya. Oleh sebab itu kondisi bangunannya tetap utuh seperti semula. Sedikit sekali mengalami perubahan. Hal ini sangat berbeda jauh dengan dua klenteng lainnya di Kudus. Satunya pernah dibakar masa dan satunya lagi keaslian bentuknya nyaris punah.  

Dibangun Pedagang
Klenteng Hon Hin Bio   ini didirikan tahun 1936 oleh warga pedagang keturunan Tiongkok. Letaknya di Jl A Yani Kudus, depan pertokoan Martahari Plaza. Boleh dibilang lokasinya cukup strategis, dekat pusat kota dan lalu lintas jalan raya. Umat  yang ingin melakukan  ibadah  tidak mengalami kesulitan.
Begitu pula bagi umat yang menggunakan kendaraan pribadi bisa langsung masuk dalam areal parkir Klenteng Hon Hin Bio. Kemudian menuju tempat ruangan ibadah. Disitu umat bisa memilih sejumlah patung dewa untuk disembah. Ada dewa Kwan Im Poo Sat, Hok Tek Ceng Sin, Kwan Kong dan patung Buddha Gautama.
Bagi umat Tri Dharma menyembah Dewa Hok Tek Ceng Sin dengan alasan. Karena dianggap sebagai dewa pemberi kemakmuran yaitu, penyubur tanah. Sehingga pertanian menjadi subur.  Bagi penyembah  Dewa Kwan Kong, menilai  sebagai dewa  pemberi keadilan pada manusia. Harapannya nanti, keadilan akan datang.
Sementara umat Buddha melakukan sembayang dengan menghadap Patung Buddha Gautama sebagai pendiri agama.Juga tidak lupa mereka menyembah patung dewa  Kwan Im Poo Sat, seorang  dewi pemberi kasih sayang dan kemurahan terhadap umat Buddha di kabupaten Kudus.

Suasananya Semarak
Di Klenteng Hon Hin Bio ini,  diantara umat yang melakukan ibadah nampak rukun. Meskipun yang disembah itu berlainan.  Kondisi ini sudah berjalan cukup lama. Yaitu sejak jaman Belanda sampai sekarang. “Dampaknya cukup besar. Umat melakukan ibadah dengan aman dan tentram,”ungkap Tee Song Liang sesepuh klenteng.
Mereka mengakui kalau kerukunan umat beragama itu sangat penting. Tidak boleh saling menghina dan memusuhi. Karena sudah dicontohkan dengan leluhurnya di negeri Tiongkok. Dimana pada masa Dinasti Ming umat berbagai agama beribadah dalam satu gedung yang dibuat oleh kerajaan sebagai upaya kerukunan umat beragama.
Kuatnya keyakinan umat yang beribadah di Klenteng Hon Hin Bio. Menjadikan kegiatan keagamaan tetap bertahan. Meskipun pada jaman Orde Baru mengalami sedikit gangguan. Agar tidak menghidupkan kebudayaan asli Tiongkok. Seperti Barongsai dan Leang Leong. Pelarangan itu pun dituruti.
Namun setelah roda reformasi bergulir. Kesenian tersebut dibangkitkan kembali. Kini pemuda dan pemudi  kembali aktif di klenteng Hon Hin Bio untuk berlatih Barongsai dan Leang Leong serta  Wushu (pencak silat dari Tiongkok kuno). Maka ramailah sekarang suasananya.
Anak-anak muda sudah tidak merasa canggung untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan seni. Hampir tiap sore terdengar suara tabuhan musik Barongsai. Hingga malam hari. Suasana klenteng yang telah berganti nama Vihara Amurwabhumi ini  benar-benar semarak. Lebih semarak dari yang sebelumnya. husnu mufid   

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat