Selasa, 11 Maret 2014

Ibukota Pindah



PINDAHKAN IBUKOTA KE TULUNGAGUNG

Sejak kecil saya oleh Kakekku R. MARDIROSO (Ayah dari Ibuku) seorang Wedono Kalangbret Kabupaten Tulungagung periode tahun 1962-1972 saya “digadang”  jadi Pemimpin Besar di Bumi Nusantara ini. Pemimpin Besar tidak harus jadi Presiden Republik Indonesia kecuali memang di kehendaki oleh SRI (Seluruh Rakyat Indonesia). Saya lahir dari rahim Ibuku Rr. SRI SUNDARI hari Rabu Pon tanggal 27 Desember 1967 dan diberi nama RADEN HARI SUNARYANTO. Waktu Ibuku mengandung aku 7 bulan “ngidam” brengkes pindang dengan blimbing wuluh, Ibuku meraih blimbing wuluh tersebut diatas “jumbleng” atau WC dirumah mertua di Desa Tamanan Tulungagung. Rupanya malang bagi Ibuku karena WC yang buat ancik-ancik ambles sehingga Ibuku “gluprut tai”. Untunglah sewaktu Ibuku “bengok-bengok” minta tolong di dengar oleh tukang becak yang kebetulan lewat. Alhamdulilah Ibuku dan saya yang masih dalam kandungan selamat berkat pertolongan tukang becak tersebut. Maka jangan heran jika saya sampai sekarang begitu dekat dengan para tukang  becak karena sejarah hidupku tersebut. Ini sesuai ajaran Bung Karno JASMERAH- Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Mungkin karena Ibuku pernah “gluprut tai” tersebut maka kulitku paling kuning bersih dibanding adik-adikku  he..he……Karena sejarah tersebut saya dapat julukan dari keluarga Bapakku yaitu Tai Bing maksudnya gluprut tai gara-gara blimbing wuluh. Biar keren jika saya suatu saat jadi Raja aku tambahi nama julukan tersebut menjadi KING THAI BING. Kayak nama China ya? Ha ha ha. Bapakku bernama R. SETIAWAN PALLAL YITNOSUTOMO. Semenjak saya masih bayi kata Ibuku jika ada suara gending Jawa, saya pasti “njoged” sambil “manthuk-manthuk” dan “gela-gelo”. Betapa lucu dan menggemaskan bayi saya, sehingga ada teman Bapakku yang memohon agar saya dijadikan anak angkatnya karena teman Bapakku tersebut belum punya anak. Apalagi jika saya di kidungkan lagu Walang Kekeknya Ibu Waldjinah pasti saya “ pokoke njoged” he he……Rupanya darah seniman dari Kakekku R. PALLAL YITNOSUTOMO (Ayah dari Bapakku) banyak yang “menitis” padaku. Waktu itu Mbah PALLAL jadi Kepala Sekolah Dasar di wilayah Kabupaten Tulungagung. Mbah PALLAL punya seperangkat gamelan komplit laras pelog dan laras slendro. Bapakku adalah anak ke-4 dari 13 bersaudara yang kesemuanya pinter kerawitan dan menari. BANYAK ANAK BANYAK REJEKI rupanya pas diterapkan oleh Mbah PALLAL. Hampir semua saudara Bapakku jadi GURU termasuk Bapakkku juga, walau ada juga yang jadi Perwira di Angkatan Laut dan ada juga yang jadi Direksi Pabrik Gula seluruh Jawa Timur. Sedangkan darah kepemimpinan “menitis” dari Kakekku R. MARDIROSO yang seorang WEDONO KALANGBRET.
Meningkat usia SD saya sudah memikirkan ekonomi orangtua saya. Kenapa Bapakku setelah menikahi Ibuku dan sudah punya anak saya dan ketiga adikku masih ikut PMI alias Pondok Mertua Indah? He he…Yeah mungkin gaji guru pada saat itu memang tidak layak untuk beli rumah sendiri karena memang gaji guru kayak “kere” kata IWAN FALS. Padahal saat itu Ibuku juga sudah jadi GURU SD. Mungkin karena belum saatnya untuk berpikir konsumsi orang dewasa tersebut, saya jatuh sakit. Waktu itu tahun 1981 saya masih klas 1 SMP Negeri KALANGBRET. Ternyata sakitku bukan sakit sembarangan. Ada sekitar 7 arwah leluhur yang merasuki tubuh saya. Bahkan saya mengalami “mati suri” beberapa hari dan dijumpai para leluhur saya. Mereka kalau bicara pakai bahasa batin. Tak terasa sakitku hingga 40 hari lamanya. Proses penyembuhan saya melibatkan para Kyai, Pastur, Pendeta, Dukun Prewangan/Paranormal, Ahli Nujum, Dokter dan Psikiater. Cara mereka menyembuhkan saya, masih saya ingat dengan jelas dan gamblang. Sejarah spiritual saya inilah yang menyebabkan saya terjun di PENYEMBUHAN ALTERNATIF. Setelah saya sembuh saya dapat 3 pantangan dari seorang Mbah Kyai dari Nganjuk. 3 pantangan tersebut : 1. OJO MISUH (tidak boleh berkata-kata kotor atau yang tidak berguna). 2. OJO NGEKUM KLAMBI (jangan menunda waktu). 3. OJO MANGAN ATI (jangan menyakiti hati). Dari ojo mangan ati inilah yang memunculkan semboyan saya sejak tahun 1981 sebagai “Penyambung Hatinurani Rakyat Indonesia” dan jika diakronimkan pas dengan nama panggilanku yang merakyat “Bung Hari”. Cuman kadang ada yang salah kaprah dikira saya seorang aktivis dari Partai Hanura…ha ha….
Adalagi kata Mbah Kyai Kamulan yang ahli nujum, katanya saya dapat “PULUNG”.
Setelah lulus dari SMP Negeri Kalangbret tahun 1984 saya melanjutkan ke SMA WIDYA MURTI Tulungagung. Sewaktu saya klas 1 SMA masih kuingat betul saya ditegur Guru Biologi kerena pas pelajaran tersebut saya malah asyik baca bukunya Mas Guntur  Sukarno Putra kalau gak salah berjudul Bapakku, Guruku dan Sahabatku. Sejak SMA itu muncul darah NASIONALISMEKU  yang terinspirasi dari Ajaran Bung Karno. Hingga tahun 1989 saya diterima di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali. Saya semakin “gandrung” dengan Ajaran Bung Karno terutama penggalian beliau tentang PANCASILA. Selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang tahun 1988 saya menganggap bahwa ajaran agama saya yang paling benar dan lainnya kafir. Dan sewaktu kuliah dan hidup di Bali tersebut saya mendapatkan pencerahan tentang pluralisme dan hal ini pas banget dengan semboyan negara kita BHINNEKA TUNGGAL IKA. Dan ini cocok dengan konsep pantangan saya OJO MANGAN ATI.
Karena di Bali biaya hidup mahal maka tahun 1990 saya ikut test lagi dan diterima di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Di Unibraw inilah segala Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya ikuti. Mulai dari Paduan Suara, PERS Kampus, Forum Studi Mahasiswa Pengembang Penalaran (FORDI MAPELAR), Pencak Silat Setia Hati, Kerawitan dan Aktivis Masjid Raden Patah. Tahun 1990 ada 7 mahasiswa Fakultas Teknik Unibraw menggagas ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) seangkan saya sendirian dari Fakultas Pertanian Unibraw pas tanggal 27 Desember 1990 mendirikan SPI (Sahabat Pena Indonesia) yang hari lahirnya sudah kami proklamirkan menjadi Hari Kasih Sayang Nasional (HAKASANA). Yang barusan Hakasana kami laksanakan di Amphiteater Perpustakaan Nasional Bung Karno Blitar tanggal 27 Desember 2013 yang didukung dan di ikuti semua elemen bangsa. Dengan agenda Ziarah Bung Karno, GELAR SEMARAK-Pagelaran Senibudaya & Makanan Rakyat, Tobat Nasional dan PROSPEK-Program Studi Peduli Kemanusiaan. Tema HAKASANA 2013 “Dengan Spirit Perasaan Kasih Sayang Jadikan Indonesia Raya Mercusuar Dunia”.
Di Kampus Universitas Brawijaya Malang segala pemikiran dan gagasan saya untuk Kejayaan Nusantara sebagai Mercusuar Dunia lahir. Antara lain untuk kesejahteraan perekonomian rakyat saya melahirkan BIMASENA-Bimbingan Masyarakat Ekonomi Nasional. Untuk menyatukan artis yang sempat menjadi 2 yaitu PARFI dan GAN, saya menggagas menyatukan mereka dengan wadah baru HARI-Himpunan Artis Republik Indonesia. Untuk pelestarian dan pengembangan ajaran Leluhur Nusantara  serta Penyembuhan Alternatif saya melahirkan PAKU-Padepokan Agung Kyai Upas dengan semboyan “Hangudi Ayuning Rakyat Indonesia”. Untuk memintarkan rakyat saya melahirkan gagasan Taman Bacaan Rakyat “ORDE PERKASA”. Untuk mewadahi anak jalanan agar punya kreativitas yang positip saya mendirikan KAJI-Komunitas Anak Jalanan Indonesia. Agar saudara-saudari kita mantan TKI/TKW mau membangun tanah air Indonesia saya wadahi di FMTSI-Forum Mantan TKI/TKW Seluruh Indonesia. Saya wadahi pula yang gandrung dan mau mengamalkan Ajaran Bung Karno di FKBMT-Forum Keluarga Besar Marhaenis Tulungagung. Untuk mengoptimalkan swadaya pertanian saya melahirkan Himpunan Agrobisnis Rakyat Indonesia. Dan untuk mereka anak-anak Indigo atau Genius saya wadahi di KAKI-Komunitas Anak Kristal Indonesia. Semua sayap tersebut di atas kami satukan dalam LSM  SAHABAT  PENA  INDONESIA  dengan Akta Pendirian No.335 Tanggal 23 Oktober 2012  Notaris PANHIS YODY WIRAWAN, SH.,M.Kn  No. Reg. 157/UM/BH/PN.Ta.  NPWP. 24.240.014.1629.000.
Sampai akhirnya dalam perjalanan spiritual saya dan belajar perjalanan sejarah bangsa saya mendapatkan WANGSIT  jika Indonesia mau jadi bangsa yang besar dan jaya maka Ibukota harus segera dipindah ke wilayah Jawa Timur dan dekat dengan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Awalnya saya ada beberapa pilihan. Antara lain Surabaya, Malang, Mojokerto, Jombang, Kediri, Blitar dan Tulungagung. Dalam perjalanan spiritual dan ritual saya punya keyakinan bahwa Ibukota selayaknya dipindah segera ke TULUNGAGUNG.  Memang semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua perlu proses dan dana yang tidak sedikit. Tapi dengan niat yang kuat dan tulus dan dengan GOTONG ROYONG dari SRI-Seluruh Rakyat Indonesia PASTI BISA.!
Tulungagung dalam Sejarah Nasional baik sebelum dan pada masa Tumapel (Singosari) dan Majapahit sangat berperan sekali yang selama ini belum di ketahui masyarakat. Padahal sejak Tahun 905 Masehi daerah Tulungagung sudah di kenal. Kala itu, Dyah Balitung seorang Raja dari Madeng Mataram di pukul mundur saat menyerbu Kerajaan Kanjuruhan. Dyah Balitung hingga singgah sampai di lereng Gunung Wilis, persisnya di daerah Penampihan atau sekarang masuk wilayah Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Belum lagi bagaimana kisah Ratu Dyah Tulodong yang ditenggelamkan kebesaran Raja Airlangga. Padahal Ratu yang digambarkan raksasa (?) dan memiliki prajurit wanita pernah memukul mundur Raja Airlangga. Penggalian Sejarah ini bisa lewat prasasti yang masih ada. Misalnya Prasasti Terep, Prasasti Pucangan, Prasasti Mula Malurung serta beberapa literature buku terkait Sejarah.
Dari prasasti tersebut terungkap bahwa banyak tokoh besar yang Berjaya tak bisa dilepaskan dari Tulungagung. Misalnya Tunggul Ametung, Ken Arok, Gajah Mada, Dyah Gayatri bahkan juga Bung Karno. Dyah Gayatri sekarang sudah diabadikan oleh Pemkab Tulungagung menjadi TERMINAL GAYATRI. Begitu pula dengan KALANGBRET, BOYOLANGU serta peninggalan beberapa Candi hingga Goa. Bahkan sebagian besar Raja dulu ketika mengalami kekalahan pertempuran dan singgah di TULUNGAGUNG mendapatkan pertolongan agung atau bantuan besar kembali BERJAYA. Silakan baca selengkapnya Buku Sejarah Tulungagung karya Sdr SIWI SANG.
Di daerah NGUNUT segala macam teknologi sudah dikembangkan. Sayang sekali karena hanya memenuhi selera pasar produk mereka banyak di labeli dengan merk asing. Saya yakin jika Bupati Tulungagung sekarang berjiwa Revolusioner seperti Bung Karno dan lebih Cinta Buatan Indonesia, di daerah Ngunut yang sudah kondang dengan julukan sebagai JEPANG 2 pasti bisa buat sendiri HP, Komputer, Sepeda Motor Nasional bahkan Pesawat Terbang sendiri.
Dari uraian dan gagasan saya tersebut di atas maka sudah selayaknnya TULUNGAGUNG menjadi IBUKOTA yang baru REPUBLIK INDONESIA. Sekian. Terimakasih. Merdeka.!




Blitar, Kamis Pahing 23 Januari 2014

RADEN HARI SUNARYANTO
“Penyambung Hatinurani Rakyat Indonesia”
Jalan Raya Bung Hari No.11 Talun
BLITAR 66183 JAWA TIMUR
HP. 0852 3569 2727   E-mail : bungharispi@yahoo.co.id
BANK BRI  No. Rek. 0110-01-012950-53-1
a/n. RADEN HARI SUNARYANTO

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar melalui emai
sialahkan saja melakukan demonstrasi, akan tetapi gunakanlah dengan cara-cara damai dan jangan sampai memacetkan jalan raya yang merugikan masyarakat